MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Akhirnya


__ADS_3

Liburan telah usai, aktifitas padat kembali harus dijalani. Bambang dan Irin sudah kembali ke Ibu kota. Oleh-oleh yang mereka bawa dibagi-bagi ke teman kantor Bambang dan teman kampus Irin. Untuk tetangga adalah jatah bi Ijah yang membagikan, dia yang lebih paham lingkungan sekitar.


Dan tanpa Irin tahu, terselip sebuah bungkusan plastik merah berukuran sedang, katanya titipan dari orang tuanya Winda.


"Emang kapan nitipnya? Kenapa harus dititip-titipin!" protes Irin pada Bambang.


Irin teringat foto-foto yang ditemukannya sehingga dia merasa sangat cemburu dengan segala sesuatu tentang Winda.


"Sudah tradisi Rin, kalau ada yang pulang kampung pasti ada aja orang tua yang menitipkan oleh-oleh untuk anaknya yang nggak pulang."


"Itu sih cuma tradisi kamu sama Winda!" gerutu Irin.


Bambang tersentak mendengar ucapan 'kamu' itu menandakan Irin sedang marah padanya. Biasanya Irin memanggil Mas.


"Lagian Irin lho yang ngeliat Mba Yuni masuk-masukin oleh-oleh tapi nggak ada tuh pesen kalau itu titipan orang tuanya Winda." Irin melanjutkan omelannya.


"Kamu cemburu ya, Rin?" goda Bambang. Irin tidak menjawab dan semakin memanyunkan bibirnya.


"Beneran Irin, ini hanya tradisi. Ini mending lho, dulu yah barang bawaanya mas lebih banyak dari ini kalau pulang kampung mana saat itu mas masih naik bus. Sekarang aja teman-teman mas yang dulu merantau bareng sudah pada pindah merantaunya, ada juga yang berhenti merantau. Ya jadi paling cuma tinggal Winda yang orang tuanya nitip." Bambang menjelaskan.


"Orang tuanya Winda nggak melek teknologi apa? kan sekarang sudah banyak ekspedisi. Kirim barang nggak perlu lewat mantan."


Bambang tertawa dengan jawaban Irin.


"Kamu benar-benar cemburu yah?"


"Nggak, jangan kepedean!"


"Ya sudah, kalau Istri mas yang cantik ini nggak suka. Barang ini nggak usah disampaikan ke Winda, bilang aja barangnya hilang. Selesai."


"Seeetuujuu!" respon Irin tegas sambil berlalu. Perempuan memang tidak pandai menyembunyikan perasaan cemburunya.Bambang hanya tertawa gemas dengan tingkah Istrinya, kemudian memisahkan bungkusan plastik berwarna merah itu.


Pulang kampung telah membawa beberapa perubahan baik pada kesehatan mental Irin, bahkan pada diri Bambang sendiri. Kekuatannya seperti diisi ulang oleh siraman kasih sayang dan kehangatan keluarga.


🌿🌿🌿🌿🌿


Hari-hari berikutnya berlalu dengan sibuk.

__ADS_1


Kedekatan Bambang dan Irin yang sudah terjalin indah, harus terjeda oleh segudang tugas dan pekerjaan yang seolah tiada habisnya. Tidak nampak kalau mereka berdua adalah pasien bekas depresi. Waktu mengikis semua luka dan menggantinya dengan goresan kebahagiaan yang baru.


Malam itu Irin menunggu Bambang menjemputnya sepulang kuliah. Tiba-tiba mobil berwarna silver berhenti tepat di depan Irin, sedangkan mobil Bambang berwarna hitam.


Kaca mobil diturunkan, sosok lelaki di baliknya nampak melambaikan tangan. Irin tersenyum mengenalinya. Kemudian lelaki itu membalas senyum seraya turun dari mobilnya dan menghampiri Irin.


"Lama nggak ketemu kamu Rin," sapa dokter Rian.


"Apa kabar?" lanjutnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. Irinpun menyambutnya.


" Baik. Mas Rian apa kabar?"


"Mas baik, masih nunggu ojek atau ...,"


"Mas Bambang yang jemput. Oh iya, Irin belum sempat mengucapkan terimakasih secara langsung sama Mas Rian, kalau bukan Mas yang lari-larian nggendong Irin, entah apa yang terjadi."


"Sama-sama Rin, ikut berduka juga ya atas janin kamu yang nggak sempet selamat."


"Iya Mas, aku udah ikhlas kok."


Irin hanya tersipu malu, "Mas juga, semoga cepet dapat pasangan. Aamiin ...."


"Nanti dulu lah Rin, masih belum nemu yang klik setelah kamu. Aku mau nerusin sekolah dulu, aku mau jadi Dokter Spesialis Kandungan. Dan kamu tahu, kejadian kamu saat itu membuat jiwa dokterku terguncang, darah begitu banyak di depan mata tapi aku tidak berdaya. Jadi aku memutuskan untuk bisa berjuang agar dapat menyelamatkan janin dan Ibu hamil lebiih banyak lagi." jelasnya berapi-api dengan bahasa hiperbola yang khas darinya.


"Wah, aku menginspirasi dong."


"Selalu Irin, kamu berdarah-darah saja mampu menuntunku menemukan jalan hidup yang lebih baik, apalagi kalau ...."


Kata-katanya terhenti, tepat ketika sorot mobil berwarna hitam menimpa mereka. Yang kemudian parkir di depan mobil Rian. Bambang tanpa ragu turun menghampiri istrinya.


"Hay Bung, apa kabar?" sapa Rian pada Bambang keduanya bersalaman.


"Baik, apa kabar kamu, Yan?" keduanya nampak akrab saat kembali bertemu di suasana dan kondisi yang lebih baik.


"Aku juga baik, tadi tidak sengaja lewat dan melihat istrimu yang cantik ini sendirian. Dari pada digodain orang lewat jadi aku bantu jagain, Bung."


"Hahaha, terimakasih Yan, kamu memang paling bisa."

__ADS_1


Irin melihat dengan heran keakraban keduanya. Setelah berpamitan merekapun saling membubarkan diri.


"Digodain lagi sama Rian?" selidik Bambang saat perjalanan pulang.


"Nggak! 'kan bantu njagain katanya."


Bambang pun tersenyum mendengar jawaban Irin, namun tak lagi berniat membahasnya.


"Besok libur kan Rin? bagaimana kalau malam ini kita nongkrong aja, minum kopi atau nonton film."


"Di rumah aja kalau mau nonton film Mas, beli kopi sama pizza dulu. Gimana?" usul Irin.


"Baiklah!"


Mereka pun mampir ke outlet pizza terlebih dahulu kemudian membeli kopi di kedai langganan mereka. Mobil pun meluncur pulang kerumah.


Karena kamar Irin yang ada televisinya merekapun nongkrong dan nonton di kamar Irin setelah mandi dan membersihkan diri dari kepenatan hari ini. Film bergenre horor lah yang dipilih Irin. Bambang hanya mengikuti, film korea berjudul Train To Busan menemani malam mereka.


Namun kopi hanyalah kopi, Irin yang lelah tak mampu menahan kantuknya, dan tertidur bersandar pada lengan Bambang. Sejenak Bambang menelan salivanya, melihat Irin yang tertidur di sampingnya.


Bambang membaringkan Irin di kasurnya. Sejenak dipandangi wajah ayu sang istri yang sempurna. Bongkahan es di tengah mereka selama ini perlahan mulai mencair, berganti dengan hubungan yang semakin hangat.


Bambang kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup hangat kening Irin, berlanjut pada kedua pipi dan bermuara pada bibir. Hanya kecupan sekilas, namun kemudian mata Irin terbuka.


Bambang terkejut, pandangan mereka saling bertemu. Bambang hendak memundurkan kepalanya menjauh, ketika tangan Irin tiba-tiba merengkuh lehernya dan membuat wajah keduanya kembali sangat dekat.


Irin dengan berani mencium bibir suaminya untuk yang pertama kali. Dengan ikhlas dan suka rela. Hasrat terpendam yang menggebu-gebu pada Bambang seperti mendapat lampu hijau yang sudah sekian lama dia tunggu-tunggu. Sentuhan yang lembut dan begitu diinginkan.


Madu cinta yang dia harapkan selama ini sudah tersuguh oleh istrinya. Bambang mulai melepas satu per satu pakaian yang Irin kenakan, tanpa tangisan, teriakan, pukulan, tendangan, atau cakaran seperti sebelumnya. Hasratnya bersambut dengan hangat, kesabarannya berbuah manis, dan cinta mereka bersemi dengan indah. Bambang tidak lagi memaksa dengan kasar, dia mencumbu dengan hangat, menyentuh dengan lembut, dan pada akhirnya berhasil menyatukan cinta keduanya dalam keadaan yang jauh lebih baik, dan hati yang sama-sama ikhlas.


"Aku cinta sama kamu, Rin," bisik Bambang.


Malam itu berlalu dengan sangat panjang dan penuh cinta. Dua insan manusia yang dipermaiankan takdir. Terjerat jodoh dengan cara yang tidak terduga. Dilukai oleh keegoisan dan terobati dengan manis oleh waktu.


Bambang dan Irin.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2