
Tiba-tiba handphone nya berdering dari Dinda.
"Apa yang harus aku katakan." ucap Stevan.. Namun dia menjawab juga telpon dari Dinda.
"Bagaimana apa sudah ketemu?" tanya Dinda.
"Belum. Aku lagi mencari bersama Tim. Aku mohon jangan memberi tahu orang tua Melati atau siapapun itu, aku mohon." ucap Alex.
"Apa kamu memikirkan perasaan Melati sekarang? Dia pasti sangat hancur karena kamu!" ucap Dinda.
"Aku lagi di luar, aku mohon jangan mengganggu ku terlebih dahulu karena aku harus fokus mencari melati." ucap Alex .
Dinda langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Kamu abis nelpon siapa?" tanya Stevan kepada istri nya.
"Enggak ada kok, tadi nelpon orang panti asuhan kalau kita mau ke sana." ucap Dinda.
"Oohh. Ya udah kita siap-siap yok, Mamah Sama Papah pasti sudah menunggu di bawah. Dinda menganguk.
"Assalamualaikum... Permisi..." Gaga di depan rumah Alex. Priska keluar dari dalam rumah.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Priska.
"Aku mau bertemu dengan Melati, mana Melati?" tanya Gaga.
"Alex dari awal sudah bilang kalau Melati kabur. Kenapa kamu Malah mencari nya ke sini? Sekarang dia tidak ada di rumah." ucap Melati.
"Awal nya aku mengira kalau dia bersama kamu, ternyata tidak. Huff aku yakin dia pasti pergi dengan simpanan nya." ucap priska.
"Jaga mulut kamu! Jangan mentang-mentang kamu sudah menikah dengan tuan Alex kamu bisa menuduh Melati sembarangan." ucap Gaga.
Priska menghela nafas panjang.
"Huff ya sudah kalau kamu tidak percaya. Kita lihat saja nanti, dia pasti kabur bersama selingkuhan nya selama ini." ucap Priska.
Menghadapi Priska Akan membuat Gaga semakin pusing, akhirnya dia memilih untuk pergi meninggalkan rumah itu dari pada emosi kepada Priska.
"Aku harap wanita itu tidak kembali lagi ke sini." ucap priska.
Gaga menatap Priska. "Wanita seperti kamu tidak akan bertahan lama di samping Tuan Alex." ucap Gaga.
"Gak usah tau kamu, Alex sangat mencintai aku, mana mungkin dia meninggal kan aku demi wanita jelek seperti istri nya itu." ucap Priska namun Gaga sudah terlanjur pergi.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti." ucap Priska sambil tertawa.
Dinda dan keluarga suami nya sudah sampai di panti asuhan.
Mereka bertemu dengan anak yang akan di adopsi oleh mereka, namun ternyata anak itu tidak boleh di adopsi oleh keluarga anak tersebut.
Dia akan di adopsi oleh keluarga di anak itu lagi.
Dinda dan Stevan terlihat sangat kecewa. Mereka sudah lama menginginkan anak itu namun tidak juga bisa di adopsi oleh mereka.
"Ibu dan bapak bisa memilih anak yang lain." ucap ibu yayasan namun Dinda menggeleng kan kepala nya.
"tidak semudah itu." ucap Dinda. Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa mengatakan apapun.
Mereka kembali dengan keadaan kecewa sekali.
"Huff sudah tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan anak itu sayang." ucap Dinda.
"Sudah tidak apa-apa, itu berarti bukan rejeki kita." ucap Stevan memeluk istrinya yang menangis sepanjang jalan.
Sampai di rumah dia memilih untuk menyendiri terlebih dahulu.
Dinda sudah sangat sedih karena Melati, sekarang dia sangat sedih tidak bisa mendapatkan anak yang di inginkan oleh nya.
"Kita bisa mencari di panti asuhan yang lain kalau yang di panti asuhan sebelum nya kamu tidak mau." ucap Mamah mertua nya.
"Aku sudah terlanjur sayang sama anak itu mah, bagaimana bisa aku melupakan dan memilih anak yang lain." ucap Dinda.
Mamah nya Menghela nafas panjang.
"Mungkin seperti yang mamah bilang itu bukan rejeki ku, hanya saja aku meminta kepada Tuhan agar orang yang mengasuh nya selalu menjaga nya dengan baik." ucap Dinda.
"Aminn..."
Sudah empat hari kehilangan Melati. Dinda menemui Alex lagi.. Namun dia tidak di rumah Dinda menyusul nya ke kantor.
"Permisi pak, ada Bu Dinda di depan." ucap sekretaris nya. "Silahkan dia masuk ke dalam." ucap Alex.
Sementara di luar Stevan mengikuti istri nya karena terlihat mencurigakan sekali dan benar saja ada yang di sembunyikan oleh istri nya.
"Dinda menemui Alex? Untuk apa?" ucap Stevan. Dia mengikuti sampai ke lobby.
"Apa jangan-jangan mereka memiliki hubungan lagi? Aku tidak bisa membiarkan ini, aku harus mencari tau." ucap Stevan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Melati? Apa sudah ketemu?" tanya Dinda. Alex Menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus melaporkan ini ke polisi." ucap Dinda.
"Aku mohon jangan Dinda." ucap Alex.
"Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu sendiri." ucap Dinda.
"Kalau orang tua ku tau, dan juga orang tua melati tau, mereka akan marah. Aku tidak meminta semua nya seperti ini, aku mohon jangan." ucap Alex.
Dinda menggeleng kan kepala nya.."Aku minta maaf, aku yakin sekarang Melati dalam keadaan yang tidak baik-baik saja." ucap Dinda.
Setelah itu dia pergi dari ruangan Alex.
"Dinda..." Stevan memanggil Dinda di saat mau keluar dari perusahaan itu. Dinda menoleh ke arah Suara yang memanggil namanya tadi.
"Sayang..." Ucap Dinda. "Ada hubungan apa kamu dengan Alex? Tidak sekali ini kamu datang menemui dia kan?" ucap Stevan.
"Kamu jangan salah paham dulu, Aku mohon. Kita bicarakan ini di dalam mobil yah." ucap Dinda. Stevan menepis tangan istrinya.
"Kamu sangat tega melakukan ini kepada ku." ucap Stevan.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Dinda menarik tangan Stevan ke dalam mobil.
"Aku dengan Alex tidak berselingkuh, kamu harus percaya." ucap di Dinda.
"Kalau tidak selingkuh lantas apa? Kenapa kamu sering menemui dia?" tanya Stevan.
Dinda Menghela nafas panjang beberapa kali.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus memberi tahu kamu kalau Melati kabur dari rumah suaminya Enam hari yang lalu dan sampai sekarang tidak kunjung di temukan." ucap Dinda.
"Kabur?" ucap Stevan sangat kaget sekali, wajah nya tidak bisa berbohong.
"Iyah.. Aku minta maaf karena tidak memberi tau kamu langsung." ucap Dinda.
"Kenapa kamu tidak memberi tau kepada ku sebelum nya?" tanya Stevan. "Aku minta maaf, aku berfikir kalau Alex bisa bertanggung jawab." ucap Dinda.
"Kenapa Melati bisa pergi? Apa rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja?" tanya Stevan sambil menahan amarahnya.
"Maafin aku, maafin aku menutupi semua nya, ini adalah permintaan Melati. satu Minggu yang lalu Alex baru saja menikah dengan selingkuhannya yang sudah hamil di luar nikah." ucap Dinda.
Mendengar itu membuat Stevan Menghela nafas panjang, kepalanya terasa sangat pusing dan wajah nya memerah.
__ADS_1
"Melati sangat sedih, dan pada akhirnya dia kabur ." ucap Dinda.