
Irin terbangun dengan perban di kepalanya. Bi Ijah segera menyambut dengan penuh kelegaan di raut wajahnya.
"Akhirnya Non Irin sudah siuman."
"Aku dimana Bi?"
"Di rumah sakit Non, mobil Non Irin nabrak pohon, untung Non Irin nggak terluka parah. Bibi takut kehilangan Non Irin."
"Jangan berlebihan Bi, aku baik-baik aja."
"Iya, Dokter ganteng tadi bilang kalo Non Irin sudah sadar. Non Irin sudah boleh pulang, ayuk Non kita pulang bibi nggak betah di sini."
"Ada-ada saja bik, mana ada dokter ganteng."
"Ada Non, namanya Dokter Rian. Dia yang nolongin Non dan bawa Non ke sini. Ini Dokter ganteng itu juga ngasih kartu nama, kalau ada apa-apa bisa hubungin Dia." Bi ijah menyodorkan selembar kartu pada Irin.
"Dr. Rian Nugraha." Irin membaca kartu tersebut.
"Iya Non, Dokter Rian bilang mobil Non Irin kehilangan kendali dan oleng karena menghindari mobilnya. Lagian Non Irin dari mana hari minggu pagi-pagi sudah pergi bahkan Bibi nggak tahu berangkatnya. Tahu-tahu ada telpon dari rumah sakit." Ucapan bik Ijah membuat Irin kembali mengingat Bambang.
"Mas Bam Bik!" Irin mengingatnya dan mulai menangis, mengadukan segalanya pada Bi Ijah. Bi Ijah memeluknya, menenangkan dan mencoba memahami cerita Irin.
"Sudah Non, ada bibi yang sayang sama Non Irin. Non Irin sudah bibi anggap anak sendiri. Jadi Non Irin jangan merasa kesepian lagi. Non Irin harus bangkit, masa depan Non Irin masih panjang. Bibi yakin Non Irin adalah perempuan hebat dan kuat." Bi Ijah mencoba menenangkan Irin mencoba memberinya semangat dan kekuatan.
"Terimakasih Bi, Bibi adalah satu-satunya keluargaku sekarang. Jangan pernah tinggalin Irin ya, Bi."
Keduanya larut dalam kasih sayang bak Ibu dan anak. Diam-diam, sosok dokter Rian memperhatikan dari bibir pintu. Dia hendak masuk tapi sungkan mengganggu keharuan di depannya. Setelah menunggu sekian menit, dokter Rian memutuskan masuk.
__ADS_1
"Maaf mengganggu, bolehkah saya periksa keadaan pasien?" sapanya.
"Boleh dok" jawab bi Ijah
Dokter Rian memeriksa Irin, matanya mulutnya telinganya detak jantungnya dan pernafasannya.
"Semuanya baik, Nona Airina sudah boleh pulang."
"Terimakasih Dokter," ucap Irin
"Panggil saja saya Rian," tiba-tiba dokter itu mengulurkan tangannya untuk berjabat kepada Irin. Dengan ragu Irin meraih tangan tersebut dan menjabatnya,
"Irin."
"Oh, baiklah Irin." Dokter itu terpesona pada Irin, mata Irin seperti magnet bagi siapa saja yang menatapnya. Irin segera melepaskan tangannya, membuat dokter Rian malu karena terlalu lama menjabat tangan Irin.
"Hah?" Irin terperangah dengan ajakan Rian.
"Sebagai teman, bukan dokter dan pasien," jelas Rian.
"Hemm... nanti saya pikirkan yah," tolak Irin halus.
"Baiklah, apa boleh aku meminta nomer ponsel Nona Irin?" Rian sangat agresif seolah tidak ingin kehilangan kesempatan berkenalan.
"Apa perlu? kamu sudah memberikan ini."
jawab Irin sambil menunjukan kartu nama dokter Rian.
__ADS_1
"Bukankah pantang bagi seorang gadis menghubungi pria duluan. Maaf, aku hanya berinisiatif."
" Tidak apa-apa. Biar nanti aku yang menghubungi duluan." Irin mulai risih dengan keagresifan Rian.
"Baiklah, aku permisi dulu." Pamit Rian
"Ganteng-ganteng kok maksaan ya Non, masih baik Mas Bambang kemana-mana," gerutu bi Ijah setelah dokter Rian menghilang di balik pintu.
"Jangan sebut dia lagi Bi, aku benci!"
"Jangan begitu Non, bibi sebenarnya tidak percaya Mas Bambang berkhianat. Mas Bambang begitu sayang sama Non Irin. Buktinya Mas Bambang selalu menanyakan keadaan Non Irin pada Bibik. Percayalah Non, Mas Bambang tidak seburuk yang Non pikir."
"Bibi malah belain laki-laki itu sih!"protes Irin kesal.
"Bukan belain Non, tapi hanya menyampaikan pendapat bibi. Lagi pula ikatan pernikahan itu sakral Non. Jangan tergesa-gesa memutuskan."
"Aduh, kepala Irin jadi sakit lagi dengar bibi belain dia terus!" ucap Irin sambil menutup kedua telinganya.
"Huh, hati-hati Non, nanti cinta beneran lho." Canda bi Ijah menggoda Irin.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Terimakasih.
Ditunggu like dan komen nya ππππ
Juga krisan yang membangun.
__ADS_1