
[Maaf]
Irin tersenyum membaca sebuah chat di aplikasi hijau miliknya.
'Dasar Gilang!' Batinnya.
Irin sengaja tidak membalasnya, dia ingin sedikit jual mahal pada Gilang.
Bambang baru saja berangkat ke kantor, dan hari ini Irin ada jadwal bertemu dengan Om Rahmat. Irin akan mulai belajar mengelola sendiri bisnisnya. Irin akan menjadi pegawai magang di salah satu kantor pusatnya sendiri. Irin memulai dari bisnis peninggalan Ibunya, yang bergerak di bidang penjualan.
Jadwal interview akan dimulai pukul 09.00 Irin sudah berdandan dan bersiap-siap seperti pelamar kerja yang lain. Identitasnya tentu disamarkan agar dirinya bisa belajar dengan baik dari level terendah.
Rok berwarna hitam selutut dipadu dengan kemeja berwarna putih berlengan panjang, tidak lupa sepatu pantofel khas anak magang.
Irin sengaja berangkat menggunakan ojek online karena mengejar waktu. Angin menerpa wajah Irin sepanjang perjalanan dari rumah menuju kantor yang lumayan jauh.
"Terimakasih, Pak!" ucap Irin ketika ojol sampai di depan gedung sebuah pusat perkantoran.
"Sama-sama Neng, mau ngelamar kerja ya ... moga-moga dapet ya Neng."
"Aamiin ... terimakasih, Pak!"
Irin tersentuh, di tengah kehidupan yang biasa ada ketulusan untuk mendoakan kehidupan orang lain. Irin segera bersiap masuk dan menemui HRD untuk interview. Selama ini dia hanya anak manja, sama sekali tidak pernah tahu usaha orang tuanya, dia hanya tahu hidupnya yang bahagia.
Interview dimulai secara bertahap, dan memakai sistem gugur. Di sini Irin hanyalah anak baru lulus tanpa pengalaman kerja, tapi dia optimis akan bisa masuk kerja di kantornya sendiri.
Awal ada 40 pelamar dan gugur menjadi 20 pelamar, di sini Irin berhasil mendapat teman baru bernama Alisha. Keduanya sama-sama punya motivasi yang tinggi untuk bisa lolos dan mendapat pekerjaan ini.
"Pengumuman test terakhir nanti sore, Rin, semoga kita lolos ya, hanya 3 orang yang bisa masuk," ucap Alisha polos, Irin hanya tersenyum dia senang Alisha memiliki semangat yang tinggi, andai dia bisa menggunakan kekuasaannya Alisha pasti akan lolos, sayang mereka sama-sama berusaha dari bawah.
"Semoga kita berdua lolos ya," sambung Irin.
"Iya!" jawab Alisha tegas dan penuh harap.
Sampai waktu pengumuman tiba, ternyata Alisha dan Irin lolos ditambah Haidar satu-satunya kandidat laki-laki yang lolos.
Irin berjalan beriringan dengan Alisha, keduanya tampak akrab.
"Kamu pulang kemana, Rin?" tanya Alisha.
"Ehm ... " sejenak Irin kebingungan tidak mungkin memberi tahu yang sebenarnya, "Jauh Sha, kamu kemana? Naik apa?" tanya Irin berusaha mengalihkan pertanyaan Alisha.
"Aku naik busway."
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah mobil sport menghampiri mereka, derunya membuat angin sedikit membuat rambut Irin dan Alisha beterbangan. Alisha terperangah ketika seseorang pria muda yang duduk di belakang kemudi turun dan mendatangi mereka. Sementara Irin yang tahu siapa pria itu hanya diam, dia menang, Gilang harus membayar mahal karena membuatnya kesal kemarin.
"Ayo masuk!" ucap Gilang tanpa basa-basi.
Alisha celingukan seperti tak percaya pria itu bicara dengan salah seorang diantara mereka berdua.
"Maaf, siapa?!" tanya Alisha lugu, namun Gilang hanya diam seolah tidak tertarik dengan teman baru Irin.
"Aku pulang duluan ya, Sha, besok kita ketemu lagi." Irin membuat Alisha semakin heran.
Gilang membukakan pintu mobil untuk Irin, namun Irin mendorong pintunya agar kembali tertutup.
Bagggg !!!
Gilang menggertakan giginya melihat tingkah Irin, kemudian Irin membuka pintunya lagi dengan tangannya sendiri, dia masuk dan duduk di samping kursi kemudi, tak lupa dia kembali menutup pintu. Membiarkan Gilang yang sedang keheran dengan tingkahnya.
Butuh beberapa detik sampai Gilang menyadari, Irin masih tersinggung dengan ucapannya kemarin. Dia menaikan sebelah sisi sudut bibirnya, menertawakan pembalasan Irin.
"Wah ... Irin ternyata pacarnya orang kaya!" celetuk Alisha ketika mobil sport melaju meninggalkan dirinya.
...
"Tau dari mana aku disini?" tanya Irin.
"Buang-buang waktu Rin, kamu harusnya fokus sama hal-hal yang lebih penting," lanjut Gilang.
"Contohnya?" tanya Irin setengah hati menanggapi kritikan Gilang.
"Kamu bisa belajar langsung sama Pak Rahmat, kenapa harus melakukan hal picisan kaya gini," jelas Gilang sambil matanya fokus pada jalan raya dan kemudi.
"Aku harus mulai dari bawah, Lang," ucap Irin membela diri.
"Apa gunanya kamu lahir sebagai anak pengusaha sukses?!" sindir Gilang sinis.
"Maksudmu?!"
"Kamu harusnya mengembangkan bukan meneliti usaha orang tuamu, mengembangkan tidak dimulai dari bawah begitu!" Gilang pelan-pelan mulai memberi Irin pengertian.
"Ohh ... sepertinya kamu paham tentang dunia bisnis."
"Tentu saja!" jawab Gilang menyombong.
"Wah ... nggak sia-sia ya kamu jadi anaknya orang kaya!" sindir Irin, tampaknya dia masih ingat pembicaraan mereka tempo hari.
__ADS_1
"Aku begini karena usahaku sendiri," sanggah Gilang.
"Kalau begitu kamu bisa dong ngajarin aku, kenapa harus Om Rahmat?" usul Irin, dia memutar badannya sehingga menghadap kearah Gilang.
"Haisk ... minta suamimu sana!" jawab Gilang dengan sedikit risih karena Irin menatapnya terus.
"Mas Bam, mana paham dunia bisnis, dia pegawai negri."
"Suruh dia belajar, biar dia tahu dia tidak ada apa-apanya kalau dibanding keluargamu."
"Kamu mulai lagi, Lang!" geram Irin.
"Dia orang asing, Rin, aku bahkan lebih mengenalmu dari pada dia, kenapa kamu bela terus-terusan? Aku cuma ngmong apa adanya kok."
"Dia suami aku, Lang!" bela Irin.
Gilang hanya diam dan memacu mobilnya lebih cepat lagi karena kesal.
"Kenapa sih, Lang? Kamu sekarang berubah jadi nyebelin, aku udah berusaha nyari-nyari kamu yang dulu tapi lama kelamaan buntu tau nggak?!" ungkap Irin.
"Aku udah nggak selugu dulu, Rin, sekarang kita udah sama-sama dewasa, kamu harusnya tahu perasaanku!"
"Lang, kamu yang salah karena pergi gitu aja, mana sempet aku ngarepin kamu bakalan dateng lagi pas aku terpuruk, inget aja enggak! Saking hilangnya kamu tanpa kabar sedikitpun. Kenapa sekarang kamu dateng terus seolah-olah nggak terima sama kehidupan aku?!" Irin mulai lelah karena terus-terusan harus memaklumi Gilang.
Gilang yang marah segera membanting setir mobilnya dan menepi di bibir jalan. Suara rem yang mendadak membuat Irin sedikit panik. Tepat setelah mobil berhenti dengan sempurna, Gilang memutar badannya menghadap kearah Irin, sehingga sekarang mereka saling berhadapan.
"Seandainya aku tahu peristiwa itu, Rin, aku pasti bakalan ngorbanin semua buat dateng kesini nemenin kamu. Aku masih kuliah di German saat kejadian itu, dan Pak Rahmat sama sekali tidak cerita apapun!"ucap Gilang penuh penyesalan.
"Jadi kamu nyalahin Om Rahmat? Padahal komunikasi sekarang sudah sangat canggih, kenapa kamu nggak ada niat sedikit pun buat njalin komunikasi sama aku?" tanya Irin.
"A-aku cuma nggak mau kamu tahu perjuangan aku, aku udah niat mau dateng kesini kalau aku udah sukses, biar Ayah kamu bangga dan benar-benar menerima aku sebagai penjaga putrinya seumur hidupku, bukan kaka adek zone atau bahkan friend zone!" jelas Gilang.
"Apapun itu, Lang, sekarang udah ter-lam-bat!" Irin mulai risih dengan sosok Gilang yang sekarang.
"Tapi aku cinta sama kamu!" bentak Gilang.
"Enggak! Kamu udah gila!" Tangan Irin meraih gagang pintu dan membukanya, namun tangan Gilang tidak kalah gesit dan menarik Irin kembali.
"Lepas, Lang!" Irin mulai ketakutan, Gilang benar-benar telah menjadi sosok yang baru.
"Duduk!" perintah Gilang.
....
__ADS_1