
"Dan kamu Rin, aku sempat berpikir untuk menikahimu!" Irin tertawa mendengar tutur kata Gilang.
"Hahahaha ... Bagaimana kamu mau nikahin aku kalo saat-saat terburuk dalam hidupku kamu enggak ada, hilang, jelaskan? Bagaimana?" sindir Irin.
"Nggak ada yang ngasih kabar, jadi aku benar-benar nggak tahu, Rin. Kalo aja aku tahu, pasti udah aku hajar itu si Bambang! Dan kamu nggak perlu nikah sama dia," ujar Gilang.
"Keberadaanmu aja nggak ada yang tahu, lagi pula aku hilang kesadaran mana kepikiran ngasih kabar ke kamu. Lalu, sekarang kenapa kau bisa tahu?"
"Entahlah, aku hanya merasa harus datang."
"Kau telat, jika kamu datang lebih cepat sedikiit saja. Bi Ijah pasti bahagia bisa bertemu denganmu, Lang."
"Kamu benar, Rin,"
"Tolong bersikap baik sama Mas Bambang, bagaimanapun dia suamiku, semua sudah berlalu dan aku sudah ikhlas."
"Kita liat saja, apa dia benar-benar mencintaimu atau karena kau kaya?" Irin kesal mendengar ucapan Gilang.
"Hhhh, jangan sembarangan bicara, Lang. Aku percaya padanya, dia benar-benar mencintaiku."
"Andai aku datang jauh lebih cepat!"
"Hahh? Apa maksudmu?"
"Kamu lupa? Kamu memintaku untuk menjadi suamimu, kamu memintaku untuk menikahimu, kamu bilang nggak bisa percaya siapapun kecuali aku, kamu selalu memintaku berjanji untuk tetap bersama, kamu ingat?"
Irin berpikir dan mencoba mengingat kata-kata Galang. Irin kemudian tertawa saat berhasil mengingat sesuatu.
"Ahahaha yang kamu maksud adalah saat kita masih kecil?"
Gilang melihatnya dengan kesal, dia merasa diremehkan oleh Irin.
"Apa kamu juga nggak mikir gimana dulu aku patah hati kamu pergi gitu aja?" ledek Irin melihat Gilang yang kesal.
"Padahal, aku benar-benar berjanji dan berniat mewujudkan itu, Rin," ucap Gilang masih dengan gayanya yang sok cuek.
"Aku nggak salah denger?"
"Tinggalin aja suamimu itu, ayo kita memulai hidup baru!"
"Kamu berharap aku bilang, iya?"
"Nggak, aku yakin kamu akan jawab iya."
"Iya,aku nggak mau! Hahaha ... "
Gilang melengos kesal karena Irin menjadikannya lelucon.
"Pergi sana, kau kesini cuma bikin aku kesal!"
__ADS_1
"Baiklah ... Ayo anterin aku pulang, sebelum Mas Bam pulang, aku sudah harus di rumah!" Pinta Irin.
"Kau datang nggak pake undangan, masa pulang minta antar!"
"Ayo ... !" Irin memaksa.
Gilang pun menuruti keinginan Irin, walaupun dengan gayanya yang cuek dan jutek sebenarnya dia baik dan perhatian.
"Waah, kamu anak orang kaya juga ya? Jadi ayahmu kaya?" Reaksi Irin begitu melihat mobil sport Gilang.
"Bukan karena dia kaya, aku mau ikut dengannya, jangan salah paham!" tegas Gilang pada Irin.
"Sama aja bukan? Kamu juga berpikir buruk sama Mas Bambang."
"Beda!" Gilang nampak marah Irin menyamakan dirinya dengan Bambang.
"Saamaa," Irin kembali senang mengembalikan kata-kata Gilang kepada dirinya sendiri.
"Beda!" tegas Gilang.
"Ya sudahlah!" Irin akhirnya mengalah.
Mobil mereka melaju membelah jalanan kota ya mulai ramai karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Hingga akhirnya mobil mereka terjebak macet, hal itu membuat Gilang emosi.
"Ahhh, shiii*! gara-gara kamu aku jadi harus macet-macetan begini," umpat Gilang dengan berkali-kali membunyikan klakson mobilnya.
Kemudian dia menengok ke arah Irin yang sama sekali tidak merespon. Dan ternyata Irin tertidur.
"Hhhhh ....!" Gilang mendengus kesal.
Matahari pun mulai terbenam, tapi kemacetan itu semakin parah, dan Gilang semakin marah. Sementara Irin malah tidur dengan pulasnya. Gilang berinisiatif menyelimuti tubuh Irin dengan jaket miliknya, dia menutupi tubuh Irin dengan sangat hati-hati.
Sekilas wajah mereka berjarak sangat dekat, Gilang dapat merasakan dengkuran halus dari Irin. Gilang memandanginya lekat-lekat, gadis kecil yang selalu menempel padanya, dan membuatnya repot karena kecengengannya.
Gadis kecil yang selalu dia rindukan selama ini, walau wajah Irin telah banyak berubah tapi perasaan aneh di dalam hatinya masih sama. Rasa sigap dimana dulu Gilang melindungi Irin ketika naik atau turun tangga, selalu ingin melindungi ketika mereka main di taman bersama, ingin selalu menjadi pelindung ketika Irin main bola, berlarian mengejar kucing, naik ayunan, main layang-layang, atau ketika ada anak lain yang mencoba nakal padanya.
Gadis kecil itu sudah berubah menjadi wanita mandiri yang cantik dan manis. Mereka sudah seperti kakak dan adik, tapi sesuatu dalam hati Gilang menolak menerima label saudara itu.
'Walaupun aku nggak tahu bagaimana proses kamu tumbuh, tapi dalam hatiku masih tersimpan perasaan yang sama, aku merindukanmu!' Batin Gilang.
Tangan Gilang seolah bergerak sendiri membelai rambut Irin, satu dua tiga detik berlalu, tangannya bergerak dengan perlahan turun ke kening Irin, nampak bekas luka di sana, tanpa bisa dikendalikan tangan Gilang bergerak menyusuri pipi Irin, bagian dimana dulu Irin selalu meminta cium darinya setelah berbaikan karena bertengkar.
Gilang bergerak semakin mendekat, bibir Irin bagaikan magnet yang menarik Gilang untuk terus mendekat dan mendekat.
"Tiiiiiin .... !!!"
Suara klakson mobil di belakang mereka membuat Gilang tersadar dan kaget. Dia langsung mundur menjauhi wajah Irin, bersamaan dengan itu Irin terbangun dan menyadari dirinya berada di tengah kemacetan.
Gilang yang salah tingkah memilih diam tidak lagi mengeluh seperti sebelumnya. Dia membuang pandangannyan ke arah luar jendela. Jari jemarinya memukul-mukul setir mobil yang dipegangnya.
__ADS_1
"Hoooaaam ... ! Maaf aku ketiduran!"
Gilang tak sempat menjawab Irin, dia sibuk mengontrol dirinya sendiri setelah hampir saja dia lepas kendali.
"Ternyata macet, hhhh udah jam segini!" Irin tergesa-gesa memeriksa ponselnya. 19 panggilan tak terjawab dan 37 pesan masuk.
Irin segera menghubungi Bambang, dia pasti sangat cemas, Irin benar-benar tidur pulas.
"Hallo, Mas Bam!"
[Kamu dimana, Rin? Mas khawatir ponselmu aktif tapi nggak bisa dihubungi? Kamu dimana? Biar Mas jemput!]
"Maaf Mas, Irin udah lagi jalan pulang kok nih dianter Gilang, tadi Irin ketiduran di mobil jalanan macet soalnya, sebentar lagi sampai kok!" Gilang hanya mencuri pandang dan merasa cemburu dengan percakapan mereka.
[Gilang?]
"Iya Gilang, sebentar lagi sampai Mas, nggak usah khawatir!"
[Baiklah, hati-hati, Rin. Mas tunggu di rumah.]
"Iya!" Irin kemudian menutup panggilan di telphonnya.
"Siap Non, sebentar lagi sampai!" sindir Gilang.
"Kok kamu gitu sih, Lang?"
"Ya bagaimanapun kamu akan tetap menggapku pembantu bukan, supir!" jawab Gilang ketus.
Irin merasa kesal mendengar ucapan Gilang, Irin sama sekali tidak pernah menganggap Gilang seperti itu bahkan sejak mereka masih kecil.
"Bahkan kamu paling tau gimana aku nganggep kamu selama ini, bisa-bisanya kamu bilang aku nganggep kamu kaya pembantu! Bahkan bi Ijah sudah sejajar dengan Ibuku, aku nganggep kamu sodara!"Irin sangat tersingung dengan ucapan Gilang.
Irin yang marah segera meraih tasnya kemudian melemparkan jaket yang tadi Gilang selimutkan padanya ke arah Gilang dengan keras. Irin memilih turun dari mobil Gilang.
"Terimakasih tumpangannya, Tuan!"
Gilang yang marah karena cemburu justru tidak melakukan apapun termasuk mencegah Irin dan membiarkan dia pergi begitu saja sambil membanting pintu mobilnya.
Gilang memukul setir dengan keras untuk melampiaskan perasaannya. Dia sangat kesal, dan dia tidak tahu bagaimana mengolah perasaannya. Dia marah dan cemburu, dan juga kecewa karena kesalahpahaman diantara mereka.
Gilang hanya mampu menatap Irin yang melangkah menjauh dengan berjalan kaki membelah mobil yang berjejer karena terjebak macet.
🍃🍃🍃🍃🍃
Mampir juga keceritaku yang lain,
MENGEJAR CINTA PERTAMA SUAMIKU..
menceritakan tentang istri yang bersedia jatuh bangun mengejar mantan kekasih suaminya...
__ADS_1
.