
Waktu berlalu sangat cepat, sekarang tepat pukul tiga sore waktu setempat yang menandakan sebentar lagi malam akan menyapa bumi dan mengantarkan mentari kembali ke peraduannya.
Bulu mata yang lebat itu bergetar ringan saat kelopaknya berkedip dan memunculkan mata indah berwarna coklat terang, wanita itu Elzania Saputri Wijaya tampak mengumpulkan kesadarannya karena dia baru saja terbangun dari tidur lelap. Namun, saat dia ingin bangun dari tidurnya di bagian perut terasa begitu berat, netranya bergulir kebawah dan menangkap seluet tangan lembut seorang pria.
Elza yang menyadari bahwa ada seseorang yang menemaninya tidur bahkan memeluknya terdiam sejenak, dia menyadari bahwa tangan itu bukan milik Aron melainkan milik Devan—sepupunya yang baru saja tiba dari Indonesia.
Perlahan Elza menyingkirkan tangan Devan dari perutnya, saat akan memindahkan, tangan itu kembali memeluknya erat yang membuat tubuh Elza menegang.
"Ya ampun Dek, Kakak nih mau salat Ashar, kamu gak mau salat?" Elza tampak frustasi dengan kelakuan sepupunya yang sangat posesif kepadanya.
"Em ... tunggu Devan mau berwudhu dulu, Devan yang jadi imam Kakak ya," ucap Devan dengan nada serak khas orang yang baru bangun tidur.
Elza menggeleng tanpa daya kemudian ia bangkit terlebih dahulu dan masuk ke dalam kamar mandi. Syukurnya, Aron telah membelikan Elza mukena baru karena Aron begitu menghormatinya sebagai muslimah.
"Mau salat Ashar di mana? Masjid apa di sini saja?" tanya Devan kepada sang istri.
"Kalau Mama sama Ayah salat di mana?" tanya Elza penasaran karena dirinya ingin salat berjamaah dengan orang tuanya.
"Ayah sama Mama mau salat di Masjid Darussalam yang lokasinya ada di down town, hanya butuh waktu 20-30 menit jika kita menempuhnya dengan berjalan kaki, tapi kata orang tua Aron di sana rawan akan pemalakan apa lagi di waktu Subuh dan petang, kamu mau salat di mana?"
"Baiklah, kita salat di masjid saja bareng Mama sama Ayah," jawab Elza yang sudah bersiap.
"Kalau begitu ayo," ajak Devan kepada sang istri yang telah siap dengan pakaian syar'i-nya. Elza yang awalnya memiliki rambut yang tergerai sekarang dibungkus oleh jilbab berwarna putih tulang yang memang sudah dibawakan oleh sang Mama.
Begitu pula dengan Devan ia tampak lebih tampan dan fresh menggunakan baju koko yang senada dengan pakaian Elza.
Elza sepertinya melupakan bahwa calon suaminya masih ada di rumah itu tapi dia tak mengajaknya untuk pergi salat dan Devan yang mengetahui jika Aron adalah seorang ateis juga tak mengingatkan karena Aron belum masuk Islam seutuhnya, pria itu pun tak ada niatan untuk mempelajari tentang Islam, Devan sempat berpikir dirinya harus membuat pria itu mencintai Islam setelah dia menyelesaikan kredit dengannya.
Di ruang tamu, kepala keluarga Kris Keysha yang melihat keluarga itu akan melaksanakan salat Ashar tampak tersenyum dan memberikan fasilitas mobil untuk digunakan.
__ADS_1
"Bawalah mobil ini, sekaligus kalian jalan-jalan di negeri kami," ucap Kris Keysha memberikan sebuah kunci mobil Porsche.
Sementara Aron, tak berada di tempat ia sedang berada di perusahaannya mengurus beberapa masalah yang memang harus ia tangani.
"Baiklah terima kasih, kami pergi dulu takut sedikit telat."
Mereka berterima kasih kepada Kris Keysha atas kemurahan hatinya, mereka meninggalkan kediaman Kris Keysha menggunakan mobil Porsche yang dipinjam oleh Kris Keysha, Devan yang saat ini menyentir mobil tampak sangat gagah karena menggunakan baju koko yang berwarna putih tulang sehingga aura kegagahannya sangat terpancar.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di masjid Darussalam San Francisco tak banyak orang yang datang untuk melaksanakan salat Ashar. Namun, tak kurang juga yang hadir, keluarga besar itu memasuki masjid Darussalam yang sebentar lagi akan dilaksanakan salat Ashar.
Sementara itu, di lain sisi Aron sedang termenung di ruang kerjanya masih memikirkan perkataan Devan apakah dia hanya terobsesi dengan Elza karena masih sangat mencintai mendiang istrinya?
"Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya lemah, di lain sisi putranya Dimitri begitu menyayangi Elza dirinya takut Dimitri nantinya tak akan menerima jika Elza akan pergi meninggalkannya.
Aron berpikir sangat keras untuk memutuskan langkah apa yang harus ia ambil karena diirinya tahu, Devan tak akan pernah main-main dengan apa yang ia katakan. Apa lagi sampai membawa hal ini ke rana hukum maka nantinya perusahaannya yang akan jadi taruhan beserta dengan karyawannya.
Tok! tok! tok!
"What's up Bro, adik tersayangmu ini come back." Suara cemprengnya terdengar yang membuat Aron memutar bola mata jengah melihat aksi adik sepupunya itu.
"Diamlah Nic, kau sangat berisik apa mau kau aku kirim lagi ke Afrika biar kau tak akan bertemu dengan para kekasihmu itu," sindir Aron dengan ekspresi datar.
Nic yang mendengar hal itu langsung saja merinding, baru saja ia kembali menyelesaikan berbagai pekerjaan kenapa ia harus pergi lagi.
"He he, santai Kak. Oh, iya suami calon Kakak iparku sudah datang, ya? Hm, aku sangat penasaran dengan rupanya." Nic berucap dengan gaya sok cool sembari mencuri pandang dari sang Kakak yang hanya terdiam.
"Ehem, aku pikir Kakak harus melepaskan calon Kakak ipar karena sejak awal tindakan Kakak memang sudah salah, Kakak tahu itu sangat kejam mencuri istri orang la ... in." Intonasi suara Nic langsung melemah saat mendapatkan tatapan mematikan dari sang Kakak.
"Tapi, Kak itulah kenyataannya sekarang suaminya telah datang pasti dia punya bukti kuat untuk menyeret Kakak ke pengadilan," lanjutnya lagi sembari menelisik ekspresi sang Kakak.
__ADS_1
"Elza masih lupa ingatan, tentu saja dia tidak berani memberikan guncangan kepada istrinya dengan memberikannya informasi yang begitu tiba-tiba," tutur Aron pelan yang membuat Nic terdiam sesaat.
"Lalu, apakah Kakak berpikir dia akan membiarkan Kakak menikahi istrinya di depan matanya? Aku pikir itu tidak, dia tak akan tinggal diam."
Aron terdiam mendengar pernyataan dari sang adik. Ia hanya bungkam mendengar nya masih tetap memikirkan jalan keluar apa yang harus ia ambil.
"Jika Kakak mengkhawatirkan Dimitri, Kakak tenang saja karena Dimitri adalah anak yang cerdas dan cepat mengetahui situasimu sekarang ini."
"Em, sepertinya aku harus pergi Kak, aku sudah kangen dengan keponakan hebatku itu."
Setelah mengatakan hal demikian Nic langsung meninggalkan ruangan Aron yang kembali sunyi dan hampa hanya ada Aron dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.
Aron kemudian melanjutkan mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda karena banyak hal yang i pikirkan, Aron berusaha untuk kembali bersikap profesional mencoba tidak menyatukan masalah pribadi dan pekerjaannya.
Saat ini, Devan dan keluarganya selesai melaksanakan salat Ashar, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah besar Kris Keysha untuk segera menyelesaikan masalah ini.
"Kak, Devan boleh genggam tangannya?" Devan bertanya pelan sembari menunduk takut. Perasaan tidak nyaman itu masih melekat di hatinya, bagaimana dia harus meminta izin agar bisa menggengam tangan sang istri padahal mereka sudah sah.
Elza yang melihat ekspresi tak berdaya sepupunya langsung saja mengiyakan permintaan tersebut toh hanya bergenggaman tangan. Entah kenapa saat melakukan ini dirinya tidak merasa mengkhianati Aron, Elza hanya mampu menggeleng dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka adalah keluarga.
"Baiklah, ini," ucapnya pada akhirnya mengizinkan sembari tersenyum hangat ke arah sepupunya itu.
Kedua orang tua Elza yang menyaksikan hal itu di belakang mereka hanya mempu menggeleng tanpa daya sembari tersenyum kecil.
"Ma, Ayah harap Elza dan Devan cepat kembali bersatu," ucap Ayah Elza pelan.
"Iya, Yah. Mama harap juga seperti itu dan semuanya akan kembali seperti semula," balas Mama Elza sembari tersenyum lembut.
Keduanya mengikuti sang putri dan menantu untuk kembali ke rumah Kris Keysha karena hari juga semakin sore.
__ADS_1
"Jangan berpikir untuk merebutnya dariku."