Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Istri saya hamil?


__ADS_3

Di sebuah kamar, seorang wanita tampak diam membisu dengan ekspresi yang penuh kebingungan, tetapi sedetik selanjutnya ia langsung memukul-mukul kepalanya sembari merancau.


"Kenapa ingatanku harus hilang?" tanyanya sembari memukul-mukul kepalanya sekuat tenaga.


"Kenapa?! Elza nggak mau seperti ini, Ya Allah!" Tangisnya perlahan pecah sembari masih memukul-mukul kepalanya berharap dengan begitu ia bisa mengingat semuanya kembali.


"Ma, Elza nggak mau seperti ini, Elza mau pulih lagi seperti dulu," katanya sembari masih memukul-mukul kepalanya semakin membabi buta.


Sementara itu, Devan yang baru saja datang ke kamar sang istri begitu panik melihat wanitanya memukul-mukul kepalanya begitu membabi-buta, pria tampan itu langsung menghentikan aksi sang istri.


"Devan lepasin, brengsek! Kau dan Aron sama saja kalian menghancurkan hidupku," ucapnya sembari terisak-isak. Devan yang mendengar suara tangis sang istri sangat tersiksa karena baru kali ini ia mendengar tangis pilu istrinya itu. Dia tak tahu ingin menyalahkan siapa atas kejadian ini.


Devan memeluk Elza yang berontak, dia tak bersuara sedikitpun, menunggu Elza tenang terlebih dahulu.


"Elza nggak mau seperti ini, Elza mau pulih," ujarnya dengan nada pilu, air mata membekas di pipi mulusnya.


Suara Elza lambat laun melemah, Devan yang menyadari hal tersebut memeriksa kondisi sang istri yang ternyata sedang pingsan. Devan langsung saja menepuk pipi sang istri untuk segera sadar.


"Elza, Sayang ... bangun, Elza!" Devan berusaha menyadarkannya. Namun, tetap saja tak ada respon yang diberikan oleh Elza wanita itu terkulai lemas dalam pelukannya, Devan kemudian menggendong sang istri ala bridal style kemudian membawanya keluar untuk dibawa ke rumah sakit.


Di saat Devan telah mencapai ruang tamu, di sana mertuanya dan orang tua Aron langsung saja panik melihat Devan yang menggendong Elza dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Ya Allah, Elza kenapa, Nak?" tanya Shinta khawatir saat melihat putrinya yang pingsan.


"Elza pingsan Ma, mungkin psikolognya terganggu ketika menerima informasi yang tiba-tiba ini, dan Elza sejatinya tak menerima semua ini," tutur Devan pelan kemudian meminta bantuan kepada sang mertua untuk menyetir mobil.


"Astaga, ayo segera bawa Elza ke rumah sakit!" pinta Amira yang ikut panik karena melihat Elza tak berdaya.


Mereka semua mengangguk, kemudian keluar dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit milik keluarga Keysha. Sedangkan Amira, menghubungi Aron dan juga Nic untuk datang ke rumah sakit karena Elza pingsan.


Saat ini, Devan begitu panik dengan kondisi istrinya, ia mengusap selalu telapak tangan sang istri yang bertujuan memberinya kehangatan, serta selalu membisikan kata maaf dan menyuruhnya untuk bangun.


"Aku mohon, bertahan Sayang. Maafin aku karena terlambat menemuimmu, maafkan aku, sadarlah," ucapnya dengan penuh permohonan, Devan sesekali mengecup kening sang istri menyalurkan kehangatan, berharap istrinya akan segera bangun.


Sedangkan orang tua mereka yang melihat adegan itu merasa iba karean mereka tahu Devan sangat mencintai Elza bahkan pemuda itu tidak tidur demi mendapatkan informasi tentang istrinya.


"Berdoa sama Allah sayang, semoga Elza tidak apa-apa," kata sang mertua yang melirik menantunya di jok belakang.


Devan hanya mengangguk sebagai jawaban, tetapi tatapannya tetap tidak berubah masih dipenuhi dengan kepanikan dan rasa bersalah.


"Andai Devan nggak lakuin ini, dan nggak maksa Elza untuk dengerin kebenarannya, mungkin Elza nggak akan kek gini, 'kan, Ma?" tanya Devan dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Tidak Sayang, ini bukan salahmu, tetap berdoa saja untuk istrimu agar segera sadar karena doa suaminyalah yang paling cepat diijabah oleh Allah, kamu harus tetap kuat demi istrimu yang baru saja pulih," tutur Shinta menjelaskan, agar menantunya tak berpikiran hal-hal aneh.


"Hm, Ma. Setelah Elza sadar kita langsung ambil penerbangan untuk kembali ke Indonesia, Devan akan menganggap masalah ini selesai sampai di sini dan tidak akan menyeret Aron ke penjara." Devan berucap dengan tegas, dirinya tak ingin istrinya dekat-dekat dengan pria itu. Ia tak rela.


Keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban, karena itulah yang seharusnya mereka lakukan sesegera mungkin karena Elza tak aman dengan lingkungan yang telah membuatnya menderita.


Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di rumah sakit Keysha, Kris langsung memerintahkan temannya yang memang sudah ia hubungi untuk menunggu mobil mereka dan menangani Elza segera mungkin.


"Dok istri saya pingsan setelah memukul kepalanya beberapa kali," kata Devan menjelaskan situasi Elza kepada sang dokter.


Dokter itu mengangguk kemudian dibantu oleh suster mereka membawa masuk Elza ke ruang gawat darurat. Mereka menunggu dengan panik dotker yang menangani Elza, karena mereka sendiri melihat bahwa Elza sangat pucak wanita cantik itu terlihat kehilangan rona hidupnya dalam waktu beberapa jam saja.


Tak berapa lama, Dimitri, Nic dan Aron juga datang ke rumah sakit, Aron datang dengan penampilan yang sedikit berantakan karena terlalu panik saat mengetahui Elza masuk ke rumah sakit karena syok menerima kabar yang seharusnya belum ia terima.


"Bagaimana dengan keadaan Elza, Ma?"


"Oma, Mama Elza kabalnya gimana? Mama Elza akan baik-baik saja 'kan, Oma?"


Suara Aron dan Dimitri memecah keheningan yang tercipta akibat ketegangan mereka menunggu dokter keluar, apakah separah itu hingga sudah hampir dua puluh menit dokter belum juga keluar.


"Mama Elza baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit kelelahan saja," kata Amira menjelaskan kepada cucunya.


"Semoga Mama Elza cepat sembuh, Dimi kangen cama Mama Elza, karena Mama Elza takit Dimi jadi tidak bisa menjenguknya," ujar Dimitri sedikit kecewa karena sudah jarang bertemu dengan Mamanya itu.


"Maaf, Sayang. Mama lagi sedikit sakit jadi Mama tidak bisa bermain dengan Dimi sabar ya." Aron membalas ucapan putra kecilnya sembari mengusap kepala Dimitri yang hanya diam diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah Ayah, tapi cepertinya Mama akan pergi sama Paman Devan, karena Paman Devan cuami Mama Elza jadi mereka halus pergi, Dimi nggak malah kok meleka pelgi, Dimi sayang sama Mama Elza, tapi Dimi tahu Mama Elza bukan Mama Dimi." Perkataan Dimitri yang bijak membuat mereka semua terharu karena bocah 5 tahun sepertinya sudah mengetahui situasi seperti apa yang Ayahnya alami.


Aron langsung saja mengambil Dimitri dari gendongan sang adik kemudian memberinya kecupan sayang, dia memeluk putranya sayang. Dia juga paham, sekeras apa pun dirinya berusaha untuk merebut Elza dari Devan tetap saja dia yang kalah karena Devan adalah istri sah dari Elza, wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.


"Iya, Sayang. Maafin Ayah, ya. Mama Elza bakalan pergi sama Paman Devan, nanti kalian akan jarang bertemu," kata Aron sedikit sedih, tetapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya itu.


"Bukan masalah jika kau ingin membawanya nanti bertemu dengan Elza, tapi jika kau menemui istriku berkedok anakmu, aku tidak segan-segan untuk melarang kalian datan," tutur Devan yang membuat Aron terdiam tak mengatakan apa-apa.


"Hm, baiklah."


Di saat semuanya masih dalam keadaan panik menunggu dokter keluar dari kamar rawat Elza, pintu berkaca buram itu terbuka dari dalam dan munculnya seorang dokter wanita berambut pirang keemasan dengan sneli di lehernya.


"Bagaimana keadaan putri kami dokter?"


"Nyonya Elza baik-baik saja, hanya sedikit syok berat karena tekanan yang diterima dari luar sehingga berakhir pingsan seperti ini, dan untungnya hal tersebut tidak membahayakan janin di perut Nyonya Elza, dan satu lagi apakah Nyonya Elza pernah mengalami perawatan intensif?"


Dokter menjelaskan tentang keadaan Elza yang ternyata baik-baik saja, dan bertanya tentang keadaan Elza sebelumnya.


Pernyataan dokter tersebut sontak membuat orang tua Elza, Devan dan orang tua Aron terkejut hanya Aron saja yang tidak mengalami reaksi yang sama karena sedari awal dirinya sudah tahu.


"Maksudnya Dokter istri saya hamil?" tanya Devan dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.


"Benar Pak, sudah masuk bulan ke 3, jadi wajar saja emosi Nyonya Elza sedikit tidak terkontrol itu pengaruh dari janinya, jadi mohon Bapak tidak memberikan tekanan atau informasi yang bisa mengusik Nyonya Elza."


Devan tak tahu harus bahagia atau sedih, dia bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, tapi sedih karena istrinya masih membenci dirinya. Dia tak perlu menanyakan itu anak siapa, karena dirinya yakin itu adalah anaknya buah cintanya dengan sang istri.


Orang tua Elza juga ikut senang mengetahui kondisi putri mereka. Ayah Elza bersuara yang menarik Devan dari rasa senangnya.


"Mengenai pertanyaan dokter tadi itu benar, karena putri kami perna mengalami trauma berat saat usianya 17 tahun, jadi kami memberikannya perawatan intensif sampai kondisi mentalnya benar-benar pulih." Ali menjelaskan sedikit mengenai kondisi Elza di masa lalu.


"Baiklah, Nyonya Elza tidak dalam kondisi yang mengkhawatirkan, tapi jika Nyonya Elza melakukan sesuatu yang salah tolong ditenangkan, karena lambat laun kondisinya akan segera pulih, kondisi amnesia ini hanya sesaat Pak, Ibu, bisa kembali lagi jika dilatih terus menerus, jadi Bapak dan Ibu bawa Nyonya Elza kembali ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut lagi." Dokter itu kembali menjelaskan mengenai kondisi Elza yang membuat Devan dan mertuanya menghela napas lega karena semuanya dapat teratasi dengan baik.


"Terima kasih dokter."


Dokter itu mengangguk kemudian berlalu diikut dua suster di belakangnya. Sementara itu, Devan yang mengetahui kondisi istrinya di masa lalu, merasa sangat sedih karena dirinya tak mengetahui hal itu pantas saja Elza sangat trauma dengan kegelapan ternyata phobianya itu karena trauma yang dia alami di masa lalu.


Mereka kemudian bersama-sama masuk ke ruang inap Elza, baru sehari dia keluar dari rumah sakit, dia sudah masuk ke rumah sakit lagi karena guncangan psikologi  yang  diterimanya.


Siapa yang tidak tersiksa, jika ingatanmu direnggut secara paksa hingga kau bahkan tak mengingat siapa dirimu.


"Elza Sayang." Panggilan lembut itu menarik perhatian Elza yang berusaha menghalau cairan bening agar tak menetes terus menerus dari mata indahnya.


"Iya, Ma," jawabnya pelan. Dia hanya menatap mereka sekilas, di sana dia melihat sosok Dimitri bocah lelaki yang sudah ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri.


Mereka mendekati brangkar tempat Elza beristirahat, wanita itu tampak lemah tak berdaya, mereka paham bahwa ia sedang kesakitan sekarang, tetapi mereka hanya mampu berdoa agar Elza dapat menerima keadaannya.


"Mama, Dimi kangen Mama, Mama apa kabal?" Suara cadel Dimitri menarik kembali perhatian Elza, ia tersenyum terpaksa kemudian menyuruh Aron membawa Dimitri mendekat ke arahnya.


"Sini anak Mama, Mama kangen juga sama Dimi, Dimi makin imut ya ditinggal Mama sebentar," kata Elza berusaha tetap tersenyum meskipun air matanya menetes tanpa diminta.


Elza berusaha menahan tangisnya dan mengusap air matanya. Wanita itu kembali menatap bocah lelaki di sampingnya itu yang sedang menatapnya juga.


"Mama, nggak usah nangis, Dimi yakin Mama olang yang kuat, Mama tahu tidak Dimi sudah tahu kalau Mama bakalan pulang sama Paman Devan, Mama tidak perlu mikilin Dimi di sini, ada Ayah yang jaga Dimi, apa lagi ada adek bayi di peluk Mama Elza jadi Mama Elza nggak kesepian nanti, " ujar Dimitri sembari mengusap lelehan bening yang kembali menetes dari balik mata indah wanita yang Dimitri panggil Mama.


Elza terharu mendengar pernyataan bocah 5 tahun di depannya itu yang sangat bijaksana, tapi sangat terkejut mendengar kalimat terakhir dari Dimitri. Apa? Dirinya hamil? Sejak kapan dia berhubungan dengan Aron? Apa Dimitri hanya berucap asal saja? Pikir Elza mencoba tidak memperdulikan pernyataan bocah tersebut.


"Makasih, Sayang. Sehat selalu ya di sini sama Ayah kamu," tutur Elza lembut sembari mengusap kepala Dimitri pelan.


Sementara itu, Devan tak tahu harus tertawa atau menangis, apakah dirinya harus mengalah demi kebahagiaan istrinya? Atau dia harus egois? Apa lagi mereka akan segera menjadi orang tua, harusnya itu adalah momen yang sangat membahagiakan, tapi Devan terlalu takut untuk membahasnya dengan sang istri.


Elza kemudian memberikan kembali Dimitri kepelukan Ayahnya, kemudian meminta semuanya untuk keluar kecuali Devan, pemuda itu tampak terkejut sesaat, tetapi berusaha untuk terlihat lebih tenang.


"Sepeninggal mereka semua, Mereka hanya terdiam selama beberapa menit sampai akhirnya Elza memilih membuka pembicaraan.


"Apa kamu benar suamiku?" Devan mengangguk sebagai jawaban sembari menatap dalam manik sang istri mencoba menyelami pikirannya begitupun sebaliknya.


Elza yang tak tahan ditatap terus menerus memilih memutuskan kontakata terlebih dahulu.

__ADS_1


"Baik, lalu kenapa kamu lebih muda dariku? Bahkan kamu lebih muda dari Aron?" tanya Elza kembali.


"Karena aku mencintaimu, jadi aku menikahimu meskipun kamu awalnya sangat menentang pernikahan ini karena umur kita yang beda jauh," jawab Devan jujur sembari masih menatap sang istri penuh kerinduan.


"Hm, jadi pernikahan kita perjodohan, dan aku telah jatuh cinta kepadamu? Setelahnya mantan pacar kamu yang bernama Laras itu tidak terima jika kita bersama jadi merencanakan penculikanku, seperti itu?"


Devan yang mendengar penuturan sang istri begitu terkejut, apa Elza telah mengingat segalanya?


"Bagaimana kamu tahu?"


"Itu sangat gampang ditebak dari penjelasan singkat yang aku dengar dari Aron," jawab Elza pelan.


"Terima kasih karena telah mencariku sampai ke sini, aku tahu itu berat, tapi maaf aku tak bisa mengingat kenangan manis kita," ujar Elza sembari menunduk karena dia tak dapat mengingat kenangan romantis mereka.


Setelah Elza memikirkannya memilah semua informasi yang dirinya terima, Elza menyimpulkan bahwa Devan tetap mencarinya hanya saja dia tak dapat menemukannya karena dia bersama dengan Aron jelas pria itu akan menghalangi berbagai informasi tentangnya keluar, dan masalah Laras dia yang akan mengurusnya sendiri karena pesan yang dia kir ke nomer yang tidak dia ketahuilah memberinya fakta bahwa dia sudah menebak bahwa semuanya ulah dari wanita bernama Laras.


Sementara itu, Devan hanya diam mendengar jawaban sang istri kemudian langsung menariknya ke dalam pelukan sembari mengucapkan kata-kata penenang.


"Tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting kamu ada bersamaku sekarang kita bisa memulainya dari awal, apa lagi di rahimmu telah ada Devan junior," ujar Devan pelan dengan penuh kebahagiaan.  Elza yang ada di pelukannya hanya mengangguk pantas saja ia merasakan hal yang familiar dengan sepupunya itu ralat suaminya karena mereka memang mempunyai keterikatan. Elza kurang memperhatikan kalimat Devan yang terakhir sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya.


"Apa yang kamu bilang tadi? Devan junior, maksudnya? Aku hamil? Sejak kapan?"


"Usia kandunganmu sudah masuk bulan ketiga itu artinya setelah kita melakukannya malam itu langsung jadi Devan junior, Sayang." Devan menerangkan dengan senyum nakal di bibirnya, dia berniat menggoda sangat istri.


Elza yang mendapatkan fakta baru bahwa dirinya sedang hamil langsung terdiam dan menatap perut ratahnya. Dia tak menyadari bahwa ada kehidupan lain yang bersemayam di perutnya yang tak dia sadari dan untung saja anaknya begitu pengertian, masih hidup dengan sehat meskipun Mommynya mengalami banyak sekali masalah.


"Kamu tidak senang, Sayang?" tanya Devan sembari memperhitungkan raut wajah sang istri.


Elza yang mendengar hal tersebut lantas menggeleng kuat, karena mata perlahan menetes satu demi satu dari balik mata indahnya, dan Elza berusaha untuk menghapusnya. Devan yang menyadari sang istri menangis langsung panik dan membawa Elza ke dalam pelukannya lagi.


"Maaf, Sayang. Apa kamu tidak senang?" tanya Devan kembali, meskipun dia merasa sedih jika Elza akan menentang anak itu dia masi tetap akan menjaga istrinya.


"Gak, a-aku cuma terharu, ternyata sebentar lagi aku bakalan jadi ibu yang sebenarnya," ujar Elza terharu. Dia menatap wajah sang suami dengan ekspresi bahagia.


Devan yang mendengar hal tersebut langsung saja mengecup wajah sang istri berkali-kali, pertanda bahagianya. Kecanggungan itu mendadak hilang karena ucapan sang istri.


"Udah ih, geli aku."


"Manggil sayang dong, Sayang. Kangen banget aku sama kamu!"


"Hm, iya Sayang."


Devan yang mendengar hal tersebut lantas kembali merengkuh tubuh sang istri menghirup dalam-dalam wangi yang telah lama dia rindukan.


Mereka tidak tahu bahwa kemesraan mereka ada yang melihat, sepasang mata elang yang menatap mereka penuh kecemburuan, tetapi tak bisa melakukannya apa-apa karena Elza bukanlah wanits ya dapat is rebut begitu saja dari Devan.


Puk!


Tepuk seseorang pada bahunya sehingga ia mengalihkan pandangannya dari pasangan suami istri itu yang telah berbaikan.


"Jangan melihat mereka, Kak. Cobalah untuk membuka hati untuk wanita lain, karena bagaimanapun Kakak berusaha untuk merebut Elza dia tidak akan pernah menjadi milik, Kakak," kata Nic menasehati sang Kakak.


"Jangan membuat Kakak ipar di atas sana merasa sedih karena ulahmu yang ingin  menghancurkan hubungan orang lain, Kak." Nic menepuk bahu Aron sekali lagi dan berlalu, ia izin kepada orang tua Elza untuk pulang begitupun dengan Kris Keysha beserta istrinya pamit untuk pulang karena Dimitri ternyata ketiduran di dalam pelukan neneknya.


"Hati-hati di jalan," ujar Shinta kepada Amira.


"Tentu, semoga Elza lekas sembuh, amen." Amira berdoa untuk kesembuhan Elza yang diaamiinkan oleh Shinta.


Sepeninggal mereka semua, hanya orang tua Elza dan Devan yang tinggal. Perlahan pria itu keluar dari ruang inap Elza dan duduk di samping Ayah mertuanya.


"Ayah, Devan sedikit lelah dengan situasi ini," ucapnya tiba-tiba.


Ali tersenyum kemudian menepuk bahu menantunya dan berucap, "Kamu hebat Nak karena bertahan sampai sejauh ini, terima kasih karena mencintai putri Ayah dengan tulus," ujar Ayah mertuanya bangga.


Devan hanya tersenyum sebagai jawaban, ia keluar dari ruang rawat sang istri karena wanitanya sedang istirahat.


"Ayah telah memesan penerbangan untuk esok hari, jadi kita akan tiba di Indonesia malam hari, kita harus pamit kepada mereka terlebih dahulu."

__ADS_1


"Iya, Ayah. Mama mau pamit sama Amira dan cucunya itu, cucunya sangat imut dan pintar." Ali mengangguk sebagai jawaban.


Setelahnya tak ada lagi yang membuka percakapan karena melihat Devan yang sedang menutup matanya mungkin is tertidur.


__ADS_2