Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 5


__ADS_3

Dengan lembut Jesi mulai membersihkan darah Rian yang terus keluar, memberikan alkohol pada kasa lalu membersihkan, tak lupa Betadine.


Jesi dengan teliti mengobati Rian, sedangkan Rian?. Jangan tanya lagi, meski diluar wajahnya tampak datar. Namun dalam hati, dia sangat senang. Ternyata Jesi mengkhawatirkan nya. Rian terus menatap wajah Jesi intens, yg saat ini sedang merawat lukanya


"Ahkk... Pelan-pelan". pekik Rian berbohong. Dia ingin melihat reaksi Jesi.


"Maaf". Jesi sedikit lebih lembut lagi. "Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Tanya Jesi.


Rian terdiam, namun karena Jenny dan Hengky masih disana. Jenny sedikit usil.


"Maaf Nona. Tuan Muda cemburu pada setiap pria yang dekat dengan anda" ucap Jenny, Rian melototi nya.


Jesi melihat kearah Jenny, kemudian kembali pada Rian.


"Jika kau tak mau aku berdekatan dengan mereka. oke.. akan kulakukan. Sekarang kau puas?!.". ucap Jesi.


Tiba² terdengar ketukan dari luar, Hengky meninggalkan mereka lalu kembali dengan seorang pria.


"Tn. Muda, Dr. Arman sudah tiba". Ucap Hengky. Sedangkan Arman sendiri adalah Dr. Pribadi Rian.


"Selamat siang". Sapanya. Namun yg dilihatnya adalah Seorang wanita yang berjongkok sambil melilitkan perban pada tangan kanan Rian, lalu matanya menatap sekeliling.


"Apa yg terjadi? Rian kau kenapa?". Namun tak ada respon dari pasiennya itu.


"Ahh, anda pasti dokter yg tadi dipanggil sama kak Hengky, kalau begitu saya permisi dulu". Ucap Jesi,


namun Rian menahannya dengan memegang tangannya.


"Dokter Sebaiknya periksa pak Presdir dulu. Saya permisi". Jesi trsenyum lalu meninggalkan mreka smua. Sedangkan Arman hanya trsenyum dalam.

__ADS_1


"Lo kenapa sih?" Tanya Arma disela memeriksa Rian. Namun Rian terus diam dan membiarkan mulut Arman yg cerewet itu trus berbicara.


"Oh yah, tuh siapa tadi bro? Cantik amat" puji Arman


"Kenapa kau bertanya?" tanya Rian.


"gue kayaknya suka sama dia, senyumnya buat gue meleleh bro".


Rian kesal mendengar ucapan Dokter pribadi sekaligus sahabatnya itu.


"Jangan ngarep kamu. Itu istriku". Jawabnya dingin.


"Jangan becanda bro. Masa itu istri Lo".


"Sudah selesai kan? Sudah kubilang bukan? Aku baik² saja". Tanya Rian, dia mengalihkan pembicaraan mereka.


Rian membiarkan Arman melepas kembali Perban dan memeriksa lukanya. Sebenarnya dia tak mau, jika Arman melepas perban itu, tapi alasan Arman lah yg membiarkannya mlepas perban itu.


"Bagus, tak ada pecahan kaca, tapi aku harus menjahitnya. Lukamu cukup dalam". Arman mulai menyuntik obat bius disekitar luka Rian, lalu mulai menjahitnya.


"Udah bro......


gue kagum sama tuh cewek, dia bisa bersihkan kaca yg menempel diluka lo, padahal dia bukan perawat apa lagi Dokter" puji Arman setelah Hengky menceritakan kejadian tadi pada Arman.


Sedangkan Rian, wajahnya mulai memerah, dia kesal mendengar ada orang yg memuji Jesi.


_______________


Jesi baru saja sampai di apertemen, saat dia masuk ke kamar, nampak Rian sedang kesusahan melepas bajunya.

__ADS_1


Jesi mendekat lalu membantunya melepas kancing bajunya, Rian menatap wajah Jesi dengan intens. Sebenarnya dia bisa saja melepas kemeja itu sendiri, namun dia ingin mendapatkan sdikit perhatian dari istrinya. Makanya dia menunggu sampai Jesi pulang.


Setelah membantu Rian melepas kemeja, Jesi meninggalkannya dan mulai memasak.


Rian mengikuti Jesi dari belakang, memperhatikan. Apa yg dimasak Jesi.


"Apa yg kau masak?". Tanya Rian.


"Sup ayam, ikan goreng dan sambal balado" jawab Jesi tapi dia terus fokus memasak.


"Apa yg bisa ku bantu?"


"Tak ada, sbaiknya kau nonton sajq. Kau sedang terluka"


"Baiklah". Namun Rian tak beranjak dari tempatnya. Dia lebih memilih berdiri dan memperhatikan Jesi memasak, beberapa menit kemudian, kakinya mulai pegal, dia kmbli kesofa dan memperhatikan Jesi dari jauh


_____________


Jesi sudah selesai menata makanan diatas meja. Rian sdh dduk dgn tenang di kursinya. Saat mengangkat sendok, tangannya terasa nyeri.


"Ahkk". pekiknya pelan.


Jesi menatap Rian yg kesusahan ketika Makan, Rian menggunakan Tangan kirinya.


Jesi menggeser kursinya merapat kekursi Rian. Mengambil sendok ditangan kiri Rian, dan mulai menyuapinya.


"Hehh?"


"Makanlah, kulihat kau kesusahan memdgang sendok" ucap Jesi lembut

__ADS_1


__ADS_2