
Hari-hari berikutnya berjalan normal dan bahagia, Bambang dan Irin berhasil menjalani kehidupan pernikahan mereka dengan baik. Mereka saling mengobati dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, lambat laun trauma mereka pun ikut memudar.
Tiba di hari wisuda, Irin pun berhasil menyematkan gelar SH di belakang namanya. Irin mendapat kejutan dengan kehadiran keluarga Bambang yang ikut mengantarkannya wisuda. Ramai, hangat, dan bahagia. Telah sempurna kebahagiaan Irin.
"Selamat Irin, kerja keras kamu telah terbayar," ucap Bambang kepada Irin.
"Terimakasih Mas Bam," Irin pun memeluk suaminya dengan penuh suka cita.
Setelah selesai acara mereka berlibur bersama dengan menyewa sebuah vila di Bogor. Dengan udara yang sejuk dan jauh dari keramaian serta pemandangan yang indah. Bangunan vila yang luas terasa cukup ramai oleh riuh orang tua Bambang, Mba Yuni dan suaminya serta kedua anak kembarnya, dan kedua adik Bambang pun ikut serta. Di halaman villa yang luas mereka membakar ikan, ayam, serta jagung, dan terdapat sebuah kolam renang yang sangat di gemari oleh si kembar, semua ikut masuk ke dalam kolam.
"Ramai ya Non," ucap bi Ijah yang melihat Irin selalu tersenyum sepanjang hari ini,"Bibi bahagia melihat Non Irin bahagia seperti ini, keluarga Mas Bambang baik dan tulus menyayangi Irin."
"Masa sih Bi, bagaimana Bibi tahu kalau mereka tulus?"
"Orang tuanya Mas Bambang orang baik Non, bibi jamin, mereka tulus sama Non Irin mereka selalu nanyain Non Irin ke bibi, bahkan Ibunya Mas Bambang menangis melihat kebahagiaan Non Irin sekarang, katanya dia sangat menyesali apa yang pernah terjadi Non."
Irin menatap bi Ijah kemudian memeluknya.
"Sudah Bi, aku yakin Ayah sama Ibu sudah tenang."
Bi Ijah terharu dan menangis, "Kita semua tahu bukan cuma wisuda Non Irin yang kita rayakan, tapi kelulusan Non Irin menghadapi cobaan hidup, jatuh bangunnya Non Irin dan cara Gusti Alloh menyatukan Non Irin dan Mas Bambang sangat luar biasa. Bibi salut Non Irin kuat dan mampu bangkit sampai seperti sekarang ini, kalau Bapak sama Ibu melihat pasti mereka juga bangga sama Non Irin."
"Irin nggak akan bisa seperti sekarang kalau bukan karena Bi Ijah, makasih ya Bi, kasih sayang yang Bi Ijah berikan juga tulus seolah Irin adalah anak kandung Bi Ijah."
"Sama-sama Non, bibi terharu sekali ini Non."
"Sudah Bi, enggak enak kalau dilihat Ibunya Mas Bambang nanti dikira kenapa-kenapa."
"Hehe.. iya Non," Bi Ijah menyeka semua air mata kebahagiaannya yang dihiasi senyum di bibirnya yang sudah penuh guratan usia.
Bambang datang menghampiri Irin dan Bi Ijah yang sedang terharu biru.
"Hayoo kenapa ini?"
" Nggak papa Mas, bibi cuma kelilipan."
"Kelilipan kok sampe basah begitu air matanya tumpah semua," ledek Bambang.
"Mas Bam mau tahu aja urusan cewe."
__ADS_1
"Hahh? Bi Ijah juga cewe?"
"Ya iya lah ... !" jawab Irin dan mereka bertiga tertawa.
Kemudian mereka membaur bersama yang lain, kembali bercanda dan berbincang ringan.
"Si kembar seneng banget ya Mba Yuni," ucap Irin melihat gelak tawa anak Mba Yuni.
"Iya Rin, hehe kami semua seneng lihat kolam renang kaya gini di kampung enggak ada Rin. Makasih lho yo udah diajakin ke tempat bagus kayak gini."
"Irin yang harusnya bilang makasih Mba, kalian udah repot-repot dateng kesini nemenin Irin wisuda. Irin seneng banget Mba."
"Ini lho nggak repot Rin, wong semuanya sudah dipersiapkan sama Bambang. Dia yang minta kami semua dateng biar kamu bahagia Rin, Bambang cinta banget lho Rin sama kamu."
"Masa sih Mba, tapi Mba kenal sama Windakan?"
"Iya tahu, tapi ya uwes jangan dibahas lagi kan Windane juga sudah nikah to, itu Mbok Sarmi Ibunya Winda juga ngomong kesana kesini katanya mantunya Dokter psiko psiko apa gitu ...,"
"Psikolog,"
"Nah iya itu, dibangga-banggain terus sampe tetangga bosen denger ceritanya."
"Ibu yo seneng lha wong Bambang malah dapet istri yang cantik, pinter, enggak sombong baik kaya gini. Enggak ngaruh itu Mbok Sarmi mau pamer kaya apa juga Ibu tahu kalau Bambang sudah dapat yang lebih baik. Sebenernya Ibu nggak setuju kalau dulu Bambang bener-bener jadi sama Winda. Windanya sih baik tapi Ibunya itu yang agak gimana gitu, eh beneran jodohnya bukan sama dia, Ibu bersyukur banget Rin." Irin tersenyum mendengar jawaban Mba Yuni.
"Ah Irin jadi geer ini lho Mba,"
"Lha wong kenyataan, eh gimana udah ada tanda-tanda hamil belum?"
"Belum Mba, doain aja biar cepet-cepet isi lagi."
"Iya pasti mba doain, mba nggak sabar pengen ngeliat hasil karya kalian yang perempuan manis cantik putih dan adeku walopun agak item tapi yo ganteng dan gagah, coba nanti anaknya mirip siapa." Irin tersipu malu sementara Mba Yuni tertawa renyah dengan ucapannya sendiri.
"Semoga Mba, Irin pengen punya banyak anak soalnya biar ramai kaya keluarga Mas Bambang."
"Aamiin, semoga aja di ijabaih Gusti Alloh ...!"
"Aamiin," jawab Irin mengiringi doa Mbak Yuni.
"Kamu jangan sungkan sama Mba, kalau ada apa-apa bilang aja, kalau adekku si Bambang nakal kasih tahu mba aja nanti biar mba yang ngunyel-ngunyel."
__ADS_1
"Iya Mba siap!"
"Jangan lupa juga pesan Mba," lanjut mba Yuni sambil berbisik, Irin reflek mendekatkan telinganya ke Mba yuni.
"Dapur, sumur dan kaasuurr ...," kata mba Yuni sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Mba, makasih ya udah banyak nasehatin Irin."
"Iyo santai aja Rin,"
Bambang menghampiri Irin sambil mengendap.
"Aku curiga kalau ngomongnya udah bisik-bisik," ucapnya menyela pembicaraan.
"Halah kamu Mbang, kepo aja urusan perempuan!" jawab mba Yuni.
"Hem, tadi sama Bi Ijah bilang urusan cewe lah sekarang bilang urusan perempuan, aku kapan diurusin?"
"Huuu dasar, wes kono aku wes rampung."
Bambang mengajak Irin ikut masuk ke dalam kolam. Di sisi lain Ibu Bambang menghampiri Mba Yuni.
"Anakmu seneng banget mereka Yun," kata Ibu Bambang.
"Iyo Bu, katro-katro kabeh yo Bu,"
"Jangan kelamaan lho Yun, nanti masuk angin."
"Biarin lah Bu, kapan lagi mereka kaya gitu coba di kampung adanya kali. Oh iya Bu, kayaknya Ibu enggak usah khawatir lagi sama Bambang, wong Irin tu anaknya baik kok Bu, enggak menunjukan kalau dia orang kaya jadi Ibu jangan takut Bambang diremehkan sama istrinya. Udah jadi rejekinya Bambang kok Bu, dapet istri cantik, baik, kaya, tapi enggak sombong."
"Begitu ya Yun? Syukur Alhamdulillah, cobaan mereka sudah diborong di awal semoga tinggal bahagianya saja ya Yun."
"Aamiin, doakan saja mereka Bu, dan sudah jangan mengkhawatirkan yang enggak-enggak Ibu lihat sendiri mereka bahagianya kaya gitu."
"Iya Yun, Ibu sudah lega."
Tiba-tiba terdengar suara seperti piring yang berjatuhan. Terlihat bi Ijah jatuh tersungkur dengan piring yang tercecer di sekitarnya.
"Bi ... !"
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃