MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Flashback Winda 3


__ADS_3

Akhirnya, aku berhenti mengendap-ngendap di sekitar rumahnya. Sekarang aku selalu masuk, walaupun kadang batinku perih tapi hatiku butuh untuk sekedar melihatnya. Sebelumnya aku tidak begini, aku membagi hidupku dalam porsi yang sama. Beribadah, karir, keluarga, sahabat dan cinta semuanya berjalan sejalan. Tidak pernah terbayang sekalipun akan berpisah dengannya.


Namun, setelah peristiwa ini terjadi aku seakan melupakan yang lain. Hidupku hanya tentang Bambang, aku merasa sangat mencintai setelah aku kehilangan. Tanpa melihatnya aku gelisah, tanpa mendengar suaranya aku resah, tanpa tahu dia baik-baik saja aku panik. Semua terjadi saat dia sudah menjadi milik orang lain. Maafkan aku, selama ini aku tidak menjadi pecinta yang baik.


Sekarang aku selalu punya alasan menemuinya. Hari ini aku membawakannya madu, untuk menjaga kondisi tubuhnya, ini madu asli aku mendapat kiriman dari Ibuku. Dia sangat senang menerimanya.


"Ibu juga titip salam buat kamu, nggak papa katanya kamu nggak jadi mantunya, tapi kabar pernikahan kamu sangat heboh di kampung entah bagaimana bisa menyebar begitu."


Bambang tidak menjawab, dia hanya menunduk tenggelam dalam pikirannya.


"Aku tidak dalam keadaan yang baik untuk membela diri, aku hanya berharap keluargaku bisa bersabar dengan cobaan ini dan juga sabar menghadapi omongan tetangga, bagaimanapun aku memang bersalah. Jadi tidak ada yang perlu aku sanggah." Nada suaranya terdengar sangat sedih dan pasrah.


"Sabar ya Bam, ingat jangan sungkan sama aku, bagaimana keadaan Airina?"


"Mulai membaik Win, sudah mulai bisa diajak bicara."


"Kamu?"


"Aku juga baik, kamu bisa lihat aku sehat."


"Jangan terlalu merasa bersalah Bam, itu kunci masalahmu."


"Terimakasih yah."


"Aku boleh bertanya Bam?"


"Silahkan, Wind."


"Apa kamu yakin setelah Airina sembuh dia akan menerima pernikahan ini?"


"Aku belum berpikir sejauh itu Win, aku hanya fokus pada tanggung jawabku saat ini." Jawabannya sungguh tidak membuatku puas, aku belum juga menemukan alasan yang kuat untuk benar-benar pergi.


Keesokan harinya aku datang lagi, tidak peduli rasa lelah seusai bekerja aku pasti masih punya sisa tenaga untuk menemui Bambang bahkan membantu merawat gadis itu.


Namun saat aku datang, kondisi sedang tidak baik. Dia kembali menangis meraung-raung entah kenapa, entah apa pemicunya. Aku baru saja masuk saat Bambang sedang membujuknya untuk tenang.

__ADS_1


Apa yang kulihat? Bambang memeluk gadis itu dan menahannya yang meronta-ronta. Sepertinya sudah berlangsung cukup lama, aku melihat Bambang cukup kelelahan.


"Win, tolong ambilkan kotak obat di lemari belakang!" teriaknya memintaku melakukan sesuatu, teriakan gadis itu begitu memekakan telinga.


Aku segera berlari dan mencari kotak yang dimaksud Bambang dengan segera aku memberikan kepadanya.


Dengan cekatan hanya dengan 1 tangan Bambang mengambil suntikan yang sudah berisi obat di dalamnya. Dan aku melihat keahlian baru Bambang di sini, dia menyuntikan cairan itu ke lengan gadis itu. Kemudian dengan penuh kelembutan mengelus-ngelus rambutnya yang berantakan. Tidak lama kemudian gadis itu tenang dan tertidur di pelukan Bambang. Aku cemburu? Sangat.


Entah kenapa aku merasa Bambang mulai menyayangi gadis ini. Tatapannya, sikapnya, bahkan gestur tubuhnya. Bohong kalau dia mengatakan itu hanya sekedar tanggung jawab. Berkali-kali gadis itu menyuruhnya menjauh dan pergi Bambang tetap tidak melonggarkan pelukannya. Umpatan dan makian gadis itu menyebut Bambang pembunuh, tapi Bambang tidak bergeming. Walaupun aku tahu, Bambang sangat terganggu dengan label pembunuh yang terus diberikan kepadanya.


Aku tidak sanggup melihatnya, aku harus pergi. Merasakan begitu sakitnya hatiku terkoyak. Aku memutuskan tidak pernah kesana lagi.


Tapi aku tidak bisa, hanya bertahan sehari. Selama 4 tahun bersama belum pernah aku merasakan kecanduan separah ini. Kenapa rasa ini hadir ketika Bambang sudah tidak bersamaku. Aku kemudian memutuskan datang lagi. Bambang sedang menyisir rambut gadis itu ketika aku datang. Di tengah cobaan hidupnya, betapa beruntungnya gadis itu mendapat perhatian seperti itu dari Bambang.


Aku menunggunya di teras, aku tidak tahan melihatnya. Aku hanya pura-pura baik-baik saja. Aku cemburu? Tidak! Aku iri.


"Maaf Win, perawat yang biasa datang lagi ada keperluan jadi aku yang melakukan semua."


"Aku nggak nyangka kamu bisa melakukannya," ucapku setengah meledek, berusaha menutupi rasa cemburuku.


Entah apa yang terjadi, gadis itu kembali berteriak dan menangis, padahal saat Bambang keluar dia sudah tidur. Bambang dengan sigap lari menghampirinya. Naas kembali terjadi, gadis itu sudah berdiri menyambut Bambang dengan botol di tangannya dan di lemparkan ke kepala Bambang.


Darah kembali mengucur, rasanya tenaga seperti itu terlalu besar untuk seorang gadis. Dan kali ini aku yang salah, itu adalah botol madu yang aku berikan. Aku lupa.


Aku begitu marah, tiba-tiba muncul keberanian yang besar. Aku mendorong dia masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Tanpa peduli apa pun lagi aku segera membawa Bambang kembali ke klinik waktu itu.


Bambang kembali mendapat jahitan di kepalanya. Kali ini aku juga merasa salah. Benda itu aku yang membawanya. Beruntung kali ini. Bambang tidak harus menginap. Di tengah-tengah kekhawatiran dan kepanikanku, Bambang tersenyum kepadaku. Senyum yang lama aku rindukan, senyum yang lama hilang dari wajahnya.


"Jangan melihatku terus Win!" ucapnya menyadarkanku dari lamunan.


"Bisa-bisanya kamu tersenyum saat keadaan begini."


"Terimakasih ya karena selalu ada."


"Jangan begitu kita kan teman." Berat rasanya mengatakan ini, tetapi aku berusaha.

__ADS_1


"Makanya kamu nggak usah senyum-senyum, nanti aku terpesona lagi."


"Apa aku harus menangis?"


"Jangaaaan!"


"Aku harus gimana?"


"Biasa aja!"


Kemudian kita berdua tertawa, bahagia rasanya melihatnya kembali ceria.


"Bam, pikirkan keselamatanmu. Berikan perawatan yang terbaik untuk gadis itu, terlalu bahaya kamu menghadapinya seorang diri. Rawatlah dia di tempat yang tepat!"


"Maksudmu di rumah sakit jiwa?"


"Bukan berarti kamu tidak bertanggung jawab Bam kalau dia di rawat disana, kamu bisa tetap datang dan mengawasi."


"Kamu nggak mengerti, Win," ucapnya setelah menghela nafas dengan berat.


"Aku bisa saja melakukannya, tapi andai kamu tahu Airina sangatlah terluka. Di antara kita dialah yang paling terluka. Aku tidak bisa lepas dari luka itu, Win."


"Tapi keselamatan kamu terancam, ini sudah kedua kali."


"Kalau harus ditukar dengan nyawa pun aku rela Win, jujur saja semakin Airina melukaiku semakin berkurang rasa bersalah yang kumiliki. Andai aku harus terluka dan terluka sampai parah, aku pasti senang. Karena rasa bersalah itu pun ikut menguap."


Aku kehabisan kata-kata dengan jawaban Bambang. Sepertinya rasa bersalah dalam hatinya bukan hal main-main.


"Aku sudah bertekad untuk mengabdikan hidupku untuk Airina. Aku harus menjadi pelindung baginya, pengganti kedua orang tuanya. Entah akan seperti apa hidupku nanti. Aku ikhlas, Win."


"Aku pun selalu berdoa, agar kamu diberi keikhlasan yang sama Win."


Air mataku jatuh tanpa bisa aku tahan. Bambang, kenapa rasa ini menjadi besar setelah kamu pergi?


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2