
Ini semua begitu berat.
Pada hari itu, aku sedang menunggu kekasihku, Bambang. Sudah lama rasanya tidak menghabiskan waktu bersamanya. Setelah aku dan dia sama-sama sibuk meniti karir.
Harusnya dia sudah sampai, ketika aku menerima kabar darinya bahwa mobilnya kecelakaan. Bagai disambar petir, aku membayangkan adegan dalam film-film. Entah bagaimana keadaanya, suaranya di ujung telpon terdengar bergetar dan gugup.
Tanpa menunggu lama lagi aku segera memesan ojek online agar cepat sampai ke rumah sakit. Aku menuju IGD dan menemukan Bambang dengan pandangan shock. Benar saja tangannya gemetar, aku lega ketika melihat dia hanya mengalami lecet di beberapa bagian.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Aku menggenggam kedua tangannya yang bergetar hebat dan juga dingin.
Kemudian dia menatapku menyiratkan ketakutan yang begitu besar. Aku segera memeluknya memberikan sedikit kekuatan. Sejenak aku merasa heran dia tampak baik-baik saja, apa yang membuat dia setakut ini.
Semua itu segera terjawab ketika datang seorang gadis yang menangis meraung-raung.
"Aku sudah membunuh Ibu gadis itu." Bambang memberi tahuku seakan mampu melihat kebingungan di mataku.
Aku sangat kaget dan terpukul, cobaan apa ini? kemudian tanpa aku sadari tangan dan seluruh tubuhku ikut gemetaran. Tapi, aku harus menguatkan Bambang, kekasihku.
Aku ingat, tatapan gadis itu kepada Bambang. Seperti singa yang siap menerkam. Berkali-kali harus dilerai banyak orang karena dia terus mencoba memukul, menyakar, bahkan mencekik Bambang. Dan puncaknya dia harus mendapat suntikan obat penenang karena tidak bisa ditangani lagi.
Aku begitu merasa kasihan pada gadis itu. Ayahnya pun masih kritis. Aku melihat Bambang yang pasrah akan perlakuan gadis itu, dia seakan siap menerima apapun hukuman atas kelalaiannya. Tentu aku pun merasa iba. Dia begitu menyalahkan dirinya sendiri. Aku bertekad akan selalu berada di sisinya, menemaninya melewati masa buruk dalam hidupnya. Ini cobaan.
Gadis itu mulai membaik, tidak selalu kesetanan ketika melihat Bambang. Ayahnya mulai sadar, aku harap dia segera pulih dan membaik. Bambang juga sudah siap bila masalah ini harus dibawa ke jalur hukum. Dia akan bertanggung jawab sepenuhnya.
Takdir berkata lain, siang hari ayah gadis itu dinyatakan meninggal. Padahal Bambang bilang dia sempat menemuinya pagi ini dan masih baik-baik saja, mereka pun sempat berdialog. Aku segera izin pulang dari tempat kerjaku, dan segera datang ke rumah sakit. Aku berusaha datang secepat mungkin dan mencari Bambang, aku takut gadis itu mengamuk lagi.
Ketika sampai di ruang tempat ayah gadis itu dirawat aku segera masuk. Tepat ketika aku membuka pintu aku mendengar lafadz yang menjadi impianku selama ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Airina Kamalia Naylun binti Alm. Herman dengan mas kawin tersebut tunai."
Aku terpaku, tidak percaya. Sangat tidak percaya, bahkan aku sempat hampir lupa untuk sekedar bernafas di detik itu. Pacarku, kekasihku, calon suamiku?!
Aku memilih keluar dan duduk di deretan bangku di depan kamar. Kurasakan nafasku begitu terputus-putus dengan detak jantung yang tidak beraturan. Tubuhku lunglai seketika, mungkin aku salah dengar. Bahkan untuk sekedar menangis pun aku tidak bisa. Aku tidak percaya. Pasti ada penjelasan.
Aku mendengar untaian doa dari dalam, setelah beberapa diantaranya kompak berucap 'SAH'. Hatiku semakin tidak karuan, aku harus menunggu orang-orang ini pergi, aku tidak mungkin membuat keributan di sini. Sejenak aku melihat gadis itu menunduk begitu dalam, dia diam, tidak seperti kekhawatiranku yang membayangkan dia mengamuk.
Tepat setelah orang-orang itu pergi, terlihat ruangan begitu sibuk mempersiapkan jenazah. Gadis itu pingsan, tenang tanpa suntikan penenang. Saat itu lah aku menampakan diri untuk meminta penjelasan dari Bambang.
__ADS_1
"Win," ucapannya begitu lirih, bahkan suaranya tidak selantang tadi saat aku mendengarnya mengucapkan ijab qobul.
"Apa ini?"
Dia segera menarik tanganku dan membawaku menjauh dari gadis itu. Aku melihatnya begitu kacau. Dia berlutut dan memeluk kakiku, dan menangis begitu pilu. Aku menyadari bukan hanya aku saja yang bingung dia pun nampak masih belum mengerti akan apa yang baru saja terjadi.
Aku meraihnya dan mengajaknya duduk.
"Katakan sayang apa yang terjadi!"
"Aku sedang dihukum Win, mungkin ini hukuman seumur hidup. Pak Herman memintaku menikahi putri tunggalnya tepat beberapa jam sebelum beliau meninggal. Aku tidak bisa menolak Win, aku tidak bisa. Maafkan aku!"
Aku yang sedari tadi menolak percaya mau tidak mau harus percaya. Perasaanku? Haancuuuuur!
Air mataku pun mengalir deras, aku yang berniat menguatkan justru melemah dan butuh dikuatkan. Aku beranjak pergi meninggalkan Bambang, berusaha mencari ketenangan. Sejenak aku melihat kembali ke arah gadis itu yang terkulai lemah tidak berdaya, wajahnya menyiratkan kesedihan yang amat dalam. Namun itu bukan urusanku, hatiku pun hancur. Segera aku berjalan dengan cepat melewati ruangan itu.
Beberapa hari sejak kejadian itu, Bambang tidak juga menghubungiku. Ahh! dia sudah punya istri, tapi apa baginya aku tidak berarti? Setidaknya hubungi aku, dan perjuangkan aku. Duniaku seakan runtuh karena kehilangannya, aku memutuskan datang ke rumahnya. Mencarinya, ingin melihatnya, begitu merindukannya.
Aku memencet bel dengan hati yang berdebar. Tak lama kemudian Bambang muncul membukakan pintu. Ada rasa sedikit tenang saat melihat wajahnya, aku masih kekasihnya. Sekilas aku melihat rumahnya berantakan, seperti habis perang dunia. Dia memintaku jangan berisik dan mengajakku ngobrol di terasnya.
"Apa kamu benar-benar menikahinya?" Pertanyaan konyol yang kusesali.
"Dia ... di sini?"
"Iya," Bambang menjawab dengan lirih setiap pertanyaanku, hampir-hampir aku tidak mendengar suaranya.
"Lalu, Kita?"
"Maafkan aku Win!"
"Semudah itu?"
"Tidak ada yang mudah bagiku Win."
"Haruskah kamu benar-benar menikahinya, Bam?"
"Semua ini takdir Win, carilah lelaki yang lebih segala-galanya dariku Win! Kamu tidak pantas untukku, lihatlah aku hanya seorang pembunuh. Kamu pantas mendapat lelaki yang baik, tidak sepertiku."
__ADS_1
"Tapi ...."
"Biarkan aku menjalani hukumanku, bersama gadis itu."
Bertahun-tahun aku menghabiskan waktu bersamanya. Bersama-sama mencoba menaklukan Ibu kota, dengan segudang tugas kuliah dan berbagai kesulitan hidup, serta perjuangan untuk menggapai cita-cita. Apa ini? takdir? Semua hancur dalam sekejap.
Tiba-tiba terdengar seperti barang dibanting-banting di dalam rumah. Bambang segera lari masuk dan aku mengikutinya, pantas saja rumahnya berantakan, gadis itu terus-terusan melempar barang apapun yang bisa diraihnya. Ya Tuhan! Bambangku menghadapi semua ini setiap hari. Seorang diri.
Dan disaat itulah aku melihat hal yang benar-benar menghancurkan hatiku.
Bambang memeluk gadis itu tanpa peduli dia kena pukul atau cakaran, Bambang tetap berusaha menenangkannya. Entah apa yang Bambang bisikan ke telinga gadis itu. Butuh waktu lama untuk membuat gadis itu diam. Bambangku? Lelakiku? Dia terlihat begitu menjiwai perannya. Apa dia menikmati hukuman ini?
Setelah gadis itu tenang Bambang menghampiriku yang shock dengan kemampuan baru Bambang menaklukan gadis itu.
"Maaf Win, kamu sebaiknya tidak melihat ini. Aku harus segera membersihkan Airina."
Tampak baju dan tubuh gadis itu berlumuran bubur, sepertinya Bambang lupa menyingkirkan benda itu karena kedatanganku.
"Kamu? Bam?"
"Iya Win, siapa lagi?"
"Biar aku saja Bam, aku akan membantumu." Aku berjalan mendekat namun Bambang mencegahku.
"Tidak usah Win, ini sudah tugasku."
"Tapi dia ... perempuan!"
"Tapi aku suaminya Win, dan dia istriku." Aku tersentak mendengarnya, sejenak aku lupa, bukan! Aku sangat tidak terbiasa.
"Cukup Bam, biarkan gadis itu dirawat di tempat yang layak. Dia ... dia gila Bam!"
"Dia memang depresi Win, tapi tidak gila, aku hanya harus memberinya semangat untuk hidup."
"Kamu menikmati peranmu bukan?" Bodoh sekali aku bertanya seperti itu, aku cemburu.
"Win ... mengertilah!"
__ADS_1
Tanpa memandangnya aku segera meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur.