Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Mau Anda Apa?


__ADS_3

Saat ini, aku dan Devan masih dalam posisi berpelukan. Jujur kami memang sangat kelelahan, apa lagi setelah liburan ini kami akan sibuk dengan pengerjaan masing-masing.


Sampai suara ponselku memecah keheningan, aku hanya melirik ponselku yang berdering tanpa ada niatan untuk mengangkatnya. Aku hanya memperbaiki posisiku di pelukan Devan, sedangkan pria itu yang tersenyum melihatku. Ku lihat Devan mengambil ponselku dan mengangkatnya, terdengar suara Mama mertuaku ketika Devan mengangkat panggilan tersebut. 


[Assalamu'alaikum, Sayang. Gimana kabar kalian? Udah sampai di Jakarta?]


"Waalaikumsalam, udah, Ma. Kabar kami baik, iya baru aja kita sampai, Ma. Kabar Mama sama Papa gimana?" 


[Syukur deh, Mama seneng dengernya. Allhamdulilah, kabar kami baik. Papa kamu masih di kantor. Kalau gitu, Mama matiin ya karena Mama ada kerjaan.]


[Assalamu'alaikum.]


"Iya, Ma. Waalaikumsalam."


Aku melirik Devan yang sedang meletakkan ponselku kembali ke atas meja.


"Mama nanyain aku, ya?" tanya Elza saat Devan selesai menelpon.


"Iya, dia menanyakan kita lebih tepatnya," jawab Devan sembari mengusap kepalaku lembut.


Tak berapa lama ponsel Devan kembali bergetar pertanda ada yang menelpon dia mengangkatnya ternyata itu dari perusahaan dan ada problem yang terjadi yang hanya bisa ditangani olehnya. Devan mematikan sambungan telepon kemudian menatapku dengan perasaan rumit. Aku tahu dia pasti berat untuk meninggalkanku.


"Pergilah, aku tak apa. Pekerjaanmu lebih penting lagi pula kamu akan kembali lagi," tutur Elza sembari membuka mata sayunya.


"Em, baiklah. Maaf ya Sayang belum bisa menemanimu bersantai," ujar Devan sembari mencium keningku lama. Setelahnya Devan bergegas mengambil kunci mobilnya dan mulai beranjak pergi. Aku hanya menatap Devan sebelum beranjak pergi memasuki kamarku.


Sejujurnya aku sangat khwatir dengan Devan, karena baru saja sejam yang lalu kami tiba di Jakarta. Devan sudah pergi lagi untuk bekerja.


Sementara itu, di perusahaan Devan—Dexel Group—Laras datang dan ia ingin bertemu langsung dengan Devan wanita itu tak ingin pergi jika belum bertemu dengannya. Devan memijat pelipisnya karena merasa emosi hanya karena ini ia di telepon dan mengganggu acara bersantainya dengan sang istri.


"Mau Anda apa sebenarnya?" tanya Devan to the point. Tidak ada keramahan yang ia berikan.


"Aku hanya ingin membahas tentang pembangunan resortku yang ada di Bali, apa itu salah?" Bukan menjawab Laras malah balik bertanya yang membuat Devan makin geram. Namun, ia tahan karena orang yang berbicara dengannya adalah seorang wanita.


"Bukannya saya sudah katakan semuanya telah saya serahkan kepada asisten saya. Dia yang akan menangani pembangunan resort Anda di Bali," jawab Devan datar. Jujur dia paling tidak suka dengan hal seperti ini.


"Aku maunya kamu yang menanganinya," ujar Laras sembari mulai mendekati Devan.

__ADS_1


"Berhenti di sana!" peringat Devan dengan suara yang tidak bersahabat.


"Maaf Nona, kita hanyalah masa lalu semata apa Anda tidak melihat cincin di jari manis saya? Saya sudah berbaik hati karena masih ingin meladeni Anda, tapi sepertinya Anda tak ingin diajak bekerjasama, kalau begitu silahkan keluar sekarang!" pinta Devan tidak sabaran. Laras dibuat terdiam mendengar perkataan Devan. Namun, dia menetralkan ekpresinya dengan cepat.


Tanpa mengatakan sepatah kata lagi Laras meninggalkan kantor Devan. Devan yang melihat Laras telah pergi akhirnya dapat bernapas legah.


***


Di sini aku sekarang, mengerjakan berbagai laporan yang belum terselesaikan kepalaku pening rasanya jika mengingat kejadian tadi siang.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba ada yang mengetuk ruanganku dan ternyata itu adalah Riko–asisten pribadiku.


"Dev, lo belum mau balik?" tanyanya sembari bersandar di daun pintu.


"Bentaran Rik, masih ada yang harus gue selesaiin," jawabku tanpa melihatnya. Kudengar derap langkah Riko mendekat.


"Lo gak kangen apa sama yang di rumah? Takutnya dia nungguin lo lagi," ujar Riko pelan yang masih mampu kudengar.


Asatagafirullah, aku lupa jika ada bidadari cantik yang sedang menanti kepulanganku dan sekarang sudah pukul sembilan lebih sepuluh menit. Apakah dia sudah makan? Aku lupa, Elza mempunyai riwayat maag—aku harap Elza tidak melupakan jam makan siangnya.


"Hati-hati ya Bro, selamat malam pertama," teriak Riko yang masih dapat kudengar.


"Sialan, lo!"


Aku masih sempat mendegar suara kekehan Ricko yang sedang mengejekku.


Aku mengendarai mobil ini dengan kecepatan sedang. Kuharap dia belum tertidur dan dia juga sudah makan.


Butuh dua puluh menit lamanya agar aku sampai di rumah istriku. Lampu utama di kamar kami telah dimatikan, hanya tersisa cahaya redup dari lampu tidur yang pasti dinyalakan oleh istriku. Karena, dia fhobia akan kegelapan, aku tahu pasti dia telah tertidur karena kelelahan habis liburan di Bali selama seminggu.


Aku membuka pintu rumah dan hanya ada beberapa pelayan yang masih tergaja mereka menyambutku dengan senyuman hangat.


"Bi, Elza udah tidur?" tanyaku pada pelayan yang masih terjaga.


"Sudah Pak, tapi Non Elza belum makan malam beliau menunggu Anda, tapi mungkin karena Anda lama beliau memilih tidur," jawab Bi Ijah yang membuatku sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Makasih, Bi," tukasku. Kemudian menaiki lantai dua di mana kamar kami berada.


Ceklek! Suara kenop pintu saat aku memutar hansel-nya. Kamar itu sedikit gelap hanya ada lampu kamar yang memberikan sinarnya untuk ruangan itu. Di tengah tempat tidur Elza tertidur, tapi tiba-tiba dia terbangun mungkin dia terusik saat aku duduk di pinggiran kasur king size yang ia tiduri sekarang ini.


"Sayang, udah pulang?" tanyanya yang membuatku sedikit terkejut karena ini kali pertama Elza memanggilku dengan sebutan sayang.


"Iya, maaf telah mengganggu tidurmu," jawabku penuh sesal.


Kulirik dia sekilas, Elza beranjak dari peraduannya aku dibuat terkejut lagi pasalnya Elza menggunakan baju yang berbahan tipis hingga mempertontonkan pahanya yang mulus. Dia menghampiriku kemudian membantu membuka dasi yang masih melekat di leherku. Aku hanya menatapnya saja pencahayaan yang temaran membuatku tak melihat wajahnya dengan sempurna.


Aku berusaha agar dapat mengontrol gairah ingin memilikinya yang tiba-tiba muncul. Elza yang berpakaian terbuka seperti itu tentu saja memancing sesuatu di bawah sana. Aku berusaha menetralkan detak jantungku. Akan tetapi, sepertinya diri ini tak bisa diajak kompromi. Haruskah aku melakukannya? Tapi, aku takut dia akan kesakitan dan membenciku. Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Za," panggilku sembari mmatku masi menatapnya intens yang sedang menaruh sepatuku pada tempatnya.


"Ya?" jawabnya sembari menghampiriku dan sialnya dia langsung terduduk di pahaku sembari mengalungkan tangannya di leherku.


"Za, jangan salahin aku kalau gak bisa ngontrol diri, aku ini pria normal. Apa kamu tidak takut?" tanyaku dengan kabut nafsu yang mulai mendominasi. Namun, aku coba mempertahankan kesadaranku yang tersisa. Kulihat dia mengangguk malu sembari menundukkan pandangannya.


"Baca doa dulu," pintanya tiba-tiba saat aku ingin mencium bibirnya.


Oh, iya aku lupa. Jika kita ingin berhubungan suami-istri, kita seharusnya  membaca doa tepat di ubun-ubunnya.


"Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana." Aku membacakan doa itu tepat di kepalanya. Kulihat Elza menutup kelopak matanya tanpa ada niatan untuk membuka mungkin dia malu. Aku hanya terkekeh kecil yang membuatnya membuka mata sembari menatapku heran. Aku langsung saja mengecup kedua bola matanya dan mengucapkan kata terima kasih.


Saat aku mulai mencium bibirnya dari ******* lembut ke ciuman yang bergairah dan menuntut. Elza tentu saja membalasnya yang membuatku senang bukan main. Lidah kami saling tertaut berbagai saliva tanpa ada rasa jijik. Aku mengesplor bibir Elza yang terasa sangat manis lalu ciuman ku beralih ke leher jenjangnya yang membuat dia melenguh.


"Ahh ...," desahnya yang membuat aku makin genjar untuk mencubunya. Elza telah kutidurkan di kasur king size kami dengan dia berada dalam kurunganku. Baju kami masih sama-sama utuh belum terbuka hanya baju Elza sedikit berantakan karena ulahku yang mulai berambat ke dadanya. Namun, saat aku ingin melakukan hal lebih suara seperti perut kelaparan terdengar.


Elza memegang perutnya dan menunduk malu. Aku hampir saja tertawa terbahak-bahak. Namun, kutahan aku lupa jika istri cantikku ini ternyata belum makan malam.


"Ayo, kita makan malam kamu pasti lapar nanti saja kita lanjutkan," bisikku lembut tepat di daun telinganya yang membuat pipinya bersemu merah.


"Malam pertamanya dicansel dulu ya, Sayang. Laper banget," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca mungkin efek mengantuk.


Aku yang mendengarnya terkekeh pelan kemudian mengangguk sebagai tanda persetujuan. Aku bukan pria bejat yang hanya akan memperoleh keuntungan dari istriku saja. Aku sangat mencintainya. oleh karena itu, aku harus menjaganya.


Aku merapikan pakaian Elza kemudian menggedongnya ala bridal style karena dia malas berjalan. Aku hanya tersenyum ke arahnya yang terpenting adalah kebahagiaan Elza karena itu janjiku ketika menikahinya.

__ADS_1


*Maaf, jika sedikit mengandung unsur dewasa, mohon bijak membaca ya readers tersayang. Terima kasih.


__ADS_2