Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Dia mau membunuhku


__ADS_3

Aku menggendong Elza ala bridal style. Dia mengalunkan tangannya di leherku sembari memelukku erat. Aku suka jika Elza bermanja-manja seperti ini dan aku berjanji akan selalu menjaganya--itu janjiku.


Kami telah sampai di meja makan Bi Ijah yang masih terjaga baru selesai menata makan malam di meja. Aku hanya tersenyum menatapnya karena Bi Ijah sangat peka jika aku pasti akan membawa Elza turun untuk makan malam.


Aku kemudian mendudukkan Elza di kursi, tapi dia enggan untuk melepaskan pelukannya. Aku menatapnya, mata kami saling bertemu—tatapannya sayu bibirnya ia cerutkan sehingga aku sangat gemas ingin menciumnya.


"Gak mau duduk, pangku dong terus suapin biar romantis," ujarnya sembari memalingkan wajahnya. Aku hanya tersenyum kecil Bi Ijah telah pergi meninggalkan kami karena mungkin takut mengganggu.


"Ok, Sayang, apa sih yang enggak buat kamu," balasku sembari menarik hidung mancungnya pelan.


"Ih, gak usah dicubit juga hidungnya," tuturnya sembari mengembungkan pipinya yang membuat Elza tampak sangat menggemaskan.


Aku hanya tersenyum kemudian ikut duduk dengan Elza yang ada di pangkuanku. Aku dengan perlahan mulai menyuapinya, dia makan dengan lahap. Lagi-lagi aku tersenyum, sepertinya keadaan telah berubah inilah Elza yang sebenarnya tampak manja dan menggemaskan tidak salah kedua orangtuanya sangat menjaganya.


"Aku suapin juga ya," ujarnya seketika yang menyadarkanku dari lamunan.


Aku mengangguk sebagai jawaban. Elza dengan senyuman di wajahnya mulai mengambil alih piring yang berisi makanan yang telah aku siapkan tadi, kemudian Elza mulai menyuapiku dengan telaten—kami saling menyuapi mungkin saja Elza sadar bahwa aku juga belum makan malam. Ha, andai aku tahu seperti ini rasanya mempunyai istri pasti sejak dulu aku menikah, tapi jika aku menikah lebih dulu aku tentu tak bisa bertemu dengan bidadari di depanku ini. Aku terkekeh dengan pikiranki sendiri.


"Kok ketawa? Ada yang lucu?" tanyanya. Aku hanya menggeleng jika tak ada yang salah.


"Aku 'dah kenyang," lanjutnya.

__ADS_1


Aku meminumkan Elza segelas air putih yang diterima dengan senang hati. Aku juga meminum air untuk membasahi tenggorokanku.


"Sekarang mau langsung tidur apa santai dulu?" tanyaku sembari menyelipkan anak rambut di belakang telinganya.


"Nyantai aja dulu, kita nonton film horor," jawabnya bersemangat.


"Oh, apa kamu tidak takut?" tanyaku menyelidik.


Bola matanya mulai berkeliaran tak jelas sampai dia terkekeh kecil sembari menggaruk belakang kepalanya. Aku tahu itu tak gatal.


"Jadi?" tanyaku lagi. Motifku hanya ingin membuatnya tertawa.


"Em, sebenarnya takut sih, tapi coba aja dulu pasti seruh," jawabnya sembari tersenyum kecil.


Di sini kami sekarang, aku mendudukkannya di Sofa depan TV. Cemilan di meja telah berpindah ke dalam pangkuannya. Aku kemudian memilih film horor yang akan kami tonton kemudian berjalan ke saklar untuk mematikan lampu


Ketika aku mematikan saklar lampu dia langsung menjerit dengan cepat kunyalakan lagi saklar itu dan dia telah meringkuk di sudut sofa dengan memeluk erat tubuhnya.


"Hei, kamu kenapa?" tanyaku khawatir.


Dia dengan gerakan patah-patah menoleh ke arah depan, air mata menggenang di pelupuk matanya. Aku kaget melihat penampilan Elza. Ah, aku lupa dia phobia gelap pantas saja lampu di rumah ini tidak benar-benar di matikan.

__ADS_1


"A-aku ta-takut Ian, di-dia akan membunuhku. D-dia dia akan membunuhku," ujarnya dengan terbata-bata sembari memelukku erat tentu aku membalas pelukannya dengan kata-kata menenangkan aku mulai mengusap punggung Elza berharap itu akan jadi obat.


Apa maksud istriku ini kenapa dia mengatakan ada yang akan membunuhnya? Sebenarnya kejadian apa yang telah kamu alami di masa lalu, Za? Aku harus mencari tahunya sendiri pasti itu bukanlah hal yang baik karena melihat takutnya dia dengan kegelapan. Aku jadi ingat kenapa dia sangat ketakutan sewaktu aku mengajaknya ke pelabuhan waktu itu ternyata ada alasan yang membuatnya seperti ini.


Aku masih saja mengusap punggungnya hingga Elza benar-benar tenang.


***


Ah, kalian tahu aku sangat malu kepada Devan, hampir saja hal itu terjadi. Untung saja perutku deluan berbunyi jika tidak, ah aku tak ingin memikirkannya jujur aku sangat malu. Akan tetapi, aku tak ingin munafik jika aku menginginkannya menjadi milikku seutuhnya. Aku tahu, Devan adalah pria yang baik dia mencintaiku dengan tulus. Namun, ketakutan itu terkadang selalu datang menghantaui jiwa ini. Aku takut entah karena apa seperti ada sebagian memori dari masa laluku yang dihapus secara paksa.


Aku sangat senang karena Devan menuruti segala keinginanku tanpa melunturkan senyumannya yang lembut, matanya yang sayu dan penuh kelembutan ketika menatapku selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Bahkan aku menunggunya dan lupa untuk makan. Aku tahu, pasti wanita ular itu datang lagi dan meminta Devan untuk bekerjasama dengannya, sedikit rasa kesal menyelimuti diriku saat itu. Namun, aku tahu Devan, dia pasti akan menyelesaikannya, aku menunggunya hingga larut dan dia belum muncul aku pikir dia mempunyai hal yang penting, dan tepat jam sembilan malam dia tiba, aku memberanikan diri untuk memanggilnya sayang untuk pertama kali bukan apa terlalu agak aneh jika hanya dia saja yang memanggilku dengan panggilan romantis itu menurut remaja-remaja sekarang.


Setelahnya kalian tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya dan kalian pasti menertawakanku. Ah, sudahlah itu sudah berlalu. Saat ini aku duduk di sofa sembari memakan cemilan dan menunggu Devan memilih film. Aku tidak memperhatikan pergerakan Devan sama sekali ternyata ia mematikan lampu yang membuatku menjerit seketika tiba-tiba kilasan ingatan menghantam kepalaku. Aku takut, kenangan itu selalu datang di mimpiku aku melihat aku terkurung di suatu tempat dan sedang terikat di sebuah kursi tua, pakaianku compang-camping dengan dara di mana-mana aku sakit merasakannya. Namun, aku tak tahu mengapa semua itu terjadi kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Saat itu aku bertanya kepada Ayah, beliau hanya berkata semuanya akan baik-baik saja itu hanya bunga tidur sembari menenangkanku.


Sekarang kilasan banyangan itu kembali datang menghantam pikiranku, cemas dan sedih menggerogoti, aku tak dapat mendengar perkataan Devan dengan jelas aku berusaha menenangkan diriku dengan memeluknya.


Semuanya seperti terasa nyata seperti aku pernah mengalami semua hal itu, tapi kapan? Di mana? Kenapa aku bisa mengalaminya. Aku takut melihat diriku sendiri yang terluka, ingatan itu terasa nyata.


"Ian, tolong," gumamku pelan—sesak di dadaku tak tertahankan yang membuat napasku tak stabil.


"Sayang? Kamu kenapa? Elza coba dengerin aku? Pejamin mata kamu dan lupakan apa yang kamu rasakan bayangkan itu hanyalah bunga tidur." Devan berusaha membantuku. Namun, rasanya sangat sulit, sekarang kepalaku sakit. Aku takut, kalut tidak ada yang datang untuk menolongku. Aku melihat pusaran hitam yang mencoba menelanku, sekuat tenaga aku untuk kabur tetap saja aku akan kembali ke dalam pusaran hitam itu yang membuatku semakin tercekik seakan oksigen di sekitarku direnggut secara paksa.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada yang datang me-menolongku? Di sini gelap Elza takut gelap."


"Elza? Elza? Bangun Sayang?!" pintanya. Namun, aku tak bisa lagi untuk menjawab panggilan Devan, meskipun aku ingin semuanya terasa sulit, suaraku tercekat aku tak bisa lagi membuka mataku ataupun berkata jika aku baik-baik saja.


__ADS_2