
Sabtu sore, Rian sudah berpenampilan rapih dengan kemeja berwarna toska untuk menjemput Irin di rumahnya. Benar saja, dia tetap datang walaupun Irin menolak ajakannya.
"Monggo duduk dulu Mas Dokter," tawar bi Ijah pada Rian, seraya masuk ke dalam dan memanggil Irin serta membuat secangkir teh. Irin pun turun dari kamarnya di lantai atas dengan muka kesal.
"Kamu sungguh menyebalkan Mas Rian. Pertama aku sudah bilang tidak mau pergi. Kedua kalaupun aku mau Mas Rian bilang akan menjemput jam 7 malam, ini baru jam 5!" Omel Irin langsung tanpa basa basi.
"Karena aku tahu kamu pasti akan begini, butuh waktu untuk bujuk kamu. Jadi semua sudah kuperhitungkan dengan matang. Jadi nanti jam 7 kita tinggal pergi," jawabnya santai membuat Irin semakin kesal.
"Aku nggak mau pergi, lagian aku mau istirahat di hari libur begini," tolak Irin kembali.
"Otak kamu juga perlu direfresh Nona Vantik, ayolah! Aku janji takkan lama."
"Hem, memang acara apa?"
"Resepsi pernikahan temanku. Ayolah takkan lama, cukup say hay lalu pulang. Sedikit mencicipi hidangan dulu tentunya. Tamu undangannya juga tidak banyak." Jelas Rian sambil tetap membujuk Irin.
"Ohh, aku tahu. Pasti Mas Rian takut diejek nggak laku karena kondangan sendirian!" Goda Irin.
"Ya bukan, inikan juga lagi usaha. Tenang saja, jodoh mas sudah di depan mata," balas Rian terhadap sindiran Irin, Irin menjadi salah tingkah dan duduk agak jauh dari Rian.
"Ayo bersiap, kenapa malah duduk!" Ucap Rian kecewa Irin tidak segera bersiap.
"Aku nggak mau, aku mau Mas Rian diejek jomblo ajah," goda Irin pada Rian.
"Ya udahlah nggak papa, kalau kamu nggak bersiap-siap aku bawa saja kamu seperti itu, tetap cantik kok." Rian tidak kurang akal membuat Irin berubah pikiran.
Irin hanya mengikat rambutnya sembarangan dan menggunakan setelan baju tidur khas anak rumahan. Irin mendengus kesal. Rian terus menggoda Irin, dengan rayuan-rayuan yang aneh dan sedikit pemaksaan yang agresif. Hingga Irin risih dan akhirnya menuruti kemauan Rian. Tepat jam 7 malam mereka berangkat.
"Selamat Tuan, kamu selalu mendapatkan apa yang kamu mau." Ucap Irin di sela-sela perjalanan.
"Jangan begitu, kan jadi terkesan aku memaksa kamu," jawab Rian santai.
__ADS_1
"Hey! Memang Mas Rian maksa."
"Yang penting aku memaksa dengan bijaksana dan mengagumkan, iya kan?"
"Bisa saja Mas, biarlah hitung-hitung aku makan gratis!" Ucap Irin mengalah, dia menyerah menghadapi Rian, dia selalu punya banyak kata-kata yang jarang terlintas di pikiran orang lain.
"Apa ... sebaiknya kamu aku nafkahin aja, gimana?" goda Rian lagi.
"Jangan ngaco Mas, nyetir aja yang benar. Aku nyerah bicara sama kamu."
Rian pun tersenyum melihat tingkah Irin. Awalnya Rian hanya simpati pada Irin, tepat saat dia tak sengaja mendengar saat Irin bercerita dan menangis di pelukan bi Ijah saat di rumah sakit. Lama kelamaan dia benar-benar jatuh hati pada sosok Irin.
Mobil masuk ke pelataran sebuah hotel bintang lima. Rian menggandeng tangan Irin bak pasangan kekasih saat memasuki gedung resepsi. Irin tampak kikuk tapi tidak bisa menolaknya. Rian menyapa teman-temannya, dan saat mereka bertanya prihal Irin dia hanya menjawab, "Doakan saja!". Jawaban yang membuat Irin semakin gugup dan kesal.
Kemudian Rian mengajak Irin bersalaman dengan pengantin. Ramai sekali tapi diatur sedemikian rupa sehingga tidak berdesakkan. Maju selangkah demi selangkah dan akhirnya tiba giliran Rian dan Irin menyalami pengantin.
"Selamat dokter Danu, akhirnya kamu soldout juga," ucap Rian sambil menyalami pengantin pria.
"Doakan saja!" Jawab Rian sama seperti tadi sambil cengengesan.
Irin pun ikut menyalami dan memberi selamat. Tapi saat akan menyalami pengantin perempuan Irin disambut dengan tatapan tajam yang menyeramkan serta mengintimidasi.
"Winda?" Irin menyadari siapa pengantin di depannya. Hanya riasan yang membuatnya tampak berbeda. Yang Irin tidak bisa lupa adalah sorot matanya yang mirip petir menyambar tempo hari. Winda memegang tangan Irin dengan kuat.
"Kamu!" Winda menahan amarah, melihat Irin dengan lelaki lain.
Irin sontak melirik ke arah Rian, benar saja. Winda sudah salah paham. Winda menarik tangan Irin sehingga Irin mendekat, alih-alih bercipika-cipiki Winda malah membisikan sesuatu ke telinga Irin.
"Bisa-bisanya kamu pergi dengan lelaki lain, sementara kamu masih sah istri Bambang. Aku terkejut kamu adalah wanita murahan."
"Aku nggak kaya gitu!"
__ADS_1
"Kamu nggak pantas untuk Bambang, aku menyesal merelakannya untuk wanita sepertimu." Winda tampak sangat marah, Winda menghempas genggaman tangannya sehingga Irin tersentak menjauh. Rian tampak bingung melihat keduanya.
"Apa kalian saling kenal? Kalian tampak ... akrab?" Tanya Rian.
"Tanya saja pada wanitamu, Pak." Winda menjawabnya dengan nada tidak bersahabat.
Sementara Irin tampak shock sehingga tidak konsentrasi menjawab. Irin berpikir jika Winda yang menikah kemungkinan suaminya ada di sini, dia mengedarkan pandangan mencari-cari Bambang. Benar saja, mudah sekali Irin menemukan Bambang. Dia sangat dekat dengan panggung pelaminan. Bahkan dia menyimak dan mendengar ucapan Rian tentang siapa Irin. Mukanya merah padam. Melihat Istrinya menggandeng pria lain.
Bambang nampak kesulitan mengontrol cemburu dan amarah yang menguasainya. Dia bimbang, hingga akhirnya memutuskan berbalik arah dan melangkah pergi.
Irin yang melihatnya langsung berlari menuruni panggung dan meninggalkan Rian di sana. Rian yang bingung tak mengerti segera ikut berlari mengejar Irin. Bambang begitu cepat menghilang di tengah kerumunan, membuat Irin kesulitan meraihnya. Bambang yang tidak tahu Irin mengejarnya semakin cepat berlari menuju keluar ruangan. Dia dikuasai emosi yang entah apa namanya. Marah, cemburu, kecewa, rindu dan shock semua bercampur menjadi satu. Irin memanggil-manggil suaminya, namun suaranya hilang ditelan keramaiian acara.
Rian yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi pun tetap mengikuti kemana Irin pergi. Irin kehilangan sosok Bambang yang begitu cepat menghilang. Irin pun berlari kesana kemari, mencari-cari suaminya. Rian yang tidak berani bertanya hanya bisa mengikuti kemana pun Irin pergi.
Kemudian Irin berinisiatif mencari ke arah toilet setelah lelah mencari di seluruh ruangan acara. Irin memacu langkahnya dengan nafas yang sudah mulai habis. Naas lantai di depan toilet tenyata lantainya begitu licin, Irin yang memakai high heels pun jatuh terpeleset. Suaranya pun berdebam dengan keras.
"Aaaggghhh!" Teriak Irin. Irin jatuh dengan posisi duduk.
"Iriiiiiin!" Rian yang tidak jauh dibelakangnya pun berlari segera meraih irin.
"Irin, kamu tidak apa-apa?" Tanya Rian cemas, sebenarnya dia sudah cemas semenjak Irin bertingkah aneh.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku!" Irin shock, dan merasakan perutnya begitu sakit karena jatuh. Tanpa sempat menjawab pertanyaan Rian, Irin pun pingsan.
"Irin! Irin!" Rian menepuk-nepuk pipi Irin berusaha membangunkannya. Kemudian dia menyadari, Irin mengalami pendarahan. Gaunnya yang berwarna cream sudah berlumuran darah di bagian bawah.
"Oh Tuhan, apa yang terjadi?" Rian yang panik segera menggendong Irin dibantu beberapa orang disekitar tempat itu.
"Bertahanlah Irin, bertahanlah!"
Rian berlari tanpa peduli kemejanya yang ikut berlumuran darah.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃