
Bi Ijah datang menggunakan ojek online, kemudian dia berjalan dengan tas besar di tangannya. Rian yang melihatnya dari jauh langsung berinisiatif menghampiri bi Ijah yang nampak kesulitan dengan barang bawaannya.
"Terimakasih, Mas Dokter!" Ucapnya.
"Sama-sama, Bi."
Keduanya berjalan ke bangku berderet di depan ruang IGD. Bi Ijah melihat Irin sudah bersama Bambang di dalam.
Bi Ijah memilih duduk dan menunda untuk masuk, seakan memberi ruang untuk pasangan suami istri yang sudah lama tidak bertemu. Bi Ijah tampak kikuk dengan Rian.
"Mas Dokter, saya mohon maaf. Semalam saya yang memberi tahu Mas Bambang kalau Non Irin keguguran. Bagaimanapun Mas Bambang berhak tahu keadaan Non Irin." Jelas Bi Ijah yang merasa tak enak hati pada Sang dokter.
"Nggak papa Bi, lagian saya kok yang salah. Saya mendekati wanita tanpa mencari tahu dia sudah menikah atau belum. Tenang saja Bi, saya ikhlas menolong Irin nggak lagi mengharap Irin seperti waktu itu."
"Terimakasih ya Mas Dokter atas pengertiannya. Sepertinya kehamilan Non Irin memang nggak diketahui siapapun termasuk Non Irin sendiri juga nggak menyadarinya."
"Iya Bi, Irin masih muda wajar dia nggak tahu tanda-tanda kehamilan pada dirinya."
"Mas Dokter jangan berpikiran negatif kepada Non Irin, Non Irin perempuan baik-baik yang dijaga dengan ketat oleh majikan saya. Didikannya pun bagus. Dia menikah muda justru karena wasiat almarhum Pak Herman, Ayahnya Non Irin."
"Bibi mau menceritakannya? Saya sudah terlanjur terlibat. Tidak adil rasanya bagi saya kalau nggak mendapat cerita yang sebenarnya. Itu kalau Bibi berkenan. Saya juga nggak memaksa, Bi."
"Sekitar setahun yang lalu, kedua orang tua Non Irin meninggal karena kecelakaan. Ibu meninggal di tempat dan Bapak meninggal beberapa hari kemudian. Sebelum meninggal Bapak meminta Mas Bambang untuk menikahi putri satu-satunya, Non Irin. Sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahannya. Mobil Mas Bambanglah yang waktu itu bertabrakan dengan mobil majikan saya. Non Irin anak tunggal dan nggak punya siapa-siapa lagi." Bik Ijah bercerita panjang lebar.
Rian terdiam mendengar kisah pilu di balik pernikahan mereka.
"Itu sekilas saja Mas Dokter, untuk urusan pribadi mereka berdua bibi nggak tahu banyak."
"Terimakasih Bi, iya saya mengerti. Saya bisa bayangkan pernikahan dari dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal."
"Tapi Mas Bambang orangnya baik Mas Dokter, dia sangat sabar menghadapi Non Irin."
Keduanya dikagetkan dengan kemunculan Bambang.
"Bibi udah datang?" Sapa Bambang.
__ADS_1
"Sudah Mas, Bibi sudah bawa semua yang Non Irin butuhkan."
"Pesanan saya dibawa, Bi?"
"Iya Mas, bibi bawa." Bi Ijah mengeluarkan kaos dari dalam tasnya dan memberikannya pada Bambang. Bambang menerimanya, kemudian memberikannya pada Rian.
"Gantilah bajumu Dokter! Maaf sudah membuat bajumu rusak." Ucap Bambang.
Kemudian Rian menyadari kemejanya masih penuh noda darah karena menggendong Irin. Rian menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
"Sayalah yang seharusnya berterimakasih, Dokter begitu kawatir sampai melupakan penampilanmu sendiri."
"Tidak usah begitu Bung, aku hanya merasa bersalah. Jangan panggil dokter. Ini bukan rumah sakit tempatku bertugas. Santai saja panggil Rian."
"Baiklah Rian, terimakasih!"
"Sudahlah, bagaimana keadaan Irin?"
"Suster sedang menyiapkannya. Sebentar lagi masuk ruang operasi."
Rian mengamati Bambang yang seperti tidak ingin jauh dengan Irin. Mulutnya yang terus berdoa sepanjang operasi tadi, meyakinkan Rian bahwa Bambang memang orang yang baik. Rian pun segera berpamitan setelah kondisi Irin dinyatakan stabil.
Sekarang tinggal Bambang dan bi Ijah yang menjaga Irin. Melihat Bambang yang kelelahan dan kurang tidur bi Ijah menawarkan Bambang untuk istirahat terlebih dahulu.
"Tidak usah, Bi. Aku tidak mau kecolongan lagi. Irin mengalami banyak hal akhir-akhir ini. Aku bodoh sekali ya Bi, mengabaikan Irin sekian lama bahkan tidak tahu dia hamil."
"Sudahlah Mas, yang terpenting sekarang bagaimana kalian memperbaikinya. Bibi yakin kalian pasangan yang serasi, hanya butuh waktu dan kesabaran saja. Jangan menyerah ya, Mas!" Bi Ijah memberikan semangat untuk Bambang.
"Irin belum bicara sepatah katapun padaku Bi, aku yang salah mengira yang nggak-nggak pada Irin dan Rian. Aku malah pergi, sama sekali nggak tahu Irin mengejarku. Entah masih bisa dimaafkan atau nggak kesalahanku yang banyak ini. Andai saja aku nggak pergi, pasti janin ini masih ada." Sesal Bambang penuh kesedihan.
"Irin pasti sangat kecewa, Bi." Lanjut Bambang.
"Yang sabar Mas, beri Non Irin waktu. Bibi yakin kok Non Irin memendam perasaan yang sama kepada Mas Bambang."
Pintu ruangan Irin diketuk, bi Ijah mempersilahkan orang itu masuk.
__ADS_1
"Kamu perempuan yang datang kemarin yang bersikeras menemui Non Irin, kan?" bi Ijah mengenali Winda yang datang bersama suaminya.
"Iya bi, saya Winda."
Bambang dan Danu bersalaman.
"Maaf karena kemarin sudah mengacaukan pernikahan kalian." Bambang berucap pada Danu setelah bersalaman.
"Tidak apa-apa, itu kecelakaan. Aku berharap istrimu segera pulih. Kamu harus bersabar memghadapinya. Dia akan sedih beberapa waktu itu wajar. Jangan melarang dia bersedih, dari pada dipendam lebih baik dilepaskan. Dukungan orang-orang sekitarnya nanti yang paling penting." Ucap Danu memberi nasehat pada Bambang.
"Terimakasih."
Pandangan Bambang berganti menuju kearah Winda.
"Apa maksudnya kamu menemui Irin, Win?" Tanya Bambang.
"Maafkan aku Bam, aku hanya ingin memberi tahu yang sebenarnya kepada Irin. Sebelum aku menikah, aku berkewajiban membereskan masalah yang telah kuperbuat. Irin sudah tahu semuanya Bam, tentang apa yang menimpamu dan hubungan kita yang salah dimatanya. Aku hanya ingin meluruskannya."
Bambang tertunduk lemas. Winda menghampirinya dan meletakkan tangannya di pundak Bambang sebagai tanda dukungan.
"Nggak apa-apa Bam, kamu nggaklah harus terlihat sempurna di depan Irin, sesekali terlihat lemah pun nggak apa-apa. Yang terpenting adalah kejujuran di antara kalian, stop menutupi kekurangan dan masalahmu seorang diri. Yang terjadi malah kesalah pahaman yang fatal di antara kalian. Bagaimana Irin bisa percaya padamu kalau kamu masih nggak memberi kepercayaan padanya untuk melihat semua luka-lukamu. Irin akan merasa lebih dihargai kalau kamu melibatkannya dalam setiap permasalahan kalian."
Bambang hanya diam dan terduduk lemah, kedua tangannya menopang dan menutupi mukanya yang terlihat berat.
"Jadilah pasangan suami istri yang seimbang. Jangan sok jago sendirian, kalian harus saling melengkapi. Suka duka kalau dihadapi berdua pasti lebih mudah."
"Bagaimana kamu bisa lebih tahu tentang pernikahan? Padahal aku duluan yang menikah." Bambang mencoba mencairkan suasana.
Winda pun tersenyum melihat mantan kekasihnya sudah lebih baik. Danu setia merangkul Winda seolah menegaskan tentang kepemilikannya.
"Baiklah, sampaikan saja salamku untuk Irin. Sampaikan juga maafku padanya, karena sempat salah paham dia menggandeng seorang lelaki. Suamiku sudah menghubungi temannya dan dia menjelaskan nggak ada hubungan apa-apa di antara mereka."
Winda dan suaminya berpamitan dan meninggalkan parcel buah diatas meja.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1