
"Emh!" Suaraku tercekat, tubuh rasanya sakit semua. Apa ini? Kenapa aku tak bisa berbicara? Dan di mana ini? Kenapa semuanya tampak gelap dan kenapa aku diikat? Berbagai pertanyaan merayapi pikiranku.
"Emh ... Emh! Aku berusaha berteriak. Namun, nihil hanya suara aneh yang keluar. Siapa dengan berani menyekapku di sini?
'Siapa pun tolong!' ucapku dalam hati, air mata telah menetes dari balik mata indahku. Aku tidak tahu lagi bagaimana penampilanku sekarang ini.
Apakah semuanya akan berakhir seperti ini? Apakah tidak ada yang datang? Mama, Ayah Elza takut! Devan, selamatkan Elza! Kepalaku linglung tidak ada pencahayaan di sini sama sekali.
Aku tiba-tiba membuka mataku dan yang nampak adalah langit-langit yang sama. Apakah aku bermimpi buruk? Ataukah kejadian itu pernah terjadi padaku?
"Kamu kenapa, Sayang?" Kudengar suara Devan bertanya. Aku menoleh sekilas ia tampak kacau dengan dasi yang tidak terpasang lagi di tempatnya.
"Kamu berkeringat dingin, aku baru saja akan memanggil dokter, tapi syukur kamu telah siuman," lanjutnya yang membuatku sedikit merasa bersalah padanya. Dia pasti sangat khawatir.
"Cil, kemari!" pintaku dengan memanggilnya dengan panggilan kesayanganku padanya yaitu bocil.
Devan tanpa protes langsung mendekat ke arahku hingga jarak kami tinggal beberapa centi lagi sampai hidung kami bersentuhan.
Devan menatap mataku aku pun demikian menatap mata sayunya yang terlihat sangat lelah dan syarat akan kekhawatiran.
Grep! Aku langsung saja memeluk leher Devan yang membuatnya sedikit menegang, tapi cuman beberapa saat.
"Aku udah lama gak peluk kamu kek gini, rindu tahu peluk kamu," ujarku manja–masih memeluk lehernya sembari menghirup wangi Devan yang seperti aroma jeruk. Aku tidak tahu kenapa pria imut ini memiliki bau yang sangat khas. Biasanya seorang pria akan berbau mint dan maskulin, tapi dia beraroma jeruk yang sangat menyegarkan penciuman.
Ah, lupakan tentang mimpi. Aku pasti bisa melewati semua ini asalkan ada Devan di sisiku.
"Ehem!" Deheman seseorang membuatku mau tak mau menatap siapa gerangan yang berdehem dan ternyata dia Dinda–sedang menatapku jengah.
'Awalnya aja malu-malu, tapi sekarang main nyosor!' Mungkin seperti itu makna dari perkataan Dinda yang ia ucapkan dengan gerakan bibir.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, ya. Soalnya udah malem," tutur Dinda sembari berdiri dan menghampiriku. Sementara Devan kubiarkan duduk di dekatku masih dengan posisi memeluknya.
"Kamu cepetan sembuh ya, aku gak ada temennya kalau lagi ngafe," ujar Dinda tulus.
"Makasih Din, sebaiknya kamu pulang deh. Aku takut kamu nanti gak tahan liat keuwuan kami," balasku sembari menaik turunkan kedua alisku sengaja memancing kemarahan Dinda.
"Ck, dasar sahabat laknat! Gitu ya kalau lagi dimabuk cinta?" Dinda mencibir sembari memutar bola mata bosan, mendengar gerutuan Dinda aku makin tersenyum mengejek.
"Wek, biarin! Bilang aja kamu itu iri. Sana pergi!" usirku lagi. Akan tetapi, setelahnya kami langsung tertawa.
"Ha ha! Ok, aku balik. Devan, jaga sahabatku ya. Dia tuh sedikit agresif," tutur Dinda tanpa rasa bersalah sembari mengedipkan matanya ke arah kami berdua.
"Gak ada akhlak. Main bongkar-bongkar rahasia," sungutku tidak terima. Sedangkan Dinda sudah berlalu karena tak ingin mendapatkan amukan dariku.
"Aku sebaiknya mengantar Dinda ke luar," sahut Devan yang sedang duduk di depanku.
"Gak boleh! Kamu di sini aja titik, gak ada pelakornya apa lagi pakai kata selingkuh! Big no!" balasku sengit. Bodohlah kalau Devan marah.
"Ok." Devan menjawab seraya tersenyum tipis.
Woi! Tuh senyum gak ada akhlak banget! Meleleh Adek, Bang. Aku menjerit frustasi karena senyuman Devan yang begitu manis.
'Pantes nih bocil banyak yang incar. Walaupun, masih bocil, tapi badannya, beuh, mantap kali,cuy! Bisa jadi sasaran Tante-tante nih apa lagi si nenek lampir Laras pasti ia masih berusaha buat naklukin Devan. Ck, gak akan aku biarin!' Aku bergelut dengan pikiranku sendiri sampai guncangan dari Devan menyadarkanku kembali.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir. Hatiku menghangat mendengar suara Devan yang begitu khawatir kepadaku.
"Awas ya kamu kalau senyum-senyum gak jelas sama cewek di luar sana! Kalau aku tahu habis kamu!" peringatku penuh ancaman. Mataku menatap Devan penuh intimidasi, tapi sepertinya ia tak terpengaruh.
Tok!
__ADS_1
"Awh, sakit ege! Kamu mau buat otakku koslet yang udah koslet makin koslet?" protesku padanya.
"Hust!" Devan menaruh jari telunjuknya di bibirku yang membuatku langsung bungkam. Alama, Devan jangan natap kayak gitu dong! Please aku bakalan meleleh kayak jeli nanti! Duh, ini Maknya makan apa sih? Kok anaknya cakep banget?
Cup! Ya, Allah! Tolong selamatin Elza! Elza gak kuat akan godaan iman yang satu ini! Aku menjerit frustasi. Namun, tak didengar oleh Devan.
"Cerewet banget, sih?" tanyanya sembari mengacak-acak rambutku yang langsung membuat diri ini tersadar. What! Devan nyium aku tadi? Di bibir? Aku gak mimpi 'kan? Tolong tampar aku!
Plak!
"Awh!" Aku meringis sendiri saat menampar pipiku rasanya sakit berarti ini sungguhan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya khawatir dan langsung meniup pipiku yang habis aku tampar sendiri.
Aku menolehkan kepalaku sedikit sehingga mata kami kembali bersitatap. Andai ada pertandingan lomba pacu jantung pasti aku juaranya. Bagaimana tidak kerja jantungku sedang tidak sehat–berdetak begitu kuat.
Perlahan Devan memajukan wajahnya ke arah bibirku. Aku menelan saliva ini kasar, seperti aku menelan batu saja sangat keras. Aku juga menatap bibir Devan yang pink serta basah! Apa rasanya manis? Tanyaku? Ah, bodohlah langsung nyosor aja! Aku langsung saja mencium bibir Devan mencecap rasa bibirnya yang terasa manis di bibirku. Kami pasangan halal jadi tak apa 'kan?
Devan terdiam kaku sejenak, ia tak membalas ciumanku. Ah, aku tampak murahan yang main nyosor deluan, tapi jangan salahkan aku sepenuhnya salahkan bibir Devan yang begitu menggoda.
Saat aku ingin melepas ciuman sepihak itu. Devan langsung menahan tengkukku dan mengambil alih ciuman itu. Dia menyesap bibirku dengan lembut ciuman yang terasa sangat manis sebelum ciuman itu berubah menjadi ciuman sedikit liar dan menuntut. Devan mengigit bibir bawahku agar mau memberinya aksen untuk masuk, Devan mengapsen deretan gigiku dengan lidahnya mengobrak-abrik apa yang ia temukan.
Tok! Tok! Tok!
"Ck, siapa lagi itu mengganggu saja!" Devan menggeram karena acaranya mencicipi bibirku jadi terhenti.
Devan kemudian merapikan penampilanku dan juga penampilannya. Karena aku sedikit kacau dengan rambut yang sedikit berantakan dan kerah baju rumah sakit yang kugunakan kancing bagian atasnya terbuka satu.
Devan kemudian membukakan pintu untuk membiarkan si pengetuk masuk dan ternyata mereka adalah Mama dan Papa mertuaku.
__ADS_1
Semoga mereka tidak menyadarinya.
Aku berdoa dalam hati, bisa malu tujuh turunan kalau mereka tahu kami habis melakukan sesuatu.