MENIKAH KARENA KECELAKAAN

MENIKAH KARENA KECELAKAAN
Kepergian Bi Ijah


__ADS_3

Bi Ijah terjatuh, tangannya berusaha menggapai meja sebagai pegangan tetapi beban tubuhnya membuat meja ikut roboh bersama badannya. Bi Ijah tidak sadarkan diri.


"Bi Ijaaah ... !" seru Irin hampir bersamaan dengan yang lain.


Bambang berusaha menyadarkan bi Ijah dengan minyak angin milik si kembar tetapi bi Ijah tidak meresponnya. Mereka berinisiatif membawa bi Ijah ke rumah sakit terdekat. Irin terus menangis mengkhawatirkan orang yang sudah dia anggap sebagai ibu baginya.


Kondisi bi Ijah ternyata kritis, namun beruntung masih tertolong. Berbagai alat terpasang di tubuh bi Ijah, beruntung Irin tidak sendirian saat itu, Ibu mertuanya dan Mba Yuni ikut menunggu bi Ijah di rumah sakit.


"Keluarga pasien Ibu Ijah," teriak suster dari ruang IGD.


Irin dan Bambang segera berlari mendatangi sumber suara.


"Bagaimana keadaan bi Ijah, Sus?" tanya Irin dengan khawatir.


"Silahkan masuk, biar dokter yang menjelaskan!"


Irin dan Bambang masuk dan menghampiri dokter yang masih memeriksa bi Ijah.


"Bagaimana keadaan bi Ijah, Dok?" tanya Bambang.


"Pasien mengalami serangan jantung, tapi untunglah masih tertolong, biarkan pasien dirawat secara intensif."


"Tapi bi Ijah nggak punya riwayat penyakit jantung dok," ucap Irin.


"Memang ada kasus semacam itu, mengingat usia pasien yang tidak lagi muda."


"Lakukan yang terbaik Dok, berapapun harganya." Kata Irin dengan penuh kehawatiran.


"Pasti."


Irin keluar bersama Bambang, Irin terus saja menangis. Bambang mengajak Irin duduk di bangku panjang dekat IGD, di sana Mba Yuni dan Ibu Bambang masih setia menunggu.


"Bagaimana keadaan Mbok Ijah?" tanya Mba Yuni.


"Bi Ijah terkena serangan jantung Mba," jawab Bambang.


"Innalillahi ... !"


"Masih kritis Mba, semoga bi Ijah kuat ngelewatin masa kritisnya."

__ADS_1


"Aku sudah sebatang kara Mas, bagaimana mungkin di luka yang baru saja membaik ini Tuhan akan mengambil bi ijah ... !" ratap Irin.


"Bi Ijah pasti sembuh Rin, kita berdoa, kamu sudah tidak sebatang kara lagi, lihatlah ada aku di sini tempat kamu bisa berbagi segalanya, aku akan melindungimu."


"Jangan gitu Nduk, kami semua adalah keluarga kamu Nduk, sudah-sudah ... nggak baik ngomong yang enggak-enggak, cukup doakan Mbok Ijah ... Gusti Alloh Maha Mendengar, Nduk."


Mendengar itu Irin semakin menangis kencang, dia berfirasat kalau bi Ijah akan segera meninggalkannya. Semua terasa begitu alami tapi Irin takut untuk mengungkapkannya.


Bambang terus memeluk Irin, jauh dalam hatinya dia merasa takut kalau Irin akan kembali jatuh dalam kesedihannya, mengingat trauma yang pernah di alami Irin karena kepergian orang tuanya. Bambang selalu berdoa untuk kesembuhan bi Ijah.


"Kamu terlihat sangat lelah, sebaiknya kamu pulang dulu bersama Ibuku, biar aku dan Mba Yuni yang menunggu di sini."


"Nggak Mas Bam, aku nggak mau pulang!"


"Besok kita bisa bergantian, Rin. Pikirkan kesehatanmu!"


"Aku nggak mau pisah sama bi Ijah, biarkan aku disini Mas, aku nggakan bisa istirahat kalau pulang ke villa, bagaimanapun aku enggak mau pergi."


"Yo wes Mbang, mba aja yang pulang sama Ibu, besok kita baru gantian, aku ngerti kok alesane Irin nggak mau pulang," Mba Yuni menyela.


"Terimakasih Mba," ucap Irin.


"Besok Mba sama Ibu yang giliran jaga, mau nggak mau besok kamu harus istirahat yo ...," tegas mba Yuni.


"Ya sudah Ibu pulang dulu, Ibu pasti berdoa biar Mbok Ijah cepet sembuh, kamu yang kuat harus jaga kesehatan." Ibu Bambang berpamitan dan tak lupa memeluk Irin sebelum pergi.


"Hati-hati ya Bu, Mba!"


"Iyo, kamu juga hati-hati!"


Sekarang hanya tersisa Bambang dan Irin.


"Jangan terlalu cemas Rin, perbanyak istighfar!" Bambang mulai khawatir ketika melihat Irin berkeringat dingin dan pucat.


"Irin ... irin takut kehilangan lagi Mas! Huhhh ...."


"Menangislah Irin ... menangislah ... !" Bambang berperan sangat baik sebagai tempat Irin berlindung.


"Bi Ijah merawatku sejak aku bayi, bahkan dibanding Ibuku dialah yang paling memahamiku. Ibuku sibuk dengan cabang-cabang toko yang baru, karena saat itu bisnis keluarga kami belum sebaik sekarang, sementara ayah saat itu masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Saat keluarga kami masih susah Bi Ijah tidak meninggalkan kami, bahkan saat kami menunggak membayar gaji dia tetap bertahan."

__ADS_1


"Sekarang aku sudah tidak tahu lagi harus membayar gaji Bi Ijah berapa, semua pengabdiannya tidak ternilai. Kasih sayangnya yang begitu tulus padaku tidak akan bisa dibayar Mas."


"Kita sama-sama mendoakan yang terbaik ya untuk Bi Ijah,"


"Iya Mas,"


"Tidurlah Rin, biar aku yang menjaga Bi Ijah."


Bambang melepas jaketnya dan menjadikannya selimut untuk menyelimuti tubuh Irin yang tidur menyender di kursi.


"Apapun yang terjadi aku akan menjagamu!"


Tiba-tiba Bambang di kejutkan oleh kesibukan di ruang IGD. Bambang meninggalkan Irin dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Benar saja kehawatirannya, bi Ijah tiba-tiba kritis hingga mendapat penanganan dokter.


Tak lama kemudian terdengar bunyi layar monitor yang menunjukan bahwa seseorang telah berhenti detak jantungnya.


"Bi Ijah ... !" Bambang lari hendak merangsek masuk ke dalam ruang IGD.


"Maaf Mas, tidak boleh masuk dokter sedang berusaha," cegah seorang suster.


"Usahakan yang terbaik Sus, tolong...!"


"Iya Mas, sabar tolong jangan ganggu dokter kami sedang berusaha."


Bambang mengalihkan pandangannya kepada Irin yang tertidur di deretan bangku tunggu rumah sakit. Pikirannya melayang memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Suara mesin monitor dari dalam ruangan masih saja terdengar, mengisyaratkan bahwa dokter kepayahan berusaha.


Sesaat kemudian bunyi itu berhenti dan dokter keluar dari ruang IGD dan tanpa menunggu aba-aba Bambang langsung menghampiri sang dokter.


"Bagaimana, Dok?"


"Maaf, kami telah berusaha semampu kami, pasien Bu Ijah meninggal karena serangan jantung, waktu kematiannya 20.35 , kami mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya."


Mendengar hal itu Bambang merasa sangat terpukul, sangat tidak adil rasanya bagi Irin harus mengalami kehilangan lagi.


"Innalillahiwainnailaihirojiun ... !"


Bambang masuk dan melihat tubuh bi ijah yang telah berhenti bernafas, seolah tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Suster masih sibuk melepas berbagai alat yang sebelumnya terpasang di tubuh bi Ijah.


Bambang melepaskan tangisnya, dia harus melegakan hatinya dulu sebelum mengatasi apa yang akan terjadi pada Irin. Bambang menyadari tanggung jawabnya tidak akan mudah, mengingat Bi Ijah adalah orang terakhir yang Irin miliki.

__ADS_1


"Tiiidaaaaak....!!!!" tiba-tiba Irin datang dengan berteriak...


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2