Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Kamu Menerimanya?


__ADS_3

Setelah tadi pagi aku sarapan disuapi oleh Devan. Sesuai janjinya dia mengajakku jalan-jalan. menjajah souvernir Bali yang sangat digemari itu. Seharian kami hanya berbelanja dan Devan tak pernah melepaskan tautan tangan kami. Ketika aku bertanya, apakah kita harus membeli ini? Apakah ini cocok untuk Mama, atau ini cocok untuk Dinda? Dia hanya mengiayakan pertanyaanku kemudian mengacak rambutku. Entah kenapa dengannya. Akan tetapi, selepas dari itu, Devan sangat perhatian padaku. Devan selalu mengingatkanku untuk makan jika aku tidak mengingat jika perut rataku ini belum terisi.


Devan selalu menemani di mana pun aku ingin pergi. Dia seperti supir pribadiku saja. Ketika aku marah dia tak akan pernah balas marah dia hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku pelan.


"Kamu mau makan siang apa, Sayang?" tanyanya tiba-tiba. Hari ini kami baru saja berbelanja. Entah kenapa aku sangat senang mendengar pertanyaannya.


"Em, terserah kamu di mana, asal jangan seefood ya, aku sangat tidak menyukainya," jawabku jujur. Aku sangat benci makanan dari laut itu. Entah apa sebabnya intinya aku tidak suka. Apa lagi ikan, oh aku tidak akan memakannya jika tersisa makhluk itu saja untuk dimakan. Aku tidak suka dengan baunya yang amis. Jika di restoran ada yang pesan menu demikian aku akan menyuruh asistenku untuk menanganinya.


Pernah sewaktu aku kuliah dulu. Temanku tidak memberi tahu jika makanan yang kami pesan ada ikannya. Langsung saja aku muntahkan semua isi perutku. Sampai-sampai aku dilarikan ke rumah sakit karena tak berhenti muntah. Dua hari lamanya aku dirawat di rumah sakit,dan itu hanya karena makhluk yang bernama ikan tersebut. Jadi, Mama tidak pernah memasak ikan lagi, karena takut aku memakannya.


"Baiklah, ayo kita pergi," imbuhnya sembari menarik tanganku lembut. Senyuman Devan yang menenangkan membuat bbibiku tak tahan untuk mengulas senyum.


Apakah sikap Devan akan seperti ini selamanya? Apakah dia akan tetap bersamaku atau tidak? Aku tahu ini hanya perjodohan pasti jika dia ada kesempatan dia akan meninggalkan ku. Entahlah aku tak ingin terlalu memikirkannya.


Devan memilih restoran yang juga terkenal di Bali yang berlokasi di Nusa dua yakni Tamarind Kitchen & Lounge restoran ini berlokasi di tepi pantai yang indah, bangunan yang terbuat dari struktur dan anyaman bambu siap memanjakan mata para pengunjungnya. Restoran ini salah satu restoran terkenal di pulau Dewata Bali


Begitu kami memasuki restoran yang elegan ini, kami dibuat terpukau oleh setiap detail arsitektur bambu yang menghiasi setiap sudutnya. Desain yang penuh cita rasa dan penataan ruang utama, lounge dan meja makan yang begitu apic di restoran berlantai dua ini membuat kita seolah-olah di undang bersantap di restoran ini dengan ditemani oleh hembusan angin pantai.


Selain panoramanya yang indah kami juga disuguhkan oleh makanan-makanan enak. Makanan yang disuguhkan adalah makanan berkelas dengan menu internasional yang menggugah selera dan sehat tentunya. Aku sangat senang karena Devan mengajakku ke tempat yang indah seperti ini.

__ADS_1


Aku memesan menu Crispy Temptation harganya tuh murah banget. Ah, jika aku liburan ke sini lagi tempat ini adalah tujuan pertamaku. Sedangkan Devan dia memesan Seafood and coconut veloute sebagai minumannya kami memesan Jus Jeruk. yang harganya tak kalah terjangkau. Sumpah, harga makanannya tuh murah-murah, tapi modelnya gak kalah sama makanan yang ada di restoran bintang lima. Gila, sumpah nih keren banget. Aku harus lebih berkreasi lagi di restoranku agar bisa lebih terkenal dari restoran ini. Tekatku dalam hati dengan penuh rasa senang.


Kami memilih duduk di meja yang terletak di rooftop yang menyuguhkan pemandangan samudera Hindia. Angin sepoi-sepoi berembus begitu sejuk dan gemulai.


Setelah memesan makanan yang ingin kami santap siang ini, kami menikmati indahnya pemandangan samudera Hindia. Oh, iya, makanan di sini sudah tersedia yang halal jadi kami tidak kesusahan lagi mencari makanan halal benar-benar komplit.


Akhirnya makanan dan minuman yang kami pesan pun sampai. Dengan rasa yang sangat senang aku menyantap makananku dengan lahap. Ah, nikmatnya. Ya, aku sangat suka makan, tapi aku tidak pernah gendut mungkin karena faktor keturunan jadi biarpun aku makan banyak aku akan tetap kurus.


"Enak ya, makanannya," tuturku membuka percakapan. Devan menatapku sekilas kemudian melempar senyum hangat.


"Iya, apa lagi ada kamu, makanannya tambah enak," imbuh Devan sembari berkedip. Aku hanya memutar bola mata jengah walau kuakui. Aku senang diperlakukan seperti ini olehnya.


Devan menghentikan acara makannya kemudian fokus menatapku. Aku pun demikian. Aku memperbaiki posisi dudukku kemudian menatapnya lekat-lekat.


"Ceritain tentang Laras, kenapa kalian bisa dijodohkan?" tanyaku serius. Seakan aku tak mengetahui apa pun, padahal aku sudah mencari tahu semua tentang wanita itu sebelum bertanya kepadanya.


Devan tampak menghela napas lelah kemudian kembali fokus menatapku.


"Kamu tahu, dia adalah salah satu klienku dan aku juga seorang arsitek hal itu mungkin yang membuatnya ingin bekerjasama dengan perusahaanku membangun berbagai ruko ataupun destinasi wisata di Bali. Nah, setelah itu dia suka sekali datang ke kantor cabang, karena banyak proyek yang harus kutangani jadi aku banyak menghabiskan beberapa tahun di bali mungkin sekitar 4 tahun lamanya aku di Bali hingga semua pembangunan di sana selesai. Waktu itu tahun 2018 masih empat tahun yang lalu, dan mungkin Mama mengetahuinya. Beliau sudah sangat ingin melihatku menikah beliau takut aku lama mendapat jodoh seperti Kak Axel. Itulah mungkin sebabnya beliau menjodohkanku dengan Laras," jelas Devan sembari fokus menatapku menunggu bagaimana reaksiku mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu terima perjodohan itu?" tanyaku kepo walaupun aku sudah tahu apa jawabannya.


"Iya, demi Mama. Aku hanya ingin berkenalan dulu dengannya tidak langsung menikah. Karena aku tak ingin menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Walaupun, aku mencoba tetap saja, Laras tak bisa mengetuk pintu hati ini, sikapnya yang baik, tutur sapanya yang lembut tak membuat hatiku tergerak untuk membiarkannya bertahtah di hatiku. Rasanya sangat sulit," jawab Devan jujur. Kenapa aku mengatakan dia jujur, karena di matanya yang jernih tak menampakkan bahwa ia sedang berbohong.


"Tapi, kamu sudah pelukan 'kan sama dia?" tudingku telat. Air muka Devan langsung saja berubah. Tuh, 'kan. Jangan-jangan mereka juga pernah ciuman. Pikirku gedeg sendiri. Bete rasanya mengetahui suami sendiri pernah berpelukan dengan wanita lain.


"Peluk iya, tapi kalau berciuman seperti yang kamu pikirkan itu belum pernah, ciuman pertamaku aku berikan padamu," jawabnya kembali jujur. Pipiku rasanya memanas mendengar penuturan Devan yang gamblang. Apa dia tidak punya rasa malu? Untung saja para pengunjung tak mendengarnya.


"Ya, ya, aku percaya, tapi kayaknya dia masih tertarik deh sama kamu An, gimana kalau kamu balikan aja sama dia," usulku. He, aku berpikir sendiri kenapa aku menyuruh suamiku kembali kepada mantannya padahal aku sakit hati kalau dia berdekatan dengan wanita lain. Aku berpikir keras kenapa aku mengatakannya.


Tok!


"Awh!" ringisku karena Devan malah mengetok kepalaku cukup keras yang membuatku tersadar dari lamunan.


"Bukannya aku tadi udah bilang, Sayang. Aku gak bisa. Hati aku udah terpenjara oleh satu wanita yang sedang duduk di depanku sekarang ini," ujarnya sembari mengusap jidat ini yang habis dia ketok. Baru saja aku ingin marah, tapi mendengar kata-kata manisnya rasa marah itu langsung menghilang begitu saja.


"Ehem, iya deh, tapi awas ya kalau aku dapetin tuh cewek mepetin kamu, bakal kuhapus make-up tebalnya di depan umum," tuturku sedikit mengancamnya.


"Ha ha, terserah kamu, Sayang. Ya, udah, kita lanjut makan lagi," balasnya terkekeh kecil. Aku hanya tersenyum menanggapi kekehannya lebih nikmat jika menikmati setiap moment bersamanya. Agar nantinya jika ia tak ada lagi di sisi diri ini, moment seperti ini akan menjadi obat terampuh.

__ADS_1


__ADS_2