
Rumah shaka banyak didatangi orang-orang untuk melayat zia sudah meninggal. Semua keluarga sedang berkumpul untuk pergi memakamkan jenazah zia, cia yang sedari kemarin menangis mendengar zia yang meninggal masih menangis dipelukan shaka.
Semua keluarga turut hadir untuk memakamkan zia hari ini. Rena yang kemarin pingsan saat mendengar anaknya meninggal pun masih menangis dipelukan suaminya. Termasuk aurel sahabat zia yang kemarin diberitahu oleh reksa pun langsung datang kerumah shaka.
Acara pemakaman sudah selesai, semua orang yang ikut sudah pulang terlebih dahulu kecuali keluarga zia dan shaka termasuk aurel masih setia disana. Batu nisan yang menuliskan nama zia diusap pelan oleh shaka, dengan kepala yang disenderkan kebatu nisan.
"Kenapa ninggalin aku cepet banget sih zi" gumam shaka.
Cia yang sudah pulang terlebih dahulu bersama rini dan anaknya, karena takut dia akan pingsan lagi seperti kemarin.
Tasya dan kedua orang tuanya pun turut hadir di pemakaman zia. Tasya sangat sedih mendengarnya zia sudah meninggal apalagi sebelumnya mereka bertemu dan mengobrol, tapi malamnya zia pergi. Tasya teringat perkataan zia yang memintanya untuk menjaga cia, itu artinya zia sudah mengetahui kalau dia bakal pergi.
Tasya berjongkok untuk menyimpan bucket bunga dimakan zia. Tasya memejamkan matanya untuk berdoa agar zia bisa tenang disana. Tasya menoleh kearah shaka yang sangat terpukul atas kehilangan zia, dia yakin shaka bakal menjadi pria dingin lagi setelah kepergian zia.
"Shaka ayo pulang kasian cia dirumah" ajak rena.
"Kalian duluan aja, shaka masih pengen disini" ujarnya.
"Baiklah jangan lama lama, kasian cia butuh kamu sekarang" ujar rena yang dibalas anggukkan shaka.
Semua orang pergi kecuali shaka dan Tasya. shaka menatap Tasya datar, "Ngapain masih disini? " tanya shaka.
"Ah iya aku mau ngasih ini dari zia" jawab Tasya sambil menyodorkan sebuah surat.
"Kenapa bisa ada dia kamu? "
"Kemarin zia nitipin itu suratnya ke aku, katanya kalo dia sudah tidak ada tolong kasih surat ke mas shaka gitu" jelasnya.
"Kalo gitu aku permisi" ujar Tasya.
Shaka menatap surat pemberian dari zia membuatnya sangat merindukan istrinya itu. Baru sebentar tapi dia sudah sangat merindukannya, zia yang sederhana, zia yang selalu memoerhatikkannya sudah tidak ada lagi sekarang.
Hanya cia sekarang yang harus dia jaga, teringat tentang cia shaka langsung menatap gundukkan makan zia.
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya, nanti aku sering sering kesini buat jenguk kamu. kamu udah gak sakit lagi sekarang zi, semoga tenang kamu disana. aku pulang dulu" pamit shaka tak lupa mencium batu nisan zia.
Sesampai dirumah shaka langsung berjalan kearah kamar milik cia, karena shaka tahu kalau cia sangat terpukul karena kepergian zia. Dirumah shaka masih banyak keluarganya yang masih disana untuk sekedar menemani cia dan shaka.
Shaka membuka pintu kamar cia, disana diatas kasur cia sedang memeluk foto zia. Shaka tak tega melihat anaknya yang masih kecil harus kehilangan ibu. Shaka berjalan menghampiri cia dan duduk disamping cia lalu mengambil alih foto zia dan langsung membawa cia kedalam pelukannya.
"Papa mama pergi papa" ujar cia sambil menangis.
"Tenang ya sayang, cia sayang kan sama mama?" tanya shaka dibalas anggukkan oleh cia.
"Mama disana udah bahagia sayang, jangan tangisin mama terus kasian loh sama mama ya"
"Tapi papa kenapa mama ninggalin cia? "
"Allah lebih sayang sama mama, makannya mama pergi dulu. Udah ya jangan nangis lagi, lebih baik cia mandi dulu abis itu makan ya"
"Cia gak mau makan papa" ujar cia sambil melerai pelukannya.
"Ya udah iya"
"Kalo gitu papa keluar dulu nanti kebawah ya"
Shaka keluar dari kamar cia dan berjalan kearah kamar miliknya dan zia. Saat membuka pintu kamar shaka menatap seluruh kamarnya disana banyak kenangannya bersama zia, istrinya.
shaka tertawa miris sambil berjalan untuk duduk dikasur. "Hufhtt.... Dikamar ini banyak kenangan sama kamu zi" ujar shaka pelan.
Tangan shaka terangkat untuk memijat pelipisnya yang pusing, menatap kearah jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore. shaka beranjak untuk membersihkan tubuhnya karena harus menyuapi cia.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya shaka langsung keluar dari kamarnya menuju kemeja makan karena disana masih ada keluarganya yang akan menginap di rumahnya.
Shaka duduk di samping kursi cia dan tersenyum kearah cia. "Papa suapin ya" kata shaka.
Semua makan dengan tenang tetapi wajah semuanya terlihat sedih walaupun sudah tersenyum tapi senyuman yang dipaksakan karena mereka takut cia bakal sedih.
__ADS_1
Setelah selesai semuanya pergi ke kamarnya masing-masing, biasanya mereka berkumpul diruang keluarga tetapi sekarang tidak karena mereka tahu semua pasti cape dan masih merasa kehilangan zia.
Shaka keluar dari kamar cia setelah menidurkan cia. Dhaka teringat surat yang tadi Tasya berikan saat di pemakaman, shaka buru-buru ke kamarnya dan mencari suratnya untuk membacanya karena sedikit penasaran isi didalam surat tersebut.
Setelah ketemu shaka berjalan kearah balkon kamarnya dan duduk dikursi yang ada di balkon. Matanya menatap langit malam yang mendung dan dinginnya angin malam yang menembus kulitnya yang hanya memakai kaos lengan pendek.
Shaka menatap surat yang ada ditangannya dan membawanya untuk memeluk sebentar surat tersebut. Shaka perlahan membuka surat tersebut, shaka tersenyum melihat tulisan tangan zia yang sangat rapi.
**Untuk suamiku mas shaka...
kalo mas shaka udah baca surat ini, itu artinya aku udah gak ada lagi. aku minta maaf sama kamu mas, aku diam diam kedokter tanpa sepengetahuan kamu karena aku takut bikin kamu khawatir aja..
aku berdoa supaya kamu sama cia selalu bahagia tanpa aku disamping kalian. aku harap kamu bisa jadi sosok ayah untuk anak kita cia mas, sampein maaf juga sama cia aku belum jadi sosok ibu yang baik buat cia...
Dan iya aku minta supaya kamu bisa menerima kehadiran Tasya dihidup kamu, karena aku yakin dia orangnya baik sebenernya. cia masih butuh sosok seorang ibu dan Tasya cocok untuk jadi ibu buat cia nanti mas...
aku berharap kamu bisa ya mas, tolong juga jagain cia dan keluarga aku ya mas...
terimakasih sudah menjadi sosok suami yang membuat aku merasa jadi ratu dikehidupan kamu mas, terimakasih dan juga minta maaf mas shaka..
segitu aja ya mas, semoga kalian bahagia tanpa aku lagi..
salam cinta zia**..
Air mata shaka terus mengalir saat pertama membaca surat dari zia. Shaka belum siap untuk kehilangan zia sekarang, dan apa sekarang zia memintanya untuk menerima Tasya kembali itu sangat sulit pikirnya.
Shaka terus menatap surat dari zia dan memejamkan matanya untuk menahan air matanya yang terus mengalir sedari tadi.
"Aku akan berusaha zi, aku juga bakal jaga cia dan keluarga. kamu yang tenang disana ya, tapi maaf kalo buat Tasya aku belum siap sayang aku masih belum bisa zi"
"I love you my wife".
End
__ADS_1