
Pov Irin
Bagaimana hidupku bisa menyedihkan seperti ini?
Dalam sekejap Tuhan membalikkan keadaanku yang bahagia menjadi kesepian dan terluka.
Ayah dan Ibu.
Pergi karena Dia.
Ahh, bukan.
Aku menyadari, ini Takdir-NYA.
Dia, hanya sebagai perantara.
Dia, suamiku.
Aku pernah membaca sebuah kisah, seseorang yang terpuruk kemudian bangkit.
Aku mencoba, tapi aku sadar. Semua itu tidak semudah aku membaca, tidak seindah untaian kata-kata pada paragraf nya.
Tidak sesingkat tangisan di halaman pertama dan bahagia di halaman ke 100.
Aku sudah menulis 873 halaman, tapi isinya masih berupa tangisan. Kenapa?
Aku masih tidak mengerti akan dia.
Kemarin dia adalah sosok sempurna, setelah aku berjuang dengan pergulatan batinku untuk memaafkannya tentunya.
Sekarang, dia tidak lebih dari seorang yang menjijikan.
Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan itu.
Aku pun mengerti dia punya kekasih. Aku tak mau menyakiti siapapun. Dia wanita, aku juga wanita.
Tapi dia bersikeras ingin bertanggung jawab.
Ayah, apakah aku selemah itu? hingga harus Kau titipkan pada lelaki yang tidak aku kenal?
Kamu pun tidak mengenal dia Ayah. Kenapa harus meminta dia menjadi suamiku?
Sepanjang hidupmu, Engkau lah yang terbaik. Tapi diakhir hidupmu sepertinya keputusanmu keliru.
Maafkan aku Ayah, yang tidak patuh.
Aku tidak menyalahkanmu Ayah, tapi bagaimana sekarang?
Mas Bam!
Apa kamu berpikiran sama dengan Ayah,
Kamu pikir aku lemah?!
Mas Bam!
__ADS_1
Akan ku buktikan, padamu dan juga Ayah.
Aku bukan gadis lemah.
Hhh, gadis?!
Aku sudah bukan gadis,
Aku Wanita.
Aku akan bahagia!!!!
Pada halaman ke 900 aku akan menulis kebahagiaan disana.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pov Bambang
Hari yang mengubah semua hidupku.
Aku janji menemui Winda, jalan-jalan, makan dan nonton mungkin.
Sudah lama kita tidak berkencan. Kita sibuk dengan karir kita masing-masing.
Sudah aku siapkan kejutan, aku akan melamarnya. Tunggu apa lagi, kita sudah bersama sejak lulus SMA. Sekarang masa depan sudah jelas tergambar. Aku akan mengajaknya menikah. Aku tidak sabar.
Aku mengabarinya aku sudah jalan.
Aku memacu kendaraanku dengan perasaan senang. Aku ngebut.
Sepertinya mobilku menabrak.
Aku tidak ingat kronologinya.
Aku selamat hanya luka ringan.
Kabar buruknya, ada yang meninggal dan satu kritis.
Dan akhirnya meninggal beberapa hari kemudian.
Semua berjalan begitu cepat.
Kecelakaan itu membuatku harus menikah.
Menikahi seorang gadis anak tunggal dari korban.
Aku tenggelam dalam rasa bersalah yang besar.
Tatapan gadis itu nampak kosong. Aku yakin, dia belum sepenuhnya percaya apa yang sudah menimpanya.
Dia begitu lemah. Bahkan depresi.
Aku bersalah.
Aku menikahinya dengan cincin yang kusiap kan untuk Winda.
__ADS_1
Hhh, beginikah jalan takdir-MU?
Irin.
Aku terjerat oleh matamu, ketidak berdayaanmu justru membuat cinta ini tumbuh menggila.
Aku pun bertekad melindungimu.
Dengan tulus mengalir begitu saja, aku ingin menjadi satriamu.
Bahkan perasaan ini tumbuh begitu tiba-tiba dan begitu cepat merasuki hidupku.
Kamu sudah menjadi tujuan hidupku.
Mengalahkan rasa cinta yang sudah aku pupuk bertahun-tahun dengan Winda.
Sayang sekali, Irin.
Kamu begitu dingin dan tertutup.
Harus bagaimana aku menembus dinding pertahananmu itu.
Berhenti menganggapku pembunuh.
Sebagai gantinya akan aku mengabdikan diriku menjadi pelindungmu.
Aku yakin, suatu saat kamu akan mencair.
Dan bisa menerima perasaanku.
Perasaanku yang dalam terhadapmu.
Mungkin perasaan inilah hukuman atas kesalahanku.
Hukuman yang indah.
Maafkan aku Irin.
Aku hanyalah lelaki bodoh yang tidak pandai menyampaikan rasa.
Aku yang selalu bilang mencintaimu tapi tidak mampu membaca kemana arah hatimu.
Buntukah hubungan ini Irin?
Benarkah kamu tidak ingin bersamaku?
Tidak sampaikah kasih sayangku ini ke hatimu?
Ketulusan ini tidakkah menyentuh dinding besarmu yang dingin?
Irin...
Aku harus bagaimana?
πππππ
__ADS_1