
Rasanya mataku sangat berat hanya untuk sekedar dibuka. Namun, elusan pada suraiku membuat mata tergerak untuk membuka. Perlahan matakumengerjab dan menangkap sosok imut yang menghalangi sinar matahari agar tak mengenai mata.
"Selamat pagi, Sayang!" sapanya sembari memberikan kecupan ringan di dahi.
Aku hanya mengangguk dan mulai mendudukan tubuhku agar dapat menatap sosoknya lebih jelas lagi.
Seketika netra tertuju pada tubuhku yang telah mengenakan pakaian lengkap. Pasti dia yang memakaikannya.
"Kamu yang pasangin baju ini?" tanyaku sembari menatap mata teduhnya.
"Um, kamu kedinginan jadi Devan pasangin bajunya. Devan gak salah, 'kan?" Dia balik bertanya dengan mata yang berkaca-kaca. Hm, seharunya aku yang marah. Kenapa dia yang ingin menangis? Sabar Za. Begini jika punya suami yang memiliki kepribadian ganda. Terkadang bersikap dewasa dan terkadang juga bersikap seperti bocah. Harus ekstra sabar!
"Ehem! Gak pa-pa, kamu gak usah merasa bersalah," ujarku setelah cukup lama terdiam.
"Apa tidak ada yang sakit? Kalau ada yang sakit bilang sama Devan ya, Devan siap bantu. Kata dokter kalau habis 'itu' katanya sakit," ujarnya sambil menunduk.
Astagfirullah. Aku memutar bola mataku jengah. Seharusnya aku yang mengatakan hal ini, aku yang mengeluh lalu kenapa dia yang merasa bersalah. Ya Allah, apa ini namanya mempunyai suami bocah.
Karena tidak tahan lagi melihatnya menunduk. Perlahan kutarik tubuhnya untuk berbaring di pahaku setelah menyingkirkan selimut yang menutupi separuh tubuhku.
Dia nampak terdiam saat kuelus rambut sehalus sutranya. Devan membalik tubuhnya untuk menghadapku dan langsung memeluk perut rataku.
"Kamu gak usah merasa bersalah. Aku gak pa-pa kok." Aku berucap pelan masih mengelus rambutnya.
Lama kami terdiam. Devan bangun dari tempat berbaringnya. Dia menatapku dengan mata sayunya yang masih merasa bersalah.
"Kamu mau mandi?" tanyanya seketika. Dia menggigit bibir bagian dalamnya seakan takut menyampaikan sesuatu.
Aku yang paham menjawab, "Iya, aku mau mandi, tapi mandiin ya soalnya badanku sakit semua," jawabku enteng dan hal itu sudah membuat Devan memerah. Uhc, gak tahan lagi.
Kucubit saja pipinya yang memerah itu hingga dia mengaduh kesakitan. Siapa suruh terlalu imut. Aku masih bingung Mama Devan sebenarnya ngidam apa pas ngandung Devan?
"Akh, sa-sa-sakit, Za." Devan mencoba melepaskan cubitanku dari pipinya yang sudah memerah.
"Makanya jangan imut, aku jadi gemes sama kamu. Udah gak usah nangis." Aku berucap cepat saat matanya kembali berkaca-kaca.
"Cepetan gendong. Entar kamu telat loh ke kantornya kalau masih leha-leha kek gini," lanjutku sembari mengangkat kedua tanganku mengisyaratkan agar dia menggedong tubuhku.
Kemudian dengan hati-hati Devan menggedongku. Kehati-hatiannya membuat hatiku tersentuh. Dia sangat memperhatikan keadaanku. Dapat di mana lagi suami seperti Devan? Pantas sangat banyak yang ingin merebutnya dariku.
***
Sedangkan di sebuah rumah mewah tepatnya di kamar seorang wanita. Wanita itu memecahkan berbagai barang di kamarnya sembari berteriak histeris. Berbagai makian dia layangkan kepada wanita bernama Elza. Siapa lagi jika bukan Laras. Wanita ini sangat marah saat mendapat kiriman foto kemesraan mereka dari Elza langsung.
"Dasar jal*ng si*lan!" teriaknya histeris.
Lama Laras berteriak tubuhnya merosot sendiri di lantai pandangannya mengabur karena air mata.
"Dev, aku minta maaf. Aku masih mencintaimu. Aku menyesal." Laras menumpahkan sesak di dadanya. Mata memerah akibat tangis tak terhenti. Mengharap dia datang 'tuk merengkuhnya seperti saat kebersamaan mereka. Apakah dia tak layak bahagia?
"Elza, akan gue buat lo menderita sampai lo nggak berani lagi muncul di hadapan Devan!" Laras berucap sinis. Cemburu telah melingkupi jiwanya, rasa cinta yang tak terbendung membuat Laras kehilangan akal.
"Saya ingin kalian menculik wanita bernama Elzania Saputri Wijaya," ucap Laras pada sambungan telepon. Laras benar-benar sudah gila.
Dia berencana untuk menculik Elza dan menghancurkannya. Kebodohan Laras akan membuatnya makin tersiksa nantinya.
"Bagaiamana jika Devan mengetahui lo melayani pria-pria mesum? Gue yakin Devan bakalan jijik sama lo," ujar Laras sembari menatap benci ponselnya di mana di sana ada pesan dari Elza semalam.
...
Suasana Kota Jakarta Selatan sama seperti biasanya. Panas! Matahari telah bertahta di singgah sananya.
__ADS_1
Andai, hari ini aku bisa bersantai. Pasti sangat bagus, tapi membosankan karena tak ada satu pun orang di rumah.
Aku duduk termenung di kursi kerjaku. Hari ini, aku datang ke restoran untuk mengecek keperluan apa saja yang telah berkurang dan butuh untuk dibeli.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pada pintu kerjaku membuat aku tersadar dari lamunan. Aku menyuruh si pengetuk untuk masuk ada keperluan apa gerangan Dinda tiba-tiba datang.
"Hei, Beb, apa kabar?!" Dengan semangat aku menghampiri Dinda dan membalas pelukannya.
"Baik, lo dari mana aja kok gak ada kabar gitu?" tanyaku setelah mengurai pelukan kami.
"Lagi sibuk cari calon suami," jawabnya ngawur yang membuatku memutar bola mata jengah.
"Alesan aja! Oh ya, lo kenapa tiba-tiba datang ke sini?" tanyaku saat kami telah duduk di sofa khusus tamu yang terdapat di ruang kerjaku.
"Devan tadi kasih tahu, kalau lo kayaknya butuh temen curhat. Jadi, gue di sini sekarang." Dinda menjawab sembari menarik-turunkan alisnya.
"Gue gak pa-pa kok," jawabku santai. Aku hanya tersenyum kecil kala mengingat senyuman Devan dan ketidak enakannya padaku. Rasanya hal itu adalah hal yang paling unik.
"BTW Za, gue mau tanya?" Dinda menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Firasatku tidak enak. Jangan-jangan dia sedang berpikir hal yang aneh.
"Apa?" tanyaku galak.
"Lo ... itu, eum anu ...." Aku memutar bola mataku jengah. Astaga, aku yakin ini adalah hal yang berbau dewasa.
"Jujur aja kali Din. Gak usah, eum, ah, anu, itu. Bosen tahu gue liatnya," ujarku sembari menatapnya jengah.
"Lo udah diunboxin sama Devan?" tanyanya tiba-tiba yang membuatku mengernyit bingung. Sepertinya hal ini jauh dari kata dewasa, tapi unboxing apaan?
"Ha, maksudnya? U-u-unboxing teh naon?" tanyaku bingung.
Kulihat Dinda menepuk jidatnya sembari menatapku dengan pandangan bodoh seakan aku ini idiot. Astaga, aku tidak paham apa maksudnya. Jadi, jangan salahkan aku jika tidak paham. Ok.
"Ah, itu. Kalau udah kenapa," jawabku santai tanpa menatapnya.
"Wah, rasanya gimana? Devan jago enggak? Sapa tahu gue bisa suruh Riko buat praktekin nanti kalau kita udah nikah?" tanyanya antusias yang membuatku menatapnya tidak percaya.
"Lo dan Riko? Ka-kalian pacaran?" tanyaku tidak percaya.
"Heh, gue deluan kenal Riko sebelum lo nikah sama Devan bos calon suami gue," jawab Dinda bangga.
"Oh my got, seriously? Ini berita yang fenomenal, tapi kenapa lo gak cerita sama gue?" tanyaku sedikit kesal, karena berita yang begitu membahagiakan tidak Dinda bagi kepadaku.
"Lah, kata siapa? Waktu itu gue pernah cerita lo lupa?" Dinda malah bertanya balik yang membuatku sedikit bingung. Aku mungkin melupakannya.
"Oh, mungkin gue lupa, Din. Maklum gue pelupa," jawabku sembari tersenyum kikuk. Dinda hanya memutar matanya jengah pertanda sudah terbiasa dengan kelakuanku.
"Jadi, gimana?" tanya Dinda sekali lagi yang membuatku bingung. Jadi, gimana apa? Apa aku melupakan hal penting lagi. Dinda yang melihatku kebingungan kembali menepuk jidatnya.
"Hadeuh ni bocah, tentang itu malam pertama lo rasanya gimana?" tanya Dinda terang-terangan tanpa rasa malu.
"Gak usah natap segitunya juga. Lo kek phsycopat aja," tuturku sembari bergidik ngerih.
"Kok k*ss m*rknya gak ketanda. Kamu bedakin berapa lapis?" tanya Dinda saat lama terdiam.
"Woi, lo gak malu apa bahas gituan? Gue aja malu. Kenapa gak terlihat soalnya Devan nyiptainnya di bagian yang gak terlihat. Soalnya dia paham kalau gue mau kerja," jawabku jujur. Sejujur-jujurnya yang membuat Dinda reflek tertawa terpingkal-pingkal.
"Buset. Kalian ini, unik ya." Dinda berusaha meredam tawanya. Aku hanya menatap Dinda jengah.
Aku saja tidak ingin terlalu memikirkannya takut aku tak bisa bertutur sapa dengan Devan kalau aku terlihat malu-malu di depannya.
__ADS_1
Setelah itu obrolan kami dilanjutkan dengan hal-hal yang menyangkut pekerjaan, serta kami juga membahas awal pertemuan Dinda dan Riko asisten Devan yang super dingin itu.
...
Tiba-tiba kegelapan melingkupi. Hanya bayangan sosok berbaju hitam yang terlihat saat kesadaran ini benar-benar terenggut.
"Devan!" ujarku lirih untuk yang terkahir kalinya.
...
"Elza!" Devan sontak menyebut nama sang istri kala mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tiba-tiba suara sang istri menggema di telinga seakan meminta pertolongan. Karena tak ingin khawatir dia segera menghubungi nomor Elza.
Nomor yang anda tujuh sedang berada di luar jangkuan. Cobalah sesaat lagi.
Devan yang hanya mendegar suara operator telepon tiba-tiba merasa panik. Kenapa tiba tiba ponsel Elza tak dapat dihubungi.
Nomor yang anda tujuh sedang berada di luar jangkuan. Cobalah sesaat lagi.
Hal yang sama terdengar saat dia menelepon untuk yang kedua kalinya. Devan mulai panik dirinya kemudian menelepon Dinda dan tersambung.
"Assalamualaikum, Din, Elza di mana?" tanyanya saat sambungan terhubung.
[Waalaikumsalam. Elza ada di restorannya, emang kenapa?]
"Gak pa-pa. Maaf ganggu!"
Pip! Sambungan terputus. Devan sedikit legah saat mengetahui jika istrinya baik-baik saja. Mungkin dia mematikan daya ponselnya jadi dia tak dapat menghubungi Elza. Devan mencoba berpikir positif dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Pukul sembilan malam, Devan tiba di rumah bak istana itu. Namun, hanya ada pelayan yang menyambutnya tiada bayang sang istri.
"Bi, Elza udah pulang?" tanya Devan pelan kepada bi Ijah.
"Belum Den. Bibi pikir Non Elza sama-sama Aden," jawab bi Ijah sedikit bingung dengan pertanyaan tuanya.
"Ah, gak pa-pa Bi," ujar Devan sembari tersenyum kecil. Kemudian dia beranjak ke kamar.
Di sana dia langsung menghubungi ponsel Elza, tapi tetap hanya suara operator yang terdengar.
Karena Devan putus asa. Dia kemudian menghubungi Zahra asisten Elza.
"Halo."
[Iya, halo. Dengan siapa?] tanyanya.
"Apa Elza lembur di restoran?" tanya Devan kembali tanpa menjawab pertanyaan asisten Elza.
[Tidak Pak, jam lima sore tadi Mbak Elza sudah pulang.]
"Baiklah, terima kasih infonya." Devan menutup sambungan telepon secara sepihak. Kemudian mulai mengingat di mana biasanya istrinya akan pergi jika larut malam begini? Atau Laras merencanakan sesuatu? Tiba-tiba hatinya menebak ke sana.
Devan kemudian mengambil jaket kulitnya dan mulai berlalu. Tujuannya satu yakni pergi ke rumah sang orang tua untuk membahas hal ini. Sudah pasti itu dia, jika hal ini menyakiti Elza, Devan benar-benar tidak akan pernah memaafkan Laras.
...
"To-to-tolong!" Suaraku tercekat. Seperti ada ribuan asap yang menghalangi penciuman dan membuatku susah untuk bersuara.
Tempat ini sangat gelap. Sekarang sudah jam sembilan lewat. Di mana aku sebenarnya? Kata-kata itu hanya mampu aku ucapkan dalam hati.
Tiba-tiba inderaku menangkap percakapan dari seseorang lebih tepatnya wanita dan pria.
"Dev, sepertinya ada orang kecelakaan di sana!"
__ADS_1
"To-tolong!" Kuharap itu Devan, semoga. Terima kasih ya Allah karena telah mengirim suamiku untuk menolong diri ini. Setelahnya kesadaranku terenggut total.