Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Amarah Devan


__ADS_3

Kini ia terduduk di ruang gelap. Hanya ada kesunyian yang terasa. Seberkas cahaya pun tak ingin menyapa. Dirinya dilingkupi kecemasan, sedang menanti apakah dia akan kembali atau tidak.


Ia terduduk di ubin lantai sembari memangku tubuh di lengan kursih. Laras, terdiam tak dapat berucap rasa cemas dan khawatir begitu menghantuinya.


Dia takut jika Elza kembali maka dirinya akan masuk ke dalam asrama yang memuakkan. Dia tak ingin itu terjadi, bagaimanapun caranya Elza harus lenyap dari pandangannya.


Derit langkah kaki saling bersahutan mendekati area kekuasaannya. Dia tetap bergeming tanpa ingin bersuara kala ada yang mengetuk.


"Laras, Sayang. Kamu kenapa? Jangan khawatir dia tidak akan kembali dia telah menghilang untuk selamanya. Jadi, kau tidak perlu cemas, Sayang." Suara merdu nan lembut mengalun merdu di balik pintu. Mengusik Laras dari ketenangan kemudian ia menoleh dan senyum kemenangan tersemat di bibirnya.


Dia kemudian berdiri dan merapikan penampilannya untuk memastikan apakah berita yang baru datang ini adalah suatu kebenaran mutlak atau hanya kabar burung semata untuk menenangkan perasaannya.


Di balik itu semua, Laras merasa sangat senang dari lubuk hati terdalam. Rangkaian pendekatan kepada Devan mulai tercipta di pikirannya.


Ceklek!


Suara kenop pintu terdengar saat Laras memutar hanselnya pertanda pintu itu terbuka.


"Apakah ... yang Mama ucapin beneran?" tanya Laras perlahan.


"Beneran, Sayang. Papa sama Mama udah cari informasinya dan mereka tak menemukan keberadaan wanita itu. Jadi, kamu bisa tenang, Sayang." Papa Laras menyahut untuk membenarkan yang membuat senyum manis terbit di bibir Laras.


Laras langsung saja memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kegembiraan. Ternyata wanita cantik itu adalah seorang wanita iblis yang menyamar. Ia tega memisahkan sepasang suami istri demi meraih tujuannya memiliki pria dari wanita yang ia sakiti. Namun, akan selalu ada karma yang berlaku setiap perkara yang dilakukan maka nantinya akan dibayar mahal entah itu dari wanita yang ia sakiti atau dari orang lain.


...


Sementara itu, sesosok pria imut nan rupawan sedang terduduk di kursi sembari menunduk. Di depannya sudah ada mertua dan kedua orang tuanya. Pria itu adalah Devan, dia hampir menangis karena tak dapat menemukan Elza di manapun. Sudah dua hari lamanya dia mencari. Namun, sayang  keberadaan Elza tak ditemukan. Elza seakan ditelan oleh bumi.


Pria baik itu merasa bersalah karena tak dapat menepati janjinya kepada mertuanya. Ia hanya mampu berkata maaf. Ia masih melakukan pencarian sampai sekarang.


Sedang para tersangka itu tidak mengeluarkan jawaban apa pun. Mereka mengaku jika Elza lompat dari dalam mobil sewaktu mereka ingin membawanya ke kota. Devan pada saat itu langsung saja emosi mendengar jawaban mucikari tersebut.


Devan sangat menyalahkan dirinya. Pasti Elzanya sangat ketakutan di sana. Apa lagi sang istri phobia akan gelap. Bagaimana nasib Elza di sana yang ia pun tak tahu di mana itu.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah, Sayang. Kita tunggu saja kabar dari para informan Papa," sahut mertua Devan sembari tersenyum kecil.


Raut wajah mereka memang menunjukkan senyuman. Namun, hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka harus menyelesaikan proyek yang mereka kerjakan di sana dan bergegas pulang ke Indonesia ketika mendapatkan kabar bahwa putri mereka menghilang sejak seminggu yang lalu. Hari ini adalah hari kesembilan putri mereka menghilang dan mereka masih berusaha mencari dengan mengerahkan semua informant mereka.


Mereka curiga jika ada yang menyelamatkan Elza dan membawanya pergi. Dugaan sementara itu diyakini pihak keluarga Devan. Mereka juga merasa bahwa keadaan itu mungkin saja terjadi.


Apa lagi di tempat itu tiada CCTV jadi sangat sulit untuk menemukan jejak. Setelah ditelurusi di mana tepatnya Elza melompat polisi memang menemukan jejak darah yang sudah mengering hal itu menguatkan asumsi mereka bahwa Elza selamat, tapi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Iya, Pa. Maaf, Devan tak dapat menepati janji Devan untuk menajaga Elza, tapi Devan akan berusaha untuk mencarinya. Devan yakin Elza baik-baik saja dan berada di tangan orang yang tepat.


Mereka semua hanya mampu memberi semangat agar Devan tidak menyalahgunakan dirinya dengan insiden hilangnya Elza. Mereka ingin sekali menyeret Laras dan keluarganya, tapi tak ada cukup bukti yang kuat untuk menarik mereka 'tuk masuk ke dalam ranah hukum.


...


"Aku memberimu satu bulan untuk bersenang-senang."


Brak ...!


Laras melempar ponselnya saat mendapatkan pesan dari nomer misterius.

__ADS_1


Dia ketakutan, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Laras kemudian mengambil kembali ponselnya dan mencoba untuk menghubungi nomer asing tersebut. Namun,  tak dapat tersambung.


Siapa yang mengirimi Laras pesan? Kenapa pesan itu seperti berisi nada ancaman dari seseorang yang pernah ia sakiti.


"A-apakah dia masih hidup?" tanya Laras gugup. Baru saja ia bersenang-senang karena wanita itu telah tiada. Akan tetapi, pesan itu berhasil menamparnya kembali kekenyataan.


Sudah hampir sebulan lamannya Elza menghilang dan sekarang pesan itu muncul berarti Elza tidak meninggal? Laras menebak-nebak apa yang terjadi pada Elza. Kenapa pesan itu tiba-tiba datang? Ataukah pesan itu dari sahabat Elza yang juga membencinya karena mengira dialah dalang di balik menghilangnya Elza?


"Huft ...! Tenang Ra, kamu pasti bisa mengatasinya ini hanya pesan biasa mungkin mereka salah sambung atau ini mungkin pesan dari dialer yang mau narik mobil seseorang karena udah nunggak gak bayar cicilan. Haha, iya itu pasti pesan dialer yang nyangkut di ponselku." Laras tertawa sendiri. Kemudian menangis seakan ia menertawai dan menangisi dirinya yang bodoh.


Sementara itu, Devan menjalani hari-harinya dengan kondisi yang tidak bergairah. Ia seperti mati rasa. Wajahnya yang imut tak pernah lagi memancarkan senyuman yang membuat para karyawannya merasa prihatin karena mereka juga mendengar berita jika istri dari bosnya itu telah dinyatakan meninggal dunia dalam insiden menyelematkan dirinya sendiri agar tak dijual. Terkadang mereka merasa ngeri sendiri jika mengingat cerita itu.


"Hei, Bro. Kok cemberut gitu? Senyum dong. El–eum maksud gue para karyawan takut liat lo kek gitu kayak gak punya perasaan!" Suara dari sahabat Devan tak membuat pria imut itu menoleh. Ia terlalu malas untuk membahas hal tersebut yang nantinya akan membuat ia merasa bersalah.


Semua orang tahu bahwa Devanlah pihak yang paling tersakiti di sini. Meski orang tua Elza telah mengatakan bahwa Elza pasti akan kembali dan dia baik-baik saja. Namun, kenyataan pahit selalu menampar mereka dengan keras.


Riko yang tak digubris oleh sahabatnya itu memilih untuk diam kemudian melanjutkan memeriksa berkas yang Devan suruh. Sebenarnya ia bisa melakukannya di ruangannya hanya saja ia takut sahabatnya itu melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Seperti di film-film cinta dapat menyebabkan bunuh diri kan ngeri.


Tok ...! tok ...! tok ...!


Ketukan pada pintu ruangan Devan membuat kedua kaum Adam itu menoleh dan bersitatap seakan berkomunikasi lewat telepati Riko mengangguk sebagai jawaban saat mengerti apa maksud Devan.


"Masuk!" pintanya dengan suara yang rendah.


"Ada apa, Fi?" tanya Riko saat melihat sekertaris Devan muncul. Devan pun begitu, ia menatap sekertarisnya dengan pandangan tanya.


"Begini Pak, di luar ada Nona Laras. Katanya ia ingin bertemu dengan Pak Devan," jawab Fio pelan. Ia tak dapat melihat ekpresi bosnya seperti apa karena ia terlalu segan hanya untuk menatap wajah bosnya.


Sementara itu, Devan tampak mengerutkan alisnya. Sebelum senyum jahat tercipta di bibir pink pucatnya.


Devan juga mengkode Riko untuk bersembunyi dan menyuruhnya melakukan sesuatu.  Devan tahu bahwa hal ini akan terjadi, dan dia tak akan berhenti jika belum mendapatkannya. Devan selalu merasa buruk jika memikirkan hal ini. Kenapa ia harus dipertemukan dengan wanita sepertinya.


Riko yang mendapatkan kode dari Devan hanya mengangguk kemudian bersembunyi di balik pintu.


Semuanya kembali seperti biasa senyap tiada suara sedikitpun yang terdengar. Sampai pintu dibuka tanpa diketuk.


Di ambang pintu Laras datang dengan wajah yang teramat bahagia. Tiada senyum yang menyambut–membuat senyuman pada bibirnya perlahan memudar.


"Ada masalah apa Anda datang kemari? Bukannya perusahaan kami sudah memutuskan kerja sama dengan Anda?" tanya Devan bingung. Seakan tiada perselisihan yang pernah tercipta di antara mereka. Semuanya terjadi begitu saja tanpa harus menggunakan skenario yang nyata. Devan tak perlu bertingkah sok baik padanya.


"Bukan, aku ke sini datang untuk menemuimu. Kau tahu, aku mendapatkan kabar tentang Elza, tapi ...."


Laras menatap Devan dengan pandangan ibah. Seakan informasi yang dirinya temukan adalah sesuatu yang dapat menyakiti hati Devan. Namun, tiada yang tahu bahwa ia tersenyum penuh kemenangan dalam hati tak lupa sumpah serapah ia lontarkan untuk Elza.


Devan yang mendengar hal tersebut lantas mengkerutkan alisnya. Ia tak ingin tertipu akan ucapan Laras. Ia paham bahwa ini tidak sesimpel seperti apa yang ia pikirkan.


Riko yang mendengar hal tersebut sudah menduganya bahwa Laras datang ingin menyampaikan hal tersebut. Sebenarnya ia juga tahu, tapi ia terlalu tidak enak untuk mengatakannya langsung.


"Sebenarnya Elza, dia su–"


"Stop!"


Perkataan Laras langsung di sela oleh seseorang yang tak lain adalah Dinda dia membuka pintu secara perlahan saat mendengar suara Laras di dalam dan benar saja ia ingin memanipulasi pikiran Devan agar Devan membenci Elza. Tidak! Ia tak akan membiarkan hal itu.

__ADS_1


"Dinda?" Devan dan Riko berucap serentak.


Laras yang mendengar suara itu lantas mencibir. Walaupun ia ingin membantah fakta itu, tapi itulah kenyataannya.


"Jangan percayai apa yang dikatakan wanita ular ini, Dev," ucap Dinda lagi sembari berdiri di depan Laras.


"Ck, lo ingin nutupin bahwa sahabat munafik lo itu udah tunangan sama pria bernama Aron Keysha putra tunggal pengusaha sukses Amerika Kriss Keysha, apa hal ini bakalan lo sebut bercanda. Jika ia,  maka lo emang wanita bodoh," pungkas Laras sembari menatap Dinda meremehkan.


"Jaga ucapan Anda. Jangan sekali-kali Anda sebut tunangan saya bodoh!" peringat Riko sembari berdiri di sisi Dinda yang sedang menetralkan emosinya.


"Jadi, Dev. Siapa yang kamu percayai sekarang. Aku atau mantan istrimu itu yang telah mengkhianatimu," lanjut Laras sembari mendekati Devan. Ia tak memperdulikan ocehan dari Damar, tujuannya hanya satu yaitu menaklukkan hati Devan.


Devan yang didekati lantas menjauh. Pandangannya menunduk, tiada yang tahu bagaimana perasaan pria imut itu.


"Siapa yang Anda sebut mantan istri?"


Laras terdiam, tak dapat berucap ketika mendengar suara dingin Devan. Baru pertama kali dia mendengar suara penuh kebencian ini.


"Anda yang membuat hal ini bisa terjadi. Jika, saja Anda tak merencanakan untuk menculiknya dia tak mungkin harus berada di posisi itu sekarang!" Devan bersuara. Tatapannya membeku ada jejak es yang tak bisa dijelaskan, Devan menatap Laras dengan pandangan yang sangat dingin karena tak menyangka dia akan melakukan hal itu kepadanya. Bahkan, kejadian di masa lalu, tak membuat Laras berubah masih saja menargetkan Elza.


"Anda tahu, saya sebelumnya masih menganggap Anda sebagai teman. Jadi, saya tak memberikan bukti bahwa Anda yang merencanakan penculikan Elza, tapi untuk saat ini dan seterusnya kita hanyalah orang asing dan tunggu sampai saya kembali lagi bersama istri saya maka Anda harus membayar kompensasi dari perbuatan Anda. Saya tak pernah menyangka Anda akan sehina ini. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, Apa yang Anda dapatkan dari menghancurkan saya, ha?!" Nada suara Devan mulai meninggi yang membuat Laras dan Dinda terperanjat.


"Itu karena aku menyukaimu, Dev. Hatiku sakit saat melihat kemesraanmu dengan Elza. Kenapa harus dia yang kau pilih? Kenapa? Di saat aku masih ada di sini selalu menunggumu! Kenapa Dev? Apa aku kurang menarik? JAWAB DEV?!" Laras balik berteriak. Matanya juga berkaca-kaca. Ia juga sakit melihat Devan tersiksa selama sebulan ini. Namun, ia menembalkan perasaannya. Ia bertekad untuk mendapatkan Devan.


"Anda masih bertanya kenapa saya lebih memilihnya ketimbang Anda? Apakah selama ini Anda tak pernah bercermin? Bagaimana Anda mengkhianati saya dengan kejam saat status perjodohan itu masih ada, saya melihat dengan mata saya sendiri. Bagaimana Anda dengan santainya melakukan hubungan suami-istri dengan pria lain. Di saat saya menunggu Anda dengan sabar selama berjam-jam. Anda tahu, waktu itu saya merasa sebagai pria paling bodoh saat Anda dengan bajingan itu menertawai saya yang begitu polos. Apa jawaban ini kurang pas kenapa saya lebih memilihnya daripada Anda? Dan sekarang Anda membuat dia pergi! Lalu bertindak menjadi seorang penolong, heh Anda terlalu naif nona Laras. Andalah yang membuatnya pergi. Dia pergi! Elzaku pergi itu semua karena ulah Anda! Jadi sekarang saya harus apa? Di saat belahan jiwa saya pergi, separuh jiwa saya juga ikut lenyap dan saya berharap tak mendengar kata-kata itu untuk saat ini karena saya ingin meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja, tapi Anda dengan tidak berperasaan mengatakan semua itu. Sangat pantas jika julukan Anda adalah seorang iblis tidak berperasaan! Karena kita sudah tidak mempunyai hubungan apa pun, silakan Anda keluar, jangan menjadi tidak tahu malu tetap berada di tempat orang yang ingin menghancurkanmu, Nona."


Laras yang mendengar jawaban Devan membeku, dirinya tak menyangka begitu besar cinta Devan untuk Elza, ada rasa benci sekaligus jijik di hatinya saat mengetahui wanita sialan itu telah merenggut haknya.


Laras membenci fakta bahwa dirinya pernah mengkhianati Devan, dia sangat percaya diri bahwa penyebab semuanya terjadi adalah karena ulah Elza. Sangat wajar jika dia disingkirkan meskipun nasib buruk tak mengikutinya itu masih bagus karena dia bisa mendekati Devan lagi tanpa halangan tak perduli Devan berkata apa.


"Kenapa aku melakukan itu semua, karena jika aku tak mendapatkanmu maka orang lain tak boleh juga mendapatkanmu. Bagaimana rasanya sakit bukan? Itulah rasanya saat aku mengetahui kau menikah dengannya. Jika, aku berbuat salah kepadamu di masa lalu apa itu tak dapat dimaafkan. Aku yakin istirmu itu tidaklah virgin saat kau menikahinya," ungkap Laras tak mau kalah. Dia sangat mengenal Devan, dia akan segera melupakan pertengkaran ini. Laras sangat salah jika masih berpikir demikian Devan hanya menyimpan kredit untuk membuat Laras menderita di tangan Elza agar semuanya setimpal.


Plak ...!


Tamparan keras mendarat di pipi Laras. Ternyata Dinda yang menamparnya. Dinda menatap Laras penuh marah terlalu sakit hati ketika sahabat dari kecilnya itu ia hina dengan menyebutnya tidak virgin lagi sebelum menikah dengan Devan.


"Kamu—"


"Jaga mulut busuk lo, harusnya lo yang tanya sama diri lo sediri masi virgin enggak? Elza wajar nggak virgin toh udah punya suami, yang jadi masalah kalau lo belum punya suami tapi untuk enggak virgin, duh. Main tuduh orang tapi gak ngaca dulu, cermin banyak di pasar Mbak, 10 ribuan." Dinda berucap dengan sangat pedas tidak menyimpan sedikitpun kehormatan untuk Laras yang membuat wanita itu sangat marah mendengar cemoohannya.


"Keluar Anda dari kantor saya sekarang! Saya sudah muak melihat wajah menjijikkan itu! Oh, iya satu yang harus Anda ingat dan catat yang membuat Elza tidak virgin lagi itu adalah saya, Anda telah mendapatkan jawaban yang jelas maka sekarang silahkan keluar. Atau saya harus memanggil keamanan untuk nenyeret Anda keluar dari sini?" tanya Devan dengan mimik wajah tidak bersahabat. Rasanya dia juga ingin menampar bibir Laras yang sok tahu itu. Bagaimana dia bisa menyebut Elza tidak virgin sebelum menikah dengannya sedang dia sendiri yang merasakan istrinya.


"Jangan pernah menumpahkan kotoran kepada orang lain demi hanya untuk mencari pembenaran semata!"


Devan bersuara pelan. Setelahnya sia tak melihat lagi sosok Laras.


Laras yang  diperlakukan demikian jelas merasa terhina. Dirinya hanya ingin mendapatkan cinta Devan kembali apa itu salah? Apakah tiada kesempatan kedua baginya?


Setelah kepergian Laras, Devan langsung terduduk di kursi kerjanya. Ia memijit pelipisnya pelan demi menghapus rasa sakit yang tiba-tiba hadir.


"Van, lo gak pa-pa 'kan, tenang aja yang dikatakan sama Laras gak bener kok. Tunggu aja sampai waktunya tiba semua akan kejawab dengan sendirinya," ucap Dinda memberi pengertian.


Devan hanya mengangguk. Meski hatinya terluka, tapi ia tetap tak bersuara. Ia tahu hal ini berat, tapi semuanya telah terjadi dan itu semua ulahnya.

__ADS_1


"Saya mengerti." Devan hanya mengangguk sebagai jawaban, dia sangat paham apa yang sedang terjadi sekarang dirinya sedang mencari bukti untuk mengungkap semuanya.


__ADS_2