
Bambang segera berkemas dengan hati yang hancur, setahun dia mencoba mencairkan Irin, setelah hampir berhasil Irin kembali membeku. Dia bersiap pulang ke rumahnya, namun diam-diam dia meninggalkan beberapa barang di kamarnya.
"Aku pasti kembali!" gumam Bambang.
Bi Ijah berusaha menahan Bambang pergi, tapi dengan penjelasan dan pengertian Bambang bi Ijah pun melepaskan kepergian suami Nonanya itu. Irin diam-diam memperhatikan kepergian Bambang dari jendela kamarnya, dia sudah merasa terjerat dan berat melepaskan Bambang tapi dia juga tidak bisa menerima kenyataan suaminya berkhianat.
"Kenapa kamu begitu jahat, Mas?" ratap Irin mengiringi mobil Bambang yang mulai meninggalkan pekarangan rumahnya.
Sekarang Irin menatap sekeliling kamarnya, begitu sepi tanpa orang tua tanpa suami. Dia kembali menangis seorang diri. Irin melihat fotonya bersama orang tuanya, di sana dia nampak luar biasa. Irin rindu. Hanya lewat doa Irin bisa meluapkan kerinduannya. Kemudian dia bertekad untuk bangkit seorang diri. Dia ingin membuktikan pada Bambang bahwa dia bukan wanita lemah. Walaupun sebatang kara, dia juga berhak bahagia.
Β
πΏπΏπΏπΏπΏ
Satu bulan kemudian.
Irin fokus pada materi dan tugas kuliahnya. Kekecewaanya pada Bambang sudah mulai terlupakan. Statusnya menggantung begitu saja. Tidak ada talak atau pun gugatan. Irinpun membiarkanya begitu saja. Meskipun terkadang Irin seperti melihat Bambang melintas di sekitarnya, bahkan mengawasinya tapi dia tidak peduli. Lelaki penghianat tidak perlu dipikirkan.
__ADS_1
Kemudian suatu malam, Bambang terlihat menunggu Irin di depan pagar rumahnya. Irin yang baru pulang kuliah membunyikan keras-keras klakson mobilnya, bermaksud menyuruh Bambang minggir. Tapi Bambang tidak peduli dia malah merangsek masuk ke mobil Irin. Irin melotot tajam melihat apa yang Bambang lakukan.
"Apa yang kamu lakukan, keluar dari mobilku cepat!" Irin mulai panik.
"Irin ... aku ingin bicara sama kamu. Nggak seharusnya kita membiarkan kesalah pahaman ini berlarut-larut." Bambang mencoba memaksa Irin untuk mendengarkannya.
Irin tampak diam dengan nafasnya yang terengah-engah karena terkejut. Dilihatnya Bambang yang tampak sangat kusut, kurus dan nampak depresi. Irin benci sekali tapi hati kecilnya rindu. Hatinya merasa iba melihat kondisi Bambang yang buruk.
"Baiklah, bicaralah!" Irin mulai melunak.
Bambang yang senang seperti mendapat lampu hijau dari Irin segera meraih tangan Irin. Irin kembali terkejut dan mencoba menarik tanganya, tapi sia-sia Bambang sangat erat menggenggamnya meski dengan tubuh sekurus itu.
Irin merasa sangat kasihan dengan lelaki di depannya. Dia membiarkan tanganya digenggam tanpa berusaha menariknya kembali. Sesaat keheningan menguasai keadaan.
"Bicaralah, jangan seperti ini!" perintah Irin.
"Aku senang kamu nampak bahagia Irin, tapi aku sangat merindukan kamu."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti, bukankah kamu yang berkhianat. Kamu memberiku cinta yang palsu, kenapa kamu nggak jujur aja. Kamu nggak perlu membuat sandiwara di depanku," jelas Irin kasar, dia segera menarik tangannya ketika menyadari dirinya kembali dikuasai emosi, karena baginya Bambang mengungkit masalah yang sedang dia coba lupakan.
"Aku sudah berpisah dengan Winda pada hari aku mengucapkan Ijab qobul atas kamu Irin. Aku bersumpah! Tidak pernah terjadi apa-apa. Aku sudah bertekad membangun hidup bersamamu, apa yang kamu lihat semata-mata adalah hubungan aku dan Winda sebagai teman. Tidak lebih, Rin."
"Aku paham, kamu nggak akan mudah percaya. Tapi bisakah kamu percaya pernikahan kita Irin? Aku tidak main-main saat berjanji pada Pak Herman untuk menjaga putri tunggalnya. Aku tidak main-main saat aku berjanji padamu, almarhum orang tuamu dan Tuhan kalau aku akan mempertanggung jawabkan semuanya. Ragukah kamu Irin?" kata-kata Bambang begitu memojokkan Irin dengan ketegasannya.
"Aku bukan benda, aku manusia yang punya perasaan. Aku hampir tertipu pada apa yang kamu dramakan. Apa artinya semua itu kalau pada akhirnya kamu melabuhkan hati pada kekasihmu itu? Kamu pikir aku hanya benda? Pajangan?" Irin masih dipenuhi emosi.
"Winda hanya membantu Irin, aku sakit waktu itu. Jujur aku tidak tahu apa yang terjadi seandainya Winda tidak menolong. Mungkin aku sudah ... mati. Menyusul orang tuamu!" Bambang pun nampak sedikit meninggikan nada bicaranya, dia buntu karena perasaanya tidak pernah bersambut pada Irin. Rindunya yang menggebu dihempaskan begitu saja oleh Irin. Sejenak Bambang merasa sangat frustasi.
Irin terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dari awal memang dia yang gegabah tidak mau mendengar penjelasan. Namun, ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya ketika Bambang menyinggung soal kematian. Bambang sedikit memundurkan badannya, dia mencoba mengatur nafas agar ucapannya tidak salah dan sia-sia.
"Baiklah Irin, aku yakin kamu sudah mampu memutuskan. Aku yakin hatimu tahu mana yang benar mana yang salah. Turunkan sedikit prasangka dan egomu. Dan kamu akan menemukan jawaban masalah ini di hatimu." Bambang membuka pintu mobil dan bersiap keluar.
"Aku akan menunggu Irin. Sampai kapanpun!" ucap Bambang seraya menjauh dari Irin.
Irin menitikan air mata setelah kepergian Bambang, hati kecilnya menyadari sebagian dari dirinya ternyata ingin percaya pada Bambang. Ketika logikanya berjalan ke arah lain, firasatnya justru menuntun dirinya ke arah yang berlawanan.
__ADS_1
"Haruskah aku memberi dia kesempatan?"
πππππ