
Seluruh keluarga shaka maupun zia sedang duduk diruang tunggu semalam. Semua tidak tidur semalaman karena ingin menjaga zia yang masih kritis, termasuk shaka yang tidak tidur semalaman membuat kantung matanya menghitam pakaian yang tidak rapih. Shaka terus saja menatap pintu rawat milik zia, walaupun diperbolehkan melihat zia tetapi hanya sebentar waktunya. Dan tadi pagi kondisi zia sedikit membaik membuat semuanya merasa lega karena zia sudah melewati masa kritisnya.
Dokter siska mengabari kalau zia akan sadar beberapa jam lahi, tetapi sampai sekarang zia masih belum juga sadar. Membuat semuanya sedikit khawatir.
"Shaka masuk mau liat zia" izin shaka.
"Iya, berdoalah" ujar rena.
Shaka langsung masuk keruang rawat zia dan menatap zia yang masoh terbaring diatas kasur dengan banyak alat ditubuhnya. Shaka duduk dikursi samping kasir zia dan langsung menggenggam sebelah tangan zia yang tidak memakai infus.
"Hey sayang ... kamu gak kangen sama aku? Sama cia?"
"Cepet sadar sayang semua nunggu kamu loh disini, termasuk cia yang selalu nanyain kamu"
Shaka terus saja berbicara kepada zia walaupun tidak ada balasan dari zia.
"Aku kangen sama kamu zi" gumam shaka.
Jari-jari milik zia bergerak membuat shaka seketika menatap kearah tangan zia dan kearah wajah zia. Shaka pun langsung memanggil dokter siska untuk segera memeriksa keadaan zia.
"Gimana dok?" tanya shaka.
"Alhamdulillah zia sudah sadar, tapi kondisinya sedikit lemah. Kalian bisa melihatnya tetapi jangan terlalu berisik ya" jelas dokter siska.
"Terima kasih dok"
Shaka dan yang lain cepat-cepat masuk untuk melihat zia. Disana diats kasur zia sedang terseyum melihat semua keuarganya dan suaminya. Mereka mendekat kearah zia dengan senyuman terpatri diwajahnya dan menangis haru.
"Kenapa menangis?" tanya zia pelan.
"Gak nangis sayang, ini nangis bahagia liat kamu udah senyum lagi" jawab rena mendekat kearah zia.
"Sehat sehat sayang" ujar andra.
"Iya ayah, kalian juga harus sehat sehat ya. Jangan sampe sakit" kata zia.
"Kamu butuh sesuatu sayang?" tanya dini.
"Gak bunda" jawab zia sambil menggeleng.
"Mas shaka" panggil zia saat melihat shaka yang berdiam diri dipintu.
"Kenapa disitu kesini mas"
Shaka berjalan pelan kearah kasur zia dan langsung memeluk tubuh zia dengan lembut. Walaupun zia tidak sadarkan diri tidak lama, tapi shaka merasa sangat merindukan istrinya.
"Cepet sembuh sayang" bisik shaka.
"Jangan bikin aku khawatir terus, jangan tinggalin aku" lanjutnya.
Zia mengangguk pelan dan melerai pelukannya. "Kamu kok berantakan banget mas? Ini muka kamu, loh ini pakaian kmau juga" ujar zia.
"Dia gak mau bersih bersih atau ganti baju zi" ujar rena.
"Loh kenapa mas?"
"Aku gak mau ninggalin kamu sayang"
__ADS_1
Zia tersenyum menatap shaka, tangan zia terangkat untuk merapikan rambut shaka yang berantakkan. "Seharusnya kamu pulang dulu, bersih bersih sama ganti baju. udah makan belom?" tanya zia.
Shaka hanya menggelengkan kepalanya. "Loh kenapa belum sih mas, makan dulu sana" titah zia.
"Iya nanti aku makan" balas shaka.
"Kalo gitu kita pulang dulu sayang, nanti kita kesini lagi. Cia kasian dirumah kakak kamu dari kemarin" seru rena.
"Maaf ngerepotin bunda sama kak reksa ya, sama kalian juga"
"Hey gapapa loh, gak ngerepotin malahan. Udah ayah mau pulang dulu ya nanti kesini lagi" balas andra.
"Iya kalian hati hati"
Setelah kepergian semuanya, shaka menatap zia dengan dalam, membuat zia merasa aneh melihatnya. "Kenapa? Liatin aku gitu banget" tanya zia.
"Gapapa, aku cuma kangen sama kamu" jawab shaka.
"Mas makan dulu sana kekantin" ujar zia.
"Kamu disini sendirian sayang"
"Gapapa lagian kan cuma kekantin kamunya"
"Ya udah aku makan dulu, kamu diem diem dikamar jangan kemana mana. Kalo butuh apa apa teken aja tombol itu"
"Iya mas, udah sana"
"Hmm aku pergi dulu".
Zia menatap kepergian shaka dan kembali menidurkan tubuhnya karena merasa sedikit pusing sedari tadi. Zia tidak membertahu mereka karena takut membuat khwatir.
"Boleh masuk?" tanya ardan.
"Boleh om, masuk aja" jawab zia.
Ardan berjalan mendekati zia diikuti tasya dibelakangnya dengan tangan yang memegang buah-buahan untuk zia.
"Sya" ujar ardan.
"Ini dari kamu buat kamu" kata tasya sambil menyodorkan buah-buahannya.
"Makasih, padahal gak usah ngerepotin" ujar zia tapi tak urung zia menerimanya.
"Gimana keadaan kamu?"
"Cukup membaik om" jawab zia.
"Tasya mau bicara sesuatu sam akamu, jadi om tinggal dulu. Oh iya dimana shaka?" tanya ardan.
"Mas shaka kekantin om" jawab zia.
"Ya udah om mau nyusul shaka, kalian berbincanglah" ujar ardan dan langsung meninggalkan ruangan zia.
"Duduk aja tasya" kata zia.
"Ah iya" ujar tasya yang langsung duduk dikursi samping kasur zia.
__ADS_1
"Mau bicara apa sya?" tanya zia.
"Aku mau minta maaf atas masalah kemarin, soal aku ngaku hamil sebenernya aku gak hamil zi. Aku hanya ingin shaka jadi milik aku sepenuhnya. Aku minta maaf banget sama kamu" jelas tasya sambil menundukkan kepalanya.
Tangan yang berbalut infus milik zia menggenggam tangan milik tasya. "Aku udah maafin kok sya, itu lupain aja udah jadi masa lalu. Aku gak terlalu pikirin soal masalah itu, aku tau kamu orangnya baik cuma kamu lagi salah ngambil langkah aja," ujar zia.
"Makasih makasoh banget zia, kamu memang orang baik banget dan pantas untuk shaka"
Zia hanya tersenyum menanggapi perkataan tasya.
Tasya merasa ponselnya bergentar, disana ardan mengirimkan pesan kalau sudah saatnya mereka pulang karena sudah hampir sore.
"Zia kalo gitu aku pamit dulu ya, lain kali aku kesini lagi buat jenguk kamu"
"Iya makasih sya, hati hati dijalannya. Sampein juga makasih sama om ardan"
Tasya mengangguk, "Iya nanti aku sampein sama papa" ujar tasya sambil melenggang pergi.
Zia memejamkan matanya kembali saat rasa pusing menyerang kepalanya lagi. Tangan zia terangkat untuk memijat pelipisnya tetapi tak sengaja memegang rambutnya yang mulai rontok.
Zia hanya tersenyum miris saat rambutnya mulai rontok, penyakit yang dialaminya sudah cukup parah. Zia tidak ada harapan lagi untuk sembuh sekarang, zia hanya pasrah soal penyakitnya.
"Aku udah pasrah sekarang soal penyakit yang aku alami" gumam zia sambil menyembunyikan rambutnya saat shaka memasuki ruangannya.
"Zia"
"Iya mas?"
"Kenapa hm?" tanya shaka sambil tersenyum.
"Gapapa mas, tadi ketemu sama om ardan?"
"Iya ketemu dikantin"
Zia mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ya udah mas ,kamu istirahat pasti kamu kecapean" ujar zia.
"Iya nanti aja"
Ting!
Ponsel milik shaka berbunyi pertanda ada pesan masuk dan ternyata dari dokter siska.
Dokter siska
bisa keruangan saya?
Shaka lanhsung menyimpan ponselmya tanpa membalasnya. "Zia aku keluar bentar ya, kamu istirahat aja" ujar shaka.
"Iya mas, jangan lama lama"
"Iya sayang" ujar shaka sambil mencium kening zia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa dok manggil saya?" tanya shaka.
Helaan nafas dokter siska sebelum menjawab pertanyaan shaka. "Keadaan zia sudah cukup parah sekarang, tidak ada lagi usaha yang bisa kiga buat selain berdoa shaka. Penyakit zia semakin parah setiap harinya, dan waktu zia tinggal satu bulan lahi untuk bertahan" jelas dokter siska.
__ADS_1
"Apa do? Satu bulan lagi?"
"Iya satu bulan lagi, sisa waktu zia"