MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Kisah Hidup Bi Ijah


__ADS_3

"Irin ... ?" panggil Bambang lirih,


Dia pun mendekati Irin dan laki-laki itu dengan perlahan.


"Rin ... !" panggil Bambang lagi.


Irin dan laki-laki itu kompak menoleh ke arah Bambang dan melepas pelukan mereka. Laki-laki itu langsung berdiri dan menghadang Bambang untuk tidak lebih dekat lagi dengan Irin. Terlihat jelas wajah laki-laki itu, usianya muda tampangnya menunjukan karakternya yang menyebalkan walaupun parasnya nampak rupawan, dia pun memandang Bambang dengan pandangan remeh.


"Siapa kamu?" tanya laki-laki itu dengan nada yang kasar.


"Harusnya aku yang nanya kamu siapa!" jawab Bambang dengan heran melihat kesongonan laki-laki di depannya.


"Aku?! aku adalah penjaga Irin yang akan ngelindungi dia terutama dari laki-laki kayak kamu!" terangnya dengan gaya yang sok memiliki.


Bambang hanya memandang laki-laki itu dari atas sampai kebawah tanpa menanggapi apa yang dia ucapkan.


"Jadi?!" tanya Bambang penasaran dengan laki-laki itu.


"Ayo Rin, segera bereskan barang-barangmu kau ikut aku sekarang!" lanjut laki-laki itu sambil menarik tangan Irin.


"Hey ... !!!" Bambang dengan reflek menangkis tangan laki-laki yang hendak menarik tangan Irin, sepertinya Bambang mulai terpancing emosinya, matanya dan mata laki-laki itu saling bertemu dan mengunci mengklaim diri merekalah yang paling berhak menyentuh Irin.


"Sudah ... sudah ... Lepaskan, kalian apa-apaan sih?" Irin yang masih lemah mencoba untuk melerai.


"Mas Bam tolong lepaskan! Kamu Lang juga lepaskan!" perintah Irin.


"Siapa dia hah?!" tanya laki-laki itu dengan penuh emosi, dirinya dan Bambang sudah dalam posisi ingin saling menerkam.


"Lepaskan dulu, Lang!" seru Irin.


"Mas Bam, tolong ini salah paham, lepaskan!" pinta Irin kembali.


Bambang pun melepaskan cengkraman tangannya pada laki-laki itu.


"Dia Mas Bambang suamiku, dan ini Gilang dia putra semata wayang bi Ijah," jelas Irin, Bambang dan Gilang pun saling berpandangan mencoba mengerti kedudukan masing-masing di sini.


"Hah?! Apa kamu bilang? Suami? Sejak kapan?" tanya Gilang dengan nada tunggi.


"Tenangkan dirimu Lang!"

__ADS_1


Bambang pun merasa menang dengan penjelasan Irin, dia duduk tepi di ranjang dan memeluk Irin, sengaja dia melakukannya untuk menunjukan posisinya dirinya. Gilang yang menyadarinya pun mendengus dengan kesal kemudian melangkahkan kakinya keluar.


"Aku butuh penjelasan, Rin!" ucapnya sebelum keluar dan pergi, Irin dan Bambang sama-sama terpaku melihat kepergian Gilang.


"Dia memang seperti itu Mas karakternya tempramen tapi sebenarnya dia baik, Mas Bam nggak papa?"


"Enggak, Mas baik-baik aja. Jadi, bi Ijah memiliki anak?" tanya Bambang dengan penuh penasaran.


"Iya Mas, bi Ijah dulu tengah hamil dia terlunta-lunta gitu aja di pinggir jalan dengan perut yang besar, lalu Ibu yang melihatnya merasa kasihan dan mengajaknya tinggal disini, setelah mengetahui seluruh kisah hidupnya Ibu pun memutuskan untuk membiayai semua keperluan bi Ijah, suaminya selingkuh dan memilih untuk hidup bersama dengan selingkuhannya tanpa memikirkan bi Ijah yang sedang mengandung anak mereka."


"Nggak lama kemudian lahirlah Gilang, orang tuaku sangat menyayanginya seperti anak mereka sendiri. Sampai pada akhirnya Ibuku akhirnya hamil dan melahirkanku, disaat ibuku sudah di vonis mandul tiba-tiba berkat kehadiran Gilang ibuku hamil dan aku ada sampai hari ini. Aku dan dia sudah seperti sodara Mas," Irin menceritakan semuanya pada Bambang.


"Lalu kemana dia selama ini?" tanya Bambang masih dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Saat usianya 12 tahun tiba-tiba ayahnya datang, dia meminta Gilang untuk ikut dengannya. Tampaknya selingkuhannya itu nggak bisa hamil jadi dia mencari-cari bi Ijah, dan yang paling membuat bi Ijah kecewa adalah Gilang memilih untuk ikut bersama ayahnya." Lanjut Irin dengan sedih, mengingat masa lalu bi Ijah yang begitu menyedihkan.


"Apa nggak ada komunikasi selama itu?" Irin menggeleng.


"Aku belum banyak bicara padanya, tadi kami hanya saling melepas rindu, aku juga terkejut dia tiba-tiba datang, aku juga harus mendapatkan jawaban kenapa dulu dia memilih pergi."


Bambang mengambil nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar, kenyataan dan kisah Gilang dan juga bi Ijah membuatnya ikut merasa sedih. Bambang juga memikirkan tatapan Gilang yang merasa memiliki Irin, sesaat dia merasa cemburu.


"Mas, tolong sabar dengannya, sikapnya memburuk sejak dia tahu dia anak bi Ijah bukan anak Ayah Ibuku,"


"Iya, mas hanya ingin berkenalan dengan cara yang baik."


Bambang membantu Irin berbaring, memperbaiki bantal, dan menyelimutinya. Bambang membelai rambut Irin dan mencium keningnya.


"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Bambang.


"Sudah Mas, Ibu memberi banyak nasehat dan semangat, Irin sudah ikhlas."


"Syukurlah, kita lalui ini sama-sama ya, kamu jangan berpikir terlalu banyak. Ada mas yang akan selalu melindungi kamu Rin!"


"Iya, terimakasih Mas!" Irin memeluk tubuh Bambang yang masih condong kearahnya, Bambang membalasnya.


"Tidurlah!"


Setelah memastikan Irin tertidur, Bambang segera keluar mencoba mencari dimana Gilang. Semantara keluarganya masih berkumpul di bawah, semua keheranan dengan seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk ke kamar bi Ijah dan menutup pintu.

__ADS_1


"Mbang, itu tadi ada orang nggak punten nggak apa main lewat terus masuk ke kamarnya mbok Ijah," Mba Yuni memberi tahu Bambang.


"Iya mba, nanti aku ceritain,"


Bambang langsung menuju pintu kamar bi Ijah dan tanganya bersiap membukanya, namun dia mengurungkan niatnya saat terdengar sedikit isak tangis dari balik pintu. Bambang segera mundur untuk memberikan ruang bagi Gilang yang baru saja kehilangan Ibunya.


"Kok nggak jadi Mbang?" tanya Mba Yuni.


Bambang tidak menjawab dan hanya meletakan satu jarinya di depan bibir, memberi isyarat untuk diam. Bambang kemudian ikut duduk bersama keluarganya yang masih sibuk mempersiapkan acara pengajian.


"Namanya Gilang, dia anaknya bi Ijah." Semua terperangah mendengarnya.


"Kok nggak mirip yo Mbang, anake ganteng."


"Mungkin mirip bapaknya,"


"Pantesan, jadi suaminya bi Ijah ganteng ya."


"Iya ... !"


"Sudah, jangan cerita lagi nggak baik lho hormatin Mbok Ijah," potong Ibu mencegah Bambang menceritakan lebih banyak lagi.


Bambang dan mba Yuni kompak diam.


"Mbang Ibu besok pulang ya, soalnya adek-adekmu sudah harus sekolah lagi, biar Yuni yang disini dulu buat nemenin Nduk Irin."


"Iya bu, nanti aku cariin travel ya bu,"


"Iya, kamu yang sabar ya, sirami juga rohaninya Nduk Irin biar dia nggak gampang sedih."


"Iya bu, makasih ya bu buat semuanya. Niatnya kesini liburan malah begini."


"Nggak papa, justru ada baiknya kita semua bisa mengantar kepergian Mbok Ijah dan Irin nggak sendirian, Ibu juga nggak bisa mbayangin kalo kemarin kita nggak ada disini."


"Iya bu,"


Bambang selalu mencuri pandang ke arah pintu kamar bi Ijah, namun tidak ada tanda-tanda Gilang akan keluar.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2