MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Jarak


__ADS_3

Matahari tampak mengintip dari celah awan yang sempit. Angin membawa kabar hujan yang sebentar lagi akan menyirami bumi. Cinta ini begitu rumit. Namun, pantang untuk ditinggal pergi.


Secangkir kopi hitam menemani Bambang di sudut sebuah caffe. Pandangannya tidak lepas dari layar ponsel dengan gambar Irin. Sesekali nafasnya terdengar berat. Tidak lama wanita bernama Winda muncul di depan pintu caffe, Bambang pun melambaikan tangan menandakan posisinya. Winda segera menghampiri dan duduk di kursi kosong di depan Bambang.


"Aku terkejut kamu meminta bertemu Bam, aku pikir kamu tidak akan pernah menghubungiku lagi," ucap Winda tanpa basa-basi.


"Aku sedang pusing Win, aku harus bicara dengan seseorang. Dan orang yang tahu persis kondisiku ya kamu, mana mungkin aku harus bercerita dari awal lagi kepada orang lain," jawab Bambang.


"Aku sebenarnya ingin menghubungimu lebih dulu, tapi aku tidak punya nyali Bam. Aku benar-benar merasa bersalah atas kejadian waktu itu. Aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa begitu bodoh saat itu." Sesal Winda.


"Itu bukan salahmu, aku yang bersalah. Malam itu aku menemui Irin dan aku meminta maaf padanya. Tapi entah kenapa sakitku kambuh lagi. Siapa yang mengira esoknya dia datang." Bambang tampak sangat menyayangkan kejadian hari itu.


"Seandainya aku tidak disana, mungkin kamu dan Irin sudah bersama lagi. Maafkan aku, aku hanya ingin memberikan suatu informasi padamu makanya aku datang."


"Sudahlah Win, mungkin memang takdir kami begitu. Maksudku takdir aku dan Irin, tak perlu terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Jangan sampai kamu berakhir sepertiku." Bambang menyeruput kopinya, berharap gundah di hatinya tersamar dengan pahitnya kopi.


"Aku harap, kamu mengijinkanku bertemu dengan Irin. Aku akan bicara dari hati ke hati dengannya. Aku yakin dia pasti mengerti Bam. Ijinkan aku bantu kamu."


"Kamu sudah banyak sekali membantuku Win, Terimakasih. Oh iya, kamu bilang ada informasi untukku?" tanya Bambang mengingat kalimat Winda sebelumnya.


"Oh iya, aku punya teman yang saudaranya mengalami semacam gangguan emosi, tapi dia sembuh Bam, aku udah minta alamat praktek pengobatannya. Aku harap kamu mau kesana."


"Pengobatan macam apa itu? magic, alternatif, atau medis?"


"Medis, tapi aku yakin kamu pasti suka. Ini beda dari yang biasa kamu jalani Bam. Peluang kamu sembuh lebih besar, tidak ada salahnya kalau mencoba?" bujuk Winda sambil memandang penuh paksa.


"Hem, iya iya iya. Aku akan pergi."Bambang pun setuju.


"Baiklah, kapan pun jadwalmu kosong kabari aku secepatnya."


"Iya. Kalau tidak iya pasti kamu akan teruuuuus bicara," ledek Bambang.


"Kalau tidak begitu kamu tidak akan mau."


"Terimakasih Win, sebagai teman pun perlakuanmu masih sama padaku. Aku merasa bersalah."


"Berhenti mengucapkan kalimat seperti itu lagi. Kata-kata itu seperti sugesti, apalagi jika kamu terus mengucapkannya secara berulang. Kamu sudah bersalah, tapi semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Kamu hanya harus mengambil hikmah dari setiap peristiwa."


"Baiklah, kamu juga Win. Aku harap kamu segera menemukan pasangan. Aku ingin kamu bahagia."


"Jangan terus mengguruiku, nanti aku pasti ketemu jodohku sendiri. Tapi, aku nggak mau lama-lama pacaran lagi." Winda berkata dengan nada sedih.


"Aku mau langsung nikah aja!!!" sambung Winda dengan semangatnya yang membara.


Bambang menyambutnya dengan tawa,


"Jadi itu hikmahmu wind?"


"Tentu saja!" jawab Winda mantap,


"Semoga ya Wind, aku pasti doakan keinginanmu itu."

__ADS_1


"Terimakasih, aku harap kamu juga bahagia dengan Irin." Winda kembali mendoakan Bambang, namun hanya di tanggapi dingin oleh Bambang.


"Kejadian tempo hari benar-benar membuatku menyadari banyak hal, aku belum sepenuhnya melepasmu. Dan mulai detik disaat aku membuat pernikahanmu bermasalah, adalah hari dimana aku benar-benar bertekad untuk melepas kamu sepenuhnya."


"Kamu memang harus melepasku Win, aku hanyalah lelaki pengecut yang tak pantas bersanding dengan Irin, apa lagi dengan wanita hebat dan mandiri sepertimu."


"Memangnya kenapa Bam? kamu kelihatan sedih kalau aku bahas Irin. Astaga, aku lupa bertanya keadaan Irin pasca kejadian tempo hari."


"Aku melakukan kesalahan fatal."


"Maksudmu?"


"Aku melanggar janjiku sendiri, dan itu membuat Irin benar-benar pergi."


Winda tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya, dia hanya menutup mulut menggunakan tangannya tanda tidak percaya.


"Saat itu, aku benar-benar putus asa sampai nggak bisa berpikir panjang," jelas Bambang sambil tertunduk penuh kecewa pada dirinya sendiri.


"Sebelumnya aku selalu memikirkan perasaan Irin padaku. Sekarang aku malah meragukan diriku sendiri."


"Apa maksudmu Bam?"


"Perasaan apa yang kumiliki sebenarnya. Apa hanya sekedar rasa bersalah, atau cinta. Aku terus bertanya, tapi tidak juga menemukan mana yang paling berat di antara keduanya. Aku sangat kesal sekali, setelah apa yang sudah aku perbuat kepada Irin kemudian membiarkannya pergi juga tidak pernah mencoba mencari. Aku sangat pengecut bukan? Aku takut salah mengartikan perasaan apa yang melandasi hubunganku dengan Irin." Jawaban Bambang membuat Winda terdiam.


"Aku yakin, kamu mencintainya." Dukung Winda menguatkan. "Tidak pernah kulihat matamu berbinar sedalam itu kepada perempuan."


Bambang hanya diam, kedua tangannya menutup ke muka. Berusaha menutupi kegundahannya yang semakin menguasai akal sehatnya.


"Berpikirlah positif Bam, Irin mungkin hanya sedang menyendiri. Irin butuh waktu ... "


"Atau aku yang kehabisan waktu. Kesalahanku sangat besar pada Irin," Sela Bambang.


"Percayalah Bam, Irin pasti mengharap penjelasan dari kamu. Setidaknya jangan membiarkan masalah ini berlarut-larut."


"Entahlah Win, aku justru ragu."


"Sabarlah!!!" Winda menepuk-nepuk pundak mantan kekasih yang sekarang jadi sahabatnya untuk sekedar memberi dukungan.


🌿🌿🌿🌿🌿


Irin berdiri di pinggir jalan, menunggu ojek pesanannya datang, efek mobilnya masih rusak dia jadi harus naik ojek. Mukanya nampak kusut karena lelah menyerap mata kuliah hari itu. Kemudian nampak mobil silver mendekatinya. Irin menebak-nebak siapa di dalamnya.


Ssssssssshhhhh. Kaca mobil terbuka.


"Irin!" Sapanya.


"Dokter Rian?" Irin mengenalinya setelah berpikir selama sepersekian detik.


"Ayo, aku antar pulang! Kamu berhutang penjelasan kenapa belum menghubungiku sama sekali."


"Hhh, kamu benar-benar menunggu?" tanya Irin heran. "Kamu agresif juga."

__ADS_1


"Heey apa tidak boleh? ayo aku antar pulang!" ajaknya lagi.


"Tidak usah, aku sudah pesan ojek."


"Aku antar saja, kasian kamu sudah capek, mungkin ojek nya kena macet."


"Terimakasih, tapi benar tidak usah."


"Ayolah Irin, aku tidak mengigit kenapa kamu begitu takut."


"Bukan begitu. Kasian abang ojeknya kalau pesanannya dicancel, setidaknya aku harus menghargai pekerjaannya."


"Bijak sekali kamu Irin, hem kalau begitu aku tunggu sampai abang ojeknya datang yah."


"Kenapa harus repot-repot?"


"Aku harus mendapatkan nomer ponselmu!" wajah Rian santai tapi penuh tekad.


Irin memandang heran lelaki di depannya. Kemudian mengetik sebuah nama yang sudah dia save sebelumnya. Rian tampak tersenyum puas, mengetahui nomer Irin sudah masuk.


"Kamu benar-benar agresif," keluh Irin.


"Tidak kesemua wanita, hanya yang menurutku menarik saja."


"Jadi aku menarik?"


"Tentu saja."


"Baiklah, cukup merayunya.Terimakasih sudah menemaniku, ojekku sudah datang." Irin melambaikan tangan dan pergi menghampiri ojeknya.


Tapi Rian tidak mau kalah cepat, kemudian Rian buru-buru menghampiri motor sang ojek itu. Berbicara sejenak dan memberikan ongkos kemudian ojek itu pergi. Tanpa permisi lagi, dia mengambil gawai di tangan Irin dan mengklik selesai.


"Heyy... !" Irin sedikit kaget.


"Aku sudah membuat abang ojek mendapatkan haknya. Sekarang aku antar kamu pulang." Tawar Rian dengan sedikit memaksa.


"Ayolah Irin...!"


Irin berjalan mengikuti Rian yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Sepanjang perjalanan, Rian terus menanyakan hal-hal kecil kepada Irin, hingga Irin pun mencair dan meladeni obrolannya. Sampai di depan rumah Irin, Irin pun segera turun.


"Aku nggak ditawari masuk?" tanya Rian.


"Nggak!" tolak Irin dengan nada bercanda tapi tegas.


"Seperti yang aku bilang tadi, aku lelah. Terimakasih untuk tumpangannya." Irin berlalu secepatnya sambil melambaikan tangan.


"Aku harap mobilnya lama diperbaiki," gumam Rian sambil tersenyum.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupa komen dan like nya ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2