
Sesuai rencana kami tadi siang, malam ini aku dan Devan ke luar untuk mencari angin. Baru kali ini aku ke luar malam dengan status yang telah berubah yakni seorang istri. Kulirik Devan yang sedang menyetir dengan menggenggam tanganku, sesekali juga ia menoleh dan tersenyum ke arahku.
Ada baiknya moment ini aku abadikan dan mengirimkan padanya.
Aku mengambil ponsel kemudian
membidik agar menemukan posisi yang pas.
Cekrek!
Hasilnya lumayan juga. Haha, jika dia melihat ini, aku takut dia makin mengila. Ha! Memikirkannya saja sudah membuatku senang. Siapa yang terlebih dahulu menciptakan api? Dia pikir aku takut padanya? Oh, tidak akan.
Aku menoleh ke arah Devan sembari tersenyum kecil dia tak bertanya kenapa aku memfoto tangan kami. Sebagai ganti dia hanya tersenyum simpul dan kembali fokus menyetir.
Aku kemudian mulai mengetikkan sesuatu dan mempost foto tersebut ke beranda aplikasi biru tersebut. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mempostingnya di twitter-ku, mungkin saja si pelakor diam-diam mengikuti Twitter-ku jadi dia akan merasa kesal ketika melihatnya.
Tak berapa lama, postinganku dibanjiri komentar, salah satunya komentar dari karyawanku.
@ra_zahra12
Wah, mesrahnya. Mau jalan-jalan ya, Za?
Aku tersenyum saat membaca komentar dari salah satu karyawanku, Zahra. Kulepas perlahan tanganku dari genggaman Devan kemudian mulai membalas komentarnya.
Aku tersenyum saat membaca komentar positif dari netizen.
Setelahnya aku kembali meraih tangan Devan untuk kugenggam rasa hangat selalu menjalar kala tangan kami saling bersentuhan.
"Kita ke restoran kamu ya," ujarnya tiba-tiba.
"Eum, boleh. Sekalian kita makan malamnya di sana," balasku sembari tersenyum.
"Ok."
Tak berapa lama akhirnya kami sampai di restoranku. Ya, restoran Permata Wijaya, hampir mirip dengan nama perusahaan Ayah. Aku sangat senang dengan nama itu seakan aku adalah putri yang harus dijaga bak permata, tapi tanggung jawab itu telah beralih ke tangan pria yang berdiri di depanku sekarang ini.
"Ayo, Sayang!" Devan mengulurkan tangannya dan dengan senang hati aku meraihnya.
"Resto kamu ramai ya," ujarnya di sela-sela langkah kami.
"Ya, begitulah," jawabku singkat.
Setelah masuk Devan langsung memesan makan malam untuk kami berdua, tapi tiba-tiba tiga orang teman Devan datang menghampiri. Dua pria dan satu wanita.
"Hei, Dev. Lo di sini juga, sejak kapan?" tanya salah satu dari mereka.
"Baru aja El, kalian mau makan juga?" jawabnya dengan intonasi suara rendah tiada yang dapat mengerti bagaimana emosi pria ini sekarang.
"Kita boleh gabung?" tanya wanita di antara mereka.
Devan menatapku sekilas karena sedari tadi aku hanya diam. Aku mengangguk sebagai jawaban tanpa ingin mempersulit Devan, tidak masalah jika ingin menambah personil.
"Iya, silahkan. Akan sangat bagus jika kita ramai-ramai makan malamnya." Aku angkat bicara menggantikan Devan dan tersenyum ke arah ketiganya.
Mereka juga ikut memesan makan malam. Entah kebetulan atau apa, sepertinya wanita itu mencuri-curi pandang kepada Devan. Aku ingin sekali mencongkel matanya berani-beraninya dia menatap suamiku.
"Oh, iya Dev. Laras gimana?" tanya teman Devan yang bernama Elandra. He, kenapa dia bahas wanita ular itu? Apa dia ingin aku cemburu? Ya, aku cemburu sekarang. Tidak wajar jika aku hanya diam itu artinya aku terima orang lain membahas suamiku dengan wanita lain.
"Kami sudah berakhir, dan ya, dia istriku Elza," jawab Devan tanpa terpengaruh. Tatapan Devan mengarahkan, tanda dia sangat bangga memperistri diriku.
Aku menatap ketiganya dengan senyum kemenangan. Tiba-tiba ide brilliant terlintas di kepalaku. Haha, kalian harus makan cukka, siapa yang terlebih dahulu main api maka dia yang akan terbakar.
Sebelum aku memulai ide brilliant itu pegawaiku datang membawa pesanan kami. Aku hanya mengangguk saat pegawaiku menatapku hormat.
"Silahkan dinikmati," ujarku singkat. Mereka hanya mengangguk kemudian mulai menyantap makan malam mereka.
__ADS_1
"Sayang, suapin!" pintaku dengan nada manja sembari memasang wajah yang paling imut.
Devan terlihat memerah. Oh, astaga imutnya kenapa suamiku sangat imut jika bertingkah malu-malu seperti ini. Haha, seharusnya aku yang malu, tapi ternyata dia. Haha, lucunya.
"Aaaa ...." Aku membuka mulutku agar memudahkan Devan untuk memasukkannya. Ah, rasanya tidak mengecewakan, paha ayamnya begitu lembut dan kenyal.
"Kamu juga makan gih, tapi aku yang suapin," kataku pelan. Dunia serasa milik kami berdua tanpa ketiga teman Devan.
"Uhk, panasnya, nyesel gue gak bawa gebetan buat uwuwan juga," sela Elandra yang membuat kami sukses menoleh.
"Makanya cari pacar," balas yang lain Ayan dan Aile. Gadis bernama Aile itu sudah berhenti mencuri-curi pandang ke arah Devan, mungkin sudah sadar bahwa dirinya tidak mempunyai kesempatan.
"Ck, mentang-mentang udah nikah," lanjutnya dengan wajah ditekuk.
Tentu saja moment tadi aku telah merekamnya agar dapat kukrimkan pada pelakor itu bahwa kami sangat bahagia tanpa hadirmu.
Aku dan Devan hanya mengangkat bahu ketika melihat ketiganya yang juga mulai asik makan. Aku sangat bahagia karena dapat bersama-sama dengan Devan moment itu tak satu pun terlewat. Karena aku merasa lelah. Aku mulai berhenti bermain ponsel dan menyimpannya di tas sampingku.
Tak berapa lama kami akhirnya selesai makan dan waktunya untuk membayar. Saat Devan ingin membayar ia tak membawa dompet. Kebiasaan nih punya suami suka lupa juga kayak aku.
"Aku aja yang bayar, hitung-hitung mentraktir kalian sebagai pertanda pertama kali kita bertemu," ujarku dan langsung beranjak untuk membayar makan makan malamku dan Devan.
Aku sempat mendengar percakapan mereka tentangku yang membuat sudut bibir ini tertarik ke atas.
"Wah, istri lo gak marah, ya?" tanya Ayan pelan.
"Aku sudah menikah sekarang."
Perkataan singkat Devan berhasil membungkam mulut teman-temannya. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Devan, tentu saja kami telah menikah itu artinya semua tanggung jawab keuangan aku yang mengantur. Pria yang berstatus suamiku itu, semenjak menikah semua penghasilannya masuk ke dalam rekeningku meskipun aku sudah melarangnya untuk melakukan hal tersebut, tapi pria itu hanya berkata.
"Uang ini adalah hakmu, penghasilanku adalah hakmu, dan uangmu adalah hak kamu sendiri, mengerti Sayang? Jadi, tidak perlu protes, ya." Aku masih mengingat jelas perkataan Devan waktu itu.
Kulanjutkan lagi langkah ini ke meja kasir. Namun, saat aku sedikit lagi berada di meja kasir. Tiba-tiba seorang wanita menabrakku dengan sengaja, alhasil gaun malam bermotif bintang yang aku kenakan ternodai oleh minuman.
"Maaf ya Mbak, apa yang Mbak ucapin tuh kasar banget! Mbak pernah sekolah gak sih? Lagi pula orang lain juga punya mata kalau Mbak yang nabrak saya deluan," balasku dengan menatapnya datar, dia ingin mempermalukanku di depan umum. Apa wanita ini menganggapku sebagai wanita bodoh?
Seketika antensi para pengunjung restoran mengarah kepada kami berdua karena suara wanita itu begitu keras ketika membentak.
"Lo yang salah masih ngegas juga ya! Ganti baju gue sekarang!" balasnya tanpa rasa malu. Dia menatapku dengan pandangan yang menghina yang membuat alisku berkerut, apa aku pernah berbuat salah kepadanya?
Apa wanita jelek ini satu spesies dengan pelakor itu? Aku bukan orang yang mudah digertak, dirinya pikir aku akan langsung menyetujui permintaan konyolnya itu, semua orang juga punya mata jika ia bermain trik.
"Baik! Berapa?" tanyaku pada akhirnya karena tak ingin memperkeruh suasana.
"Nona, apa Anda pura-pura bodoh? Orang-orang juga tahu jika Anda yang menabrak saya terlebih dahulu, dan sepertinya saya yang harus meminta ganti rugi karena gaun yang saya kenakan basah." Aku menatap kedua bola matanya tanpa berkedip. Mengintimidasi wanita pengganggu di depanku ini.
"Alah, paling baju lo cuma harga 200 ribuan, barang murah kek gitu lo suruh ganti rugi? Harusnya lo ganti rugi baju gue yang juga kena tumpahan gara-gara lo yang gak punya mata. Harga baju gue bisa ngebeli harga diri lo yang murah, harga baju gue 200 juta gak sebanding kan sama baju murah lo." Wanita itu menatapku dengan pandangan merendahkan, seakan dialah manusia paling suci di dunia ini.
"Heh!" Aku mendengkus pelas, tidak terpengaruh dengan apa yang wanita sinting ini katakan. Aku kembali menatapnya dengan pandangan dingin sembari berkata, "Ibuku seorang desainer terkenal, Anda pasti mengenal desainer Sinta Yunita, 'kan? Lagi pula harga asli baju yang kau kenakan 350 juta, sepertinya Anda telah tertipu," ujar Elza meremehkan. Dirinya tak akan bersikap sopan dengan wanita pengganggu sepertinya.
"I-iya, lo pikir gue bakalan percaya? Lo putri dari desainer terkenal itu, gak mungkin. Anaknya aja super duper cantik dari lo, lo cuma ngaku-ngaku, gak akan ada yang percaya."
Aku tak membalas perkataannya, aku hanya tersenyum kemudian mendekati wanita itu secara perlahan, tidak ada yang berani berbicara di restoran itu sekarang seakan semuanya menahan napas menunggu apa yang akan aku lakukan.
Aku memegang ujung lengan gaunnya pelan untuk melihat gaya jahitan di gaun tersebut. Mama selalu memberikan tanda huruf S dibalik lengan baju tersebut, jadi orang-orang akan tahu dengan mudah bahwa baju-baju tersebut adalah produk Mama.
"Lo sinting ya, ngapain megang gaun gue, tangan busuk lo gak pantes!"
Setelah memastikan dan benar itu produk Mama, aku menjauhinya. Telingaku sedikit sakit mendengar suaranya yang melengking.
"Coba Anda lihat di lengan gaun Anda apakah di sana terdapat huruf S khas produk buatan desainer terkenal Sinta Yunita?" tanyaku pelan yang berhasil membuat wanita itu langsung mengecek lengan bajunya.
Tidak ada! Jelas, karena itu hanya baju biasa bukan dari brand milik Mama, bisa-bisanya dia ingin memeras ku dengan barang palsu.
"Astaga! Kasihan sekali menghabiskan uang 200 juta rupiah untuk membeli barang palsu."
__ADS_1
"Tidak! Wanita itu ingin menipu Nona Elza dengan barang palsu, hais anak muda jaman sekarang punya banyak cara untuk menipu."
"Ya, benar sekali, untung saja Nona Elza tahu produk milik Mamanya."
"Hah, semua orang juga tahu jika Nona Elza adalah putri dari desainer terkenal Sinta Yunita."
Komentar dari beberapa pengunjung restoran membuat wanita tersebut malu sekaligus sangat marah. Bagaimana bisa dia membeli barang palsu seharga 200 juta rupiah. Begitu bodohnya dia tergiur dengan penawaran orang tersebut.
"Lo ... tunggu aja balasan gue!" peringat wanita itu. Aku yakin dia adalah salah satu suruhan pelakor itu agar aku diejek di depan umum. Gila, apa dia berpikir aku sebodoh itu? Ck, IQ mu terlalu rendah.
Tak lama aku kembali lagi ke meja di mana ada Devan di sana. Seakan tak terjadi apa-apa aku mengajak Devan pulang. Muak rasanya jika memikirkan wanita tadi.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan, Sayang?" tanya Devan khawatir saat aku sudah duduk kembali di dekatnya. Devan tadinya ingin membantu, tapi aku menatapnya penuh keyakinan bahwa aku bisa menangani masalah kecil seperti ini.
"Iya, aku baik," balasku sembari tersenyum lembut.
"Gila! Istri lo keren banget, Dev. Elza lo keren banget, Gila!" ujar Elandra berkomentar sembari menatapku penuh kekaguman.
"Gue cabut dulu ya, istri gue udah capek banget," tutur Devan sebagai kata perpisahan tanpa membalas ucapan temannya.
Setelah sampai di parkiran aku masi belum bersuara. Barulah saat di dalam mobil Devan mengatakan sesuatu.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanyanya sekali lagi memastikan, Devan lantas mengambil tissue dan mulai melap bajuku yang terkena noda minuman tadi.
"Aku tidak apa-apa, bukan masalah," jawabku sembari berusaha tersenyum agar dia tak merasa bersalah.
Devan ikut tersenyum kemudian mulai melajukan mobilnya membela jalan Kota Jakarta. Jam telah menujukkan pukul sembilan malam saat kami tiba di rumah.
"Huft, lelahnya, tapi menyenangkan," ucapku sembari berjalan menuju lantai dua di mana kamar kami berada.
Sedangkan Devan dia menyusul di belakang. Sesampainya di kamar aku menaruh tasku dan membuka lapisan terluar dari pakaianku kemudian memakai piyama bermotif beruang. Setelahnya aku mulai menyandarkan punggungku di kepala tempat tidur sembari menunggu Devan.
Kuperiksa foto yang sempat aku ambil, senyuman tak pernah luntur dari bibir ini. Ah, apakah dia melihatnya sehingga mengirim anteknya untuk mengeroyokku? Makanya jangan berurusan dengan Elza.
Tak berapa lama Devan masuk ke dalam kamar kami. Pria unyu-unyu itu tak pernah meluncurkan senyumannya meski guratan lelah tergambar jelas pada wajah tampannya.
"Sayang, sini deh tidur di pangkuan aku kayaknya kamu capek banget!" pintaku lembut. Devan dengan senang hati menaruh kepalanya di atas pahaku. Aku sontak mengelus suarai hitamnya yang selembut sutra.
Cup! Cekrek!
Aku mengabadikan di mana aku mencium pipi Devan yang sedang menutup mata karena kelelahan dia tak bertanya kenapa aku tiba-tiba melakukan hal yang aneh? Sebenarnya aku tak ingin memperlihatkan foto mesra ini, tapi aku harus menunjukkannya agar dia kepanasan. Pasti, setelah dia melihat ini wajahnya akan memerah karena marah bak kepiting rebus.
Aku mengirimkan pesan itu kepada Laras si nenek sihir sok kecantikan. Sudah tahu Devan beristri malah diganggu. Dia pikir publik tidak akan menghujatnnya setelah mempublikasi foto-fotonya dengan Devan? Justru dia malah dihujat. Putri yang ramah, berbudi luhur dan baik hati hancur dalam semalam dan itu karena perbuatannya sendiri.
"Udah ya, Yank main ponselnya!" Aku sedikit tersentak saat Devan menarik ponselku dengan lembut. Aku hanya tersenyum saat melihat Devan meletakkan ponselku di atas meja.
"Kita tidur!" ujarku menambahkan. Aku memindahkan kepalannya ke samping dan mulai menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.
Aku yang telah menutup mata tiba-tiba tersentak saat deru napas hangat menyentuh permukaan kulit leherku yang membuatku sedikit merasa tidak nyaman. Namun, aku tetap diam.
Devan mulai memelukku perlahan dan membalikkan tubuh ini menghadapnya yang otomatis aku langsung terkubur di dalam dada bidangnya. Ah, Devan nanti aku hilaf jangan gini. Dalam hati aku berjuang agar tak melakukan pergerakan yang berarti membiarkannua menelusuri setiap jengkal wajah ini. Mata satunya menatapku dengan pandangan berkabut. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu, aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Biarlah aku malam ini jadi milik Devan yang seutuhnya. Aku percaya padanya pria pertama dan terakhirku. Bibirnya yang lembut mulai mencecap setiap jengkal tubuh ini.
Ada rasa yang menggelitik sehingga mengantarkan gelombang suara pada pita suara sehingga mengeluarkan suara aneh yang sering kudengar dari Dinda yang sangat sering bercerita tentang orang dewasa dan saat ini aku melewati fase ini ... tidak, aku sedang mengalaminya. Aku telah resmi menjadi wanita Devan yang sesungguhnya dan aku tidak menyesal akan hal itu. Eh, tapi kenapa aku tidak merekamnya? Bodoh, itu memalukan!
Malam ini menjadi saksi di mana aku menjadi wanita Devan yang sesungguhnya. Pria yang tidak sengaja terpenjara dalam lingkaran hidupku. Pria yang selalu ada dan khawatir tentangki.
Lewat ikatan perjodoha yang sangat kutentang awalnya, tapi saat ini aku malah sangat bersyukur terima kasih kepada kedua orang tua yang menghadirkan yang terbaik untuk diri ini.
Rasa sakit itu terbalas dengan rasa yang sangat luar biasa. Setitik air mata menetes melewati garis wajah yang tirus. Dia yang melihat lantas menghentikan aksi dan mulai menyekanya dan mengucapkan kata-kata penenang. Rasa sakit itu mulai berangsur-angsur hilang digantikan oleh rasa yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata semuanya menjadi satu, rasa sedih m, sakit dan bahagia semua menyatu jadi satu. Pergulatan ini berlanjut dengan dia yang sangat mendominasi.
"Aku mencintaimu, istriku!"
Dalam satu kalimat singkat kata itu terucap lewat bibir pria yang pernah mengalami rasa sakit. Kata-katanya jelas yang mengantarkan rasa haru. Keputusanku tidak salah itu adalah naluri sebagai seorang wanita. Kami menghabiskan malam ini dengan damai, mencurahkan rasa cinta yang telah lama terpendam menjadi satu. Cinta yang tak dapat dimusnahkan begitu saja.
__ADS_1