MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Kebahagiaan Irin


__ADS_3

Matahari mulai meneroboskan cahayanya masuk melalui jendela kamar Irin. Irin terusik dari tidurnya dan akhirnya terbangun. Bambang masih tertidur pulas di sampingnya. Dia tersenyum malu, mengingat malam panjang yang baru mereka lewati. Tubuhnya pun masih polos dan hanya tertutup selimut tebal.


Mereka berbagi malam, berbagi ranjang, dan berbagi selimut. Lembaran-lembaran tirai penghalang yang sebelumnya menumpuk di antara keduanya sekarang sudah habis tersibak. Penyatuan jiwa dan raga keduanya telah berhasil, menjadi satu dalam ikatan pernikahan yang sakral. Lebih dari sekedar wasiat, tanggung jawab ataupun belas kasihan. Semua atas dasar cinta dan keikhlasan.


Irin hendak beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Dia sengaja bergerak perlahan agar tidak membangunkan suaminya. Bambang yang menyadari istrinya telah bangun malah menarik tangan istrinya kembali hingga terjatuh ke pelukannya.


Irin tersentak dan kaget, dia menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Sebentar lagi Rin," pinta Bambang seraya mempererat pelukannya seolah tidak ingin kehilangan.


"Ayolah bangun Mas Bam! ini sudah pagi."


"Sebentar lagi, mas ingin terus seperti ini sama Irin." Irin pun menuruti suaminya dan tidak lagi bergerak.


"Terimakasih Irin," ucap Bambang sambil menciumi puncak kepala Irin.


"Terimakasih juga sudah mau menunggu," balas Irin, dia menenggelamkan diri lebih dalam lagi ke pelukan suaminya.


"Mas bahagia Rin, rasanya seperti mimpi, jadi mas nggak mau ini cepat berlalu, mas pasti akan ingat terus momen ini sepanjang hidup mas."


"Benarkah?"


"Heem, apa kamu nggak sebahagia aku Rin?"


"Nggak, Irin malu."


Bambang terkekeh mendengar jawaban istrinya.


"Kenapa harus malu?"

__ADS_1


"Hhm, sudah ah! Sudah pagi aku mau cari sarapan." Kilah Irin tapi Bambang tidak juga melepas pelukannya.


"Baiklah, setidaknya beri mas satu lagi," Bambang kembali mencium bibir istrinya dengan penuh cinta. Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti kemarin. Mereka bertingkah layaknya sepasang pengantin baru.


Bambang dan Irin memilih sarapan di luar sambil berolah raga di taman kota. Tanpa sengaja mereka bertemu Winda dan suaminya. Winda tanpa ragu menyapa Bambang dan Irin terlebih dahulu.


Irin teringat kembali pada foto-foto yang dia lihat di kamar Bambang saat di kampung. Irin merapatkan dirinya lebih dekat dan menggandeng erat lengan Bambang. Bambang yang menyadari perubahan sikap istrinya segera merangkul Irin, seolah memberikan rasa nyaman dan percaya lebih banyak lagi, dan juga menyiratkan mereka sudah saling memiliki. Tak ada lagi celah diantara keduanya bagi siapapun.


"Hay Win, apa kabar?" tanya Bambang.


"Kita baik!" jawab Winda sambil menatap suaminya seraya tersenyum, keduanya pun tidak mau kalah ingin menunjukan kebahagiaan mereka.


"Kalau kalian sepertinya nggak perlu ditanya, kelihatannya semakin baik." Winda menebak dengan tepat.


"Iya, seperti itulah. Oh iya, maaf kemarin sebenarnya ada titipan dari ibu kamu dari kampung, tapi karena terlalu banyak barang bawaan kami waktu itu jadi malah lupa dan ketinggalan. Mbak Yuni nggak teliti waktu packing."


"Nggak masalah, isinya juga cuma makanan. Nggak ada yang penting."


"Hahaha, maaf istriku sekarang ceplas ceplos ngomongnya." Bambang mencoba menutupi ketidaksukaan istrinya.


"Iya nggak papa Bam, memang benarkan kata Irin. Baiklah kita duluan ya, sepertinya kalian sedang nggak ingin diganggu."


Winda dan suaminya pamit meninggalkan Irin dan Bambang. Mungkin dia tidak nyaman dengan raut wajah Irin yang asam kepadanya.


"Mas, beneran sudah nggak cinta sama Winda?" tanya Irin mengintrogasi suaminya.


"Pertanyaan macam apa itu Rin, gimana mas mau mencintai yang lain. Kalau di depan mas sudah ada istri cantik sempurna dan sah sebagai bidadari surganya mas nanti."


"Hhh, lebay. Masa iya udah naksir dari kecil bisa hilang begitu aja. Sama Irin aja mas belum genap 2 tahun."

__ADS_1


"Tahu dari mana kamu? hmm, jangan sok tau Rin,"


"Aku nggak sok tahu, aku liat pake mata kepala sendiri foto-foto kalian, mas susun rapi bahkan masih mas simpan sampai sekarang. Ah iya, kalian terlihat sangat serasi di foto- foto itu!"


"Pasti kamu liat waktu di kampung kan? Maaf! kan kamu tahu sendiri mas itu belum sempat pulang sejak bertemu sama kamu, belum sempat membuang semua benda-benda itu, nggak nyangka malah ketemu duluan sama kamu. Tapi pas mau pulang sudah mas buang semua kok. Pokoknya sekarang hidup mas hanya tentang Airina Kamaliya Naylun istri mas yang paling cantik."


"Hem, gombal!"


"Beneran, pokoknya mas bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk bisa menjadi suami juga imam yang baik juga. Tujuan hidup mas adalah Airina, semangat hidup mas juga adalah Airina."


"Bener mas?" tanya Irin tersipu.


"Tentu saja, mari menua bersama mari beribadah bersama. Mas mau Irin jadi Ibu dari anak-anak mas."


"Aku mau anak yang banyak." Ucap Irin, bambang terkejut mendengar keinginan istrinya.


"Kenapa?"


"Aku mau rumah yang ramai, saudara yang banyak biar nanti anak-anak Irin nggak ngalamin kesepian kaya Irin. Irin ingin mereka ramai dan hangat kaya keluarga Mas Bam."


Bambang terharu dengan keinginan istrinya.


" Kalau begitu tunggu apa lagi, lebih baik kita cepat pulang!" ajak Bambang.


"Kenapa? kan belum jadi sarapan."


"Kita makan di rumah aja. Bagaimana mau punya anak banyak kalau satu aja belum, kita harus kejar target."


Irin pun tersenyum malu dan mengikuti ajakan suaminya.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2