
Seharian, Devan menemani Elza di rumah sakit. Wanitanya masih sama. Namun, dia begitu jauh darinya. Rasanya Devan ingin menangis saja saat ini melihat kondisi sangat istri, kenapa orang asing itu begitu berani melakukan hal ini kepada istrinya?
"Kak, kira-kira keluarga calon suami Kak Elza, sampainya kapan?"
Suara Devan memecah keheningan yang tercipta membuat perhatian Elza yang sedang membaca buku teralihkan. Meskipun enggan, Devan tetap menyebutkan dia sebagai calon suami istrinya. Rasa tidak nyaman di hati Devan tak pernah hilang sampai sekarang ada ketidak relaan di hatinya.
"Mungkin sebentar lagi, sabar ya. Di rumah sakit memang membosankan." Elza menjawab dengan lembut. Meskipun dia tidak tahu bagaiamana sepupunya ini, Elza tahu bahwa Devan adalah sosok yang sangat baik.
Devan tampak menggangguk sebagai jawaban. Kemudian dia mendekat ke brangkar tempat Elza beristirahat. Dia duduk di tepian, menatap istrinya yang sangat dia rindukan. Hanya lima bulan kebersamaan mereka, begitu singkat waktu yang mereka miliki untuk bersama dan Elza direnggut oleh orang lain, betapa tidak adilnya bagi Devan, dia ingin marah dengan keadaan tapi tak bisa.
Elza yang diperhatikan seperti itu lantas menjadi salah tingkah. Dia tersenyum kecil, kemudian menepuk punggung Devan.
"Kenapa diliatin ih, 'kan malu." Dengan wajah yang sedikit bersemu Elza mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan tatapan Devan yang syarat akan makna.
"Aku kangen banget sama kamu, Sayang." Tanpa sadar Devan mengucapkan kalimat itu dengan pandangan yang sedikit mengabur karena terhalangi oleh cairan bening yang tiba-tiba menumpuk di kelopak matanya.
Elza yang melihat adik sepupunya terlihat sangat menyedihkan. Hatinya tiba-tiba merasakan sakit. Dia melupakan perkataan Devan yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Dirinya menarik Devan ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh kekar yang dibalut kaos berwarna putih serta gardigan berwarna hitam.
"Duh, sepupu Kakak kok cengen banget, sih? Hayo, kenapa nih? Kangen banget ya! Jangan sedih dong. Elza udah baikan kok, nanti bisa jagain kamu, ya!"
Perkataan Elza tidak membuat Devan merasa tenang. Namun, membuat hati pemuda itu semakin hancur. Karena, dia tahu istrinya tak mengenal dirinya lagi dan hal yang paling menyakitkan istrinya akan menikahi pria lain dalam waktu dekat ini.
Devan semakin erat memeluk pinggang Elza. Membenangkan kepalanya di ceruk leher wanita cantik itu.
Elza yang tidak tahu ada apa dengan Devan. Hanya mampu mengusap puncak kepala dan menepuk punggungnya untuk menenangkan pemuda itu.
Saat dirinya merengkuh tubuh kekar Devan, ada rasa kerinduan yang begitu jelas di benaknya. Sepupunya itu seakan sangat dekat dengan dirinya seakan ada hubungan lain selain ikatan keluarga yang membuat Elza bingung. Namun, sekali lagi dia menipisnya karena sebentar lagi dia akan menikah mana mungkin dia mengkhianati calon suaminya, bukan.
Devan sudah tenang. Namun, dirinya tak mau lepas dari pelukan sang istri. Sudah sangat lama dia merindukan pelukan dari istri tercintanya. Jadi, Devan mengambil kesempatan ini untuk melepas rindu dengan sang istri.
"Evan, kok pelukannya nggak mau dilepas?" tanya Elza lembut. Namun, sebenarnya dirinya juga tak ingin melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
"Punggung kamu nanti sakit, lho."
Devan menggeleng sebagai jawaban. Matanya tertutup, seakan menikmati momen kebersamaan ini yang sudah lama dia rindukan.
"Nggak pa-pa, please seperti ini saja untuk sementara. Aku sedikit lelah dengan situasi yang aku hadapi akhir-akhir ini." Devan menjawab sembari mempererat pelukannya.
Elza yang mendengar itu, membiarkannya saja. Namun, dirinya akan kelelahan nantinya jadi dia menyuruh Devan untuk membaringkan saja kepalanya di atas pangkuannya agar dia bisa sekaligus berisitirahat.
"Kalau gitu, kamu tiduran di pangkuan aku saja ya. Soalnya kasihan akunya entar badan pegel-pegel semua, he he."
Devan menuruti perkataan Elza, dia mengubah posisinya. Dengan beralaskan kursi khusus yang tersedia di ruang rawat inap Elza. Devan, tertidur di pangkuan sang istri. Tak lupa kedua tangannya melilit di pinggangnya yang tampak lebih kurus dari beberapa bulan yang lalu.
Elza yang merasakan pergerakan Devan hanya menggeleng pelan kemudian tersenyum hangat. Seakan dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini dengan Devan. Begitu banyak ingatan yang dirinya lupa tentang sepupunya itu, jadi dia tak tahu betul seperti apa hubungan mereka di masa lalu. Namun, Elza yakin mereka sangat dekat buktinya Devan bela-belain datang ke tempatnya berada sekarang untuk menemuinya.
Mereka saat ini hanya berdua di ruang inapnya. Sedangkan kedua orang tuanya sedang pergi keluar untuk menemui calon ibu mertuanya.
"Capek banget pasti," ucapnya pelan. Dia melirik wajah tampan sepupunya yang sedang terlelap dan memang ia mengakui jika sepupunya imut dan maskulin secara bersamaan.
Tok ... tok ... tok!
Ketukan pada pintu bercat putih itu mengalihkan perhatian Elza. Dia mengangkat pandangannya untuk melihat siapa yang datang, dan tak lama pintu itu dibuka dengan pelan.
Ternyata yang datang adalah orang tua kandung Elza, calon mertua dan juga calon suaminya. Elza langsung menyuruh mereka untuk tidak membuat suara karena Devan sekarang tengah tertidur jadi Elza tak ingin Devan terganggu.
"Shttt ... jangan berisik, Devan lagi tidur dia kayaknya capek banget." Elza berujar kepada tamu yang hadir. Kemudian, beralih kepada calon suaminya dia berucap dalam bahasa Inggris karena dia tahu Aron tidak terlalu memahami bahasa Indonesia.
Di sana Dimitri juga ikut. Namun, bocah laki-laki itu hanya menatapnya dengan pandangan bingung.
"Mama, itu siapa? Kekasih Mama, ya?" Dimitri berkata dengan spontan yang mengundang tatapan tajam dari sang Ayah.
"Dimi! Omongannya Sayang, siapa yang ajarin, hm?!" Aron berucap dengan aksen bahasa Inggris yang halus. Namun, penuh penekanan, dari mana putranya mengetahui tentang hal dewasa seperti itu, itu pasti dari sepupunya. Arin harus mengajarinya setelah ini.
__ADS_1
"He he, tidak apa-apa dia masih kecil. Dia adik sepupu Mama, Sayang." Tanpa menyadari tatapan tajam dan tak suka dari Aron Elza berucap tanpa beban.
"Cucu Kakek sini. Mama kamu belum pulih biarkan dia beristirahat." Aron membawa putranya kepelukan Kris Keysha.
Orang tua Elza dan orang tua Aron duduk di sofa yang tersedia di ruangan inap itu. Karena ruang inap Elza adalah VVIP jadi semuanya sangat lengkap dan berkelas.
Aron mendekat, kemudian ingin mencium kening Elza. Akan tetapi, niatnya terhenti saat pemuda yang tertidur di pangkuan calon istrinya reflek terbangun. Alhasil, dia tak dapat melanjutkan niatnya.
'Tidak akan aku biarkan istriku disentuh begitu saja.'
Ternyata, sejak awal Devan tak pernah tertidur dia hanya menutup matanya. Menikmati semua sentuhan yang dilakukan oleh sang istri.
Elza yang melihat Devan terbangun langsung memberikannya tissue basah untuk mengusap wajahnya. Devan yang baru saja terbangun tampak lebih fresh dan semakin imut karena ekspresinya tak dibuat-buat.
"Ya ampun, kok cute banget, sih!" Elza tak tahan mencubit pipi Devan saat mengusap wajahnya menggunakan tissue basah. Para orang tua dan Aron yang melihat hal tersebut tidak tahu harus mengatakan apa.
"Masih ngantuk." Devan berucap manja yang membuat Aron memutar mata jengah.
"Kalau gitu kamu cuci muka dulu, ya. Soalnya aku udah mau pulang juga, nih." Elza berucap pelan yang membuat Devan langsung menatapnya dengan mata yang mengerjap lucu selama beberapa detik.
"Kalau begitu ayo." Devan langsung berdiri dan mencoba untuk membantu Elza melepas infus yang terpasang di tangan kanannya.
"Eh, suster udah ada. Nanti suster yang bantu lepas. Evan, duduk aja dulu bareng Mama, ok." Elza mencoba memberikan pengertian kepada Devan. Pemuda itu, langsung tersadar dan menghentikan kegiatannya.
"Ok, Maaf."
"Tidak apa-apa," ucapnya sembari mengusap kepala Devan lembut.
"Stupid." Aron berucap pelan kemudian meninggalkan Devan dan Elza. Ia duduk di salah satu Sofa yang masih kosong.
Devan yang mendengar tersebut hanya mengabaikannya. Tidak terlalu perduli dengan pria yang ingi merebut istrinya.
__ADS_1
Akhirnya suster membantu Elza untuk melepas jarum infus yang tertancap di tangan kanannya. Ternyata, sudah beberapa detik yang lalu suster itu datang dan hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua pasangan itu yang menurutnya begitu serasi. Ia mungkin melupakan fakta bahwa wanita itu adalah calon istri dari Aron Keysha.