Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Ingin memilikinya


__ADS_3

Rasa sakit pada bagian kepala begitu menyiksa. Rasanya mataku enggan 'tuk terbuka demi menyapa dunia. Namun, aku masih memaksa untuk membuka mata, perlahan bias cahaya menerobos yang membuat netraku harus menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah sudah dapat menyesuaikan dengan cahaya, pandanganku mengarah ke seluruh isi ruangan yang bernuangsa putih campur abu-abu yang tampak sangat asing.


"Di mana aku? Apakah Devan telah menyelamatkanku? Tapi, ruangan ini sangat asing, jelas ini bukan di rumah." Aku berucap perlahan sembari masih memindai seisi kamar yang dominan warna putih dan abu-abu.


"Shh." Aku meringis ketika ingin bergerak lebih ternyata ada perban yang terpasang di kening membalut luka yang masih basah.


Aku bertanya-tanya. Jika, bukan Devan lalu siapa yang menyelamatkanku? Tapi, allhamdulilah ternyata masih ada orang baik di dunia ini yang masih mau menolong orang yang kesusahan.


"Sebaiknya aku mandi, sepertinya sudah sangat lama aku tertidur," ucapku kemudian bergegas ke kamar mandi. Kebetulan pakaian telah disiapkan untukku. Betapa baiknya mereka, sebentar aku akan berterima kasih.


Setelah beberapa menit lamanya aku telah menyelesaikan rutinitas yang sering aku lakukan. Semua tubuhku seakan mati rasa, mungkin efek dari lompat dari mobil itu dan tertidur di kasur yang nyaman.


"Huu, andai Devan tahu aku lompat dari mobil seperti super hero pasti dia bangga. Karena aku bisa nyelamatin diri sendiri." Aku berucap pelan dan tersenyum sendiri ketika membayangkan wajah kagum Devan.


Sampai beberapa saat kemudian aku tersadar, bagaimana kabar si kunyuk satu itu? Apakah dia baik-baik saja? Makannya teratur? Hm, andai kau tahu Za, Devan sekarang sedang tidak baik-baik saja.


"Ah, setelah aku berterima kasih aku akan pulang dan bertemu Devan. Pasti sekarang dia sedang sibuk mencariku." Setelahnya aku pun keluar dari kamar ini dan menuju ke lantai bawah. Ternyata aku berada di lantai dua.


"Eh, Nona baru bangun. Maaf, Bibi baru saja ingin membangunkan, Nona," ujar seorang pembantu ketika berpapasan dengan Elza di undakan tangga.


Hal yang membuat Elza bingung kenapa mereka menggunakan bahasa Inggris. Wait, mereka bule, astagah. Aku di mana ini kenapa berada di tempat yang berbeda. Jangan bilang aku ada di luar negeri. No, itu gak mungkin.


"Bukan masalah. Oh, aku ingin bertanya di mana kita sekarang. Eum, negara mana?" tanyaku deg-degan. Semoga bukan di negeri pamansam.


"Kita di negara Amerika sekarang, Nona. Tepatnya di kota San Francisco. Kenapa?" tanya pelayan itu sedikit bingung.


Mampus, kamu Elza. Mainmu terlalu jauh, bagaimana cara pulangnya. Siapa yang tidak mengenal kota San Francisco? Kota yang terletak di area teluk dan berdekatan dengan laut ini merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan di Amerika Serikat.


Bangunan rumah-rumah penduduk di San Francisco cukup unik lantaran gaya arsitekturnya memiliki ciri khas Victoria yang kental.


Landmark utama kota San Francisco yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan adalah Golden Gate yang merupakan sebuah jembatan yang menghubungkan dua buah pulau, dan oh satu lagi hal yang tidak boleh kita lewatkan jika menjambangi kota ini yaitu kita jangan lupa naik trem. Elza, kamu berada sangat jauh dari Devan dan kedua orang tuamu sekarang.



Aku menggeleng untuk menghilangkan informasi yang tiba-tiba muncul di kepalaku tanpa diminta.


"O-oh, baiklah, thanks," jawabku pelan. Masih tidak percaya bahwa aku diselamatkan oleh orang Amerika. What, kenapa bisa, Bali dan Amerika begitu berjauhan. Oh, tidak! Berapa lama aku pingsan.


"Oh, iya di mana Tuanmu?" tanyaku lagi. Namun, aku sudah bisa menetralkan degupan jantung yang tiba-tiba maraton tanpa diminta.


"Tuan, berada di perusahaan sekarang. Sekitar lima belas menit lagi, Tuan akan pulang," jawab pelayan itu sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Eum, baiklah."


"Kalau begitu, silahkan ke meja makan Nona makanan telah disiapkan untuk Nona," kata pelayan itu ramah. Aku pun hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju ke meja makan karena rumah ini sangat besar aku takut tersesat dan tidak dapat pulang lagi.


***


Deru mesin mobil terdengar dari luar yang membuat seorang gadis yang tak lain adalah Elza sedikit terusik. Namun, dia tak bergeming dari tempatnya duduk—untuk menyantap makan siangnya.


Tap ...! tap ...! tap ...!


Suara langkah sepatu beradu dengan lantai yang terdengar begitu jelas. Elza melihat arah di mana datangnya suara itu. Di depan sana seorang pria yang memiliki paras yang sangat tampan berjalan dengan elegan ke arahnya.


Elza terdiam sejenak. Dia berpikir apakah dia yang menyelamatkan hidupnya? Elza rasa jawabannya adalah iya. Elza masih terdiam, menatap pria itu yang makin mendekat. Perawakan pria tersebut tinggi, mempunyai rahang yang tegas serta dada yang bidang begitu profesional menurut Elza. Namun, dia tak tertarik sedikitpun.


Elza kemudian berdiri dari tempatnya duduk ketika pria itu berhenti tepat di depannya. Pria itu memiliki bola mata berwarna abu-abu, tiada senyum yang terpatri di wajah tampannya sehingga membuat Elza sedikit tidak nyaman.


"Halo Tuan, terima kasih karena telah menyelamatkan saya," tutur Elza setelah beberapa saat terdiam.


"Hm, duduklah dan lanjutkan makan siangmu," balas pria itu. Elza hanya mengangguk kemudian duduk kembali begitu pun dengan pria tersebut. Beberapa saat kemudian para pelayan langsung menyiapkan makanan untuk sang tuan rumah.

__ADS_1


Tiada perbincangan yang tercipta di antara mereka hanya ada dentingan sendok yang saling beradu. Elza yang sudah biasa dengan keadaan seperti ini tidak terlalu mempersalahkannya.


"Aron." Tiba-tiba suara bariton terdengar dari hadapan Elza. Dia menatap pria tampan di depannya sebelum mengangguk.


"Elza," balas Elza seadanya. Kemudian melanjutkan acara makannya begitupun dengan pria tampan yang bernama Aron.


Pria itu bernama lengkap Aron Keysha putra tunggal dari Kriss Keysha dan Amira Keysha salah satu pengusaha sukses Amerika. Aron sendiri adalah seorang CEO muda yang terkenal di kalangan para pebisnis. Mungkin saja, Devan mengenal pria ini. Aron berumur 28 tahun, setahun lebih tua dari Elza dan empat tahun lebih tua dari Devan. Dia menemukan Elza sewaktu pulang dari Bali setelah acara peresmian resort di sana karena perusahaannya berinvestasi dalam pembangunan tersebut. Dia membawa Elza ikut dengannya ke Amerika dan memberikannya perawatan yang terbaik. Seminggu lamanya, Elza dalam perawatan yang intensif untung saja dia tak mengalami geger otak akibat benturan keras di kepalanya. Aron tidak tahu, kenapa dia membawa seorang wanita untuk ikut dengannya dan tinggal di mansion pribadinya. Namun, hal itu sangat bagus karena dia akan menjadikannya seorang istri agar ada yang menjaga dan menyayangi putranya, meskipun Aron baru sekali bertemu dengannya tapi dia sudah jatuh cinta kepada Elza. Meskipun fakta bahwa Elza telah bersuami dirinya tak hiraukan terutama wanita di depannya ini tengah mengandung mungkin saja tidak dirinya sadari dan syukur wanita ini tak keguguran sewaktu berusaha kabur dari para penjahat itu, fakta itu tak membuatnya tidak menyukai Elza malah dia sangat menerima kondisinya tersebut, hal ini juga yang membuat Aron terkesan dengan keberanian Elza dalam bertahan hidup.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu, kita bertemu di ruang tamu," ucap Aron setelah menyelesaikan makan siangnya. Ia pulang cepat hanya ingin membicarakan hal ini kepada Elza setelah mendengar ia telah siuman.


Elza yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk sebagai jawaban. Elza pun menyelesaikan makannya dengan cepat.


...


Di sini aku sekarang, menatap seorang gadis cantik yang sedang duduk menunggu apa yang akan aku sampaikan.


Semenjak pertama kali memutuskan untuk membawanya kembali aku telah mencari tahu semua latar belakang wanita ini, wanita yang kutemukan pingsan seminggu yang lalu di pulau Dewata Bali. Tubuhnya sangat lemah dahinya berdarah. Aku pikir saat itu dia dalam proses pelarian. Namun, aku tiada niatan untuk bertanya masalah pribadinya, karena aku sudah tahu bahwa pada saat itu dia sedang kabur dari orang-orang yang berniat jahat terhadapnya.


"Aku ingin minta bantuan kepadamu," ucapku setelah beberapa saat terdiam menatapnya.


"Apa itu?" jawabnya dengan santai tanpa terpengaruh dengan tatapanku yang super duper dingin.


"Besok, temani aku menemui kedua orang tuaku berserta keluarga besar Keysha." Aku menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Mau atau tidak, aku akan tetap membawanya.


"Baiklah, ini menjadi balas budiku karena kau telah menolongku. Setelah itu, aku akan kembali ke Indonesia. Ingat! Aku telah memiliki seorang suami!" Dia menekankan bahwa telah memiliki seorang suami.


Aku tidak terkejut mengetahui fakta tersebut, suaminya seorang CEO sama denganku. Aku cukup marah dengan pria itu karena tidak becus menjaga istrinya wanita cantik di sampingnya ini begitu diincar oleh mantan Kekasih suaminya, tapi tak ada tindakan berarti bagi si pelaku sedikitpun.


"Baiklah, ini hanya sebuah kesepakatan. Lagi pula aku telah memiliki seorang yang aku cintai." 'Yaitu, kamu.' Aku hanya mampu menyebutnya dalam hati, untuk sekarang jika waktunya tiba aku akan mengucapkannya dengan lantang.


"Okey, ah iya. Apakah kau bisa meminjamkanku ponsel? Aku ingin menghubungi keluargaku, aku takut mereka khwatir," ucapnya agak ragu, tapi aku tetap menyuruh seorang maid untuk memberin sebuah ponsel.


Setelah dia mendapatkannya. Dia mengucapkan terima kasih dan memberikan senyuman kepada maid tersebut. Baru kali ini aku melihat seorang yang begitu ramah kepada siapa pun. Meski, mereka berbeda. Apakah orang Indonesia seperti ini semua? Begitu ramah.


"Terima kasih, ini. Aku telah menggunakannya." Elza menyodorkan kembali ponsel itu kepada pelayan yang masih setia menunggunya.


"Kau ambil saja ponsel itu untuk berkomunikasi denganku," tuturku setelah cukup lama memperhatikannya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku harus berterima kasih," katanya seraya tersenyum.


Setelahnya, aku langsung meninggalkan rumah mewah itu tanpa mengatakan suatu hal pun. Karena, pekerjaan telah memanggilku.


...


Aku pikir apa yang ingin dia sampaikan ternyata ia meminta bantuan untuk menemaninya menemui kedua orang tuanya. Aku mengerti, kalau hal ini pasti masalah perebutan harta warisan. Jika, dia tak mendapatkan pasangan dia tidak akan jadi pemilik sah dari Keysha Group. Untung saja, Ayah memberitahu Elza tentang perusahaan terkenal itu. Tanpa sepengetahuan Elza, bahwa hal tersebut dapat Aron tangani dengan sangat mudah tanpa mendapatkan calon istri karena dia sudah pernah menikah sekali.


Eh, tapi. Kalau dia sudah mempunyai orang yang dia cintai kenapa harus aku yang dia pilih? Apakah hubungan mereka tidak direstui? Ah, sudahlah ini hanya sebuah kesepakatan. Elza, tidak tahu saja jika keputusan yang ia ambil akan menjadi bomerang untuk dirinya di kemudian hari.


Tadi, aku telah mengirimi si ular itu pesan. Memperingatinya, untuk sementara aku akan berada di sini, total tiga minggu lamanya. Aku harap, Devan dapat menunggu. Aku juga telah memberi tahunya jika aku baik-baik saja dan akan kembali setelah sebulan untuk memberikan pelajaran untuk nenek sihir itu. Dia pikir wanita itu telah menang. Ck, tidak semudah itu.


Aku kasihan juga kepada Devan pasti dia akan merindukanku. Namun, hal ini adalah yang terbaik. Aku harus membalas budi untuk penolongku.


"Mama ...!"


Teriakan dari seorang anak kecil menarik perhatian dari semua orang yang duduk di ruang keluarga. Semua mengenakan pakaian mewah. Di depan sana sepasang wanita dan pria berdiri dengan wajah kaku.


"Dia mengira kau Ibunya, kau mirip dengan mendiang istriku."


Pengakuan Aron membuat Elza terkejut. Apakah benar? Jadi, wanita yang dia cintai adalah mendiang istrinya.


"Eh, ia Sayang. Jangan lari-lari dong," kata Elza sembari menangkap bocah lelaki itu ke dalam pelukannya yang membuat semua orang kembali terkejut. Karena, wajah Elza begitu mirip dengan menantu mereka yang telah tiada—Elis Jenica.

__ADS_1


"Mama, kenapa lama baru datang? Dimitri tidak akan nakal lagi. Dimitri janji, Ma." perlahan-lahan air mata bocah itu luruh yang membuat hati Elza ngilu. Kemudian, Elza kembali mendekap bocah itu untuk menenangkannya.


Elza berdiri dari posisi berjongkoknya dengan Dimitri yang masih dalam pelukannya. Aron yang melihat Elza yang begitu perhatian kepada putranya merasa tersentuh. Akan tetapi, dia masih sadar diri jika dia tak dapat memiliki wanita yang berdiri di sebelahnya itu. Sebab, dia telah mempunyai seorang suami seperti apa yang dia katakan sebelumnya. Elza juga mengalami penculikan yang direncanakan mantan kekasih Devan—suami dari Elza.


"Kalian kemarilah. Bawa calon mantuku ke sini." Panggilan dari Kriss Keysha menyadarkan Aron dari lamunannya. Dia kemudian mengajak Elza untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


Semua orang mentap Elza dengan pandangan yang menilai. Seorang wanita cantik juga menatap Elza dengan pandangan aneh.


"Kemarilah, Nak. Kami sangat senang kau datang ke sini kembali. Kau tahu Dimi begitu merindukanmu," tutur seorang wanita paruh baya yang Elza yakini adalah Ibu Aron—Amira Keysha.


Elza yang mendengar hal tersebut lantas menatap Aron. Pria itu hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Halo, Tante. Perkenalkan nama saya Elzania Saputri Wijaya. Bisa dipanggil Elza." Elza memperkenalkan diri dengan sangat sopan. Meskipun tatapan penuh kebencian dari sebagian anggota keluarga itu membuat Elza sedikit gemetar takut nantinya ia akan dikuliti. Namun, ia tetap bersikap biasa saja.


"Ah, kamu putri tunggal dari Ali Subrata Wijaya dan Shinta Yunita, ya?" tanya Ayah Aron sedikit terkejut mendengar fakta tersebut. Hal itu membuat Elza sedikit mengkerutkan alis. Namun, tetap mengangguk dia ingat bahwa mereka adalah rekan bisnis sang Ayah.


"Iya, benar Paman," jawab Elza ramah.


"Bagaimana kabar orang tuamu? Aku dengar mereka ke New Zealand baru-baru ini," lanjut Tuan Kriss Keysha.


"Allhamdulilah, mereka baik, Paman. Terima kasih karena telah menanyakan kabar orang tua saya," jawab Elza lagi. Ia terlihat lebih santai sekarang.


"Syukurlah, kalau suamimu bagaimana? Maaf, Paman tidak datang waktu kalian menikah," ujar Tuan Kriss Keysha lagi yang membuat semua orang terkejut. Ternyata wanita yang begitu mirip dengan mendiang menantu mereka telah bersuami.


"Dia baik. Tidak masalah, Paman," balas Elza tersenyum. Karena ternyata ada yang mengenalinya di sini.


"Sebaiknya kamu beristirahat dan nikmati liburanmu di sini ya. Nanti, Paman akan memberitahu orang tuamu," lanjutnya.


Elza tersenyum. Kemudian mengikuti pelayan yang telah diperintahkan untuk mengantarnya ke tempat istirahat. Tak lupa, Dimitri masih setia dalam dekapannya. Ternyata bocah itu tertidur karena saking senangnya bertemu kembali dengan sang Mama yang telah lama tak bertemu.


Sepeninggal Elza. Ruangan itu kembali hening. Aron duduk tepat di hadapan sang Ayah dan Ibu. Ia menatap beberapa anggota keluarganya yang menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kalian boleh pergi, ada yang ingin kami bicarakan kepada Aron!" pinta Amira lembut kepada anggota keluarga inti yang terdiri dari adik bungsunya yang dua tahun lebih tua dari Aron. Serta beberapa anggota inti lainnya. Mereka perlahan kembali ke kamar masing-masing.


"Apa tadi, Kak Aron mengakui istri orang lain sebagai calon istri."


"Astaga, dia memperkenalkannya kepada kami sebagai calon istrinya padahal wanita itu telah bersuami, bagaiamana dengan itu. Menurutku, ada lelucon besar yang ingin dia lakukan."


Bisikan itu tak mengusik Aron dan juga kedua orang tuanya. Barulah mereka berbicara setelah mereka semua pergi dari ruang tamu tersebut.


"Ayah mengenalinya?" tanyanya to the point.


"Iya, sewaktu Elza menikah Ayah di undang. Namun, karena posisi Ayah waktu itu sedang berada di luar negeri sehingga tak dapat menghadirinya. Nama suaminya adalah Devandra Adiguna Prasetyo-pesaingmu!" jawab Kriss Keysha. Tanpa sang ayah katakan pun Aron telah mengetahui kebenarannya.


"Kalau kamu ingin menikahinya. Itu sepertinya tidaklah mungkin. Karena orang tua dan suaminya tentu tidak mengizinkan terlebih lagi dari Elza. Pasti dia tak ingin." Kali ini Amira ya membuka suara.


"Tapi, bagaimana kalau Aron menghilangkan ingatannya?Apakah dia tetap ingin bersama dengan suaminya?" tanya Aron perlahan yang membuat kedua orang tuanya saling pandang.


"Itu sangat keji, Sayang. Kamu tidak kasihan kepada Elza? Demi kepentingan pribadimu kamu rela mengorbankan kebahagiaannya?" tanya Amira sembari menggeleng perlahan. Pertanda tidak menyetujui pernyataan sang putra.


"Dimitri butuh sosok seorang Ibu, Ma. Elza sangat mirip dengan Elis dan look Dimitri langsung akrab dengannya dalam hitungan detik. Aron tahu, Aron hanya terlambat sedikit saja. Karena, sesungguhnya Elza adalah Elis yang didatangkan kembali oleh Tuhan untuk kembali kepelukan Aron. Hanya, Aron tidak cepat. Intinya Aron harus bisa memiliki Elza!" pungkas Aron dengan nada tajam ya membuat kedua orang tuanya kembali menggeleng.


"Nak, masih ada wanita lain di luar sana. Jangan Elza, kamu belum tahu bagaimana suaminya."


"Kalau suaminya hebat. Pasti dia telah menemukan istrinya di sini. Namun, tidak! Dia tak memperdulikannya karena dia hanya mencintai kekasihnya." Aron membeberkan hal tersebut yang membuat kedua orang tuanya sedikit terkejut.


"Huft! Ayah tidak tahu masalah itu. Akan tetapi, kamu perlu ingat bahwa Devan—suaminya tidak akan tinggal diam. Dia telah mengetahui posisi Elza sekarang. Kamu tahu, dia tahu semuanya. Hanya saja, dia telah berjanji kepada Elza bahwa akan menjemputnya setelah sebulan? Karena apa, dia ingin mencari semua bukti kejahatan mantan kekasihnya yang membuat Elza diculik hingga kamu menemukannya," tandas Kriss Keysha yang membuat Aron termanggu, ternyata suami Elza telah mengetahui segalanya dia hanya diam untuk membalas semuanya. Seberapa berpengaruh Devan? Ia hanya mendengar namanya. Namun, tak pernah ingin tahu tentangnya.


"Hm!" Setelahnya Aron pun pergi meninggalkan orang tuanya yang hanya bisa saling menatap.


"Semoga saja dia tak melakukan hal bodoh. Kita tak bisa melakukan apa-apa jika sudah menyangkut perasaan," kata Amira tenang.

__ADS_1


"Sudahlah, Ma. Papa yakin Aron tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti dirinya sendiri.," balas tuan Kriss Keysha.


"Semoga saja."


__ADS_2