
Ternyata yang datang adalah Mama dan Papa mertuaku mereka datang menjenguk. Aku sudah menduga pasti mereka akan datang lagi, karena hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah.
Wajahku mendadak bersemu merah ketika melihat mereka yang sedikit terkejut dan saling pandang. Aku hanya bisa menunduk dan mencoba menetralkan degup jantungku yang sedang bertaluh merdu di dalam sana.
Devan menatap kedua orang tuanya sembari berkata, "Kalian datang di waktu yang tidak tepat!" Devan membuang muka, wajahnya memancarkan kefrustasian yang membuat Elza gemas melihat Devan memasang wajah kecut seperti itu.
"Huh!" Kudengar nada kekesalan di dalam suaranya. Pria itu pasti sangat kecewa.

Devannya ngambek:v
Gambar : pinterest
Bukannya membujuk putra mereka, aku melihat kedua mertuaku mengabaikan Devan seakan dia tak pernah ada di ruangan ini. Keduanya langsung menghampiriku dengan pandangan yang sangat lembut.
"Gimana, Sayang? Udah baikan?" tanya Mama Filza. Iris coklatnya memancarkan kehangatan saat menggenggam kedua tanganku yang bebas. Merasakan ini, aku tiba-tiba teringat kedua orang tuaku yang jauh di sana.
Aku terkejut saat akal sehat kembali padaku, Mama Filza, Papa dengan Devan menatapku khawatir.
"Kamu melamun, Sayang."
"Em, Elza hanya teringat orang tua Elza. Jadi, kapan Elza pulang? Elza udah sehat, kan, Ma, Pa?" Aku menatap ketiganya dengan penuh permohonan. Jujur saja, sangat tidak menyenangkan berada di tempat seperti ini.
"Besok ya, Sayang. Kata dokter besok baru kamu bisa pulang," jawab ibu Filza sembari mengelus surai coklatku. Aku hanya bisa menghela napas dalam diam.
"Em, baiklah!"
***
Tepat pukul sembilan pagi, Devan berdiri dengan semua pesonanya tepat di samping ranjang rumah sakit tempatku dirawat, begitu menggelikan saat melihat tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya saat seorang suster membereskan peralatan medis yang telah dirinya gunakan. Bahkan perawat itu tidak bisa lepas dari pesona Devan, namun bocah tengil ini hanya diam bak patung. Ah, hal itu membuatnya semakin memesona berkali-kali lipat, jika dia bisa membungkus Devan dengan karung sekarang maka akan dirinya lakukan.
"Huft, akhirnya bebas juga dari rumah sakit itu," ujarku sembari merenggangkan otot. Sementara Devan, pria itu juga ikut duduk di sebelahku, setelah meletakkan semua barang yang aku gunakan selama di rumah sakit.
"Kamu jangan terlalu bergerak, kamu baru saja keluar dari rumah sakit," tutur Devan memperingati. Pria tampan ini menatapku dengan lembut. Padahal, aku tidak pernah terluka hanya mengalami trauma saja, tapi Devan memperlakukanku seperti pasien yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Iya-iya, dasar bawel," balasku sembari menatap Devan sebal dan yang ditatap hanya memasang senyum mautnya.
"Kalau gitu aku kembali ke perusahaan lagi ya, kamu istirahat aja di rumah. Kalau butuh sesuatu panggil Bi Ijah," ucap Devan sembari mengacak rrambutku hingga meninggalkan bentuk saran burung di sana.
__ADS_1
"Hm!"
"Yasudah, aku pergi. Ingat untuk istirahat. " Devan akhirnya hilang dari pandaganku, pria tinggi itu pergi setelah memastikanku istirahat.
Kuraih ponselku yang terletak tak jauh dari tempatku duduk. Dua hari ini aku tidak mengecek restoranku.
Sepertinya tidak ada yang bermasalah karena asistenku tidak mengirimkan pesan yang berarti. Kuletakkan kembali ponselku dan menyalakan TV mencoba mengusir rasa bosan dengan mencari hiburan. Rasanya rumah ini tampak sepi sekali, seperti hanya aku di sini meskipun ada bi Ijah dan beberapa pelayan lainnya masih sibuk dengan urusan mereka membersihkan rumah ini.
"Ah, daripada bosan pergi masak ah, tapi kepalaku masih pusing. Hadeuh! Gara-gara mimpi sialan itu, eum pasti Bi Ijah udah masak jadi gak pa-pa kalau aku gak masak!" Aku merutuk sebal sendiri. Jujur kepalaku masih sedikit pusing mungkin pengaruh obat.
Ting Tong!
Bunyi bel rumah mengalihkan perhatianku dari TV. Aku bingung siapa bertamu jam segini? Ini kan masih jam kerja? Aku mengangkat bahu acuh saat bi Ijah bergegas membuka pintu.
Tak berapa lama bi Ijah datang kembali dan menghampiriku. Sepertinya penting, tapi apa? Siapa yang datang?
"Siapa, Bi?" tanyaku pelan.
"Itu Non, ada Non cantik di luar katanya temen Non Elza," jawab bi Ijah sembari tersenyum kecil.
Aku mengangguk sebagai jawaban dan menyuruhnya untuk membawa tamu yang mengaku sebagai sahabatku itu. Jika dia Dinda maka dia akan langsung masuk tanpa menunggu di luar.
"Bi, tolong buatin minum buat tamu Elza!" pintaku pelan. Bi Ijah mengangguk dan langsung bergegas ke dapur.
"Silahkan duduk! Maaf, saya harus memanggil Anda apa? Laras atau calon pelakor ... ups! Maaf keceplosan. Hanya bercanda Nona Laras. Silahkan duduk, abaikan kata-kata saya tadi," ujarku sembari memasang wajah tak bersalah. Kulihat dia mengepalkan tangannya. Emang enak! Akan tetapi, senyuman palsu senantiasa terparti di bibirnya. Ish, muak banget lihatnya.
"Terima kasih Nona Elza!" balas Laras sembari duduk dengan anggun.
Setelah itu, tidak ada lagi suara yang terdengar—senyap—sampai Bi Ijah datang memecah keheningan yang membuatku kembali fokus menatapnya. Apakah akan ada perang dunia ketujuh? Wow, sepertinya itu sangat hebat! Pasti Minato akan bangkit dari kuburnya mendengar ini—eh kok malah bahas Minato? Lupakan! Fokus sama si Mak Lampir.
"Silahkan diminum," ujarku mempersilahkan. Dia mengangguk dan mulai meminum minumannya secara perlahan. Iya, aku akui dia sangat anggun, tapi tetap saja aku tak menyukainya.
"Langsung saja!" ucapku tiba-tiba sembari mulai menatapnya serius. Dia juga mulai serius menatapku.
"Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa saya dan Devan pernah menjalin hubungan yang sangat manis, tapi Anda tiba-tiba datang dan membuatnya berpaling." Laras menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, jika diteliti dia menatapku jijik. Ih, emang dia siapa natap aku jijik? Baru aja pernah masuk sebagai perserta Putri Indonesia bangganya udah selangit!
"Lalu?" tanyaku polos seakan akan tidak paham apa yang dia maksud.
"Saya harap Anda mengerti! Ceraikan Devan, karena dia hanya pantas bersama saya," lanjutnya yang membuatku hampir tertawa. Ck, ck, dengan mudahnya dia berkata menyuruhku untuk bercerai? Bercerai gundulmu! Malam pertama aja belum, masa udah cerai aja.
__ADS_1
Tapi, aku tidak boleh gegabah aku harus menghadapinya dengan cerdas. Ck, bukan kamu saja yang bisa tampak keren aku juga bisa.
"Ok, saya bakalan ceraiin, tapi ada syaratnya!"
"Apa itu?"
Ck, gampang banget masuk jebakanku. Aku kira dia pintar ternyata bodoh.
"Bunuh diri Anda, setelah itu saya akan meninggalkan Devan." Aku menatapnya remeh. Menunggu, apakah dia akan setuju atau akan mengamuk.
"Persetan! Lo pikir gue bodoh apa? Kalau gue bunuh diri lo gak akan ninggalin Devan, lo gila!"
Tebakanku benar, dia tidak akan melakukannya. Lalu, siapa sebenarnya yang gila aku atau dia, bodoh!
"Seharusnya gue yang nanya kewarasan lo? Emang lo siapa? Dateng-dateng langsung nyuruh gue buat nyeraiin suami gue terus lo bisa deketin dia lagi, terus hancurin perasaan dia lagi, gitu maksud lo, Mbak Laras? Lo pikir gue bego apa, mau-mau aja lo suruh, emang gue babu lo apa, gak! Emang lu ortu gue apa? Bukan, jadi gak usah sok ngatur lo cuma rekan bisnis suami gue, jadi gak usah kepedean deh."
"Lo juga harus kecewa karena gue udah hamil anak Devan, jadi sia-sia rencana lo buat pisahin kita, apa lagi Devan bucin banget sama gue." Aku berkata sinis, meskipun fakta bahwa aku hamil tidaklah benar semuanya sandiwara agar Mak Lampir itu berhenti mengusik hidupku dan Devan.
"Ti-tidak mungkin! Devan tidak mungkin mela–"
"Tidak mungkin apanya? Buta mata lo? Kita udah nikah jadi wajar buat kita ngelakuin 'itu' makanan nikah Mbak, gak usah ngincer laki orang malu sama gelar mantan putri Indonesia!" ucapku tanpa memperdulikan perasaannya enak saja dia ingin merebut Devan kembali saat Devan sudah bahagia bersamaku.
"Ck, intinya gue gak mau tahu lo harus cetaiin Devan. Kalau nggak—"
"Sorry, Mbak Elza gu—gue bakalan lepasin Devan, asal lo jangan ganggu gue. Ck, lo berharap gue ngucapin itu, 'kan jangan mimpi deh, lo gak usah berharap mau balikan sama Devan dia udah bahagia sama gue. Oh iya, lo gak akan hidup tenang sebelum gue balas perbuatan lo sama Devan!" Jujur saja, aku sangat membenci wanita di depanku ini, wanita yang pernah menyakiti suamiku.
"Silakan, pintu keluarnya ada di depan!" pintaku tanpa berbelas kasih.
Retak sudah topeng anggun dan baik hati yang ia pasang sedari tadi, memperlihatkan wajah aslinya yang tidak sebaik orang lain lihat.
"Gue bakalan balas lo nanti! Liat aja, cewek tua kek lo gak pantes buat Devan," ucapnya sinis. Aku hanya memandangnya jijik.
"Tua-tua gini, Devan lebih mili gue ketimbang lo yang lebih muda," kataku sembari menaik-turunkan alisku seakan mengejek atas kekalahannya.
Dengan kesal Laras meninggalkan ruang tamu, aku tidak sudi mengantarkannya. Dia pasti melihat pintu keluarnya di mana. Aku yakin wanita itu sangat emosi mendengar perkataanku yang cukup pedas.
Hm, sebaiknya aku naik ke kamar tidur saja. Daripada aku di sini, bawaannya emosi! Ck, ceraikan? Dalam gundulmu! Devan cuman milik Elza titik! Di mana dapet suami kek dia udah cakep, pengertian, penyayang, baik, lembut, murah senyum, kaya dan point pentingnya dia unyu-unyu. He! Pantas banyak yang iri.
"Ah, lelahnya!" gumamku pelan saat merebahkan tubuh ini di kasur yang empuk. Baru saja aku keluar dari rumah sakit, harus dihadapkan lagi dengan seorang nenek sihir, sudah pasti tenagaku terkuras habis meladeninya, harusnya aku istirahat dan menonton TV, tapi karenanya moodku untuk menonton sudah hilang.
__ADS_1
Tak berapa lama kangtuk menyerang yang membuatku tak bisa terjaga lagi.