
Seminggu sudah sejak kepergian bi Ijah, Gilang selalu datang di setiap pengajian peringatan kepergian ibunya. Entah apa yang ada di benak anak itu, setiap pagi Gilang selalu mengunjungi makam ibunya, namun tidak pernah mau bila Bambang atau Irin ingin menemaninya. Dia selalu datang seorang diri.
Irin belum memiliki kesempatan untuk sekedar bicara berdua dengan Gilang, karena Gilang memilih tinggal di tenpat lain dari pada di rumah Irin, Gilang seolah selalu menghindar dan selalu mencari alasan agar Irin tidak mendekatinya, dia kecewa dengan pernikahan Irin. Kepergian bi Ijah benar-benar menimbulkan ruang kosong yang begitu besar, bahkan rumah sebesar itu belum tentu Irin paham setiap seluk beluknya, mereka selalu kesulitan mencari sesuatu karena biasanya bi Ijah yang menyiapkannya.
"Mbok Rum, tolong jagain Irin ya!" Bambang berpamitan karena hari ini dia harus kembali bekerja. Mbok Rum bersama Pak Budi adalah sepasang suami istri yang baru saja bekerja di rumah Irin.
"Baik Pak, " ucap Mbok Rum.
"Kamu baik-baik ya sayang, jangan lupa makan, jangan melamun, cari aktifitas yang membuatmu bahagia ya." Pamit Bambang kepada Irin.
"Iya Mas, kamu juga hati-hati Mas, jangan lupa berdoa."
Irin langsung masuk ke dalam rumah setelah mobil Bambang menjauh.
"Mau sarapan apa Non?" tanya Mbok Rum.
"Bikinin susu aja mbok, aku belum laper. Oh iya, panggil aja Mbak ya Mbok," minta Irin pada mbok Rum, dia tidak ingin sedih karena panggilan Non adalah panggilan kesayangan almarhumah bi Ijah.
"Baik Non, eh, Mba Irin."
"Anterin ke halaman belakang ya Mbok, aku di sana." Ucap Irin sambil berlalu.
Irin duduk sambil memandangi kolam ikan, kolam itu sudah ada sejak Irin kecil. Irin kembali terbayang masa lalu saat orang tuanya masih hidup, bi Ijah, bahkan Gilang. Sekarang semua sudah tenang di alam sana, bahkan Gilang sudah muncul kembali. Kehadiran Bambang dan keluarganya membuat Irin sangat tegar dalam menghadapi kehilangannya kali ini, semua yang terasa dingin dan sepi tiba-tiba hangat dan penuh doa dan semangat.
"Mba, ini susunya,"
"Iya, makasih ya Mbok."
"Sama-sama, saya permisi dulu kalau butuh apa-apa panggil saja ya Mba ... " Irin mengangguk melihat mbok Rum.
Sambil menimati segelas susunya, pikiran Irin melayang, tiba-tiba dia teringat kalau dia harus mencari keberadaan Gilang. Irin kemudian menekan tombol dial pada ponselnya.
"Halo, Assalamualaikum Om Rahmat," sapa Irin.
[Waalaikumsalam Rin, ada apa? Ada yang bisa Om bantu?] Jawab Pak Rahmat di ujung telephone.
"Om tau dimana Gilang tinggal sekarang?" tanya Irin tanpa basa-basi.
__ADS_1
[Hem, Gilang tinggal di apartemen xxx]
"Oke, makasih ya Om, assalamualaikum ... " Irin segera menutup panggilan di ponselnya setelah mendapat alamat Gilang.
Irin segera mandi dan bersiap mendatangi Gilang. Irin pergi menggunakan taxi online, dan segera mendatangi nomor apartemen Gilang. Irin menekan belnya dan menunggu cukup lama sampai Gilang membukakan pintu untuknya.
"Rin?" Gilang hendak menutup kembali pintunya ketika dia tahu yang datang adalah Irin, namun kaki kanan Irin telah dengan sigap mengganjal di pintu.
"Aku mau masuk, Gilang kamu berhutang padaku penjelasan sejak bertahun-tahun yang lalu."
"Bukan urusanmu lagi, Rin!" Irin dengan tubuh kecilnya berhasil merangsek masuk ke dalam apartemen Gilang.
"Kamar di rumahku banyak, tapi kamu memilih tinggal disini." Ucap Irin sambil melihat-lihat setiap sudut ruangannya, dan duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke pemandangan kota dengan gedung yang tinggi.
"Aku nggak akan tinggal disana, lagi pula aku nggak mau menjadi pengganggu bagi pasangan suami istri."
"Baiklah, langsung saja kemana aja kamu selama ini? Kenapa kamu memilih pergi? Kenapa sekarang kamu kembali?" tanya Irin dengan menatap tajam ke arah Gilang.
"Pelan-pelan nanyanya tuh! Ceritakan dulu pernikahanmu, sambil aku nginget-nginget buat jawaban kamu."
"Oke, kamu tahu orang tuaku meninggal?"
"Iya nggak papa, Mas Bambang dan orang tuaku terlibat kecelakaan, orang tuaku meninggal dan Ayah meminta Mas Bambang menikahiku di saat-saat terakhirnya." Gilang sangat terkejut mendengar cerita Irin, pandangan yang awalnya di lempar ke luar jendela beralih mentap Irin yang sedang bercerita.
"Jadi? Suamimu itu yang membunuh Pak Herman dan Bu Sinta?"
"Sudah takdirnya Lang, Mas Bambang hanya perantara. Dia menebus kesalahannya dengan menjadi penjagaku seumur hidupnya."
"Hhhh, jadi pernikahan kalian hanya berdasarkan wasiat Pak Herman?"
"Bukan 'Hanya' Lang, wasiat ayahku adalah hal yang besar, nggak mudah bagiku dan bagi Mas Bambang tapi kami telah sampai di titik ini dimana kami telah ikhlas dengan kejadian yang telah lalu."
"Kamu mencintainya?"
"Awalnya nggak, tapi aku melihat kesungguhan pada diri Mas Bambang, nggak ada alasan aku untuk nggak bisa cinta sama dia."
"Jangan munafik Rin, hanya karena kamu anak orang kaya sampai Bambang sungguh-sungguh ingin mendapatkanmu dan hartamu," sindir Gilang.
__ADS_1
"Bukan seperti itu Lang, Mas Bambang bahkan nggak tahu kalau aku kaya sampai 3 bulan lebih pernikahan kami, dia menerimaku apa adanya."
"Hhhh, terserah! Dia tetap seorang pembunuh."
"Jaga mulutmu Lang, sekarang giliran kamu menceritakan semua, apa alasanmu meninggalkan kami dulu?"
Gilang terdiam sejenak, dia menghisap dalam-dalam sebatang rokok di tangannya.
"Aku hanya kecewa, hidup dalam bayang-bayangmu. Aku sempat bahagia karena mengira aku adalah anak Pak Herman. Sampai ketika orang itu mengaku sebagai ayahku, aku langsung setuju dan memutuskan pergi saja dengannya."
"Semudah itu? Kamu nggak mbayangin apa bagaimana sedihnya bi Ijah?"
"Aku hanya ingin hidup sebagai diriku sendiri,"
"Apa kamu mendapatkannya?"
"Entahlah, aku justru muak setiap melihat ulah ibu tiriku, tapi aku nggak bisa kembali dan membiarkan orang tahu kalau aku telah salah memilih."
"Gengsimu tinggi sekali,"
"Kemarin Pak Rahmat memberi kabar kalau Ibu meninggal, aku langsung terbang dari Ponti ke Jakarta."
"Kamu menyesal?" tanya Irin.
"Apa akan berguna?"
"Hemm, nggak juga sih, tapi akan sangat bagus kalau kamu menyesalinya, kamu nggak tahu bagaimana bi Ijah terus menangis saat itu, aku hanya berharap kamu dapet sentilan sedikit saja di kupingmu itu!"
"Aku hanya akan memperbaiki, akan ku tunjukan pada Ibu kalau aku akan hidup lebih baik. Dan aku sudah meninggalkan orang tua palsuku, aku muak."
"Dan kamu Rin, aku sempat berpikir untuk menikahimu!"
🍃🍃🍃🍃🍃
Mampir juga keceritaku yang lain,
MENGEJAR CINTA PERTAMA SUAMIKU..
__ADS_1
menceritakan tentang istri yang bersedia jatuh bangun mengejar mantan kekasih suaminya...