MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Tunggu Aku Irin


__ADS_3

POV IRIN


Setelah tenang aku masuk ke kamar yang pernah Mas Bam tempati dulu. Aku duduk di tepi ranjang dan mengamati setiap sudut kamar. Aku bahkan tidak pernah masuk kesini sama sekali. Aku menyadari betapa egoisnya aku. Aku dan Mas Bam sama-sama terluka, sama-sama terguncang dan sama-sama dipermainkan takdir.


Aku berjalan meraih lemari pakaiannya, aku terkejut ternyata dia masih meninggalkan beberapa potong baju dan barang lainnya.


Aku meraih kaos berwarna biru langit yang sering dia kenakan dulu. Ku peluk dan aku merasakan aroma Mas Bam di sana.


Tiba-tiba aku kembali sedih. Betapa egoisnya diriku. Selama ini Mas Bam berusaha hidup untuk membahagiakanku, tapi aku sama sekali tidak pernah mencoba memahaminya. Aku terlalu fokus dengan hidupku sendiri, dengan luka ku sendiri. Sehingga tidak menyadari bahwa Mas Bam memiliki luka yang sama besarnya denganku. Aku menangis, melepaskan sakit yang kurasa karena kesalahanku sendiri.


"Maafkan aku yang sudah salah paham denganmu. Menuduhmu selingkuh, menutup telinga dari penjelasan-penjelasanmu."


Tapi aku juga masih merasa sesak, hatiku kembali sakit. Mengingat apa yang telah Mas Bam perbuat padaku. Sebelumnya aku begitu mengagumi keteguhan hatinya, untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengizinkannya. Aku bahkan tidak mengenalinya saat itu, benar-benar seperti orang lain. Masih terbayang adegan demi adegan pemaksaan yang Mas Bam lakukan. Tak peduli aku menangis, memohon, dan mengiba memintanya berhenti. Tapi Mas Bam tetap merenggut mahkota yang kujaga untuknya. Nanti. Walaupun itu sudah menjadi haknya, apa tidak bisa dia menunggu saat yang tepat? saat aku dengan suka rela menyerahkan diriku. Aku sangat kecewa. Ah, lucu sekali. Aku diper*osa suamiku sendiri. Susah sekali bagiku untuk lupa. Setiap aku menutup mata, kejadian itu selalu terbayang bagaikan mimpi buruk. Untung akhir-akhir ini jadwal kuliahku padat. Aku bisa sedikit melupakannya dengan tenggelam pada tugas-tugas yang menumpuk. Ketika malam pun aku akan lebih mudah tertidur karena kelelahan yang luar biasa.


Aku tidak tahu, kesalahan siapa yang paling besar. Aku atau dia? Sama besar bagiku. Aku sangat bimbang, apa aku harus menemuinya dan meminta maaf? Tapi apa yang akan aku dapat setelah itu? Sedangkan kesalahannya juga tidak bisa aku terima. Aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk menemuinya. Pernikahan ini juga menggantung, sangat tidak adil bagiku, dia bahkan tidak berusaha menemuiku. Tuhan beri aku jalan.


🌿🌿🌿🌿🌿


Aku terbangun oleh alarm subuh dari gawaiku. Aku ketiduran di kamar Mas Bam. Segera aku pergi ke kamarku sendiri. Aku harus mandi dan mempersiapkan diri untuk kelas pagi. Walaupun kepalaku begitu berat dan mataku juga bengkak. Aku harus tetap kuliah, ada kelas penting hari ini. Aku ingin segera lulus. Banyak bisnis orang tuaku yang menunggu. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri sekarang.


Sejenak kutatap sebuah kotak. Kemudian aku meraih kembali cincin di dalamnya. Cincin pernikahan yang sudah lama aku campakan. Sekarang dengan hati yang mantap aku akan memakainya kembali, dengan harapan akan ada titik terang dari masalah ini.


Seperti biasa aku sarapan dan membawa bekal. Aku memesan ojol yang akan membawaku ke kampus. Mobil yang rusak sengaja aku biarkan bobrok di garasi, aku belum berniat memperbaiki, aku masih trauma untuk berkendara sendiri. Tiba-tiba ada pesan masuk pada aplikasi hijau di gawaiku. Mas Rian.


[Pagi Nona cantik. Aku minta maaf sepertinya nanti malam aku tidak bisa menjadi ojek cintamu. Ada meeting penting tentang pembukaan klinik baru di luar kota. Aku harap kamu pulang dengan selamat.]


Hhh, Mas Rian baik sekali. Meski orangnya menyebalkan dan tingkahnya kadang membuatku kesal. Tapi justru itulah yang menjadi hiburan untukku. Satu kata lagi untuknya, dia sangat agresif dan pantang menyerah bahkan hanya untuk hal-hal sepele.


Aku ingat saat dia meminta nomerku. Dia hanya belum tahu aku sudah menikah.

__ADS_1


[Baiklah] Jawabku singkat.


[Sebagai gantinya kamu harus menemaniku malam minggu besok ke acara salah satu rekan dokterku. Kan mubazir lenganku yang kekar ini kosong.] Balasnya cepat, dia sangat pede sekali.


[Aku tidak berhutang apapun. Jadi tidak ada yang perlu ku ganti.] Aku berusaha menolaknya, dengan cara halus maupun tegas. Tapi tetap saja.


[Oh, terimakasih. Aku jemput besok jam 7 malam ya Nona cantik. Jangan dandan terlalu cantik nanti aku semakin terpesona!] Balasnya lagi, benarkan dugaanku. Dia tidak akan menyerah.


[Pergilah ke tempat service untuk ponselmu tuan. Tampaknya ponselmu rusak dan hurufnya tidak terbaca dengan baik.] Aku tahu dia pasti tetap akan datang nanti. Bagaimanapun aku menolaknya.


[Jaga kesehatan ya, sampai ketemu besok.]


Hhhh, aku akan segera mengatakannya. Agar dia berhenti mengejarku yang sudah menikah. Walaupun entah akan berakhir seperti apa pernikahanku ini, tapi buru-buru menjalin hubungan juga tidak dalam rencanaku. Aku harus fokus pada kuliahku.


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam 5 sore aku segera merapikan meja kerjaku. Sebelum atasanku memintaku untuk lembur. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku memacu mobil melawan padatnya kendaraan sore hari.


Aku harus segera tiba di rumah Irin, sebelum dia pulang kuliah. Aku meninggalkan beberapa dokumen pentingku disana. Aku membutuhkannya sekarang untuk segera menyelesaikan pekerjaanku. Dulu aku berpikir, aku akan segera kembali kerumah itu dan kembali bersama Irin. Namun aku terlalu bodoh dan melakukan kesalahan yang fatal. Aku masih berharap kembali. Entah bagaimana jalannya nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Sorot mata Irin saat terakhir kali pergi adalah sorot mata paling marah dan penuh dengan kekecewan yang pernah kulihat.


Aku memasuki pekarangan rumah besar itu, kasihan sekali Irin harus kesepian di sana. Semua salahku. Betapa malangnya kamu Irin, dan betapa bersalahnya aku. Aku turun dan segera melangkah, tapi aku melihat mobil Irin yang rusak seperti habis menabrak. Keadaanya berdebu menandakan mobil itu sudah lama begitu. Pikiranku menerka-nerka apa yang menimpa Irin. Aku sangat cemas hingga aku berlari dan mengetuk pintu memanggil-manggil bi Ijah seperti kesetanan.


Aku menyesal selama ini mengabaikan kondisi Irin. Aku pikir dia akan bahagia, tapi aku malah menyesal tidak tahu apa yang sudah menimpanya. Apa dia baik-baik saja? Tapi Winda bilang hidup Irin baik dan dia sibuk dengan kuliahnya.


Pintu terbuka, bi Ijah nampak kaget melihatku, sedangkan aku langsung menanyakan tentang Irin dan apa yang terjadi padanya, hampir tanpa spasi aku bertanya. Bi Ijah menyuruhku tenang dan mengajakku duduk. Aku mengatur nafas dan bi Ijah memberiku segelas air.


"Bibi kangen sekali sama Mas Bambang, kenapa Mas Bambang tidak pernah telpon-telpon lagi? Apa Mas Bambang sudah tidak peduli sama Non Irin lagi?" wanita tua itu menangis, bi Ijah nampak sangat menyayangi Irin.


"Maafkan saya Bi, panjang ceritanya. Itu bagaimana ceritanya bi? Irin kenapa? Mobilnya sampai saperti itu?"

__ADS_1


"Dulu waktu pulang dari rumah Mas Bambang, Non Irin kecelakaan."


Aku begitu kaget, bodoh sekali aku tidak mengetahuinya. Andai dulu aku mengejarnya, ahh. Aku paham betapa hancurnya Irin saat itu. Tapi aku tidak menyangka sampai terjadi kecelakaan mobil.


"Bagaimana keadaan Irin, Bi?"


"Non Irin baik Mas, cuma luka ringan di kepala. Tapi Non Irin trauma bawa mobil sendiri. Sekarang Non Irin naik ojek terus, kadang juga dianterin dok... ehh temannya, Mas."


"Diantar siapa, Bi?" Tanyaku mendengar ada yang ganjil dari ucapan bi Ijah.


"Temannya Non Irin Mas, lagian kenapa Mas Bambang menghilang? Jangan-jangan apa yang Non Irin ceritakan itu benar ya? Bibi sebenarnya nggak percaya, tapi Mas Bambang menghilang bibi jadi bertanya-tanya apa Mas Bambang benar- benar menghianati Non Irin?" Bi Ijah menanyakan pertanyaan yang membuatku sadar. Aku menghilang malah membuat kesalah pahaman itu semakin melebar.


"Aku minta maaf Bi, semua salah paham. Irin sangat marah. Aku gagal menjadi suami yang baik buat Irin, aku gagal membahagiakan Irin, Bi. Aku cuma nggak ingin membuat Irin repot-repot menghindariku. Jadi aku pikir sebaiknya aku yang menjauh dan membiarkan dia nyaman dan bahagia. Tapi aku menyesal, kecelakaan itu harusnya tidak terjadi. Aku nggak bisa berfikir panjang, entah mana yang baik untuk Irin ada atau tidak adanya aku, Bi."


"Mas Bambang nggak boleh begitu. Mas masihlah suami Non Irin, harusnya Mas memperjuangkan apa yang menjadi wasiat almarhum Bapak. Kasian Non Irin, dia nggak punya siapa-siapa lagi, Mas."


"Maafkan aku Bi, aku nggak berpikir panjang. Aku menyesal. Aku akan memperbaiki semuanya, beri aku waktu Bi, sedikit lagi."


"Iya Mas, bibi cuma bisa mendoakan kalian."


"Terimakasih, Bi!"


Aku segera berpamitan setelah mengambil keperluanku. Aku masih belum siap untuk bertemu dengan Irin, aku harus menyusun penjelasan agar dia percaya. Dan untuk kebodohanku waktu itu aku akan memohon sampai dia memaafkanku. Aku tidak akan menyerah padanya kali ini. Aku berjanji.


Aku menatap mobil yang teronggok itu dengan ngeri. Andai Irin tidak selamat, maka akan bertambah panjang orang yang mati karena ku.


Tunggu aku Irin.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2