MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Sadar


__ADS_3

"Aku benci kamu!!!" Hardik Irin mendorong tubuh Bambang menjauh setelah berhasil mengumpulkan kembali sisa tenaganya. Irin meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Bisa-bisanya kamu berbuat seperti ini! Kamu sudah menghancurkan semuanya! Kenapa? Kenapa harus begini?" Irin akhirnya menangis meluapkan segala amarahnya.


Bambang hanya diam menerima semua amarah Irin.


"Harusnya kamu pergi saja dengan kekasihmu itu, tak perlu menghancurkan aku begini, kamu menghancurkan masa depanku!"


"Tidak Irin, ini masa depan kita. Kamu adalah hidupku, kapan kamu sadar Irin betapa berartinya kamu untukku?"


"Lalu wanita itu? Siapa dia bagimu?" tanya Irin dengan nada sinis kepada Bambang.


"Dia hanya teman sekarang, dia-" Bambang terbata-bata, tak sanggup menjawabnya.


"Teman?!" Ucap Irin dengan nada sinis. "Kau tidur dengannya kau bilang dia hanya teman!!!" Bentak Irin penuh emosi.


"Aku tidak tidur dengannya Irin. Aku bersumpah. Tidak pernah terjadi apa-apa diantara aku dan dia sejak aku menikahimu." Sanggah Bambang dengan tegas memaksa Irin percaya.


"Kau pikir aku buta dengan apa yang aku lihat tadi?"


"Aku hanya memeluknya, karena aku pikir dia adalah kamu!!! Aku begitu frustasi denganmu hingga aku melihat dia sebagai kamu Rin, aku memang hilang kendali. Aku hanya melihat Winda sebagai kamu Rin, dan itu kesalahanku! Satu-satunya kesalahanku, tapi aku tidak pernah menghianatimu." Jelas Bambang dengan nada tinggi hingga membuatIrin beringsut dan takut.


Bambang terbawa emosi, menyadari kebodohannya. Tidak mungkin dia mengatakan semalam dia demam dan hilang kesadaran. Dia tidak ingin Irin khawatir, dia tidak ingin Irin tahu apa yang selama ini menimpanya. Bambang terduduk dan menunduk, kedua tanganya menyangga kepalanya. Seolah-olah ada beban sangat berat di dalam sana.


"Bahkan penjelasanmu sangat tidak masuk akal, kau pikir aku akan percaya?" tanya Irin penuh putus asa.


"Justru karena aku tahu kamu tidak akan percaya, makanya aku - makanya aku - bersikap seperti tadi. Aku tidak tahu harus mencintai kamu dengan cara apa lagi. Semua sudah aku lakukan, aku yakin kamu merasakanya Rin. Aku tulus padamu."

__ADS_1


Irin masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Bambang. Dia begitu takut, dengan Bambang yang ada di depannya. Tidak lembut seperti biasanya, kasar dan memaksa. Irin memakai kembali pakaiannya. Dengan langkah gontai dia bersiap-siap pergi. Lagi-lagi Bambang mencegah langkahnya. Irin begitu takut masih terbayang kejadian tadi.


"Jangan pergi Irin!" cegah Bambang.


"Biarkan aku pergi, tolong ... !" Irin mengiba,


dengan sekejap Bambang berlutut di depan Irin.


"Aku tidak pernah memohon serendah ini pada siapa pun., sekarang aku memohon padamu. Airina kamaliya Naylun istriku, Maafkan aku !!! maafkan aku !!! maafkan aku !!!"


Airmata Irin meluruh kembali. Meski kekecewaannya begitu besar dan rasa sakit karena dihianati begitu perih. Tapi kenapa separuh hatinya ingin tetap tinggal. Dia tidak mengerti.


"Lepaskan! Kau tahu, semua yang kau lakukan membuatku takut."


"Lantas aku harus bagaimana, agar kamu mengerti Irin?" Suara Bambang begitu mengiba.


"Bagaimana aku bisa mengerti? Aku datang untuk memberimu kesempatan. Tapi aku malah melihat kenyataan yang lain. Ditambah kamu telah - kamu -, mengingkari janjimu, kamu merebut semua yang ku jaga. Kamu telah menyentuhku dan menghancurkan semua. Apa yang bisa aku mengerti dengan semua itu, apa??!!!"


Sekejap Bambang sadar, mungkinkah hati Irin sama sekali tidak terketuk? Sebersalah itukah dirinya di mata Irin. Bambang pun melepaskan tangan Irin, dia keliru. Sekeras apapun dia berusaha, hati Irin tidak pernah terbuka padanya. Sekarang dia justru menghancurkan masa depan Irin. Benarkah demikian? Pikiran itu berputar-putar di kepala Bambang, akhirnya dia membiarkan Irin pergi. Seketika Bambang seperti kehilangan alasan memaksa Irin tetap tinggal. Kemudian dia tertawa, menertawakan kebodohannya.


"Bambang bodoh! Bagaimana bisa aku berfikir Irin juga mencintaiku. Aku pembunuh kedua orang tuanya. Mana mungkin dia sudi hidup denganku." Bambang sangat menyesali perbuatannya.


Irin mengendarai mobilnya. Hatinya hancur. Bagaimana hidupnya terus memburuk, seperti mimpi buruk yang datang bertubi-tubi. Tangannya begitu gemetar. Hingga dia kehilangan kendali atas kemudi mobilnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!"


Braaaaaaaaagkkkkkk!!!!

__ADS_1


Darah menetes dari pelipis Irin, kepalanya beradu dengan kemudi.


🌿🌿🌿🌿🌿


Cinta memang tidak bisa ditebak. Semua harus berkorban. Apalagi masalah jodoh, bagaimanapun manusia berusaha bila Tuhan tidak menuliskan berjodoh maka tidak akan berjodoh. Sesederhana itu. Berbanding terbalik dengan perasaan manusia yang begitu rumit. Terlalu mencintai dan terlalu terobsesi membuat mereka menyalahkan takdir.


Cara Bambang mencintai Irin, cara Winda mencintai Bambang dan cara Irin mencintai Bambang. Semua menjadi satu dan menilai diri mereka sudah paling berkorban.


Sementara itu di rumah sakit, bi Ijah nampak duduk di samping tempat tidur Irin. Kemudian seorang dokter menghampiri mereka.


"Halo Bu, apa pasien sudah bangun?"


"Belum Dok, belum. Bagaimana keadaan non Irin Dok?" tanya bi Ijah setelah dokter memeriksa Irin.


"Lukanya tidak parah, hanya syok dan lemah Sepertinya pasien sedang banyak pikiran. Sabar ya Bu, pasien hanya butuh istirahat."


"Terimakasih Dok. Hemm dengar-dengar dokter juga yang menemukan non Irin tadi dan membawanya kesini. Saya ucapkan terimakasih." Bi Ijah mengenali dokter didepannya dari obrolan sebelumnya bersama perawat lain. Dokter muda dan tampan. Usianya sekitar 24 tahun.


"Iya Bu, kebetulan tadi pasien menghindari mobil saya hingga banting setir dan menabrak pohon. Ibu jangan kawatir saya yang menanggung semua biayanya sebagai bentuk tanggung jawab saya ya, Bu. Mohon diterima, saya memang bersalah tadi sedang buru-buru. Maafkan saya ya, Bu." Jelas dokter itu sopan.


"Saya mewakili non Irin, mengucapkan terimakasih ya Dok"


"Panggil saja saya Rian"


"Baiklah Mas Rian."


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2