
Peralatan medis resmi terlepas dari tubuh Elza yang membuatnya tersenyum lemah, karena sudah terbebas dari benda-benda rumah sakit itu, dirinya tidak tahan dan sedikit fobia dengan hal yang berkaitan dengan rumah sakit saking seringnya masuk ke tempat yang identik dengan bau obat ini.
"Ayo, Devan antar pulang." Devan langsung menarik tangan Elza untuk ikut bersamanya.
Aron yang melihat hal tersebut lantas menghalangi jalan mereka sembari menatap Devan tajam. Ia juga melirik Elza yang hanya diam tak bereaksi ketika ditarik oleh Devan.
Devan kemudian menatap Elza dengan pandangan yang syarat akan makna. Sementara itu, orang tua mereka hanya mampu terdiam dan tidak ingin mencampuri urusan mereka. Karena mereka tahu, bahwa Devanlah suami sah dari Elza.
"Em, Aron tidak apa-apa. Sepupuku baru bertemu lagi denganku jadi bukan masalah 'kan dia bersamaku terlebih dahulu?" Elza berucap sembari tersenyum lembut ke arah pria yang akan menjadi suaminya kelak.
Devan yang melihat Elza memberikan senyum lembut ke arah pria di depannya, langsung menatap Aron dengan pandangan tajam. Dirinya tak ingin miliknya memberikan senyum manis kepada pria lain.
Aron kemudian menyingkir dan tidak memperdulikan tatapan tajam dari Devan. Elza kemudian mengangguk dan kali ini ia yang menarik Devan untuk bergegas keluar dari ruang inapnya.
"Aku belum selesai denganmu." Devan berucap pelan tepat di samping telinga Aron sebelum benar-benar berlalu diikuti oleh kedua orang tua mereka.
Aron yang mendengar ucapan sepintas dari Devan hanya tersenyum tipis tak gentar dengan apa yang boca itu ingin lakukan.
Aron tak pernah berpikir bahwa Devan bisa saja membawa hal ini ke rana hukum karena telah menyembunyikan istrinya dan membuatnya hilang ingatan, praktik ilegal yang Aron lakukan kepada Elza pasti cepat atau lambat akan diketahui oleh Devan, Devan juga memiliki surat nikah yang sah dari pengadilan agama sehingga Aron tak bisa melangsungkan pernikahan begitu saja tanpa persetujuannya.
Perjalanan dari rumah sakit hingga ke rumah keluarga besar Kris Keysha memakan waktu yang cukup lama karena mereka mengendarai mobil tidak terlalu cepat dikarenakan Elza yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Sesampainya di rumah besar itu, mereka disambut oleh beberapa pelayan kebetulan tak ada anggota keluarga yang datang berkunjung jadi semuanya tampak sepi.
Elza kemudian dituntun oleh Devan menunju ke kamar yang ia tempati selama di rumah besar ini, Devan dengan telaten mengurus sang istri tak membiarkan Aron sedikitpun menyentuh Elza lagi.
"Sayangnya Devan istirahat ya, biar bisa cepat pulang ke Indonesia," ucap Devan sembari menatap lekat wajah sang istri yang tampak memerah saat ditatap begitu dekat oleh Devan.
Elza mencoba untuk menguatkan hatinya dari perasaan aneh ini, godaan dari sepupunya seperti suatu hal yang sangat dirinya inginkan dan rindukan, tapi dia takut nantinya hal itu menyakiti calon suaminya Aron jika dia terlalu dekat dengan sepupunya ini. Hanya saja, sepupunya ini terlihat sangat merindukannya yang membuat Elza kembali bertanya-tanya seberapa dekat mereka.
"Iya, makasih do'anya. Kamu nggak risih gitu manggil Kakak sepupu kamu dengan panggilan sayang?" tanya Elza dengan bingung.
"Tidak, malah Devan udah biasa manggilnya sayang," jawab Devan sembari tersenyum lembut.
Jawaban yang Elza dapat semakin memperkuat asumsinya bahwa hubungan mereka tidak biasa. Namun, dirinya tak ingin menebak terlalu jauh toh dia juga sebentar lagi akan menikah dan mana mungkin dia menjalin hubungan dengan sepupunya sendiri seperti tak ada pria lain, terus sepupunya jauh lebih muda darinya begitu tak masuk akal bukan.
__ADS_1
"Devan keluar dulu, ya." Devan mengecup singkat puncak kepala sang istri kemudian berdiri. Di dekat pintu ada Aron yang menyaksikan semuanya dia tampak kesal dengan pria di depannya itu, ingin rasanya menghajar pria yang mengaku sebagai sepupu calon istrinya..
Elza yang mendapatkan perlakuan intim dari Devan sedikit terkejut apa lagi dirinya melihat sosok Aron yang memiliki ekpresi tidak sedap dipandang pasti dia cemburu, sangat aneh jika dirinya tak cemburu ketika calon istrinya didekati oleh orang lain, tapi ini adalah sepupunya yang akan menjadi kerabat nantinya. Elza hanya mempu memberikan tatapan tanpa saya agar Aron dapat mengerti dengan situasinya.
"Devan, lain kali jangan nyium aku gitu, ya. Kasian tuh calon aku cemburu," ucap Elza sembari tertawa hambar, dia hanya ingin mencairkan suasana saja. Dia cukup bersalah dengan Aron karena pria itu pasti sedikit merasa sakit hati.
Sedangkan Devan tak menjawab, karena hatinya terasa perih saat mendengar sang istri mengucapkan calon suami.
'Calon suami apa? Hanya Devan yang berhak menjadi suami Elza, ck beraninya pria tua di depanku ini ingin merebut istriku, tidak akan aku biarkan.'
"Saya punya sesuatu untuk dikatakan," ucap Devan menggunakan bahasa Inggris kepada Aron karena dia tahu pria itu tak terlalu paham dengan bahasa Indonesia.
Tanpa membalas ucapan Devan, Aron langsung mengikuti Devan yang berjalan keluar dari kamar Elza, dirinya tahu bahwa pria itu akan mengorek informasi darinya. Lantas mengapa? Elza sekarang hanya mengingatnya dan mereka akan segera menikah.
Sementara itu, di ruang keluarga orang tua Elza berserta orang tua Aron tampak berbincang dengan sangat serius.
"Kami sangat minta maaf atas hal yang diperbuat oleh putra kami," ucap Kris Keysha kepada orang tua Elza dengan penuh sesal.
"Kami sangat menyayangkan ini, tapi kami harap anak Anda ingin mengungkapkan segalanya, karena kami tahu bahwa menantu kami tidak akan tinggal diam." Ayah Elza berucap dengan tegas, kedua orang tua Aron hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Hm, untuk saat ini saya belum bisa memastikan itu semua tergantung kepada putra menantu kami," balas Ayah Elza dengan penuh sesal karena dia juga tak menginginkan hal ini. Akan tetapi, perbuatan Aron sangat tidak bermoral dia berani melakukan tindakan yang membahayakan untuk putrinya serta berniat merebut kebahagiaan orang lain. Jika, mereka tidak mengetahui hal dengan segera mungkin apakah mereka akan mengungkapkannya? Terlalu naif pikiran mereka mengira bahwa pihak keluarga Elza akan tetap tinggal diam.
"Semoga saja semuanya berjalan dengan seharusnya," ucap Amira Ibunda Aron, Sinta—ibu Elza hanya mampu mengangguk tanpa daya karena dia sangat kecewa dengan teman lamanya itu. Namun, di lain sisi dia juga tak bisa membencinya karena Sinta tahu pasti dia tak berdaya pada saat itu.
Sedangkan di bagian belakang rumah besar itu, terlihat dua orang pria yang berdiri tegak saling berdampingan. Semilir angin menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka, juga menambah rasa nyaman kepada keduanya.
"Mengapa Anda melakukan hal seperti ini kepada istri saya ketika Anda mengetahui identitasnya?" Suara Devan yang biasanya lembut berubah dingin saat berhadapan dengan pria yang ingin merenggut belahan jiwanya. Devan tidak bisa membayangkan rasa sakit yang Elza rasakan saat menjalani proses itu.
"Karena saya mencintanya sejak pertama kali melihatnya, dia tidak bahagia bersama Anda, kami sebentar lagi akan menikah jadi mengalah saja." Aron membalas dengan tenang karena dirinya telah mencari tahu apa yang telah Elza alami sehingga bisa sampai bersamanya.
Devan yang mendengar balasan Aron lantas menatapnya dengan pandangan yang meremehkan, Devan begitu kesal mendengar pernyataan itu atas dasar apa pria di depannya menegaskan bahwa istrinya akan menderita jika bersamanya. Tidak ada yang pantas bersanding dengan Elza kecuali dirinya, kenapa pria di depannya ini begitu percaya diri.
Devan menatap lurus ke arah Aron, pria itu sangat tenang di permukaan. Namun, hanya dirinya yang tahu seberapa besar keinginannya untuk menghajar Aron sekarang.
"Pikiran Anda terlalu sempit tuan, Anda tidak mengetahui kehidupan pribadi kami, tapi begitu cepat menyimpulkan hal yang bukan sebenarnya. Satu lagi, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, karena saya adalah suami sah dari Elza, terlebih lagi Anda melakukan perbuatan yang melanggar hukum, jadi bagaiamana jika ini saya bawa ke rana hukum?"
__ADS_1
"Hn, Saya mengetahui beberapa, kekasih masa lalu Anda selalu menganggu Elza dan Anda tidak dapat melindunginya dengan baik. Jadi, biarkan dia bersamaku, masalah hukum itu tidak akan pernah terjadi, akulah hukum di tempat ini."
Emosi Devan hampir saja tersulut kemudian dia berusaha untuk tenang kembali, dia berpikir bahwa Aron adalah pria yang tidak tahu malu. Namun, apa yang pria itu katakan tidak salah, dia gagal melindungi orang yang dirinya cintai, hal ini sedikit membuat Devan merasa buruk terhadap Elza dan dirinya sendiri, setelah ini dia harus menyelesaikan skor dengan keluarga Laras. Masalah Aron yang memegang hukum dirinya tidak perduli, mereka sama-sama orang yang berpendidikan tinggi jadi tahu menahu masalah hukum, bagi orang yang berkuasa seperti mereka hukum dapat dimanipulasi.
"Saya bukan orang yang mudah untuk menyerah dan berkompromi dengan apa yang telah menjadi hak milik saya, kita sama-sama tahu kebenarannya. Anda tidak mencitai istri saya, hanya obsesi karena istri saya begitu mirip dengan mendiang istri Anda yang membuat Anda berpikir bahwa dialah yang pantas untuk menjadi ibu dari anak Anda, padahal mereka tidaklah sama. Sekali lagi Anda hanya mencari pengganti istri Anda, dan Elza tak pernah mengatakan mencintaimu dia adalah wanita yang berpikir dengan logika tidak mungkin langsung jatuh cinta denganmu sejak pertama kali bertemu seperti yang dirimu katakan."
Penuturan Devan membuat Aron terdiam, Elza memang tak pernah mengatakan dia mencintainya bahkan ia menggunakan cara kotor agar Elza bisa menjadi miliknya. Layak, jika dia dikatakan kejam, dia menggunakan Elza sebagai pengganti karena begitu mirip dengan mendiang istrinya serta putranya begitu menyayangi Elza dan menganggapnya sebagai Mama.
"Jika Anda masih bersikeras maka saya tidak akan ragu untuk membawa masalah ini ke pengadilan, bukti yang saya pegang sudah cukup untuk menahan Anda."
"Satu lagi, kalian beda agama dalam agama kami wanita muslim tidak boleh menikahi laki-laki yang tidak beragama islam, jadi apakah Anda masih ingin melanjutkan atau mundur karena Tuhan saja tidak merestui, di agamamu pasti diajarkan hal yang sama bukan, bahwa ada aturan tentang menikahi wanita atau pria beda agama."
"Saya ateis!"
Pernyataan Aron membuat Devan terdiam dan menggeleng, ingin rasanya Devan mengatakan, 'Jadi, kamu bersedia pindah agama demi menikahi Elza?' Tapi Devan tak mengatakannya terus terang itu sama saja memberikan kesempatan kepada Aron.
"Hm, juga yang bukan milikmu tak akan menjadi milikmu."
Setelah mengatakan hal tersebut Devan meninggalkan Aron sendirian di taman belakang rumahnya. Aron tampak diam membisu, pria itu bungkam seribu bahasa karena segala tindakan yang akan Devan lakukan sudah direncanakan dan semuanya mempunyai bukti. Aron yang menyadari hal tersebut, mengingat perkataan kedua orang tuanya tentang Devan dan ternyata perkataan itu benar pria muda itu tak bisa diremehkan begitu saja.
"Kenpa semuanya menjadi kacau?"
"Juga yang bukan milikmu tak akan menjadi milikmu." Suara Devan masih berdengung di telinganya. Pria yang lebih muda darinya ternyata memiliki kemampuan untuk melawannya.
"Sial!"
Saat ini, Devan kembali ke kamar Elza ia menatap sang istri yang sedang istirahat di kasur queen size-nya, ada rasa sesak serta kerinduan yang terpancar dari netra hitam pekatnya.
Perlahan Devan mendekati sang istri yang masih terlelap, Devan meraih tangan sang istri dan menciumnya penuh kerinduannya, sedikit kemudian netra itu berkaca-kaca di setiap kedipannya ada kerinduan yang begitu mendalam kepada sang istri.
"Maaf, karena aku terlambat menemukanmu," ucapnya dengan nada pelan, ia berusaha mengeluarkan suara meskipun harus sedikit dipaksakan.
Devan kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri, kemudian merengkuh tubuh mungilnya yang tampak rapuh, hampir tiga bulan lamanya mereka berpisah. Namun, Devan merasa mereka telah berpisah selama bertahun-tahun.
"Selamat tidur cahayanya Devan! Ssth ... semuanya akan baik-baik saja."
__ADS_1