MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Flashback Winda 2


__ADS_3

Aku bergulat dengan batinku sendiri. Dipisahkan takdir sekejam ini, aku kehilangan dan aku kecewa. Semua kesulitan hidup berhasil aku lalui bersamanya, hingga aku dan dia berada di titik mandiri seperti sekarang. Tidak mudah mengingat kita berdua hanya remaja kampung yang bermimpi hidup nyaman di Ibu Kota.


Bayang-bayang Bambang belum juga berlalu, aku belum bisa melepaskannya. Aku menempatkan diri dalam cinta yang tangan sebelahnya berhenti bertepuk. Puncaknya ketika aku mulai merasa seperti kehausan, seperti sakau, aku bahkan tidak bisa tidur dan akhirnya aku memutuskan untuk sekedar melihatnya dari jauh.


Miris bukan?


Setiap hari sepulang kerja aku mengendap-ngendap di sekitar rumahnya, dan baru pergi setelah melihat Bambang walaupun hanya bayangannya. Kalau tidak begitu, aku tidak bisa tidur, rasanya seperti kehausan dan baru akan hilang setelah melihatnya. Aku terus mengamatinya setiap hari dari jauh. Dia benar-benar merawat gadis itu, dia bahkan mempekerjakan seorang perawat untuk menjaga gadis itu ketika dia bekerja. Dan juga mendatangkan beberapa orang seperti ustadzah ke rumahnya.


Sampai suatu hari aku tidak melihatnya, bayangannya pun tidak dan perasaanku sangat tidak nyaman. Aku memutuskan mencarinya dan masuk. Toh aku bisa beralasan datang sebagai teman, bukan?


Aku mengetuk berapa kali dan tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci, setelah berpikir beberapa detik untuk masuk atau tidak, aku akhirnya memutuskan masuk. Apa yang terjadi?


Bambang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai dengan beberapa ceceran darah dari kepalanya. Aku menjerit. Dan aku melihat gadis itu tampak tertidur pulas dengan pecahan vas bunga di dekatnya. Aku bisa menebak gadis itulah yang memukul kepala Bambang.


Aku meraih Bambang mencoba mengecek kesadarannya. Ternyata dia masih sadar dan hanya lemah. Aku membawanya dengan susah payah ke klinik dekat rumahnya. Bambang mendapat infusan dan beberapa jahitan di kepalanya.


"Bagaimana keadaan temen saya, Dok?" Aku langsung bertanya pada dokter yang menanganinya.


"Kepalanya tidak apa-apa, lukanya sudah dijahit. Tapi kondisinya lemah, sepertinya dia mengalami kelelahan yang luar biasa bisa dari fisik juga dari pikiran. Itu yang menyebabkan dia ngedrop, sebaiknya disuruh istirahat dulu temennya ya, Mba."


"Terimakasih, Dok."


Segera aku mendatangi Bambang, aku duduk di kursi yang agak dekat dengannya. Dari posisi ini terlihat jelas gurat lelah di wajahnya. Wajah yang dulu berseri-seri, segar, dan penuh rasa optimis. Kini hanya beban yang ada di sana, aku tahu rasa bersalah yang dia tanggung begitu besar. Belum lagi beban mental dan pesikis yang luar biasa. Dan gadis itu.


Aku tidak kuasa melihatnya, ingin sekali aku meraih sedikit saja beban di pundaknya agar bisa ku pikul dan meringankan bebannya. Namun apa daya, ikatan sakral telah memisahkan aku dan dia.

__ADS_1


"Win?" Tiba-tiba dia memanggilku rupanya dia tidak benar-benar tertidur.


"Bam, kamu istirahat aja. Tidur saja dulu!"


"Aku tidak bisa Win." Dia berusaha bangkit tapi sepertinya sakit di kepalanya belum hilang.


"Jangan Bam, kamu sangat lemah. Dokter bilang kamu sangat kelelahan."


"Airina sendirian Win, terlalu bahaya baginya."


"Baiklah, kamu istirahat saja. Biar aku yang menemaninya! Kamu harus istirahat, kamu harus dirawat."


Aku tergerak oleh keteguhan hati Bambang pada gadis itu. Aku melakukan ini untuk Bambang, entah apa tujuanku melakukannya. Entah apa yang aku harapkan dengan melakukan ini.


Aku beristirahat sambil menatap gadis itu, manis. Apa wajahnya sudah membuat Bambang berpaling dariku? Dan karena lelah aku akhirnya tertidur.


Aku terbangun ketika suara tangisan pilu gadis itu terdengar. Aku mencari sumber suaranya, dia menangis di pojok kamar. Kali ini dia tidak terlihat gila, maksudku depresi. Dia menangis layaknya seorang gadis biasa dengan kesedihan yang amat mendalam.


Bambang benar, tidak ada yang mudah. Untuknya, untukku, dan bahkan untuk gadis itu. Penderitaannya pun cukup berat, sepertinya keliru rasa benciku ini padanya. Andai bisa, dia pasti akan menolak pernikahan ini. Wajar Bambang tertawan begitu dalam oleh kesedihan gadis ini.


Entah apa yang merasukiku, aku mendekati gadis itu tidak tahan mendengar kepiluan rintihan dari tangisannya, dan aku memeluknya mencoba menenangkannya. Dia membalas pelukkanku.


"Ibuuu ... !"


Aku tersekat, seketika aku merasakan aliran kesedihan masuk kedalam relung hatiku. Dia memelukku begitu erat, dan terus memanggilku sebagai Ibu. Aku merasakan lukanya, kekosongan pada pandangan matanya sejalan dengan kekosongan hatinya, bahkan mungkin hidupnya. Aku membiarkan dia menangis sepuas-puasnya, tidak peduli kemejaku basah oleh airmatanya.

__ADS_1


Setelah dia tenang aku meninggalkannya, dia kembali dengan tatapan kosongnya. Aku berpamitan ketika seorang yang biasa merawatnya datang. Aku langsung menuju klinik tempat Bambang di rawat.


Dia sudah lebih baik, efek dari obat membantunya tidur dengan nyenyak.


"Maaf Win, merepotkanmu."


"Jangan sungkan Bam, aku tidak merasa direpotkan aku malah kasian kamu menanggung semua ini sendirian. Aku harap kamu tidak menganggap aku orang lain, jangan menanggung semua ini seorang diri aku pasti membantu jika kamu butuh bantuan."


"Win," Bambang seolah ragu dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


"Jangan berpikir macam-macam. Kamu kewalahan Bam, kamu harus mengakui itu. Kamu kelelahan."


"Ini nggak adil buat kamu Win, pergilah! Ini hukuman untukku. Kamu harus segera memulai hidupmu yang baru, jangan pedulikan aku!"


Aku menatapnya, mencoba memahami apa yang baru saja dia katakan. Sejenak aku lupa, mereka sudah menikah. Batas suci nan jahat yang sudah mengoyak impianku.


"Beri aku waktu Bam, aku tidak bisa begitu saja pergi. Jangan paksa aku meninggalkanmu, beri aku waktu. Aku janji, tidak akan memintamu kembali."


"Win ...."


"Aku tidak mau dengar lagi, aku tidak akan pergi begitu saja, biarkan aku menjauh sedikit demi sedikit. Biarkan juga aku membantumu, kamu tidak bisa mengatasi cobaan ini seorang diri, terlebih gadis itu."


Bambang terdiam, kemudian dia mengangguk tanda setuju. Aku sangat tau, bebannya begitu berat. Dia tidak sanggup tapi tidak mampu mengeluh.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2