
Diperjalanan cia sedang memakan camilan yang tadi dibelikan oleh shaka disupermarket sebelum berangkat kerumah reksa. Jarak rumah cia kerumah reksa lumayan memakan waktu yang lama, karena itu shaka membeli banyak makanan untuk diperjalanannya. Zia yang sudah menghubungi reksa kalau mereka akan main kerumahnya, dan reksa pun sedang berada di rumahnya karena libur bekerja.
"Mama cia ngantuk"
"Ya udah cia bobo aja, nanti mama bangunin kalo udah sampe rumah el ya"
Cia pun langsung mencari posisi untuk tidur dipangkuan zia, tangan zia senantiasa mengelus kepala cia agar tertidur nyenyak. Shaka yang menoleh kearah zia hanya tersenyum tipis mendapati sikap zia yang sudah biasa seperti dulu lagi.
Ada yang membuat janggal dalam pikiran shaka, akhir-akhir ini shaka sering mendapati zia yang sedikit pucat. Shaka ingin menanyakannya tapi takut zia masih marah kepadanya perihal soal tasya.
"Kamu juga sebaiknya tidur aja" ujar shaka.
"Hmm, baiklah aku tidur mas"
Setelah mendapati zia yang tertidur shaka mulai fokus mengendarai mobilnya. Tinggal beberapa saat lagi mereka akan tiba dirumah milik reksa.
Tak terasa mobil milik shaka memasuki perkarangan rumah minimalis milik reksa. Shaka melirik kearah zia dan cia yang masih tertidur pulas.
"Zi bangun, kita udah nyampe" tangan shaka menepuk pipi zia dengan pelan.
"Umm udah nyampe ya"
"Iya, bentar aku turun dulu biar cia aku yang gendong"
Lantas shaka langaung turun sari mobil dan memutari untuk mneghampiri zia dan mengambil alih cia yang masih tertidur pulas. Zia pun langaung mengambil barang-barang yang akan menjdi hadiah untuk el dan istrinya reksa nanti.
Didepan pintu sudah ada reksa yang menunggu kedatangan adiknya sambil tersenyum, "Akhirnya kalian datang juga" kata reksa.
"Iya kak, eh dimana el sama kak rini?"
"Didapur lagi masak, kalo el lagi tidur dikamarnya" perhatian reksa pun langsung tertuju kepada cia yang berada digendongan shaka. "Loh cia tidur juga? Tidurin aja dikamar el" sambung reksa.
"Sini biar aku aja mas"
"Yuk masuk dulu, kalian pasti cape"
Mereka masuk dan langsung menuju ruang keluarga, dan zia langsung pergi kekamar el untuk menidurkan cia disana. Setelah menidurkan cia, zia langsung kembali keruang keluarga untuk berkumpul dan melepas rasa rindu dengan kakaknya.
"Oh iya kalian baik baik aja kan?" tanya reksa saat zia sudah duduk disamping shaka.
"Baik ko kak, kalian juga baikkan?"
"Hmm baik zi"
Tak lama datanglah rini istri reksa sambil membawa nampan yang sudah berisi minuman untuk mereka, "Eh udah dateng, nih minum dulu takutnya hauskan" ujar rini.
"Makasih kak"
__ADS_1
Rini mengangguk sambil tersenyum, "Eh dimana cia? Kok gak keliatan" tanya rini heran.
"Cia tidur kak dikamar el, gapapakan?" tanya zia.
"Gapapa lah biarin mereka tidur siang" ujar rini sambil duduk disamping reksa.
"Tumben loh kalian kesini?" tanya reksa.
"Aku rindu kak reksa, cia juga katanya mau main sama el" jawab zia.
"Ihh udah nikah juga kamu dek"
"Biarinlah kak" ketus zia.
"Iya iya, kalian istirahat dulu gih apa mau makan dulu" ujar reksa.
"Nanti aja makannya kalo anak anak udah bangun kak"
"Ya udah kalian istirahat aja dikamar tamu"
"Iya, aku sama mas shaka istirahat dulu kak"
Selepas kepergian zia dan shaka, reksa merasa ada yang disembunyikan oleh zia, karena kalau setiap ada masalah zia selalu ditutupi dan selalu mencari dirinya hanya sekedar rindu.
"Mas kenapa melamun?" kata rini.
"Hmm aku ngerasa ada sesuatu dari zia yang disembunyiin, zia selalu cari aku kalau lagi ada masalah, walaupun dia gak akan cerita sama aku tapi dia selalu cari aku" jelas reksa.
"Apa zia sakit?" tanya reksa.
"Entahlah mas, tapi tadi liat zia kaya biasa biasa aja sih"
"Ya udah ga usah dipikirin dulu, nanti kita tanya shaka aja mungkin dia tau" ujar reksa.
"Kalo gitu aku kembali kedapur mas, belum selesai masaknya"
"Iya sayang"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari dimeja makan rumah reksa sedang ramai karena zia dan shaka masih belum pulang. Dimeja makan sedikit heboh karena ada cia dan el disana membuat suasana jadi rame.
"Wih kakak makin cantik aja" puji el.
Cia tersipu malu, "Ah masa sih el" ujar cia malu-malu
Semua orang yang ada disana tertawa melihat tingkah kedua anak kecil tersebut.
__ADS_1
"Udah udah makan dulu ayok, nanti aja ngobrolnya" lerai reksa.
Mereka semua makan malam dengan tenang tapi sesekali cia dan el berebut makanan yang sama atau berebut gelas yang aama saja isinya.
Kini semua orang sedang berada diruang keluarga untuk seekdar berbincang dan bersantai. Cia dan el yang sedang bermain boneka dan robot milik el dilantai yang beralaskan karpet berbulu, sedangkan para orang tuanya diatas kursi sambil mengawasi kedua anak tersebut.
"Zi apa kamu sakit?" tanya reksa.
"Hmm sakit? Gak kok kak aku gak sakit, kenapa?"
"Gapapa, cuma wajah kamu sedikit agak pucat aja" balas reksa.
"Gak ko kak aku gak sakit, mungkin karena aku kecapean aja makannya pucat apalagi aku gak pake lipstik yang terlalu mencolok" jelas zia.
Reksa mengangguk ragu,"Ya sudah kalo sakit bilang kakak ya" ujar reksa.
"Iya kak"
Sebenarnya zia berbohong, sedari tadi zia menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya sehabis makan malam tadi tapi zia tahan takut semua orang yang ada disini khawatir karenanya. Zia merasakan ada yang mengalir dari hidungnya, tangan zia lnagsung memegang hidungnya dan ternyata..... Darah.
"Astaga zia hidung kamu berdarah" ujar rini saat melihat kearah zia.
Shaka dengan sigap mengambil tissu yang ada diatas meja dan menahan darah yang akan mnegalir lagi dari hidung zia.
"Angkat kepala kamu sedikit zi" kata shaka
Zia menurut saja karena darahnya terus mengalir dari hidungnya. Anak-anak sudah langsung dibawa oleh rini kekamarnya takut mereka khawatir melihat zia berdarah palagi cia pasti dia akan menangis.
"Sudah mas, gak keluar lagi kok" ujar zia.
"Kenapa tiba tiba mimisan kamu dek?" tanya reksa khawatir.
"Mungkin karena kecapean aja kak, gapapa kok"
"Ya udah kamu istirahat aja, shaka bawa zia masuk kekamar. Malam ini kalian menginap saja disini" shaka pun langsung menurut dan membawa zia kekamar.
"Zia gimana mas?" tanya rini yang baru saja tiba setelah menidurkan anak-anak.
"Udah berenti mimisannya, sekarang dia lagi istirahat dikamar" jawab reksa.
"Syukurlah, aku takut dia kenapa kenapa mas"
"Udah tenang zia gapap ko, kecapean aja mungkin dia" ujar reksa meyakinkan istrinya, walaupun dirinya juga sangat takut zia kenapa-kenapa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diruangan serba puih dan berbau obat-obatan, terdapat dokter yang sedang memegang sebuah kertas hasil laporan. Dokter tersebut membaca suratnya dengan serius, tapi seketika matanya menatap shok dan badannya menegang saat membaca isi suratnya.
__ADS_1
"Gak mungkin, dia gak mungkin sakit--"
"--kanker otak."