
POV Rian
Aku berlari keluar tanpa peduli para tamu yang memandang ke arahku. Kupacu kakiku untuk segera mencapai lift. Beberapa orang membantuku, aku pun menyuruh salah seorang diantara mereka mengantarkan kami ke rumah sakit terdekat.
Irin sudah begitu pucat, dia kehilangan banyak sekali darah. Setelah sampai di rumah sakit terdekat aku segera berteriak memanggil petugas UGD dan meletakan Irin di ranjang yang perawat siapkan. Perawat dan dokter pun dengan sigap memberikan pertolongan pada Irin.
Aku seorang dokter, tapi baru kali ini tanganku bergetar tak terkendali melihat seseorang berdarah.
Apakah Irin ... ?
Aku segera menelpon bi Ijah untuk segera datang ke rumah sakit. Butuh waktu sedikit lama, karena rumah Irin cukup jauh dari sini.
Aku hanya duduk menunggu, sampai seorang perawat menyuruhku masuk. Wajah Irin yang cantik terlihat sangat pucat. Ada 2 selang di tangan kanan dan kirinya, satu infus dan satu lagi transfusi darah. Sekilas aku melihat cincin melingkar di jari manis tangan kanannya.
Sejak kapan?
Aku menatap wajah Irin. Menerka-nerka apa yang terjadi pada hidupnya. Tampaknya dia memang mengenal istri Danu, dari cara mereka bicara sepertinya hubungan mereka kurang baik. Apa lelaki yang tadi Irin kejar adalah lelaki yang ada dalam cerita Irin?
Dari ceritanya dulu dia berulang kali mengucap kata benci dan penghianat. Kalau memang lelaki itu orangnya, kenapa Irin malah mengejarnya? Seandainya aku tidak memaksa dia untuk ikut.
Kemudian orang yang aku tunggu-tunggu telah datang. Dia kunci dari semua pertanyaanku. Bi Ijah datang tergopoh-gopoh, raut wajahnya yang tua dan keibuan menyiratkan kekawatiran seperti pada anak kandungnya sendiri.
"Mas Dokter, Non Irin kenapa bisa begini?" Tanya bi Ijah penuh khawatir.
"Maaf Bi, harusnya aku nggak memaksa Irin pergi. Mengenai apa yang terjadi aku sendiri bingung, Bi. Irin seperti mengejar seseorang tapi Irin malah terjatuh di depan kamar mandi."
"Ya Alloh, Non Irin."
Kemudian dokter yang menangani Irin menghampiri kami. Dia memberi tahu kondisi Irin. Aku terkejut bukan kepalang.
Dokter itu bilang Irin hamil dan keguguran. Dan segera harus diambil tindakan kuretase. Usia janin kemungkinan sekitar 8 minggu. Aku menatap bi Ijah, aku yakin dia sama kagetnya denganku. Tidak ada yang mengetahui perihal kehamilan Irin.
Surat persetujuan di tandangani bi Ijah. Operasi akan dilakukan esok pagi.
Bi Ijah pamit pulang dan memintaku menemani Irin, dia akan mengambil beberapa baju ganti dan perlengkapan Irin. Bi Ijah nampak sangat sedih dan shock.
__ADS_1
Hatiku hancur. Wanita yang aku kejar ternyata milik orang lain. Hamil dan keguguran di depan mataku. Aku akhirnya mengerti kenapa Irin begitu menjaga jarak denganku.
Kulihat Irin membuka matanya, ku sapa lembut dia dengan senyumanku.
"Kita dimana Mas?" Tanya Irin yang bingung.
"Kamu di rumah sakit, Rin."
"Apa yang terjadi padaku?"
Sejenak aku bingung menjawab pertanyaannya.
"Maafkan aku Irin, semua salahku. Seharusnya aku nggak maksa kamu ke acara itu. Aku juga minta maaf, karena terus mendekati kamu. Aku sungguh nggak tahu kamu sudah menikah ...."
Lidahku rasanya kelu untuk melanjutkannya. Irin hanya terdiam, aku sebenarnya butuh penjelasan kenapa dia menyembunyikan semuanya. Tapi kutahan, itu haknya. Aku tak perlu tahu, sejauh ini aku memang mendekatinya tanpa memberi sedikitpun ruang baginya untuk menolak.
"Kamu harus sabar ya, janin kamu harus dikuret. Besok pagi jadwal operasinya, tadi bi Ijah pulang dulu ambil baju ganti kamu, Rin." Aku melihat Irin juga terkejut.
"Apa kamu bilang Mas? Janin? Siapa yang hamil?" kemudian dia meraba-raba perutnya dan nampak dia menahan sakit disana.
"Maksudmu, kamu nggak tahu kalau kamu hamil?" Irin tidak menjawab hanya menggeleng dan sejurus kemudian dia menangis.
"Aku bahkan nggak tahu kalau aku sedang hamil." Ucapnya disela-sela tangisnya.
Aku mencoba menenangkannya. Aku tak sanggup menahan diriku untuk tidak membelai kepalanya, aku tidak tega melihat dia begitu sedih. Aku sadar, perbuatanku salah. Dia istri orang.
"Menangislah, Irin! Luap kan perasaanmu. Itu akan membuatmu merasa lebih baik." Kemudian aku membiarkan dia menangis di pelukanku. Aku pun akhirnya mencoba menebak, ada yang tidak beres dengan pernikahannya. Bersabarlah Irin, aku akan berdiri bersamamu.
Irin akhirnya tertidur setelah meminum obat pereda sakitnya, badannya masih lemah kehilangan banyak darah, ditambah rasa sakit di perutnya. Kemudian aku pun memilih tidur disampingnya.
Saat tengah malam, tiba-tiba aku menyadari kehadiran seorang laki-laki di depanku. Dia menangis menatap Irin, aku yang tidur tidak terlalu nyenyak pun terbangun dan langsung berdiri menyadari kehadirannya.
"Siapa kamu?" Reflek aku bertanya.
"Mari bicara di luar!" Ajaknya padaku sambil berbalik, aku pun mengikutinya.
__ADS_1
"Aku Bambang, suami Irin," dia memperkenalkan diri, pembawaannya begitu tenang. Dia tampak sangat dewasa dalam bersikap. Padahal bisa saja dia datang sambil marah bahkan memukulku.
"Jadi, Anda siapa?" Lanjutnya lagi.
"Aku Rian, jangan salah paham Bung. Aku nggak ada hubungan apapun dengan Irin. Meskipun aku mengejarnya, itu karena aku sama sekali nggak tahu dia sudah bersuami, maaf!" Aku mencoba menjelaskan posisiku.
"Baiklah, sekarang kamu bisa pergi. Biar aku yang menjaga Irin."
"Tidak Bung. Aku juga bertanggung jawab atas kejadian ini, setidaknya izinkan aku tetap di sini sampai operasi besok."
Aku tidak bisa meninggalkan Irin dengan suaminya saja. Aku masih tidak tahu pernikahan macam apa yang mereka jalani sampai-sampai Irin rapat menyembunyikannya selama ini. Aku harus memastikan Irin tetap aman.
"Baiklah, terimakasih sudah menjaga Irin." Ucapnya sambil pergi masuk ke ruang IGD tempat Irin masih dirawat. Aku hanya bisa mengawasi dari jauh. Lelaki itu menghampiri Irin, kemudian menangis sambil membelai rambut Irin.
Tampak dia sangat mencintai Irin. Apa yang terjadi dengan pernikahan mereka? bahkan Irin masih sangat muda untuk sebuah pernikahan.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiranku.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi pun tiba, Irin yang terbangun sontak kaget melihat sosok lelaki di depannya sudah berganti. Bambang tertidur di tepi ranjangnya. Irin mencoba meyakinkan dirinya kembali. Takut kalau ini masih mimpi. Tapi dia tidak salah, dia memang Bambang.
Bambang yang menyadari Irin bergerak pun terbangun. Sejenak mereka saling pandang. Takdir apa lagi yang menunggu.
"Kamu sudah bangun Irin? Bagaimana keadaanmu? Beri tahu aku mana yang sakit? Maafin aku Irin, aku menyesal. Aku memang sangat bodoh Irin. Maafkan aku!"
Irin hanya terdiam, air matanya mengalir tanpa suara. Dalam hatinya berkecamuk berbagai macam rasa. Irin bahagia bisa bertemu dengan Bambang tapi tidak bahagia untuk kehamilan yang baru saja dia ketahui dan harus keguguran.
Bambang memeluk Irin, dia menangis tergugu. Bambang sangat menyesali perbuatannya yang sudah membuat Irin hamil, dan karena harus mengejar dirinya juga Irin harus kehilangan bayinya. Irin yang lemah hanya bisa membiarkan suaminya menangis di sana. Tanpa sedikit pun kata-kata yang Irin ucapkan untuknya.
Apakah bagus atau kah buruk, janin ini hilang?
Perasaan Irin kebas.
πππππ
__ADS_1