
Waktu adalah obat, masa perkenalan Irin dan Bambang adalah obat bagi luka mereka masing-masing.
Keterbukaan dan komunikasi menjadi kunci utamanya.
Siapa sangka perjodohan indah mereka ditulis dengan berbalut luka dan kehilangan.
Besok Bambang, Irin, serta bi Ijah akan segera melakukan perjalanan ke kampung halaman Bambang di daerah Semarang. Bambang juga sudah mengajukan cuti selama seminggu.
Bambang sedang mengemas beberapa barang di ruang depan, mereka membawa beberapa oleh-oleh untuk keluarga Bambang. Irin datang membawakan segelas sirup untuk suaminya.
"Terimakasih, kamu tahu aja Mas kehausan," ucap Bambang setelah menenggak habis segelas es sirup itu.
"Sama-sama, Irin harap perjalanan besok akan lancar. Berapa jam Mas perjalanan besok?" Tanya Irin.
"Enggak lama kok, paling 7-8 jam kan jalur tol sudah panjang sekarang."
"Hem, kita cari supir aja Mas biar Mas Bam nggak kecapean nyetir," usul Irin.
"Nggak papa Rin, lagian mas sudah terbiasa perjalanan jauh begitu. Kamu gugup ya?" Bambang menebak perasaan Irin, Irin mengangguk.
"Nggak apa-apa, orang tua mas pasti suka sama kamu, lagian kamu kalau telpon sama ibu keliatan akrab."
"Iya kan beda kalau ketemu langsung, lagian Irin nggak bisa masak dan pekerjaan rumah lainnya. Nanti Irin dianggap menantu tidak baik."
"Kamu tenang saja, kamu nggak akan disuruh macam-macam disana."
Irin tersenyum sambil melihat suaminya yang sedang memasukan beberapa kue dan coklat ke dalam kardus besar. Nampak olehnya kulit kepala Bambang yang pitak di 2 bagian, Bambang memang habis mengganti gaya rambutnya menjadi lebih pendek di sisi samping-sampingnya. Irin mengingat ucapan Winda, bahwa dirinya pernah melempar kepala Bambang dengan botol.
"Mas, bekas luka dikepala itu ulah Irin ya?" Tanya Irin.
Bambang menghentikan aktifitasnya dan meraba bekas luka yang di maksud Irin.
"Bukan, tapi ini tanda cinta dari kamu, Rin."
"Kenapa Mas Bam nggak pernah cerita si Mas?"
"Cerita apa?"
"Soal kelakuan-kelakuanku yang buruk sama Mas."
"Buat apa? Lagian kamu tidak sepenuhnya sadar waktu itu. Kamu depresi berat, Mas bersyukur kamu segera pulih. Bercerita hanya akan membuka lagi luka lama Rin, lebih baik dilupakan yang diingat hanya yang ...." Bambang berhenti ditengah kalimat.
"Yang apa mas?" Irin tidak sabar menunggu kelanjutannya.
"Nggak ... nggak, nggak usah dibahas." Kilah Bambang.
__ADS_1
"Mas, apa?" Desak Irin.
"Nggak usah dibahas nanti saja kalau sudah saatnya mas kasih tahu."
"Hhh, kenapa sih?"
"Mas takut Irin marah, jadi mending nggak usah ya."
Wajah Irin memerah, dia malu. Irin sudah menebak hal apa yang Bambang maksud.
"Kan, Irin jadi diem." Bambang menyadari perubahan sikap Irin.
"Irin marah lagi kan sama mas?"
"Nggak Mas, Irin cuma malu."
"Kamu kalau malu-malu begitu bikin mas gemes." Ucapan Bambang sukses membuat Irin salah tingkah.
Bambang selesai mengemas semua oleh-oleh yang akan dibawa besok. 4 kardus besar. Berisi makanan, pakaian dan beberapa barang lainnya yang akan dibagikan ke keluarga Bambang.
Bambang anak ke-2 dari 6 bersaudara.
Ramai sekali keluarganya berbeda dengan Irin. Kakak pertamanya perempuan dan sudah menikah, anaknya kembar perempuan dan laki-laki berusia 4 tahun, Irin membawakan mereka pakaian dan mainan.
Adik-adik Bambang belum ada yang menikah, ada yang sudah bekerja dan merantau seperti Bambang, dan lainnya masih sekolah.
"Iya Mas, aku tidur dulu."
Irin kemudian naik ke kamarnya. Bambang menatap Irin sampai punggungnya menghilang dan dia juga bersiap-siap tidur di kamarnya.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kedatangan Irin disambut hangat oleh orang tua dan saudara Bambang. Rumah Bambang masih rumah kampung, masih menggunakan kayu jati yang disusun-susun dengan lantai keramik berwarna putih ke hijau-hijauan. Rumahnya besar dengan beberapa kamar, penataannya begitu rapi dan apik dengan tatanan tradisional dan moderen.
Lingkungannya pun masih asri dan agak jauh dari kota. Kalau sedang beruntung bisa melihat gunung Merbabu di sisi kanan dan Merapi di sisi kiri, kalau langit sedang bagus tentunya.
Irin, yang anak Ibu kota sangat takjub dengan kampung Bambang. Di rumah ada Orang tua dan kedua adik Bambang, kakaknya yang sudah menikah tinggal di kampung sebelah.
Irin disambut dengan pelukan oleh Ibu Bambang, sang Ibu sampai menangis mengelu-elukan kecantikan Irin dan bersyukur atas pernikahan anaknya yang penuh kejutan. Kemudian Ibu memeluk Bambang dan semakin meledak tangisannya, mengeluhkan anaknya yang jarang sekali pulang.
"Semoga betah yo nduk di gubuk ibu," ucap Ibu sambil mengelus kepala Irin, Irin terdiam merasakan kembali hangatnya sentuhan seorang ibu kemudian memeluk ibu mertuanya tersebut.
"Terimakasih ya, Bu!"
Setelah makan dan membersihkan badan Bambang langsung masuk kamarnya dan merebahkan badannya di kasur. Irin mengikuti di belakangnya, kali ini mereka tidak bisa beralasan untuk berbeda kamar. Sedangkan bi Ijah menempati kamar adik Bambang yang sedang merantau.
__ADS_1
"Cape ya Mas?" Tanya Irin.
"Iya, cuma mau ngelurusin pinggang sebentar. Masih sore masa mau tidur."
Irin hanya manggut-manggut, dia hanya duduk di tepi ranjang dan melihat-lihat sekitar. Ada beberapa foto Bambang terpajang rapi di dindingnya.
"Tidur saja Rin, kalau kamu cape," ajak Bambang sambil menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya.
"Nggak papa Mas Bam aja."
"Irin nggak nyangka, keluarganya Mas Bam baik banget. Irin merasa diterima dengan sangat baik disini."
"Makanya jangan kebanyakan nonton sinetron."
Irin tersenyum mendengar jawaban suaminya.
Irin sangat betah di rumah Bambang, dia seperti mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang hilang, bahkan lebih. Makan selalu ramai hingga menambah selera makannya. Memasak, nonton tv bahkan hanya sekedar bersantai dan bercakap-cakap. Kakak Bambang pun ikut datang meramaikan suasana bersama si kembar.
Irin dan Bambang tidur satu kamar namun Bambang tetap menjaga hasratnya. Dia benar-benar menunggu sampai madu cintanya matang sempurna. Terkadang dia hanya mencuri satu ciuman kecil di kening ketika Irin sudah terlelap.
Subuh keesokan harinya, Bambang mengajak Irin untuk berjalan-jalan sambil menikmati keindahan kampung dan menimati udara pagi. Benar saja, nampak pemandangan indah Merbabu dan juga Merapi disisi yang berbeda. Hamparan sawah nan hijau dan pohon kelapa yang menjulang tinggi benar-benar merefresh kepenatan Ibu kota.
Senyum di bibir Irin tidak berhenti tersunggih sepanjang perjalanan itu. Bambang juga mengajak Irin membeli kue-kue basah khas kampung sebagai sarapan.
"Iki Mas Bambang yo? Ih, bener Mas Bambang, pie kabare Mas?" Sapa seorang ibu-ibu dari kerumunan orang yang membeli sayur.
"Apik bu...."
Setelah bercakap-cakap ringan dengan bahasa jawanya Bambang mengajak Irin pergi, dengan raut muka yang tidak nyaman. Sekilas banyak Ibu-ibu di belakang berbisik-bisik membicarakan sesuatu, terdengar nama Winda disebut-sebut di sana. Winda memang satu kampung dengan Bambang.
Bambang semakin tidak nyaman mendengarnya, Irin yang tidak mengerti bahasa jawa pun bingung. Bambang menarik nafas dengan berat kemudian menggenggam erat tangan Irin, seperti mencari sumber kekuatan dan menggandengnya untuk segera pulang.
Irin penasaran namun enggan bertanya karena raut wajah Bambang tidak bersahabat.
"Kamu baik-baik saja Mas?" Tanya Irin ketika sudah jauh dari kerumunan tadi.
"Nggak papa Rin," jawab Bambang singkat.
"Mas sudah janji lho akan terbuka dan tidak ada lagi yang ditutup-tutupi." Desak Irin.
"Nggak papa Rin, jangan merusak momen indah kita dengan komentar dari orang-orang yang tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi, nanti kita yang rugi." Jawab Bambang bijak dan menenangkan Irin, dia tidak ingin senyum istrinya hilang. Irin pun setuju, bagaimanapun dia sangat menikmati momen-momen disini.
Merekapun kembali berjalan, Bambang tetap menggandeng tangan Irin seolah tidak ingin melepaskannya.
"Oh, iki wedokan sing ngrebut calon mantuku!" Teriak seorang wanita seumuran Ibu Bambang dari depan teras rumahnya. Bambang pun menengok ke asal suara dengan muka kaget.
__ADS_1
πππππ