Menikah Dengan Pria Yang Salah

Menikah Dengan Pria Yang Salah
Episode 18


__ADS_3

Sementara Di tempat lain Melati menangis.


"Maafin aku.. Maafin aku.. Aku sudah sangat berdosa melawan suami ku, namun aku tidak tahan kalau di rendah kan terus menerus." ucap Melati.


Dinda mendengar itu, dia masuk ke dalam dan melihat Adik iparnya sudah menangis di sudut tempat tidur.


"Ada apa Melati? Coba ceritakan sama mbak." ucap Dinda dengan sangat lembut.


"Mbak..." melati semakin menangis ketika di peluk oleh Dinda. "Kenapa melati?" tanya Dinda. Melati tidak menjelaskan apapun dia hanya menangis di pelukan Dinda.


"Kamu menangis lah sampai kamu puas, setelah itu kamu ceritakan sama mbak." ucap Dinda.


Menunggu beberapa saat Melati mulai diam.


"Coba ceritakan apa yang membuat kamu seperti ini." ucap Dinda.


Melati hanya diam saja.


"Baiklah kalau kamu belum mau cerita sama mbak, Tapi kalau kamu butuh seseorang untuk tempat cerita mbak selalu siap kok." ucap Dinda.


"Terimakasih yah mbak." ucap Melati. Dinda tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu istirahat. Mbak juga mau istirahat." ucap Dinda.


Melati menganguk. "Mbak.." Panggil Melati. "Iyah kenapa?" tanya Dinda.


"Seandainya aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ku apa salah kalau kami berpisah?" tanya Melati. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu memiliki masalah dengan suami kamu?" tanya Dinda.


Melati menunduk kan kepala nya.


"Coba ceritakan sama mbak. Mbak janji tidak akan mengatakan pada siapa pun, agar mbak juga tau memberikan saran seperti apa." ucap Dinda.


Melati menghela nafas panjang.


"Sebenarnya aku dengan Alex tidak pernah akur seperti yang di pikirkan orang-orang. Dia tidak mencintai ku dengan sungguh-sungguh. Hanya karena sebuah dendam dia menikahi aku." ucap Melati.


Dinda menghela nafas mendengar perkataan Dinda.


"Dendam yang kamu maksud karena mbak menikah dengan Stevan?" tanya Dinda.


"Aku tidak menyalah kan mbak, aku tidak menyalah kan Siapa pun." ucap melati karena takut iparnya salah paham.

__ADS_1


"Selama ini Alex menyiksa aku, mengurung ku tidak bisa bertemu dengan siapapun dan keluar dengan siapapun." ucap Melati.


"Kenapa Alex begitu jahat?" ucap Dinda.


"Sekarang dia memiliki kekasih. Aku tidak bisa menahan semua sakit ini lagi mbak, aku tidak tahan." ucap Melati.


Dinda ikut menangis mendengar Cerita adik ipar nya itu.


"Ini semua salah mbak, maafin mbak." ucap Dinda. Melati menggeleng kan kepala nya.


"Enggak mbak." ucap Melati. "Seharusnya mbak menyelesaikan nya terlebih dahulu dengan Alex. Sekarang kamu jadi kena imbasnya." ucap Dinda.


"Apa yang harus ku lakukan mbak? Apa kah aku harus bertahan?" tanya Melati. Dinda bingung harus menjawab apa.


"Di satu sisi aku sangat mencintai Mas Alex, aku juga tidak ingin mengecewakan orang tua ku dan membuat keluarga malu. Tapi di sisi lain aku tidak di anggap, aku hanya di jadikan budak, bahkan dia tidak pernah menyentuh ku dengan lembut, hanya menyiksa ku terus menerus." ucap Melati.


"Cukup Melati... cukup... mbak minta maaf." ucap Dinda.


Dia merasakan kesedihan yang di alami oleh adik nya itu.


"Apa yang harus aku lakukan mbak? Aku tidak kuat lagi, aku tidak bisa menahan semua nya ini lagi." ucap Melati.


"Enam bulan kami bersama, namun aku tidak pernah merasakan kebahagiaan." ucap Melati.


"Apakah dia membawa selingkuhan nya ke rumah?" tanya Dinda. Melati menganguk. Dinda menghela nafas panjang.


"Ini tidak bisa di biarkan. Kamu harus menceritakan ini kepada orang tua kamu dan juga ke keluarga nya." ucap Dinda.


"Mamah sama papah tidak akan percaya Mbak, mereka pasti akan sangat kecewa, aku takut mereka sampai sakit mendengar berita ini, karena harapan satu-satunya hanya aku sekarang." ucap Melati.


"Mbak bingung harus membantu kamu seperti apa Melati. Mbak sangat merasa bersalah." ucap Dinda.


Cukup lama mereka berbicara di kamar.


"Dinda kemana sih? Dari tadi dia tidak kunjung kembali ke kamar." batin Stevan. Dia melihat pintu kamar Melati.


"Tok!! Tok!! Tok!! Dia mengetuk pintu kamar Adik nya. Mereka berdua langsung menghapus air mata nya. Melati kelihatan baru saja menangis, Dinda langsung menyuruh nya untuk tidur.


"Apa sayang?" tanya Dinda kepada suami nya.


"Aku dari tadi nungguin kamu di kamar, ternyata kamu ada di sini. Lagi ngapain sih?" tanya Stevan.

__ADS_1


"Lagi ngobrol sama Melati tadi nya, eh dia sudah tidur sekarang, sebaik nya kita tidur di kamar kita, jangan ganggu dia." ucap Dinda. Stevan menganguk.


"Sayang..." Goda Stevan kepada Dinda. Dinda yang kefikiran tentang Melati dan suami nya membuat dia tidak menghiraukan suami nya.


"Sayang.." Panggil Stevan.


"Iyah Sayang, Kenapa?" tanya Dinda.


"Kita itu yok, aku lagi pengen." ucap Stevan.


"Besok saja yah, aku lagi gak mood." ucap Stevan.


"Yah kok gitu sih, aku sudah di puncak nya ini. Kepala ku sudah terasa pusing." ucap Stevan. Namun tetap saja Dinda tidak mau.


Stevan ngambek akhirnya dia tidur. Sementara Dinda sama sekali tidak bisa tidur karena kefikiran.


Di tempat lain Alex duduk di sofa sambil memangku laptop nya.


"Sayang ini sudah tengah malam, kamu ngerjain apa sih?" ucap Priska baru bangun namun masih melihat kekasihnya bekerja.


"Kamu lanjut tidur saja, ini masih banyak lagi yang harus aku periksa." ucap Alex.


"Oohhh. Ya udah deh." ucap Priska kembali tidur. Alex melihat Priska benar-benar tidur. Tiba-tiba dia teringat istri nya yang selalu membuat kan kopi kalau melihat dia bekerja sampai larut malam.


Kali ini Air putih di dalam gelas pun tidak.


"Priska bangun dong, Masakin aku sesuatu yang bisa di Makan. aku lapar." ucap Alex membangun kan Priska.


"Aku masih ngantuk sayang, nanti aja yah." ucap Priska. Alex menghela nafas panjang.


Dia mau tidur namun perut nya lapar, alhasil dia harus masak sendiri.


Di dapur dia melihat bahan makanan tinggal sedikit, dia mau memasak nasi goreng pakai bumbu apa adanya saja.


Namun setelah jadi makanan yang dia Masak tidak enak rasanya karena keasikan. "Kenapa sangat Aneh? Ini sangat berbeda dengan nasi goreng buatan melati." ucap nya.


Dia tidak jadi makan, Alex minum air putih dan kopi agar perut nya terisi. Karena sudah mengantuk dia memilih untuk tidur.


Melati sudah tidur begitu lelap, mungkin dia Lelah, dia juga seperti nya sudah sangat lega bisa bercerita kepada orang lain karena selama ini dia harus memendam nya sendiri kecuali bercerita kepada Gaga.


Keesokan harinya Melati bangun. Dia sholat Shubuh, setelah selesai dia melihat penampilan diri nya di cermin.

__ADS_1


__ADS_2