MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Batasan


__ADS_3

"Duduk ...!" perintah Gilang. Irin tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Gilang.


Gilang menarik nafas dengan berat, dia mencoba mengendalikan emosi yang ada di dalam hatinya. Tangannya menelungkup ke wajah kemudian secara tiba-tiba dia memukul setir mobilnya dengan keras, Irin merasa takut dan terkejut menyadari Gilang saat ini sudah jauh berbeda.


"Berhenti Lang, kamu membuatku takut!"


Tanpa membalas perkataan Irin, Gilang kembali memacu mobilnya membelah jalanan Ibu Kota. Keduanya meneruskan perjalanan dalam kebisuan.


Sesampainya di rumah Gilang tidak menurunkan Irin di depan gerbang, melainkan memarkirkan mobilnya masuk ke halaman rumah Irin.


"Kamu mau mampir?" tanya Irin heran.


"Iya."


'Hanya Gilang yang bisa berganti warna dengan cepat, secepat itu pula dia mengganti perangainya, kadang kasar kadang lembut," batin Irin.


Tanpa menunggu Irin, Gilang segera masuk kedalam rumah. Irin mengekor di belakangnya masih dengan tanda tanya. Gilang menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Ketika ibuku sudah bukan lagi pembantu di sini, rumah ini terasa sedikit lebih nyaman," ucap Gilang, Irin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Gilang yang aneh dan suka sekali berubah-ubah.


"Aku ganti baju dulu," ucap Irin sambil berlalu, dia terlalu malas menanggapi ucapan Gilang.


Mbok Rum datang mengantarkan minuman dan camilan untuk Gilang.


"Silahkan minumannya," sapa mbok Rum ramah.


"Iya, terimakasih." Mbok Rum pun berlalu kembali lagi ke dapur.


Gilang menyapukan pandangan matanya, perhatiannya terhenti pada foto pernikahan Bambang dan Irin. Gilang memandang tajam.


"Aku belum kalah, aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kamu, Rin!" gumam Gilang.


"Kamu ngomong apa?" tanya Irin yang tiba-tiba sudah berada di samping Gilang.


"Enggak, cuma bilang kalian pasangan yang nggak serasi!"


"Hey ... sini kenalin pacarmu, bisa jadi kalian jauh lebih enggak serasi!" balas Irin kesal.


"Hahaha ...." Gilang hanya tertawa mendengarnya, dia mengambil beberapa camilan dan memasukan ke mulutnya.


Tingkahnya semakin membuat Irin kesal.


"Kalo bukan karena Bi Ijah kamu udah aku tendang keluar," keluh Irin.

__ADS_1


"Ati-ati kalo ngomong, kamu sadar nggak sih? Sebenarnya sekarang cuma tersisa kita berdua," jawab Gilang.


"Kamu benar ... jadi berhenti bertingkah menyebalkan Lang."


"Aku nggak menyebalkan, aku cuma ngomong apa adanya, kenapa kamu jadi sebel?"


"Takdir yang membuat Mas Bambang masuk kedalam kehidupanku, dan ... takdir juga yang sebelumnya membawa kamu pergi dariku!"


Gilang hanya menanggapinya dengan senyum kecut.


"Kamu yang sekarang adalah orang asing yang mengetahui semua kisahku."


Tangan Gilang mengepal dengan erat mendengar penuturan Irin, seketika dia merasa sudah benar-benar terbuang.


'Maaf Lang, aku mengatakan ini agar kamu paham batasanmu' batin Irin.


"Apa kamu serius, Rin?" tanya Gilang, namun Irin hanya diam.


Tentu saja dia dilema, Gilang adalah satu-satunya yang tersisa dari masa kecilnya. Meski Irin tahu, Gilang menyukainya tapi di hatinya Gilang adalah keluarga dekat, teman akrab, dan kakak yang sangat melindunginya.


"Janji-janji yang ingin kuwujudkan bersamamu sepertinya cuma jadi kisah yang tak sampai pada akhirnya," lanjut Gilang.


"Lang ... kenapa sekarang kamu seolah-olah memojokkanku? Ada atau tidak adanya kamu di sampingku saat peristiwa kecelakaan itu terjadi Mas Bambang akan tetep jadi suamiku, karena sudah takdir." Irin mulai berani mengungkapkan kerisauannya.


Gilang mulai kalap dalam menahan amarahnya. Perasaan dan harapan yang tidak bersambut, padahal dia sudah menahannya sekian lama. Matanya melotot seolah bola mata akan lompat dari kelopaknya.


Irin mulai ketakutan dengan tatapan mata Gilang yang siap menerkamnya. Gilang tetaplah Gilang, dia hanya bertumbuh besar, namun sikap emosionalnya sekarang semakin menjadi-jadi.


Tangan Gilang terulur dan meraih kerah baju Irin, mencengkramnya dengan kuat kemudian menariknya hingga Irin tersentak. Kejadian begitu cepat hingga Irin tidak mampu menghindar.


"Gillaaaang!" teriak Irin tertahan.


Sekarang pandangan mata mereka berdekatan, Irin tidak berdaya dengan cengkraman Gilang yang kuat. Irin dapat merasakan irama nafas Gilang yang berat dan cepat. Amarah Gilang membuat Irin bergidik ngeri, sejenak dia terpana pada kasarnya sikap Gilang sekarang.


"Dulu ibuku tidak berusaha menahanku ketika aku akan pergi ...,"


"Kamu bah-kan tidak peduli ketika Bi Ijah memohon! Bagaimana bisa kamu mengatakan yang se-baliknya?"


"Hhhh, dia harusnya berusaha sedikit lebih keras lagi!"


"Pak Herman dan Bu Sinta juga menolak memberikan nama belakang keluarga Herman padaku ...,"


"Ayahku, menjadikanku pelampiasan setiap dia sedang marah, dia akan memukuliku sampai dia puas ...,"

__ADS_1


"Ibu tiriku tidak lagi peduli padaku ketika dia memiliki anak dari rahimnya sendiri ...,"


"Sekarang giliranmu Rin, kamu akan menendangku dari kehidupanmu hanya demi Bambang pembunuh itu ...,"


Suara Irin tercekat karena cengkraman Gilang sangat dekat dengan tenggorokannya.


"Kamu ti-dak bisa memaksakan cin-ta Lang, ataupun tak-dir!"


Jawaban Irin justru membuat Gilang semakin emosi.


"Tapi aku bisa memaksamu, dan sesegera mungkin akan memaksa takdir!" yakin Gilang.


Gilang semakin menarik cengkraman tangannya sehingga membuat jarak mereka sangat dekat. Kemudian Gilang nekat mencium Irin tepat di bibirnya, Irin tercekat dan berusaha memberontak tapi kedua tangan Gilang sudah sigap mengunci gerakannya.


Gilang sudah lepas kendali, Irin menangis penuh ketakutan. Dia merasa dejavu dengan kejadian ini. Kenangan buruk yang kembali terbayang, kembali terjadi dengan orang yang berbeda. Namun, sama-sama bodoh karena gagal mengendalikan dirinya.


Tiba-tiba ....


Buuuuggggkk!


Sebuah pukulan mengenai kepala Gilang dan sukses membuat Gilang langsung terlempar. Tanpa memberi kesempatan untuk melawan, pukulan-pukulan itu datang bertubi-tubi mengenai wajah dan tubuh Gilang. Setelah beberapa menit akhirnya Gilang mampu sedikit menghindar dari amukan Bambang.


Berkali-kali tubuhnya jatuh terpelanting sebelum akhirnya mampu membalas pukulan-pukulan Bambang. Keduanya berguling beradu kekuatan dengan saling jotos. Gilang akhirnya mengalah dan memilih menghindar, sebelum situasi bertambah kacau.


"Dari awal aku melihatmu, feelingku sudah mengatakan kamu itu breng***!" seru Bambang.


"Pergi kau!" usir Bambang.


Gilang yang menyadari dirinya telah salah, langsung melangkah pergi. Dia melihat Irin menangis dan sangat ketakutan. Wajahnya berdarah hasil pukulan Bambang.


Meski tidak separah Gilang, Bambang juga mendapat luka di wajahnya. Dengan meringis menahan sakit, dia menghampiri Irin dengan sangat khawatir.


"Rin, kamu nggak papa?" Bambang hendak memeluk Irin tapi dia menghindar.


"Tenang Rin, semua baik-baik saja sekarang, Gilang sudah pergi." Bambang terus berusaha meraih Irin, dia tahu Irin sangat syok dan takut.


Dengan penuh kesabaran Bambang berhasil membujuk Irin untuk tenang di pelukannya. Dia tidak peduli dengan wajahnya yang terluka. Irin meledakan tangisnya di pelukan Bambang. Dia mengutuki dirinya sendiri. Dia takut kalau Bambang akan salah paham terjadap dirinya.


Irin merasa gagal menjaga kehormatan suaminya, karena telah membiarkan Gilang menciumnya. Harusnya dia mengikuti saran Bambang untuk tidak dekat-dekat dengan Gilang, terlepas dari siapa dia tapi tingkah lakunya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2