MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Rahasia Bambang


__ADS_3

Bi Ijah menatap telpon rumah seakan menunggu sesuatu.


"Aneh sekali, mas Bambang tidak pernah menelpon lagi. Biasanya semarah apapun non Irin mas Bambang tidak pernah lupa menanyakan kabar. Sejak non Irin kecelakaan mas Bambang juga menghilang kabarnya," gumam Bi Ijah pelan,


"Apa masalah mereka benar-benar serius? Apa lagi akhir-akhir ini, non Irin sering diantar pulang sama dokter ganteng itu,"sambungnya, tanpa sadar Irin sudah ada di belakangnya.


"Pagi-pagi sudah ngelindur aja si bi!" Tegur Irin mengagetkan bi Ijah.


"Ehh, nggak papa non ... bikin kaget bibi aja sih non Irin ini." Bi Ijah salah tingkah berharap Irin tidak mendengar ucapannya tadi.


"Bibi aja yang terlalu fokus menghayalnya."


"Iya non, bibi lagi kehilangan sesuatu soalnya. Non Irin sarapan dulu, sudah bibi siapin, bekal makan siangnya juga sudah siap."


"Bibi ini mantap sekali, terimakasih ya bi. Bibi juga jaga kesehatan. Jangan cape-cape," ucap Irin sambil manja kepada sosok yang dianggap keluarga satu-satunya.


Irin sangat paham, apa yang dimaksud hilang. Dia juga meredam rasa yang berkecamuk di hatinya. Bambang benar-benar menghilang. Seperti yang Irin inginkan, tapi separuh hatinya juga terasa menghilang.


Β 


🌿🌿🌿🌿🌿


Waktu pun berlalu, tidak ada lagi kisah Bambang dan Irin. Irin yang sibuk dengan kuliahnya tapi tetap sempat meladeni tingkah Rian. Mereka semakin dekat dengan manuver-manuver yang intens dari sang dokter muda.


Bambang juga sudah kembali fokus dengan hidup dan karirnya. Meski dia kehilangan Irin sebagai tujuan hidupnya. Kesehatannya membaik, dan hidupnya mulai normal. Bambang masih di kantornya, ketika kurir menyapanya dan memberinya selembar amplop coklat besar. Tertulis nama Winda di sana. Bambang segera membukanya dan dia tersenyum melihat apa yang ada di dalamnya. Semua terlihat sempurna, tapi tidak dengan pernikahan Bambang dan Irin yang menggantung.


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam itu Rian kembali menjemput Irin di kampusnya. Bahkan sudah menyebar gosip di sekitar teman-teman Irin kalau pacarnya adalah seorang dokter, entah siapa yang pertama menyebarkannya.


"Terlihat lelah," komentar Rian begitu Irin masuk dan langsung menikmati kursi mobil melepaskan kepenatan nya.


"Sangat lelah!" Kata Irin menegaskan.


"Semangat, itu untuk masa depanmu," hibur Rian.


Irin sedih mendengar kata masa depan. Dia teringat hari dimana dia menganggap masa depannya telah hilang.


"Hehh, melamun!" Tegur Rian membuyarkan lamunan Irin.


"Aku hanya lelah, berhenti menggodaku!"

__ADS_1


"Kamu memang pantas digoda Irin," lanjut Rian.


"Berhenti Mas Rian!" Rengek Irin


"Baiklah, aku berhenti. Tapi tidak hatiku."


"Kamu tidak cape yah bicara ngelantur terus?" Tanya Irin.


"Aku pantang menyerah Irin, sebelum aku berhasil mendapatkanmu."


"Aku bukan piala atau piagam. Jangan mimpi."


"Kalau begitu aku akan bangun. Dan segera mewujudkan mimpi itu. Bagaimana?"


"Terserahlah!" Irin tampak malas menanggapi Rian yang selalu senang menggodanya.


"Kamu jangan kawatir Rin, aku tidak akan menyakiti kamu seperti lelaki yang kamu tangisi di rumah sakit waktu itu."


"Maksudmu?"


"Eh, keceplosan," ucap Rian dibuat-buat seolah dia benar-benar salah bicara, Rian terus berusaha menunjukan keseriusannya dengan gayanya yang ceplas ceplos dan apa adanya.


"Iya iya, aku minta maaf. Aku tidak sengaja waktu itu, melihat kamu sama bi Ijah membahas laki-laki yang membuatmu kehilangan fokus dan kecelakaan. Maaf ya ... aku benar-benar tidak sengaja."


"Dokter kok nggak sopan!" Gerutu Irin.


"Aku tidak sengaja, kan sudah disampaikan sebelumnya."


"Mengemudi saja, kamu terlalu brisik dan konyol untuk profesi seorang dokter."


"Aku hanya dokter di rumah sakit. Disini aku manusia biasa."


Tak terasa mobil telah sampai di depan rumah Irin. Irin mengucapkan terimakasih dan kemudian melambaikan tangan dan mobil melaju pergi. Pintu rumahnya terbuka, padahal biasanya bi Ijah menutupnya. Irin berjalan masuk, seorang wanita tampak menunggu Irin di ruang tamu. Gelas kosong di depannya menunjukan kalau dia sudah lama menunggu.


Bi Ijah menyambut Irin dan berbisik, "Mbak itu maksa mau ketemu non Irin, sudah menunggu dari tadi katanya penting tidak bisa ditunda-tunda lagi."


"Iya bi, nggak papa biarkan kami bicara berdua ya bi." Irin yang lelah tampak kembali mengumpulkan sisa tenaganya untuk menghadapi Winda. Irin memilih duduk di ujung sofa, agar ada jarak di antara mereka.


"Ada perlu apa?" Tanya Irin tanpa basa-basi.


"Aku harus menjelaskan banyak hal padamu. Aku merasa harus membicarakannya agar tuntas semua masalah yang telah aku sebabkan," jawab Winda.

__ADS_1


"Aku tidak merasa butuh penjelasan mbak, lebih baik tidak usah. Lagi pula aku sudah melupakan pacarmu itu, maaf aku dulu merebutnya, aku juga sudah tidak ingin memilikinya lagi!" Irin sangat sinis dalam setiap kata-katanya.


"Kamu terlihat sudah berbeda. Aku sampai terkejut dengan perubahanmu."


"Tidak usah bicara seolah-olah kamu mengenalku!"


"Dulu, saat kamu depresi. Bambang yang merawatmu, mengurusi setiap kebutuhanmu, bahkan sampai tidak peduli kalau dia sendiri berantakan. Dia juga tidak peduli kamu menyuruhnya pergi, dan dia tetap ada di sisimu, merawatmu."


"Aku tidak pernah meminta dia mengurusiku!"


"Iya, tapi orang tuamu yang melakukannya." Irin terdiam tak punya sanggahan apapun untuk kalimat Winda.


"Kamu tahu? Berapa kali Bambang mendapat jahitan di kepalanya karena ulahmu? Tapi dia tidak menyerah atau meninggalkan kamu pergi. Bahkan ketika kamu terus memakinya sebagai pembunuh dia tetap bersabar. Berharap kamu kembali pulih dan sadar," lanjut Winda menceritakan segalanya, Irin terkejut dengan cerita baru yang tidak pernah Bambang ceritakan kepadanya.


"Aku? melakukannya?" Tanya Irin tidak percaya.


"Tentu saja! Asal bertemu benda apa saja yang bisa melukai, kamu langsung menyerang Bambang. Makanya Bambang membuang banyak barang miliknya yang dinilai bahaya. Kamu tidak ingat? hhhh, Tentu saja. Kamu tidak menghargai apa yang sudah Bambang lakukan padamu," Sindir Winda begitu menohok hati Irin.


"Kamu pikir Bambang baik-baik saja?"


"Maksudmu?!"


"Tidak ada yang baik-baik saja setelah membuat orang kehilangan nyawa. Apalagi ditambah beban kamu yang menggila waktu itu. Kamu depresi, Bambang pun sama. Hanya berbeda kondisinya saja. Bambang berusaha tegar di depanmu, tapi dia menyembunyikan jiwanya yang tidak kalah terguncang dan berimbas pada kondisi fisiknya yang terus menurun." Perkataan Winda bagai pisau yang mencabik-cabik hati Irin.


"Semakin dia menyalahkan diri sendiri semakin kondisi fisiknya lemah. Aku hanya tidak tega melihat dia sering pulang ke rumahnya ketika kondisi badannya memburuk. Dan kembali padamu saat sudah sehat. Dia memang pandai menyembunyikan penderitaannya. Tapi kamu juga sangat pandai membuatnya kembali terpuruk." Winda tanpa ampun membeberkan kenyataan pada Irin.


Irin terdiam, mencoba memahami satu demi satu cerita Winda tanpa mencoba membantah lagi. Terbayang olehnya penderitaan Bambang yang selama ini dia sembunyikan.


"Tapi waktu tidak lagi mendukungnya, ketika kamu memergoki kami di rumah sakit. Aku memang sebenarnya berdoa agar kamu cepat-cepat mengetahui kondisi Bambang. Asal kamu tahu Irin, aku tidak berniat merebut Bambang darimu. Walaupun aku begitu menginginkan dia. Karena aku menghormati apa yang sudah jadi pilihan Bambang. Pernahkah kamu membayangkan perasaanku, Rin? Aku yang menemaninya bertahun-tahun harus ikhlas melihat Bambang bersanding denganmu, mengorbankan hidup dan kisah kami berdua untukmu. Bayangkan Rin, aku juga terluka. Tapi aku tidak sejahat itu, aku tidak akan merebut Bambang dengan cara yang licik. Aku hanya ingin dia bahagia Irin, tidak lebih. Hatiku sakit melihat setiap penderitaannya yang disebabkan oleh kamu!" Winda menumpahkan segala emosinya, hingga bulir-bulir di sudut matanya ikut mengalir. Irin pun sama, menangis, kenyataan ini tidak pernah terlintas sedikitpun olehnya.


Sejenak mereka terdiam, Winda berusaha mengatur kembali emosinya. Dia tidak ingin emosi membuatnya salah bicara. Irin larut dalam penyesalan, menuduh Bambang selingkuh. Hanya isak keduanya yang terdengar, bi Ijah yang menguping pun tidak kalah terkejut.


"Aku dan Bambang sudah benar-benar selesai, yang tersisa hanyalah pertemanan semata. Tidak ada yang patut kamu curigai, yang ada akulah yang selalu cemburu dengan besarnya perasaan Bambang padamu. Aku sudah melepasnya. Aku juga berhak bahagia Irin. Aku harap kamu tidak membuat apa yang Bambang perjuangkan padamu menjadi sia-sia. Aku rela melepaskannya asal dia bahagia." Winda menegaskan kembali situasinya, kemudian Winda meraih tasnya bersiap-siap pergi.


"Maaf telah mengganggu. Keputusan ada di tanganmu, tapi keputusanmu akan salah kalau kamu tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Aku harap setelah kamu tahu keputusanmu akan benar. Aku permisi!" Winda pun pergi.


Tangis Irin meledak, entah bagaimana persisnya perasaannya saat ini. Bi Ijah datang menghampiri dan memeluk Irin. Irin menangis berusaha memuaskan seluruh emosinya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupa komen dan like nya ya teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2