Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Pulang


__ADS_3

Setelah makan siang kami kembali ke hotel untuk beristirahat terlalu lelah rasanya berjalan-jalan seharian ini. Aku menatap Devan yang sedang bersandar di kepala tempat tidur. Di pangkuannya terdapat laptop yang menyala, mungkin saja dia sedang ada pekerjaan. Aku kasihan juga di saat kita liburan seperti ini, dia harus mengontrol perusahaannya.


Aku kemudian mendekat padanya dan langsung memeluk tubuh tegaknya. Devan tentu saja tak menolaknya, dia malah balas memelukku sembari mengusap-usap kepalaku lembut, setelahnya dia melanjutkan kembali pekerjaannya dengan aku yang masih setia memeluknya.


"An, besok kita pulang aja yuk, aku kasian liat kamu, harus kerja jarak jauh gini," tuturku pelan dengan suara yang sedikit mengantuk.


"Gak pa-pa, Sayang. Ini, aku hanya membalas email dari Ricko, aku tak mengerjakan apa pun untuk saat ini, Ricko yang melakukannya," balasnya sembari mencium puncak kepalaku lembut.


"Baiklah," gumamku pelan, entah sejak kapan kami semakin dekat seperti ini. Aku tidak terlalu memperdulikannya, intinya aku sudah menerima keadaanku sekarang—mempunyai seorang suami yang menyayangiku.


Keesokan harinya, Devan dan aku kembali berjalan-jalan, menikmati berlibur di pulau Dewata Bali. Aku sedikit kesal karena tempat ini ternyata, tempat mantan Devan tinggal, tapi aku bersyukur karena hari ini wanita itu tidak muncul lagi—mungkin dia sibuk. Lebih baik seperti itu, daripada dia menggangu suami orang.


***


Tak terasa ternyata sudah seminggu lamanya kami di Bali,  hari ini aku dan Devan akan kembali ke ibu Kota Jakarta. Aku sangat senang karena akan bertemu dengan orang tua Devan. Aku juga merindukan kedua orang tuaku. Kami hanya mampu berkomunikasi lewat ponsel saja, dan itu tidak selalu karena kesibukan mereka yang membuatnya jarang menghubungiku.


"Udah siap, Sayang?" tanya Devan sembari menampilkan senyuman hangat.


"Sudah," jawabku sembari membalas senyumannya.


Jika kalian ingin tahu apa saja agenda kegiatan kami selama di Bali, tentunya tanpa gangguan Tante-tante girang dan cabe-cabean rempong. Kami menghabiskan seminggu ini dengan bersantai tanpa adanya gangguan. Devan sering mengajakku ke pantai untuk menikmati sejuknya angin laut atau untuk melihat sunset. Intinya aku sangat senang, aku merasa Devan akan tetap berada di sisiku. Namun, hati ini terkadang masih ragu untuk membenarkannya. Huft, sudahlah biarlah seperti ini untuk sementara waktu.


"Kalau gitu, kita berangkat yuk," ajaknya lagi sembari menggandeng tanganku mesra.


Aku tentu membalas tautan tangannya dengan erat seakan mempertegas jika Devan hanya milikku seorang.

__ADS_1


Menurutku Devan adalah sosok pria yang sangat baik dan juga bertanggung jawab. Dia juga belum meminta haknya, karena dia paham aku masih belum yakin padanya dan dia memaklumi akan hal itu.


Pernah suatu malam, malam itu sangat dingin dan tiba-tiba entah setan dari mana aku memancin Devan, dia tentu tergoda. Apa lagi aku ini kekasih halalnya. Namun, dia paham aku masih belum siap jadi dia hanya menciumku semaunya tanpa melakukan hal lebih.


"Aku tahu kamu belum siap, Sayang." Devan menatapku dalam sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku. Deru napasnya menyentuh permukaan wajahku. "Aku akan menunggumu, hingga kamu siap, aku tak ingin memaksamu demi napsu sesaat ini, karena aku tak ingin menyakiti orang yang aku cintai," tuturnya pada malam itu. Aku langsung saja memeluknya dan menangis haru. Ternyata masih ada pria sepertinya di dunia ini. Untuk ini aku sangat berterima kasih kepada Allah dan juga kedua orang tuaku karena tanpa-Nya ini semua tak akan terjadi dan orang tuaku tak akan berpikiran akan menjodohkan kami.


Keesokan harinya Devan tetap bersikap seperti biasanya tak ada rasa marah yang tampak pada wajah tampannya.


Dia tak marah karena aku tidak memberikan haknya sebagai seorang istri. Dia adalah pria yang pengertian untukku. Aku berjanji tak akan membaginya dengan orang lain. Emang makanan apa bisa di bagi-bagi, dia cuman miliku.


***


Satu jam lamanya kami akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta.


Cuaca yang sedikit panas membuatku mau tak mau menggunakan tas sampingku sebagai penghalang terik matahari. Namun, Devan malah menarikku ke dalam pelukannya kemudian tangannya dia gunakan sebagai payung dadakan. Aku tersenyum menatapnya.


"Sama-sama, Sayang."


Akhirnya mobil yang dipesan oleh Devan telah sampai. Kami langsung saja masuk tak lupa koper yang kami bawa diletakkan di dalam bagasi mobil. Setelahnya, mobil melaju meninggalkan area bandara.


Tepat pukul empat sore kami telah sampai di kediaman orang tuaku. Aku dan Devan akan tinggal di sini sementara waktu, hanya sampai orang tuaku kembali dari New Zealand.


"Huft, capek banget ya Allah," gumamku sembari merebahkan tubuhku di sofa. Jujur saja, tubuhku rasanya remuk semua setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Mau aku ambilin minum?" tanya Devan yang baru saja datang sembari membawa dua koper. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Devan beranjak ke dapur untuk mengambilkanku air. Jahat banget 'kan aku, bukannya layanin suami malah aku yang dilayanin. Ah, sudahlah Devannya juga gak nolak. Jadi, aku harus bersyukur.

__ADS_1


"Ini." Devan menyodorkan segelas air putih aku langsung saja meneguknya hingga hanya tersisa setengah setelahnya aku memberikannya kepada Devan dan dia langsung meneguk sisahku hingga tandas. Astaga, aku terkesiap akibat apa yang Devan lakukan.


'Itu artinya kami berciuman secara tak langsung, dong,' rutukku dalam hati, tapi biarlah mungkin dengan itu kami bisa langgeng, ha ha.


"Kamu gak jijik?" tanyaku pada akhirnya sembari menyentuh bibir ini. Karena terlalu ecsaetik melihat dia meminum bekasku.


"Nggak, asal itu kamu, Say–"


Dert! Dert! Dert!


Perkataan Devan terhenti karena dering ponselnya.


Devan mengisyaratkan sebentar aku lanjutkan lagi. Kemudian dia mengangkat telepon tersebut tepat di sampingku, mungkin dia tak ingin ada kesalahpahaman lagi.


[Halo, Dev, kamu bisa tolong aku?] tanya suara di seberang sana dengan intonasi yang sangat lembut yang membuatku hampir muntah dibuatnya. Kenapa aku bisa mendengarnya karena Devan sengaja melauspeker jadi aku bisa mendengarnya.


Aku menatap Devan menunggu bagaimana respon dari pria unyu-unyu di sebelahku ini.


"Anda bisa mengaturnya dengan Sekertaris saya, kebetulan saya baru saja mendarat di Jakarta. Jadi, saya sangat lelah untuk sekedar berbicara," balas Devan datar, tak ada respon yang berlebihan yang Devan berikan.


"Mantul, An," ujarku memberinya jempol. Masa, kami baru sampai ke Jakarta eh dia udah rempongin suami orang. Baru kali ini juga aku melihatnya berbicara setegas itu kepada Laras, sewaktu di Bali dia selalu menolerir perbuatan Laras. Aku yakin pasti Laras sebal di seberang sana. Benar bukan, cinta lama tak pudar begitu saja dan akan selalu mengambil kesempatan jika mendapatkan cela di antara hati yang sedang sedih ataupun bahagia.


Pip! Devan langsung saja mematikan sambungannya kemudian beralih memeluk tubuhku dengan sayang. Aku hanya mampu tersenyum mendapatkan perlakuan darinya.


"Capek banget, Sayang. Aku butuh transferan energi dari kamu."

__ADS_1


"Ada-ada saja," ucapku pelan, tapi tak bisa menyembunyikan senyuman.


__ADS_2