MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Maafkan Aku Irin


__ADS_3

Semalaman Irin tidak bisa tidur, kedatangan Bambang begitu mengusik pikirannya.


'Haruskah aku memaafkannya? Haruskan aku percaya? Kenapa sebagian dari hatiku percaya dia benar-benar tulus padaku? Tapi wanita itu?!'


Hatinya sudah mulai terisi oleh Bambang dan Irin mulai menaruh harapan besar di sana, namun saat menyaksikan mereka berdua berbagi kamar di rumah sakit semuanya seakan hancur. Seandainya Bambang tidak berkhianat pernikahannya pasti sudah sempurna.


Irin mengorek-ngorek hatinya, seperti bertanya pada cerminan dirinya sendiri namun dengan sudut pandang yang lebih dalam dan bijaksana. Berdebat dengan logikanya sendiri dan berusaha mematahkan semua dengan firasat.


'Aku tidak boleh kehilangan lagi. Bukankah pernikahan itu perjuangan dua orang? Mungkin Bambang sudah banyak perjuang dan berkorban, ini saatnya aku yang berkorban untuk pernikahan ini. Akan kutemui dia besok. Aku tahu harus mencari dia kemana.' Irin sudah mengambil keputusan hingga akhirnya dia tertidur sebelum subuh.


Malam itu Bambang pulang ke rumah, disambut Winda yang sangat khawatir selarut itu Bambang tidak di rumahnya.


"Kamu dari mana si Bam?" Tanya Winda penuh selidik begitu Bambang turun dari mobil. Tiba-tiba Bambang ambruk dan Winda segera menangkapnya walaupun tidak sempurna tapi berhasil mencegah Bambang untuk jatuh tersungkur.


"Ya ampun, panas banget badan kamu. Ayo cepet masuk!" Winda memapah Bambang dengan susah payah masuk ke dalam rumah. Winda meletakan tubuh Bambang yang berat ke kasurnya. Nampak dia ngos-ngosan, segera dia mencari handuk untuk mengompres Bambang dan mencari persediaan obat agar panas Bambang segera turun.


"Irin ... Irin ... Iriin ... !" Bambang terus meracau menyebut nama Irin.


Winda yang berada di sampingnya tak luput dari incaran Bambang, dia menyasar kepala winda masuk ke dalam dekapannya sampai-sampai Winda dapat merasakan irama detak jantung Bambang. Akan tetapi nama Irinlah yang disebut sepanjang malam.


"Bila ini yang membuatmu senang, aku rela!" Ucap Winda lirih diiringi air mata yang keluar tanpa mampu Winda bendung lagi. Bambang pun terlelap tanpa sedikit pun melepaskan Winda.

__ADS_1


Minggu paginya, Irin sibuk mempersiapkan diri dia sibuk memilih baju. Pilihanya jatuh pada dress sebawah lutut dengan warna biru muda yang sukses membuatnya cantik dan segar. Meski semalam dia kurang tidur tapi tekatnya bulat untuk memberi kesempatan kedua bagi pernikahannya. Keteguhan Bambang kembali membuat Irin tersentuh dan membulatkan tekad untuk mencoba percaya.


Dia memacu mobilnya perlahan sambil membayangkan bagaimana ekspresi Bambang melihat kedatangannya. Hatinya berdebar. Dia akan mengakui kalau dia juga rindu, dia akan mengajak Bambang untuk membuka lembaran baru.


Saat sampai ke rumah Bambang, Irin heran karena melihat sedikit kekacauan, beberapa pot tampak jatuh berserakan. Rumahnya sepi, tapi pintunya tidak tertutup sempurna. Padahal ini masih pagi sekali.


'Apa Mas Bam sudah bangun dan sudah keluar rumah?' Batin Irin.


Irin nampak ragu untuk masuk sambil melihat-lihat sekitar barangkali Bambang sedang berolah raga seperti yang biasa dia lakukan dulu saat tinggal bersama Irin di rumah itu. Irin akhirnya memutuskan untuk masuk, dia bisa mengejutkan Bambang bila nanti dia pulang. Itu pun kalau dia benar-benar di luar rumah. Irin pun masuk perlahan, dilihatnya ruang depan rumah ini terawat, berbeda dengan bagian depan yang dia lihat tadi. Bambang memang rajin.


Kemudian dia berjalan ke arah kamar yang dulu ditempatinya. Pintunya setengah tertutup, kembali sesuatu dalam hatinya seakan menuntun tangannya untuk membuka pintu itu, dia pun mendorong pintu di depannya. Suara pintu yang berdenyit akhirnya membangunkan Winda dan Bambang.


Dia pun tidak mengerti kenapa bisa tidur memeluk Winda. Dia hanya mengingat Irinlah yang dia peluk, ah tidak. Dia melihat Winda menyambutnya semalam. Ahh kacaau. Bambang benar-benar menyesal.


Winda segera bangun, meraih tasnya kemudian pergi meninggalkan Bambang dan Irin yang sama-sama mematung.


Dia pun merasa bersalah, dia mengutuki kebodohanya sambil berlalu. Irin masih saja mematung, susah sekali rasanya mencerna apa yang baru saja terjadi. Harapannya jatuh hancur berulang kali, berkeping-keping. Kakinya yang masih gemetar dipaksanya untuk berjalan mundur. Irin berusaha meraih pintu dan segera keluar, dia menyesal telah datang. Hatinya terasa sesak sekali.


Bambang tak mau lagi kehilangan Irin. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Irin. Tidak mungkin Irin akan percaya lagi padanya. Tapi tidak mungkin juga dia melepas Irin. Wanita yang dia nikahi karena kecelakaan. Bambang semakin gelap mata dan hampir kehilangan akal sehat saat melihat Irin melangkah pergi.


Dia melompat dari tempat tidurnya, berlari meraih Irin. Tepat saat Irin hendak melangkah keluar Bambang sudah berhasil mencengkram tangan Irin dan mencegahnya. Bambang segera menutup dan mengunci pintu depan, dia menarik Irin dengan kasar ke pelukannya. Irin meronta-ronta namun percuma, Bambang sangat kuat merengkuhnya.

__ADS_1


Bambang menuntun Irin dengan paksa ke dalam kamar. Bambang sudah tidak tahu lagi, dengan cara apa Irin bisa mengerti. Dia ingin bicara dengan bahasa yang lain, dia ingin Irin mengerti tanpa harus dia menjelaskan. Karena memohon pun akan percuma, Irin tak mungkin percaya lagi.


Sesampainya di kamar, Bambang segera meraih wajah Irin dan mencium bibir istrinya tersebut dengan paksa. Hasrat yang salama ini Bambang jaga yang bercampur dengan rasa tidak ingin kehilangan dan juga rindu yang menggebu, membuat Bambang tak mampu mengendalikan dirinya lagi.


Dia merebut dengan paksa mahkota yang memang sudah menjadi miliknya. Tak peduli Irin menangis, berteriak, memukul mencakar, dan menendang-nendang. Bambang seakan ingin terus menghirup semua madu di hadapannya tanpa ingin menyisakannya sedikit pun. Perlawanan Irin tidaklah sebanding dengan kekuatan Bambang.


Irin hanya menangis dan pasrah saat sudah kehabisan tenaga, sementara Bambang yang dikuasai ledakan perasaan dan cinta terus saja mencumbunya. Tubuh Irin masih saja gemetar, ditatapnya Bambang yang limbung di sampingnya setelah menyelesaikan hasrat itu.


Selama bersama Irin, Bambang begitu lembut, berbeda sekali dengan apa yang baru saja terjadi. Bambang begitu kasar dan penuh paksaan. Apakah ini sisi Bambang yang sebenarnya? Irin menatap lelaki di depannya yang berjuluk suami dengan penuh kengerian. Bambang hanya terdiam dan berusaha meraih kembali kesadarannya.


"Maafkan aku Irin, maaf maaf maaf ....!"


Bambang meraih tangan Irin dan meletakkannya di dadanya yang masih berdebar dengan hebat. Irin yang lemah tak mampu lagi menolak.


"Rasakan lah Irin, disini!!! Aku sangat mencintai kamu!" Bujuk Bambang.


Irin tak mampu menjawab, dia sangat kecewa dengan apa yang Bambang lakukan dan dia semakin membencinya dan juga segala bentuk penghianatannya.


Bambang kemudian memeluk tubuh Irin yang lemah. Tidak ada respon apapun dari Irin, Bambang menangis di sana, menyesal, dan berharap ada sebuah keajaiban yang mampu membuka hati istrinya.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2