MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Gilang


__ADS_3

Bambang menunggu dengan gelisah di halaman, dia mondar-mandir mengecek jalan raya menunggu kepulangan Irin. Walaupun Gilang adalah anak Bi Ijah, tapi Bambang merasa tidak cocok dengannya. Apa lagi cara Gilang memandang Irin, sangat mengganggu Bambang.


Bambang sedang berdiri di teras saat sorot lampu sepeda motor terlihat mendekat, dan kemudian berhenti tepat di depan gerbang. Bambang segera berlari menghampirinya, Bambang berencana menyapa Gilang sebelum Gilang pergi, tapi sepeda motor terlanjur pergi saat Bambang sampai di gerbang.


"Rin ... !" panggil Bambang.


Irin tersenyum dan melambai ke arah suaminya, Bambang menyambut dengan memeluk dan mencium puncak kepala Irin yang menjadi favoritnya.


"Gilang langsung pulang? Enggak ditawari mampir?" selidik Bambang sambil menatap ke arah perginya sepeda motor.


"Itu tukang ojek Mas Bam," jawab Irin melihat kebingungan Bambang.


"Hah? Jadi Gilang kerja sebagai tukang ojek?"


"Hahaha ... bukan Mas, tadi emang tukang ojek."


"Kamu bilang pulang dianterin Gilang, kan?"


"Iya, tapi aku tadi kesel sama dia jadi aku turun di tengah jalan." Bambang mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Irin.


"Mas Bam lucu deh kalo lagi mikir, ayo masuk ...!"


"Kenapa, Rin? Gilang ngapain kamu?"


Bambang terus bertanya tapi Irin mengelak dan terus mengerjai suaminya. Bambang menahan kesal dan penasaran, dia semakin tidak suka dengan kehadiran Gilang.


'Maaf, Bi Ijah' sesal Bambang dalam hati.


"Mas Bam, udah makan belum?" tanya Irin pada suaminya yang berdiri mematung di balkon kamarnya., sementara tangannya sibuk mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Belum," jawab Bambang singkat.


"Kenapa? Mas Bam marah ya?"


"Enggak," jawabnya lagi.


"Heem, Mas marah karena Irin nemuin Gilang?"


Bambang diam tidak menjawab.


"Atau Mas marah karena Irin pulang naik ojek? Atau karena tukang ojeknya enggak mampir?" lanjut Irin.

__ADS_1


Bambang tidak bisa menahan senyum mendengar pertanyaan Irin. Bambang berbalik memandang Irin dengan gemas, Bambang kemudian menarik Irin ke pelukannya.


"Mas marah, tapi nggak bisa lama-lama," ungkap Bambang, Irin tersenyum mendengarnya.


"Bagian mana yang membuat Mas Bam marah?"


"Kamu pulang naik ojek," jawab Bambang asal.


"Berarti bukan karena Gilang?" tanya Irin menggoda.


"Kamu pulang naik ojek karena siapa?" pancing Bambang.


"Karena kesel sama Gilang," jawab Irin.


"Artinya?"


"Hemm, Mas nggak suka sama Gilang? Kirain sama tukang ojeknya."


"Mas, Gilang itu udah Irin anggep kaya kakak Irin sendiri, bahkan Ibu dulu suka bilang kalau Gilang enggak hadir di rumah ini, mungkin Irin enggak pernah ada, artinya Gilang datang membawa kehidupan membawa kehangatan," lanjut Irin bercerita, dia mencoba membuat Bambang mengerti.


"Mas yakin kok kamu akan tetep ada walaupun Gilang nggak kesini."


"Oh iya, kenapa Mas?"


"Iya juga Mas, tapi bagaimanapun kejadiannya dulu begitu. Jangan cemburu sama Gilang Mas!"


"Mas nggak cemburu, Mas cuma nggak suka sama gayanya yang sok itu."


"Padahal dulu Gilang nggak kaya gitu lho, Mas, Gilang jadi nyebelin sejak dia sadar kalau orang tua kami berbeda. Dia suka melamun dan menyendiri, kadang jutek, kadang baik, kadang Gilang juga marah-marah tanpa sebab. Entahlah! Tapi sebenernya Gilang itu baik," kenang Irin.


"Aku sampai nggak percaya kalau dia anak almarhum Bi Ijah, sifat mereka jauh berbeda, terus udah nanya kenapa dia dulu milih ikut ayahnya?" tanya Bambang.


"Katanya dia ingin menjadi dirinya sendiri, entah apa maksudnya," renung Irin.


"Terus, kenapa bisa pulang naik ojek?"


"Macet Mas, nanti kalau Irin nggak nyampe-nyampe Mas Bambang khawatir, kan?"


"Tadi bilangnya kesel sama Gilang," cecar Bambang.


"Iya, dia nggak pinter nyari jalan yang jadi kejebak macet, wajar kan Irin kesel."

__ADS_1


"Hemm, wajar." Bambang tersenyum mendengar jawaban Irin.


"Rin, boleh Mas minta sesuatu?" pinta Bambang.


"Apa Mas?"


"Bisa kita saling memanggil dengan panggilan lain," usul Bambang, Irin tidak mengerti.


"Hemm ... kita bisa memanggil dengan panggilan Istriku, Suamiku, Sayang atau Honey," jelas Bambang.


"Oohh ... Mas Bam, mau dipanggil apa?"


"Suamiku?" usul Bambang, tentu saja dia ingin lebih menegaskan kepemilikannya terhadap Irin di depan Gilang.


"Ahaha ... Irin hanya tertawa, baiklah!"


"Ayo kita tidur suamiku!" Ajak Irin dengan sedikit menggoda.


"Ayo Istriku sayang,"


Bambang menggendong Irin ke dalam kamar, kemudian mematikan lampu kamar mereka.


Jauh di seberang jalan, nampak sebuah mobil sport yang terparkir. Dari dalamnya nampak dengan jelas situasi balkon kamar Irin. Gilang yang sedari tadi mengamati mereka memukul setir dengan kesal. Dia kesal karena kesalah pahaman yang sudah terjadi, dan juga kesal karena cemburu.


Gilang sepenuhnya menyadari, bahwa Irin tidak pernah sekalipun menganggap dirinya anak pembantu, keluarga Herman selalu memeperlakukan Gilang dan Ibunya layaknya keluarga. Namun hanya karena dia salah tingkah dan cemburu, Gilang malah melakukan kesalahan dengan menuduh Irin yang menganggapnya supir.


Gilang menyesali dirinya yang buruk dalam mengelola emosi, hingga membuat Irin tersinggung dan marah.


Gilang segera memacu mobilnya menjauh dari kediaman Irin begitu dia melihat lampu kamar telah padam. Mobil melaju dengan cepat, Gilang sangat marah ketika melihat Irin berduaan dengan suaminya itu, sesuatu dalam hatinya merasa dialah yang lebih berhak memiliki Irin.


Gilang melampiaskan amarahnya dengan menginjak pedal gas, dia mencoba melarikan diri dari bayangan kemesraan yang baru saja terpentas di depannya wajah. Semakin cepat dia melaju semakin dekat pula bayang-bayang itu, hingga membuat Gilang semakin kesal dan marah pada takdir.


Bayangan wajah Irin saat dia tertidur juga ikut melintas di pikirannya, dengkurannya, aroma nafasnya, wajah manisnya, bibirnya, semua berputar-putar di pikiran Gilang, semakin keras usahanya untuk menghalau banyangan tersebut justru semakin besar rasa dihatinya untuk nemiliki. Hampir saja dia melakukan hal yang mungkin membuat Irin marah, tapi sebagian dari dirinya sangat ingin melakukannya.


Gilang memarkirkan mobilnya di sebuah tempat hiburan malam. Dia masuk ke area yang bising penuh musik jedag-jedug dengan sorot lampu yang berkerlap-kerlip. Gilang memesan minuman yang dia harap dapat mengusir bayangan Irin dan suaminya, kebiasaan yang buruk yang dia dapat dari kebiasaan ayahnya.


Ketika ayahnya mabuk, dia selalu datang dan menyeret Gilang kecil yang meringkuk ketakutan di dalam kamar. Terkadang, dia terkena pukulan, atau tendangan di beberapa bagian tubuhnya. Gilang kecil hanya bisa menangis dan berteriak meminta ampun, dia ketakutan dan juga kesakitan. Ayahnya baru akan berhenti setelah wanita yang dia panggil Ibu tiri menangis dan memohon untuk melepaskan Gilang kecil.


Bertumbuh dalam keluarga seperti itu, membuat Gilang kecil begitu merindukan keluarga Pak Herman yang hangat dan penuh kebahagiaan. Namun, kebiasaan itu juga yang Gilang dewasa lakukan, kala dirinya dilanda kalut dan juga gelisah.


Dia akan minum sampai mabuk.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2