
Sepertinya aku sudah kehilangan. Bambang yang mencintaiku, dan hatinya yang dulu hanya untukku, katanya. Dia yang kemarin menangisi hukuman pernikahan ini, sekarang mulai menikmati. Aku yang awalnya yakin dia akan kembali, sekarang hanya berteman kekosongan janji dan harapan. Tapi, aku belum mampu pergi, aku seperti budak cinta. Asal dia bahagia, cukup untukku.
Sampai akhirnya gadis itu membaik. Bambang memutuskan pindah ke rumah gadis itu. Sirna sudah harapanku yang tinggal 0,1% itu. Aku seharusnya ikut bahagia tetapi aku juga tidak mampu terus menerus berbohong kalau hatiku ini terluka.
Aku sungguh menderita, gadis itu beserta takdirnya telah merampas semua kebahagiaanku yang sudah di depan mata. Sampai-sampai aku tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk mempertahankannya. Bila aku memperjuangankan perasaan dan hubungan ini pasti juga akan salah. Kenapa Tuhan? Kau membuat semua ini hancur tanpa peringatan, tanpa aba-aba, tanpa memberiku sedikit kekuatan untuk menahannya pergi. Ini tidak adil. Tapi aku tidak punya daya upaya apa-apa.
Beberapa hari setelah kepindahannya, Bambang menemuiku di kantor sepulang kerja. Aku terkejut dia datang. Rasanya seperti mendapat siraman air yang sejuk setelah dahaga rindu berhari-hari yang menyiksa. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Senyum yang membuatku susah untuk lupa, membuat hatiku begitu sakit saat sadar semua bukan lagi milikku.
"Win, kamu sibuk nggak?"
"Enggak." Aku mencoba dingin, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menghambur dalam pelukkannya.
"Sudah makan?"
"Belum,"
"Ayo kita makan!"
Aku berjalan di sampingnya seperti dulu, dengan status yang jauh berbeda. Hatiku tidak karuan antara senang dan sedih, ingin rasanya menahannya tetap disini, apa aku harus pura-pura gila seperti gadis itu? Ah ... ! Aku harus menekan perasaan ini semampuku.
Bambang mengajakku ke restoran tempat biasa kita makan sejak dulu. Tempat penuh kenangan dan saksi perjuangan kita berdua merintis hidup di Ibu Kota. Jahatnya kamu Bam! Hatiku teriris pilu mengenang tempat ini. Bahkan tanpa bertanya Bambang memesan makanan favoritku. Seperti dahulu saat semuanya belum berubah. Sejenak aku bimbang, mengikuti arus atau melawannya.
Kita makan dalam kebisuan. Bambang terlihat berbeda, sepertinya sekarang semua mulai baik-baik saja. Dia terlihat segar dan ceria. Apakah gadis itu? Ah!
"Aku antar pulang ya, Win?"
'Apa? hanya makan?!' batinku kesal.
__ADS_1
"Nggak usah Bam, aku sendiri aja."
"Nggak papa, biar aku antar."
Kemudian dia berdiri dan tatapan matanya seolah memintaku untuk menerima tawarannya. Akhirnya aku menyerah, tambah berat rasanya menekan perasaan ini. Hampir sepanjang perjalanan kita pun hanya diam. Aku yang rindu tapi pura-pura membeku. Bambang yang berusaha mencairkan tapi aku mati-matian bertahan. Aku wanita dengan harga diri.
"Boleh aku mampir?" tanya Bambang membuatku terkejut, porak poranda sudah pertahananku.
Tanpa menunggu jawabanku dia ikut turun dari mobilnya dan mengikutiku.
"Bam, sebenarnya ada apa?"
"Aku hanya ingin berbincang denganmu, bagaimanapun kita harus tetap menjaga hubungan baik kan?"
"Oh, baiklah." Alasannya cukup masuk akal walaupun hatiku semakin tidak sanggup menyembunyikan rasa ini. Aku menikmati keberadaanya di sampingku.
Aku menyewa sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan sejak aku bekerja. Sebelumnya aku hanya mampu menyewa kos-kosan saat masih kuliah. Sementara Bambang menempati rumah milik pamannya dan sejak dia bekerja rumah itu dibeli olehnya dengan cara mencicil. Kehidupan ekonomi kami membaik tapi kami justru dipisahkan paksa oleh takdir.
"Baik, dia semakin baik. Walaupun dia masih dingin dan selalu menjaga jarak dariku. Tapi keadaannya semakin baik itu cukup untukku."
"Syukurlah!" Aku mengalihkan pandangannku, sekarang justru aku yang menghindari tatapan matanya.
"Apa kabar kamu, Win?" dia bertanya, hhhh.
"Tidak baik, justru akan aneh kalau aku baik-baik saja, bukan?"
Bambang hanya tertunduk, aku tidak bisa pura-pura lagi Bam. Apa kamu kasihan padaku?
__ADS_1
"Butuh waktu Bam, 4 tahun bukan waktu yang singkat. Apalagi kita melalui itu dengan penuh cerita dan perjuangan yang tidak terlupakan. Dan tragisnya, semua hancur saat mimpi kita tinggal selangkah lagi." Aku tidak tahan lagi menyimpannya.
"Sakit itu pasti, ini murni takdir Yang Maha Kuasa. Aku, kamu, dan Airina tidak salah tidak ada yang ingin semua ini terjadi, bahkan tidak satu pun dari kita yang menerima semua ini. Tidak masalah kamu melepaskanku, dan memilih gadis itu. Aku hanya harus secepatnya pulih bukan?" Kata-kata ini meluncur begitu saja, aku masih berhasil menahan air mata untuk tidak menetes.
"Andai kecelakaan itu tidak terjadi! Maafkan aku Win." Aku melihat genangan air mata yang berusaha Bambang tahan.
"Aku juga berharap begitu!"
Runtuh sudah pertahananku, air mataku mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Aku duduk dan memeluk erat kedua lututku. Kulepaskan beban yang selama ini menghimpit dadaku, aku tidak sanggup lagi berpura-pura tegar. Sehancur apapun perasaanku, aku tidak pernah menangis di depan Bambang, aku tidak ingin menambah beban dalam hatinya.
Namun sekarang aku benar-benar berada di titik terendah, aku berteriak dalam tangisku melepaskan semua. Seluruh tubuhku bergetar ikut merasakan kepiluan yang kupendam. Aku meledakkan tangisku memuaskan semua rasa sakit karena ketidak adilan yang menimpaku. Tidak kupedulikan lagi keberadaan Bambang, aku hanya ingin bebas dari rasa ini.
Tiba-tiba kurasakan Bambang mendekat dan memelukku dari belakang. Kurasakan dia juga ikut menangis. Pelukannya begitu erat, aku yakin dia juga merasakan sakit yang sama. Aku juga merasakan tubuhnya ikut bergetar karena tangisnya, aku yakin dia juga menanggung sesak yang sama bahkan lebih.
Kurasakan dia menciumi puncak kepalaku, aku masih merasakan kasih sayangnya yang besar kepadaku. Aku ingin menjadi egois dan menikmati suasana ini. Sakit dalam dadaku seolah terobati perlahan dengan keberadaannya di dekatku. Pelukannya, kasih sayangnya dan cintanya adalah obat yang membuatku kecanduan. Andai aku bisa selamanya memilikinya.
"Aku yakin kamu bisa melalui ini semua Win, maafkan aku yang tidak berdaya, maafkan aku yang harus ingkar pada janjiku, maafkan aku karena membuatmu terluka. Aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu, tidak apa-apa bila akhirnya kamu membenciku. Aku terima. Kamu adalah wanita tanggung yang pernah aku kenal, yang pernah begitu berjasa memberiku semangat untuk maju. Entah bila tidak denganmu pasti keadaanku tidak sebaik ini," ucap Bambang sambil terus terisak.
Aku bodoh sekali. Bambang sama sekali tidak berpikir untuk kembali, bahkan dia dengan tegas membunuh setiap rasa dan kenangan kita dengan bengis. Aku menyadari ini adalah pelukan perpisahan, aku bodoh karena mengharapkan lebih. Seketika luka ini seperti tersiram air garam yang membuatku semakin perih.
"Lepaskan semua tangismu Win, menangislah sepuasmu, makilah aku!"
Bambang juga tidak mampu lagi menahan semua tangisnya, atau dia menangis karena kasihan padaku, aku tidak tahu dan tidak lagi peduli. Pelukan ini tidak lagi nyaman, rasanya seperti ditusuk belati di sekujur tubuhku.
"Kamu harus bisa bangkit, aku yakin ada lelaki yang jauh lebih baik sedang menunggumu di depan sana. Aku akan terus berdoa agar kamu mendapat jodoh yang baik. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Maafkan aku!"
Aku biarkan dia menumpahkan apa yang dia pendam, namun entah apa yang terjadi. Tiba-tiba pelukannya melemah, dan dia jatuh tersungkur.
__ADS_1
Bruuuuugkk....!
🍃🍃🍃🍃🍃