
Zia terbaring lemas diatas kasur rumah sakit setelah shaka membawa zia karena pinsan saat dirumah tadi, untungnya cia dibawa oleh orang tua shaka jadi tidak terlalu khawatir dengannya. Kini shaka sedang berbicara dengan dokter siska, dokter yang memeriksa zia waktu itu kini sedang berbicata serius dengan shaka.
Shaka awalnya bingung saat dokter siska bisa mengenal zia, dan akhirnya pun dokter siska menjelaskan semuanya kepada shaka. "Jadi apa yang mau dokter bicarain?" tanya shaka.
Dokter siska menghela nafas kasar, "Begini shaka, beberapa hari kemarin zia datang menemui saya untuk mengecek kesehatanya karena sering mengalami pusing dikepalanya. Akhirnya saya memeriksa zia dan hasilnya sudah ada didalam amplop ini" jelas dokter siska.
"Apa? Tapi zia tidak memberitahu saya kalau dia akan diperiksa. Jadi zia baik baik saja kan dok? Apa ada penyakit yang serius dari zia?" tanya shaka.
"Zia kanker otak"
Deg!
Tiga kata yang membuat tubuh shaka menegang dan lemas seketika. Kanker otak? Tidak tidak zia tidak mungkin kanker otak ini mustahil pikir shaka.
"Dokter seriuskan? Zia kanker o-otak dok?" tanya shaka lirih.
Dokter siska hanya meganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Seketika air mata shaka luruh mendengar fakta kalau zia memiliki penyakit kanker otak.
"Apa bisa disembuhkan dok?"
"Kemungkinan kecil shaka, kanker otak yang zia alami sudah masuk ke stadium 3 itu sudah masuk cukup parah shaka" jawab dokter siska.
"Gak mungkin dok, pasti bisa kan nyembuhin zia"
"Kita akan usahakan semaksimal munglin untuk menyembuhkan zia shaka, kamu tenanglah zia butuh kamu dan berdoa" ujar dokter siska.
"Makasih dok, kalo begitu saya keruangan zia dulu" pamit shaka langsung meninggalkan ruangan dokter siska.
"Semoga kamu kuat zia" gumam siska.
Ceklek..
Pintu kamar rawat zia terbuka muncullah shaka dengan menatap zia sendu yang masih menutup mata terbaring disana dengan wajah yang sangat pucat. Air mata shaka terus saja mengalir setelah tau fakta yang mengejutkan dirinya.
"Zi-zia" lirih shaka.
Shaka menggenggam sebelah tangan zia yang tidak memakai infus dan menciumnya. "Kamu harus kuat sayang demi aku dan cia" ujar shaka.
Eungghh...
Zia mengerjapkan kedua matanya, mata zia menangkap shaka yang menggenggam tangannya sambil menelengkupkan kepalanya diatas tangan zia. "Mas shaka" lirih zia.
Shaka langsung mengangkat kepalanya kala mendengar suara lemah zia memanggilmya. "Zia kamu udah sadar? Apa ada yang sakit? Atau butuh sesuatu hmm?" tanya shaka beruntun.
"Aku mau minum mas"
"Bentar aku ambilin" ujar shaka sambil mengambil gelas yang tersedia disana.
"Makasih" ujar zia setelah mengembalikan gelasnya.
"Apa ada yang sakit?" tanya shaka lagi.
__ADS_1
"Gak ada kok mas, kenapa aku dirumah sakit mas?"
"Kamu tadi pinsan zia, aku khawatir jadinya aku bawa kamu kerumah sakit" jelas shaka.
"hmm kalo cia kemana?"
"cia bareng ayah bunda aku zi, kamu tenang aja ya" balas shaka.
Zia teringat sesuatu kalau hari ini dia akan menemui dokter siska untuk menanyakan perihal cek kesehatannya. Zia pun menoleh kearah shaka yang sedang sibuk dengan ponselnya, mungkin shaka sedang sibuk soal pekerjaannya.
"Mas?"
"Hmm kenapa zi?" tanya shaka langsung menyimpan ponselnya.
"Aku mau nemuin dokter siska boleh? Aku minta maaf gak ngasih tau kamu dahulu mas, kalo aku udah cek kesehatan dengan dokter siska" jelas zia.
"Aku udah tau zi, tadi dokter siska sendiri yang nanganin kamu disini dan--" shaka menggantungkan ucapannya.
"Dan apa mas?"
"Dan ngasih tau aku soal hasil cek kesehatan kamu" balas shaka.
"Jadi aku sakit apa mas? Gak parah? Atau aku baik baik aja"
Shaka bingung harus menjawab apa sekarang, takut kalau zia tau kalau dia punya penyakit kanker otak shaka takut zia akan drop.
"Kamu mengidap penyakit kanker otak" lirih shaka pelan.
Shaka mengangguk dengan lemah dan langsung menatap zia yang menatap lurus dengan pandangan kosong. "Zia hey kamu kenapa? Semua akan baik baik aja, kamu harus kuat ya" ujar shaka berusaha untuk menenangkan zia.
"Aku sakit parah ya mas?"
"Aku penyakitan mas sekarang"
"Apa aku gak akan lama lagi mas"
Racauan zia sambil air matanya terus mengalir membuat hati shaka ikut merasa sakit mendengar racauan zia.
"Gak zia, semua akan baik baik aja kamu pasti sembuh ko" ujar shaka.
"Aku mau sendiri dulu, mas bisa keluar kan?" ujar zia.
"Aku mohon mas aku pengen sendiri sekarang" balas zia saat shaka ingin menolaknya.
"Baiklah, kamu istirahat ya. Aku mau ambil bubur dulu"
Setelah kepergian shaka, tangisan zia semakin menjadi sambil memeluk tubuhnya sendiri diatas kasur rumah sakit. Zia terus menangis menumpahkan semuanya saat fakta mengatakan kalau dia mengidap kanker otak.
Kanker otak?
Hahaha zia tertawa miris dengan kehidupannya saat ini. Dia mempunyai penyakit yang cukup parah, dan kemungkinan dia tidak selamat.
__ADS_1
Zia harus bisa sembuh harus! Tapi kemungkinan kecil gagal. Zia harus meninggalkan shaka suaminya dan cia anaknya yang masih perlu sosok seorang ibu saat ini.
"Apa aku bisa sembuh?" tanya zia kepada diri sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gimana rey apa bisa dia bertemu sekarang?" tanya ardan.
"Kayanya tidak bisa om, karna shaka bilang kalo zia sedang dirawat dirumah sakit" jawab rey.
Ya mereka berdua sedang mengobrol dikantor milik ardan. Niatnya hari ini ardan ingin menemui zia tetapi gagal karena ada halangan dikarenakan zia sakit.
"Bisa kasih tau om dimana rumah sakitnya?"
"Bisa om, nanti shaka kirim keponsel om"
"Terima kasih rey, kau boleh kembali kekantormu sekarang"
"Sama sama om kaya sama siapa aja, kalo gitu rey pamit dulu soalnya ada pertemuan nanti"
"Iya hati hati"
Ardan sedang menunggu pesan dari rey yang mengatakan dimana ketak rumah sakit zia berada. Tak lama rey mengirimkan lokasinya, ardan pun bergegas untuk langsung pergi kerumah sakit dimana zia dirawat.
"Kosongkan jadwal saya hari ini" ujarnya pada sekretaris.
"Baik pak"
Ardan pun pergi menuju parkiran dimana mobil dan supirnya yang sudah siap disana.
"Kerumah sakit kasih bunda sekarang"
"Baik pak"
Mobil yang dikendarai ardan melaju menuju rumah sakit. Ardan menatap keluar jendela sambil melihat jalanan diluar sana yang tidak terlalu padat.
Ardan pun tiba dirumah sakit dan bergegas keluar untuk pergi mencari ruangan zia dirawat. "Kamar atas nama kezia anastaysa dimana?" tanya ardan kepada suster.
"Dikamar vip tuan"
Setelah mengetahui letak kamarnya dimana ardan berjalan dnegan gagah menuju kamar rawat zia.
Tok...tok...
"Masuk"
Suara milik zia terdengar dari dalam membuat ardan langsung membuka pintunya. "Boleh saya masuk?" tanya ardan.
"Boleh, silahkan" jawab zia sedikit gugup.
"Kenalkan nama om ardan, papa nya tasya"
__ADS_1