MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Setelah 2 hari menjalani masa pemulihan Irin pun diperbolehkan pulang. Keadaannya semakin membaik, tapi tidak dengan sikapnya kepada Bambang. Masih saja dingin, namun Bambang tetap sabar dan tidak menyerah. Bambang kembali pindah ke rumah Irin, dia tidak mau lagi kejadian buruk menimpa Irin.


Irin.


Aku terjerat oleh matanya, ketidak berdayaannya justru membuat cinta ini tumbuh menggila. Aku pun bertekad melindungimu. Dengan tulus mengalir begitu saja, aku ingin menjadi satriamu. Bahkan perasaan ini tumbuh begitu tiba-tiba dan begitu cepat merasuki hidupku.


Kamu sudah menjadi tujuan hidupku. Mengalahkan rasa cinta yang sudah aku pupuk bertahun-tahun pada Winda.


Sayang sekali, Irin.


Kamu begitu dingin dan tertutup. Harus bagaimana aku menembus dinding pertahananmu itu. Berhenti menganggapku pembunuh. Sebagai gantinya akan aku mengabdikan diriku menjadi pelindungmu.


Aku yakin, suatu saat kamu akan mencair. Dan bisa menerima perasaanku, perasaanku yang dalam terhadapmu, mungkin perasaan inilah hukuman atas kesalahanku. Hukuman yang indah, maafkan aku Irin.


Aku hanyalah lelaki bodoh yang tidak pandai menyampaikan rasa, aku yang selalu bilang mencintaimu tapi tidak mampu membaca kemana arah hatimu. Buntukah hubungan ini Irin? Benarkah kamu tidak ingin bersamaku? Tidak sampaikah kasih sayangku ini ke hatimu? Ketulusan ini tidakkah menyentuh dinding besarmu yang dingin?


"Rin? boleh mas bicara?" Tanya Bambang mencoba memecah bongkahan es di tengah mereka. Irin hanya diam, setuju tidak menolak pun tidak.


"Maaf yah, Mas nggak tahu harus memulai semua dari mana dulu. Kesalahan mas banyaak banget sama Irin. Tapi mas berharap Irin mau maafin mas, entah cepat atau lambat juga nggak papa. Mas pasti akan tetep nunggu Irin untuk bisa maafin mas. Mas akan ngelakuin apaaa pun asal Irin mau maafin mas." Bambang mencoba meraih tangan Irin.


"Jangan diam terus begitu Rin, beri tahu mas apa yang Irin rasakan. Setidaknya beri mas kesempatan untuk memperbaiki semua."


Irin kemudian menangis tanpa memberikan jawaban apapun. Bambang merasa buntu dengan sikap Irin. Bambang memberanikan diri meraih dan memeluk Irin. Awalnya Irin menolak dan memukul-mukul Bambang, tapi Bambang tetap tidak mau melepaskan pelukannya.


"Pukul saja Rin, kalau itu membuat kamu merasa lebih baik. Yang jelas mas nggak akan pergi lagi."


Irin pun menyerah dan melepaskan tangisannya di pelukan suaminya.


Bambang teringat nasehat Danu, untuk membiarkan Irin melepaskan emosinya. Dia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi. Bambang membelai dengan lembut rambut istrinya dan menciumi puncak kepalanya berulang kali.


"Aku juga minta maaf," ucap Irin lirih setelah tangisannya reda.


Bambang sangat senang mendengarnya.


"Kamu nggak salah Rin, semua karena mas belum mampu menjadi suami yang baik. Izinkan mas mencoba sekali lagi. Irin mau?"


Irin mengangguk tanda setuju. Bambang menyambutnya dengan senyum yang merekah.

__ADS_1


Sejurus kemudian Bambang mendekatkan wajahnya ke wajah Irin, pandangan keduanya saling bertautan. Bambang kembali membelai mesra rambut Irin, kemudian berganti ke bekas luka di pelipis Irin dan turun ke pipi. Bambang semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Irin yang masih sedikit pucat. Detak jantung keduanya bahkan terdengar seperti genderang perang


yang saling bersahutan. Kemudian Irin memalingkan wajahnya saat jarak bibir mereka hanya tinggal satu sentimeter.


"Aku tidak bisa." Ucap Irin


Bambang menyadari kelancangannya.


"Maaf, mas terbawa suasana." Ucap Bambang gugup.


"Maukah Mas menunggu, sedikit lagi ... sedikit lagi agar Irin siap," pinta Irin.


"Iya Irin, maafkan mas yang sudah lancang padamu."


"Apa kamu baik-baik saja, Rin?" Tanya Bambang kemudian. "Maksud mas, hemm, mas belum sempat menanyakan keadaanmu setelah perlakuan bodoh mas padamu waktu itu, apa kamu baik-baik saja?"


Irin yang biasanya menghindari obrolan dengan Bambang terlihat mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. Dia tidak ingin lagi memendam semua sorang diri.


"Nggak ada yang baik-baik saja setelah diperlakukan seperti itu Mas!" Jawab Irin.


"Itu sudah termasuk pemer*osaan!" Lanjutnya.


"Apa lagi kehamilan yang sama sekali tidak aku sadari. Aku tidak mual, aku tidak muntah seperti yang lain, bagaimana aku tahu aku hamil? Kadang aku hanya merasa lelah. Tapi aku pikir itu wajar karena aktifitasku juga banyak. Aku juga benci padamu. Bagaimana bisa kamu sama sekali tidak mengejarku setelah ... setelah mengambil paksa hakmu. Aku marah kecewa benci semua kurasakan menjadi satu."


Bambang menyimak setiap keluhan Irin, dia senang Irin telah belajar untuk tidak menutup diri.


"Mas pengecut ya, Rin?"


"Iya, bagaimana bisa menghilang begitu saja setelah mengambil hal paling berharga dari seorang gadis."


"Mas hanya berpikir Irin akan lebih bahagia tanpa mas."


"Tapi tetap nggak boleh begitu setelah mencicipi seorang gadis kemudian membiarkan gadis itu pergi!!! pengecut sekali memang. Dan harusnya Mas Bam tetap memberi penjelasan apa lagi semua yang Irin tuduhkan waktu itu salah."


"Apa Winda yang menceritakan semua?"


"Mas harusnya mengerti dimana harga diriku ketika wanita lain lebih tahu tentang keadaan suaminya. Dan apa Mas nggak ngerti juga betapa menderitanya Irin membayangkan perselingkuhan kalian? Mas tega sekali menyiksaku dengan hal-hal yang keliru. Siang malam Irin nggak bisa hidup tenang karenanya. Dan ketika Irin sudah mengetahui semua, Mas malah menghindariku di pesta itu. Irin juga takut Mas akan salah mengira hubunganku dan Rian." Keluh Irin dengan begitu lepas.

__ADS_1


Bambang terus memancing Irin untuk bicara dan membuka semua perasaannya. Ini awal yang baik untuk hubungan dan kesehatan mental keduanya.


"Maaf Irin, mas memang bodoh menyerah begitu saja padamu waktu itu. Mas nggak mengira kamu begitu menderita, tapi sekarang kamu percayakan? Mas benar-benar sudah memilih kamu dan meninggalkan Winda, bukan saat Winda sudah menikah, tapi saat Mas mengucap Ijab qobul atas Irin waktu itu."


"Benarkah? Kenapa? Padahal saat itu kita bahkan nggak saling kenal, Mas pasti menikahiku atas dasar rasa kasihan." Irin akhirnya berani menanyakan pertanyaan yang sudah lama berputar-putar di pikirannya.


"Sejujurnya, iya. Tapi mas juga bertekad untuk bertanggung jawab, dan semua itu harus dimulai dari perasaan mas sendiri. Mas melepaskan Winda walaupun saat itu berat dan terkesan nggak adil untuk Winda, untukmu, dan juga mas. Mas yakin suatu saat akan bisa mencintai kamu."


"Apa bisa?"


"Tentu saja, dalam sekejap mas sudah bisa mencintai kamu. Bahkan dalam kondisi paling terpuruk dalam hidupmu, itulah kekuatan pernikahan ketika ikhlas semua akan dimudahkan. Mas hanya belum bisa benar-benar mengekspersikannya padamu." Bambang kembali mengusap lembut rambut istrinya.


Irin manggut-manggut mendengar penjelasan Bambang.


"Aku pikir Mba Winda itu jahat," sesal Irin.


"Sudahlah, kita bahas kita saja. Mas senang bisa bicara denganmu seperti ini. Apa Irin sudah bisa mencintai Mas?" Tanya Bambang kemudian dan sukses membuat wajah Irin memerah.


"Mas sempat berpikir Irin benci sekali sama mas, makanya mas memilih membiarkan Irin sendiri."


"Memang. Irin benciii sekali sama Mas Bam waktu itu."


"Sekarang?"


"Sekarang tugas Mas Bam membuat Irin bisa cinta sama Mas Bam!"


Bambang tersenyum mendengar jawaban Irin.


"Haruskah kita pergi bulan madu?"


"Boleh."


"Hemm, bagaimana kalau mas ajak kamu pulang ke kampung halaman mas untuk bertemu orang tua mas?"


"Iya, Irin belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Apa menurut Mas mereka akan menyukaiku?"


"Tentu saja. Sekarang kamu istirahat dulu, nanti mas cari jadwal yang tepat dan menunggu keadaanmu benar-benar pulih."

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2