
Irin mendekati jazad bi Ijah yang sudah terbujur kaku, tangannya bergetar hebat kala memberanikan diri untuk membuka kain yang menutupi wajah bi Ijah. Bambang hanya mampu melihat tanpa tahu harus bagaimana menyampaikan semua pada Irin.
Kain pun terbuka, wajah bi Ijah yang memucat terpampang secara nyata di depan wajah Irin. Air mata mulai meluap, namun Irin masih diambang ketidak percayaannya, tangannya bergerak menelusuri wajah tua wanita yang dia sayangi, terasa dingin. Kakinya bergetar hebat dan ...
Bruuugkkk ... !
Irin tak sanggup lagi mengartikan kejadian yang sedang menimpanya, kesadarannya hilang. Bambang dengan sigap menangkap tubuh Irin yang limbung di depannya.
"Irin ... Irin ... !" Bambang panik dengan keadaan Irin, dia menyadari reaksi Irin akan buruk namun dia sendiri pun merasakan kehilangan yang tiba-tiba dan tidak menjadikannya baik-baik saja. Bambang menangis sambil memeluk tubuh Irin.
Setelah Bambang merasa berhasil menenangkan dirinya sendiri, dia tersadar bahwa dia belum memberi kabar pada keluarganya yang masih berada di villa, maka dia segera mengirim pesan di aplikasi hijau miliknya kepada Mba Yuni. Dia juga menghubungi Pak Rahmat, penanggung jawab semua bisnis keluarga Pak Herman. Untuk saat ini dia tidak mungkin melakukan persiapan pemakaman seorang diri.
Pak Rahmat dan orang-orangnya segera datang ke Bogor untuk segera menyelesaikan urusan administrasi dan sebagian lagi mempersiapkan rumah duka dan pemakaman di Jakarta.
Irin sangat sedih hingga terus menangis dan juga pingsan beberapa kali, Bambang tidak pernah sekalipun melepaskan Irin dari tangannya. Orang tua dan saudara Bambang merasa sangat prihatin dengan keadaan Irin. Ibu Bambang juga terus menerus menguatkan anaknya agar dia bisa menguatkan Irin.
Suasana berkabung begitu terasa di setiap sudut rumah sakit, dengan kepergian bi Ijah yang tiba-tiba membuat semua orang merasa terpukul dan kehilangan.
Pada akhirnya urusan administrasi selesai dan pukul 02.00 mereka bergerak menuju Jakarta dengan diiringi suara raungan sirine mobile jenazah yang membuat sebagian orang trauma.
Sepanjang perjalanan Irin terus menerus menangis dan meracau meratapi kepergian bi Ijah, ketika kesedihannya tak terbendung dia akan kembali pingsan. Bukan hanya kepergian bi Ijah yang membuat orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sedih, namun keadaan Irin yang begitu terpukul membuat siapapun yang melihatnya akan tertular perasaan pilu.
Semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh Pak Rahmat, pelayat banyak berdatangan bahkan relasi-relasi Alm. Pak Herman turut datang atu sekedar mengirimkan karangan bunga, semua menunjukan betapa baiknya Pak Herman memperlakukan bi Ijah sehingga teman-temannya pun ikut menganggap bi Ijah bagian keluarga Pak Herman tanpa memandang statusnya.
Bambang terus menguatkan Irin, meyakinkannya bahwa semua adalah takdir dan semua adalah yang terbaik untuk bi Ijah. Atas usul orang tua Bambang, Irin harus berjalan di bawah keranda bi Ijah sebelum jenazah dibawa ke pemakaman, agar Irin menemukan keihlasan dan segera menerima takdir. Mengingat apa yang sudah menimpa Irin sebelumnya Bambang pun menyetujui.
__ADS_1
Bambang dengan setia memapah tubuh Irin yang lemah untuk berjalan di bawah keranda tersebut, doa tidak pernah berhenti keluar dari bibir Bambang, dia menyadari tidak ada sumber kekuatan selain dari-Nya.
Setelah beberapa langkah menjauh Irin kembali pingsan, tubuhnya lelah dengan kesedihan yang tidak mampu lagi dia tanggung.
"Bawa ke kamar aja Mbang, biar ibu yang jaga Nduk Irin, kamu antar bi Ijah ke makam aja, kuat nggak Mbang?" Ibu Bambang menawarkan diri melihat Bambang sudah kepayahan menjaga Irin.
"Iya bu, tolong jaga Irin ya bu," Bambang membopong tubuh Irin ke kamarnya, setelah menyerahkan Irin kepada ibunya Bambang kemudian bergegas untuk menyusul rombongan jenazah yang sudah berangkat.
Tidak lama setelah kepergian Bambang Irin kembali sadar, Ibu mertuanya menenangkannya dengan penuh kasih sayang. Dia juga memaksa Irin agar meminum teh manis buatannya.
"Irin Ikhlas bu ... !" ucap Irin tiba-tiba.
"Alhamdulillah ... semoga jalane mbok Ijah dilapangkan ya nduk, sudah jangan diratapi lagi, enggak boleh."
"Irin akan berusaha bu," jawab Irin dengan lemah.
"Iya ... "
Irin mencoba memejamkan matanya namun pikirannya menerawang jauh, hatinya mulai merasa lebih tenang ditemani Ibu mertuanya yang mengaji di sampingnya. Terbayang-bayang saat terakhir bi Ijah memberinya ucapan selamat, bi Ijah yang harus pergi tanpa memberikan firasat apapun bahkan dia tidak menunjukan tanda-tanda dia sedang sakit.
'Selamat jalan bi, Irin ikhlas, terimakasih atas semua kasih sayang dan ketulusan bi Ijah,' Suara hati Irin.
Setelah pemakaman dan doa bersama selesai Bambang menyalami semua pelayat dan menerima semua ucapan bela sungkawa mereka. Walaupun sebagian dari mereka tidak Bambang kenal tapi Bambang mengerti bahwa semua datang karena menganggap bi Ijah orang baik semasa hidupnya.
"Selamat jalan bi, terimakasih atas segalanya." Salam perpisahan Bambang untuk bi Ijah.
__ADS_1
"Terimaksih Pak Rahmat, saya nggak tahu akan bagaimana keadaanya kalau Pak Rahmat enggak ada." Kata Bambang sambil menyalami Pak Rahmat sebagai pelayat yang terakhir pergi.
"Sama-sama Mas Bambang, Almarhumah sudah saya anggap kerabat sendiri. Jangan sungkan kalau nanti Mas Bambang butuh sesuatu hubungi saja saya Mas," jawab Pak Rahmat.
"Iya Pak, terimakasih."
"Almarhum Pak Herman juga sangat baik pada saya, sampai bingung saya dengan cara apa bisa membalas kebaikannya."
"Biar Alloh saja yang membalas Pak, Pak Rahmat sudah sangat membantu saya terutama Irin selama ini, terimaksih Pak," ucap Bambang kembali menyampaikan terimakasihnya.
"Sama-sama Mas, ingat jangan sungkan!" tegas Pak Rahmat mengingatkan Bambang untuk mengandalkannya, kemudian Pak Rahmat pergi.
Bambang pun segera pergi untuk menemui Irin, dia sangat khawatir dengan keadannya, dan juga membayangkan Ibunya yang mungkin kerepotan bila Irin bangun kemudian menangis.
Bambang membersihkan dirinya terlebih dahulu di keran depan rumah sebelum dia mendatangi Irin. Setelah bersih Bambang langsung menuju kamar.
Bambang tercekat begitu dia sampai di depan pintu kamarnya, dia terkejut mendapati Irin sedang duduk dan berpelukan dengan seorang laki-laki. Wajahnya tidak terlihat karena posisinya sedikit membelakangi Bambang.
"Irin ... ?!"
🍃🍃🍃🍃🍃
Jangan lupa like yang banyak juga komentarnya biar othor semangat buat update...
Terimakasih yang sudah setia menyimak kehidupan Bambang dan Irin...
__ADS_1
Sayang kalian semua... 😘