
Irin ikut tersentak mendengar teriakan ibu tadi, firasatnya mengatakan ini bukan hal baik.
"Rak popo Mbang, saiki mantu ku Dokter lewih apik ketimbang koe!" (Nggak papa Mbang, sekarang menantuku Dokter lebih bagus dari kamu!). Lanjut wanita tadi seraya masuk ke dalam rumah dengan memberikan muka yang asam kepada Bambang dan Irin.
Bambang mengajak Irin melangkah lebih cepat, beruntung rumah di sana jaraknya agak berjauhan jadi tidak ada yang ikut mendengar ucapan wanita tadi. Irin semakin merasakan kejanggalan, Bambang pun memilih diam sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, Irin meletakkan kue yang tadi dia beli diatas meja.
"Wah, habis beli kue ya Rin," kata kakak ipar Irin dengan bahasa indonesianya yang medok.
"Iya Mbak Yuni, dimakan ya!"
"Lha mbok sini dimakan bareng-bareng!" Ucap Mbak Yuni ketika melihat Irin buru-buru pergi.
"Mbak saja sama yang lain, tadi aku udah makan sama Mas Bambang." Segera Irin masuk ke kamarnya menyusul Bambang yang sudah terlebih dulu masuk.
Rasa laparnya hilang mengingat kejadian tadi.
"Lho kamu nggak makan Rin? Katanya kuenya enak-enak." Bambang bersikap biasa, berbeda dengan saat tadi dia pulang.
"Mas, kasih tahu ibu-ibu tadi ngomong apa. Kok Mas Bambang langsung pergi dan nggak suka."
"Nggak usah Rin, enggak penting."
"Mas nggak bisa bohong lagi, cepat atau lambat Irin pasti tahu, enggak dari Mas Bam ya dari orang lain," desak Irin.
Bambang melihat kesungguhan Istrinya, sambil berfikir kemungkinan resikonya.
"Dan akan lebih sakit kalau tahunya dari orang lain." Lanjut Irin memojokkan Bambang tanpa ampun.
"Iya iya, mas kasih tahu. Nanti ya kalau sudah di Jakarta, percaya sama mas!" Jawaban Bambang tidak memberikan Irin kepuasan.
Ketukan pintu sukses menyelamatkan Bambang dari introgasi Irin.
"Non, sarapan dulu!" Suara bi Ijah di balik pintu. Bambang pun tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk kabur.
__ADS_1
"Makasih ya, bik," ucap Bambang sambil mengedipkan sebelah matanya. Bi Ijah yang tidak mengerti pun hanya bisa bengong. Irin menyusul di belakang Bambang.
"Hayuk Non, sarapan dulu!" Ajak bi Ijah lagi kepada Irin yang memanyunkan bibirkan.
"Irin tadi udah makan kue, Bi."
Kemudian Irin berlalu dari bi Ijah menuju balai di bagian depan rumah. Bi Ijah tampak mengikuti Irin.
"Kenapa sih Non, berantem sama Mas Bambang?"
Kemudian Irin menceritakan kejadian saat dia beli kue tadi dan Irin memberi tahu kata-kata bahasa jawa yang Irin ingat dari ibu-ibu di ujung jalan tadi. Bi Ijah yang asli orang jawa langsung tahu apa yang baru saja terjadi, pantas saja Bambang menghindari Irin. Orang-orang kampung sini membicarakan pernikahan Bambang karena membunuh orang dan mereka beramai-ramai mengasihani Winda.
"Sudah Non, bener Mas Bambang. Itu nggak penting. Yang penting Non Irin senang disini dan keluarga Mas Bambang baik-baik semua sama Non Irin. Bibi aja kemaren yah pas awal dateng itu nggak boleh ngapa-ngapain sama Ibunya Mas Bambang suruh istirahat aja katanya. Tapi wong bibi sudah biasa melakukan ini itu ya pekewuh kalo cuma diem aja, akhirnya bibi boleh bantu-bantu sedikit." Bi Ijah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hem, Bibi mah sama aja." Gerutu Irin.
"Sudahlah Irin mau mandi mumpung kamar mandinya kosong." Irin beranjak pergi meninggalkan bi Ijah sendiri, dari jauh tampak Bambang yang dari tadi memperhatikan meraka dan mengacungkan jempolnya kepada bi Ijah. Bi Ijah yang sudah mengerti pun mengacungkan balik jempolnya kepada Bambang, keduanya pun tersenyum penuh arti.
Semua sedang berkumpul santai di balai depan rumah. Mengobrol dan bercanda ria. Bi Ijah pun ikut larut dalam obrolan mereka, sesekali tawa renyah terdengar seperti paduan suara. Entah apa yang mereka bicarakan.
Irin hanya melihatnya dari dalam rumah, kemudian masuk ke kamarnya sambil mengelap-ngelap rambutnya yang basah. Sekilas dia menangkap aura bahagia Bambang di sana. Sambil terus mengeringkan rambutnya, Irin menyapukan pandangannya pada kamar itu. Entah mengapa Irin begitu tertarik dengan laci bawah bagian lemari pakaian Bambang.
Irin terkejut, melihat potret Winda dan Bambang di sana. Ternyata mereka bukan hanya berpacaran selama 4 tahun, tapi juga bersahabat sejak kecil. Irin menangkap bahwa Bambang sudah lama naksir pada Winda, namun dia hanya menempatkan dirinya sebagai pengagum rahasia.
Irin membuka lembar demi lembar dengan hati-hati. Winda sudah cantik dari remaja. Pantas Bambang tergila-gila. Sejenak hatinya cemburu, hingga memutuskan menutup buku itu tanpa melanjutkan membacanya.
Kemudian dia meraih kotak kecil berwarna biru tua. Agak susah membukanya namun Irin tetap memaksa untuk membukanya dan akhirnya berhasil namun isinya beterbangan dan berantakan. Irin memungutinya satu persatu. Foto juga, tapi berbeda episode, kali ini mereka sudah berpacaran. Tampak mesra sekali, yang satu ganteng yang satu cantik. Memang serasi. Mata Irin tertuju pada sebuah potret di mana Winda memeluk dan mencium pipi Bambang dari samping. Wajah Bambang nampak senang di sana.
Irin merasa salah sudah menemukan benda-benda itu. Dikembalikan benda-benda itu ke tempatnya semula. Hatinya cemburu. Namun Irin berusaha meredamnya karena tidak ingin merusak suasana.
Berkali-kali Irin mengatur nafas panjang sebelum Irin memutuskan keluar dan ikut bergabung bersama keluarga yang lain. Dia memilih duduk disamping bi Ijah dari pada di dekat suaminya. Semua anggota keluarga berebut ingin bicara pada Irin. Irin lupa pada cemburunya, dia larut dalam canda dan tawa, dia merasa sangat diterima dan juga disayangi serta dikelilingi orang-orang baik di sana.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Tidak terasa sudah hari ke-5 mereka berada di kampung Bambang. Artinya besok mereka harus segera kembali ke Jakarta. Ibu dan Mba Yuni sudah menyiapkan banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada kripik belut, bandeng presto, tahu baso, buah-buahan, juga sayuran, dan masih banyak lagi lainnya. Ibu juga membekali beras sekarung besar untuk Bambang dan Irin.
__ADS_1
Irin menghampiri Mbak Yuni yang telah menyelesaikan pekerjaannya, terlihat 3 kardus besar dan sekarung beras sudah siap di bawa untuk besok.
"Nggak usah repot-repot Mbak, oleh-oleh sebanyak ini mau buat siapa wong kita di sana cuma bertiga."
"Nggak papa Nduk, ini sudah biasa sudah tradisi. Membawakan beras sebagai oleh-oleh, wong orang sini punyanya beras, Nduk. Kan nanti bisa dibagi-bagi teman atau tetangga."
Irin hanya tersenyum berusaha menghargai tradisi mereka.
"Kamu yang sabar punya suami Bambang, orangnya memang seperti itu, diterima baik buruknya ya Nduk, walaupun adek mbak itu banyaaak sekali kurangnya dari pada lebihnya." Mbak Yuni memberi nasehat pada Irin.
"Iya Mbak, apalagi Irin Mbak banyak banget kurangnya." Timpal Irin.
"Jadi sama-sama belajar ya Nduk, meskipun adek mbak itu nggak lebih banyak materinya dari pada kamu tapi percayalah dia bisa bahagiain kamu."
"Iya, Irin bukan orang yang menilai orang berdasarkan harta kok Mbak."
"Oh iya, satu lagi asal kamu bisa menguasai dapur sama kasur itu lelaki manapun pasti takluk sama kamu."
"Maksudnya Mbak?"
"Iya, dapur artinya makanan. Kalau istri bisa memuaskan lidah suami pasti rasa masakannya akan turun kehati."
"Wah, berarti Irin harus belajar masak ya, Mbak."
"Iya, sedikit-sedikit pasti bisa nggak harus langsung enak. Keasinan aja suami pasti seneng kalo dimasakin nanti pasti bilangnya enak."
Irin tertawa dengan nasehat berbaur guyonan dari mbak Yuni.
"Kalau kasur maksudnya pinter melayani suami pas 'begituan' nggak perlu jurus banyak pasti laki-laki pada takluk dan setia itu."
"Mbak bisa aja," Irin mencoba menghindari tema yang satu ini.
"Eh bener, jangan nganggep enteng. Laki-laki tuh ya kalau telat jatahnya sedikit aja pasti uring-uringan. Sebagai perempuan juga harus mencoba posisi baru biar suami nggak bosen dan nakal jajan di luaran. Buat laki-laki kaya gituan itu nomer satu, wong wanita saja katanya dikutuk malaikat kalau sampai subuh nggak ngasih jatah pas laki-laki minta. Jangan lupa itu, satu lagi sebenarnya, sumur. Tapi nggaklah usah wong jaman sekarang sudah banyak mesin cuci sama laundry-an." Lanjut mba Yuni dan mengakhirinya dengan tawa yang renyah.
Beruntung bagi Irin mbak Yuni mengganti topik pembicaraan tanpa harus repot-repot dialihkan.
__ADS_1
Kata-kata Mba Yuni terus menghantui Irin, walaupun disampaikan dengan ringan dan bercanda tapi sangat mengena. Irin belum pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, kecuali saat itu. Apalagi tentang foto-foto yang Irin temukan, Irin takut Bambang berpaling darinya.
πππππ